SUNDIRAH

SUNDIRAH
Sundirah 2


__ADS_3

"Hapus air matamu Dirah, kau milikku saat ini dan selamanya."


Hanya tangis pilu Yang mampu aku berikan sebagai jawabannya.


Noda itu telah membekas pada, dan tidak mungkin terhapus, waktu juga tidak mungkin berputar kembali.


Apakah aku menyesal...? Lalu tangisan apa yang aku derai kan...?


Bapak.... maafkan saya pak...


Mak..... dosa ini terlalu besar, apa aku akan sanggup menanggung semua ini.


"Sundirah... jangan pernah menyesal, kita akan lalui bersama-sama." Genggaman hangat tangan mas Hendra mampu memberikan ketenangan.


Aku pulang ke rumah dengan langkah gontai, rasa takut ini membuatku semakin lemah.


Aku mandi, menguyur dan menguyur air sepuas ku, aku berharap air bening ini mampu membersihkan noda yang telah aku lakukan ini.


Bulan sabit itu seolah menertawakan kebodohan ku, kebodohan atas nama cinta. Mataku enggan terpejam walaupun rasa kantuk itu sudah menghampiri.


Aku berjalan keluar kamar, mengambil air segar dalam kendi untuk sekedar membasahi kerongkongan ku yang mengering.


Mata ku di kejutkan oleh kehadiran bapak, mata tua bapak seolah menyelidik dan menghakimi diriku.


"Belum tidur kamu Dirah..? Sudah malam, bukankah esok harus bekerja di rumah ndoro Atmosiman, Tidur lah."


"I..iya pak." Rasa berdosa ku menghantui di setiap sudut langkah ku..


Bapak... maafkan Dirah, batin ku menjerit. Sampai kapan aku mampu menyimpan semua ini.


Aku bangun kesiangan pagi ini, tubuhku serasa remuk semua. malas rasanya bangkit dari peraduan ini.


Namun aku harus tetap menyelesaikan tugas ku di rumah ndoro Siman.


Bapak rupanya menunggu ku untuk berangkat bersama, Aku takut... hanya itu yang ada dalam benak ku.


Dalam diam bapak mengayuh sepeda menuju ke rumah Ndoro Siman, lantas


melanjutkan ke ladang kelapa, dimana tempat bapak memetik kelapa hari ini.

__ADS_1


Mata tajam bapak menatap ku, namun ku lihat ada kesedihan di sudut manik hitam itu.


Bapak.... maafkan Dirah... Hanya ini yang mampu ucapan dalam hati.


Ku raih tangan bapak, ku Salami, dan kucium punggung tangan bapak yang legam dan kasar.


Ku melangkah masuk kedalam bangunan besar itu, mataku menatap sosok laki-laki idolaku, senyum nya mampu membuat ku melupakan kegundahan dan rasa takut ku.


Hanya seuntai senyum saja, aku kembali terbuai. Apakah ini kebodohan...?


Ku melangkah dengan canggung melewati mas Hendra. Aku tau dia pasti mengikuti jalanku dari belakang, dan aku merasakan mata hitamnya, mengikuti setiap gerak gerik ku.


kesempatan demi kesempatan kami pergunakan sebaik mungkin. Dosa itu terulang dan terulang kembali. Rasa perih itu perlahan menjadi kenikmatan.


Ya.... kenikmatan dalam kubangan dosa. Dosa itu terpupuk dalam setiap, lenguhan dan *******.


"Den... saya takut, ini akan menjadi kemarahan ndoro Siman."


"Dirah... panggil aku mas, bukan Den Hendra atau siapapun. Aku akan meredam kemarahan ayah ku, aku yakin! aku bisa melakukan. bersabarlah Dirah."


Kembali aku terlena... lagi dan lagi aku hilang dalam arah, semua karena cinta. Aku mencintai mas Hendra, begitupun dengan mas Hendra. Cinta kami satu pelabuhan dalam biduk tanpa alas.


Bukan badai yang terjadi, bukan gempa yang telah melanda. Namun serasa runtuh di setiap bumi yang ku pijak, Mas Hendra harus pergi. memenuhi keinginan ndoro Siman, dan aku yakin ini bukan waktu yang pendek.


Aku takut...apa yang akan terjadi padaku..? Duh... Gusti ku... ampuni segala perbuatan hamba, mau tidak mau, rela tidak rela aku harus melepas kepergian mas Hendra.


Aku bukan siapa-siapa, tidak mungkin aku menjadi penghalang kepergian mas Hendra.


Permintaan nyonya Karmilah untuk tinggal menetap di rumah beliau, semakin menyiksa batin ku, sudut demi sudut ruangan membawa kenangan dan menggiring kerinduan akan kehadiran mas Hendra.


Kesedihan ku tidak akan mudah berakhir , aku mulai merasakan itu. Kehampaan hari-hariku setelah kepergian mas Hendra semakin menyiksa ku, ku dengar selentingan pembicaraan nyonya Karmilah dan ndoro Atmosiman. Mas Hendra akan di jodohkan dengan seorang sahabat ndoro Siman.


Kesedihan yang aku rasakan, membawa ku pada titik lemah ku. Aku lelah... iya aku lelah... Tubuh ini serasa tanpa tulang tidak berdaya, jangan kan untuk berjalan, menguyah makanan pun aku tidak sanggup.


Tubuhku menggigil, ingin rasanya ku kuras saja isi perut ini. Aku muntah dan muntah hebat, hingga lemas, gelap dan senyap entah dimana aku saat ini.


Aku hanya mendengar suara-suara lembut mbok Surip. Ahhh... mbok Surip kenapa menangis...? Apa yang terjadi dengan ku...? Mataku enggan terbuka, namun telingaku menangkap semua perkataan mbok Surip.


"Ndok siapa yang melakukan semua ini...?" Sebuah kalimat yang mengembalikan ku pada dosa yang telah ku perbuat.

__ADS_1


Apakah ajal ku akan tiba setelah ini...? aku takut, aku tidak sanggup menghadapi ini sendiri. Duh Gusti yang maha adil... Ampuni segala perbuatan kami... Apakah aku hamil...? Haruskah aku jujur..?


Bingung... hanya kebingungan yang aku rasakan saat ini, selain lemas tanpa daya sekujur tubuhku.


Aku harus kuat menghadapi semua, bila aku hamil dan ini hasil buah cintaku pada mas Hendra, bagaimana pun sepahit apapun aku akan pertahankan.


Bapak.... emak...! ampuni kekhilafan ku. Ini adalah kesalahan besar dalam kehidupan ku.


Kabar yang kutunggu dari mas Hendra pun tidak kunjung tiba, Apakah dia ingkar janji. Bila iya.... bagai mana akan aku jawab sebuah pertanyaan kelak dari anak yang aku kandung saat ini.


Semoga sebuah kata maaf ku, tetap mampu membentang kan lautan kasih bapak dan emak ku. Aku berharap!


Tamparan yang bapak berikan, belum setimpal dengan rasa malu yang aku torehkan, Aku hanya pasrah, beri Dirah hukuman yang setimpal pak...


Emak... maafkan Dirah, ampuni segala khilaf Dirah. Ku raih kaki emak ku, aku berharap ampunan. Tangan emak membelai lembut kepalaku, tangis ku pecah dalam pangkuan emak.


Aku malu... aku malu dengan perbuatan ku, khilaf ku membawa petaka.


Rentetan peristiwa membawa tragedi berdarah, dunia ku seakan berhenti berputar. Orang yang selalu aku hormati dan aku sayang , harus meregang nyawa dengan cara yang sadis. Semua karena kebodohan ku, semua karena ulahku.


Warti.... maaf kan mbak yu mu ini... Aku malu padamu, aku berdosa pada emak dan bapak ku. Hancur luluh lantak dunia ku, lalu aku bisa apa selain menangis dan meratapi kebodohan ini.


Atas nama cinta, semua terjadi rasa dan kenikmatan, atas nama cinta dan ambisi membawa kehancuran.


Bapak... emak.... pengorbanan mu tidak sebanding dengan rasa tamparan yang pernak kau berikan padaku..


Bila waktu bisa ku putar kembali, ku ingin merasakan tamparan mu lagi dan lagi. Aku anak perempuan yang tidak bisa diandalkan, aku anak pembawa petaka.


Dan sekarang.....


Hidup ku bagaikan ratu, aku hanya duduk, berbaring dan meratap. Andaikan emak dan bapak bisa merasakan apa yang aku rasakan, ah.... aku terlalu merutuki kebodohan ku.


Gusti ku, ampunilah dan rahmati lah, bebaskanlah, lepaskanlah kedua orang tuaku. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, bersihkanlah kedua orang tuaku dengan air yang jernih dan sejuk dan bersihkanlah kedua orang tuaku dari segala kesalahan seperti baju putih yang bersih dari kotoran. Gantilah tempat tinggalnya dengan tempat tinggal yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya juga. Masukkanlah kedua orang tuaku ke surga dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya dan siksa api neraka".


...****************...


Mak....☺️☺️ jangan ikut ikut an hukum Dirah ya 🤭, penyesalan kan selalu di belakang yah... Kalau DP Mak suka di nongol paling depan🤣🤣


mata udah sepet, esok lagi yak 😘😘

__ADS_1


jangan lupa jempol nya Mak j-e-m-pol like rate ⭐🖐️😉


__ADS_2