SUNDIRAH

SUNDIRAH
Perjalanan yang masih panjang


__ADS_3

Panasnya api menyengat membakar gubug, meluluh lantakkan bangunan bambu, yang selama ini menjadi tempat persembunyian para berandal.


Hangus menjadi abu, dan menyatu dengan tanah. menghilangkan jejak nista yang pernah terjadi, angin pun enggan membawa terbang abu dia pembakaran itu.


Tempat yang tersembunyi, siapa yang akan menduga akan menjadi makam bagi mereka, dalam penyerangan penangkapan Sardi. Dan tanpa sengaja juga telah menemukan perampok yang selama ini sangat meresahkan penduduk, dan beberapa kalangan.


Tunggak berandal yang sangat licin, dan berulang kali mampu melarikan diri. Tidak hanya merampok harta, dan menculik para wanita, tetapi ia tidak segan juga membunuh lawan nya bila melawan ataupun membangkang, menolak keinginannya.


Dan Sardi saat ini berada di bawah pengaruhnya, tidak hanya ambisi pada cinta pertama nya, namun kini ia bahkan semakin merajalela. Cincing-cincing tetep teles, istilah dalam pemikiran nya semakin membawa Sardi kedalam kenistaan dan kekejaman.


Tunggak dan Sardi berjalan menyusuri pesisir pantai hingga matahari menyembunyikan hangat sinarnya. Burung camar pun kembali pada sarangnya.


Kaki pincang Tunggak bukan halangan untuk terus melanjutkan perjalanan, nafas terengah-engah. Tidak juga menyurutkan langkah mereka sepanjang hari berjalan mencari tempat persembunyian, dan bantuan dari bala kawanan sesama berandalan.


Apa yang mereka cari...?


untuk siapa yang mereka dapatkan...?


Siapa yang mampu menjawab, hanya waktu dan kesadaran. Atau mungkin ajal yang akan terlebih dulu menjemput, mencekik leher, menghanguskan ambisi, melebur tulang dan meremukkan asa dan ambisi. Para pengecut mati berkali-kali sebelum kematian mereka yang sesungguhnya.


"Kang... kita berhenti di bawah pohon itu." Engah Sardi sambil mengusap peluh.


"Oh... bangsat betul mereka! berani-beraninya membakar tempat singgahku...!"


"Mereka harus membayar tunai atas semua kebodohan nya, berani nya mereka membangunkan harimau tidur." Geram Tunggak mengumpat dan membacok pohon pisang di samping nya.


"Lantas kita akan kemana kang...? Tidak mungkin kita kembali ketempat semula, Tempat itu hanya segelintir orang yang mengetahui letak nya."


"Yaitu menantu Djaelani, Harjito. Dan kaki tangan juragan kopra Atmosiman." Sardi menduga duga siapa yang telah membocorkan tempat persembunyian.


"Persetan dengan mereka Sardi, yang penting kita harus kembali menyusun tenaga dan siasat."


"Kita menuju, ke arah barat daya di sana berkumpul saudara-saudaraku, kita bisa mencari bantuan pada mereka." Tunggak menyakinkan Sardi.


"Di sini jauh dari pemukiman, kita sebaiknya segera mencari tempat untuk berteduh semalam. Sebelum malam semakin pekat." Tunggak kembali melangkah menuju tempat yang strategis untuk bermalam.


Kepakan sayap kelelawar menyambar,seolah tidak segan untuk menampar wajah-wajah beringas mereka.


Slurrpp sleeep... koak... buhg


Sardi melempar parang nya ke atas dahan dan sesuatu jatuh dari atas.

__ADS_1


Seekor ayam alas, dan mereka menikmati makan malam dengan seekor ayam alas bakar di bawah pohon rindang tempat mereka berteduh.


Perpisahan antara Mitun, Situn dan para wanita-wanita itu membawa cerita sedih tersendiri.


Bagaimana tidak! Mereka berjumpa disaat dalam keadaan yang sangat menyedihkan, raut wajah yang selalu tegang dalam ketakutan.


Baru saja berbagi senyum, kini mereka harus berpisah. Sarana transportasi mereka bagi menjadi dua, bahan pangan sebagian mereka tinggalkan untuk mitun dan Situn.


"Mbok, Kami akan berangkat melanjutkan perjalan pulang. Terimakasih tanpa adanya bantuan dari Mbok sekalian, tidak mungkin kami akan mendapatkan tempat tinggal senyaman ini." Suparman mengucapkan perpisahan dan ucapan terima kasih kepada Situn dan Mitun.


Tak ayal lagi linangan air mata mereka sebagai balasan ucapan Suparman.


Sulistyowati terisak dalam pelukan Mitun. "Mbok terimakasih, semoga kelak saya bisa kembali ke sini dan kita bisa ber sua seperti ini lagi."


"Sabar ndhuk, bila kita berjodoh dan usia kita panjang. tempat ini selalu menerima kalian semua untuk bertandang." Senyum Situn menyejukkan bagi siapapun yang melihatnya.


"Mbok... saya pamit.. teruslah sehat, kelak saya akan kembali menjenguk simbok berdua." Giliran Naris berpakaian.


"Kembalilah dengan anak-anak mu, untuk menjenguk kami disini le.." Jawab Situn, lalu di Amini oleh mitun dan lain nya.


Suparman mengemudi mobil patroli, dan membelokkan arah berlawanan dengan mobil yang di kendarai Naris.


Sedangkan cikar pembawa bahan pangan berjalan dengan sangat pelan.


Pada saat tahun itu di ceritakan pada part awal, jalan tidak semulus aspal sekarang. Tidak mudah bagi Naris untuk mencari desa-desa asal mereka, butuh kesabaran dan ketelatenan. menjelang sore tibalah Naris di alun-alun kota dan tidak mungkin bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan, Alhasil mereka beristirahat di bawah rindangnya pohon beringin, untuk menanti kembalinya mentari pagi. Untuk mengisi perut mereka yang sudah kosong keroncongan, salah satu dari teman Naris menukarkan bahan pangan mentah, dengan makanan yang sudah siap di makan.


Wajah-wajah lelah mereka terobati dengan perut kenyang, dan siap merebahkan tubuh mereka beralaskan tikar anyaman pandan, dengan beratap gemerlap bintang.


Naris tidak pernah lepas dari memperhatikan setiap gerak gerik Sulis, tiba tiba ia teringat akan Suwarti.Naris tersenyum sendiri, mereka sepantaran. Sama sama kuat dan sama-sama cengengesan dalam menghadapi situasi yang sedikit bisa menghibur diri sendiri walaupun posisi dalam terjepit sekalipun.


"Kang...!"


"Kang Naris...!"


Naris gelagapan saat namanya di sebut.


"Eh ya... ada apa...?"


"Kang Naris kenapa dari tadi melihat saya...? Adakah yang salah pada diri saya." Sulis menundukkan kepala takut melihat Naris, yang sedang sibuk menata hati.


"Berapa usia mu Sulis..?" Bukan nya menjawab Maria malah balik bertanya.

__ADS_1


"Sa...saya... lima belas tahun kang."


"Ke..kenapa.. apakah ada kesalahan yang saya perbuat kang..?" Ragu-ragu Sulis bertanya.


"Tidak ada yang salah, tidurlah disini. Aku akan menjagamu." Perintah Naris, sambil menepuk tempat disisi tempat duduknya.


"Tapi saya pasti akan kang Naris antar pulang kan..?" Tanya Sulis seperti tidak yakin pada Naris.


"Kan besok kita akan sampai ke desa dimana kamu berasal, kenapa masih ragu? Tidurlah." Naris menata kembali Tempat untuk Sulistyowati berbaring.


"Sebab hanya tinggal saya saja, yang belum juga sampai."


"Apa kang Naris nggak salah jalan." Sulis kembali meragukan Naris.


Naris yang sudah tidak tahan dengan rasa lelah dan mengantuk, dia sudah tidak menghiraukan semua pertanyaan Sulis, bahkan sudah terdengar dengkuran halus.


Akhirnya Sulis pun merebahkan diri di sisi Naris. Dan mereka terlelap melewati malam yang dingin di bawah pohon beringin, dan bintang menjadi saksi nya.


Di tengah malam naris terbangun, karena terkejut saat tangan nya, menimpa lengan Naris yang terluka.


"ahhhh... Sulis..." Darah segar kembali keluar dari luka bekas senjata tajam itu.


Sulis terbangun, duduk dan bingung dengan apa yang terjadi.


"Kang... oh... kang Naris maafkan Saya." Sulis buru buru membantu Naris membetulkan letak kain untuk membalut luka Naris.


Detak jantung Naris berpacu kencang, tatkala mata mereka beradu. Dan tangan Sulis mengenggam lengan Naris.


"Sulis...Tidurlah kembali, aku tidak apa-apa."


Naris kembali memejamkan matanya, namun tidak dengan hatinya. Rasa apa ini.


...****************...


Cincing-cincing tetep teles\= sudah basah mencebur sekalian, seperti pepatah orang yang sudah melakukan sesuatu dan kepalang tanggung.


Mak...jaman dulu kan kisaran usia belasan udah pada kawin kan...?


Nah ini terjadi juga pada semua tokoh di Sundirah dech Mak 🤣🤣


Kita lanjut yuk .. Naris berani kagak buka hati buat gadis belia nih 🤭

__ADS_1


Jempol makkkk yukkk😂😂😂


__ADS_2