
"Sardi... urusanmu hanya dengan ku, lepaskan Sulastri dia tidak tau apa-apa tentang kita berdua. Mari kita selesaikan dengan baik-baik." Djaelani berkata dengan suara lantang, di antara kekuatan yang masih ia miliki.
Luka pada lambungnya ia bebat dengan kain selendang, membantu untuk menahan keluarnya dar*h segar.
"Ayah..jangan mendekat! pergi ayah...!" Jeritan Sulastri yang masih dalam cengkeraman erat Sardi.
"Berteriak Lah ndhuk, aku suka mendengar suaramu, akan ku buat erangan mu memanggil namaku dalam pelukan mu. hah...ha...ha.." Puas rasa Sardi telah membuat rasa takut itu menghantui Djaelani yang sejak awal tidak berkedip menyaksikan bagaimana Sardi memperlakukan Sulastri di depan orang banyak.
Para tamu yang tidak bersangkutan, satu per satu meninggalkan tempat Atmosiman, sebab! semakin lama semakin mencekam. Anak buah Sardi perlahan-lahan bisa di ringkus, tanpa perlawanan.
di sudut gapura masuk, tiba-tiba anak buah Sardi melepaskan senjata tulup dan tepat mengenai kepala salah satu tamu undangan, tamu itu ambruk terk*par dan tidak bergerak.
Serangan kecil kembali terjadi, baku hantam kembali terulang saling memojokkan dan saling melakukan serangan yang mematikan lawan.
Karmilah dan anak-anak nya berada dalam satu ruangan yang luas, ada di antara mereka seorang gadis yang terlihat was-was tangan nya terkena goresan bambu di saat ia menolong gadis pesuruh dan berusaha menggeret tangan Sundirah untuk masuk dan menyelamatkan diri mereka.
Karmilah menatap iba gadis itu yang tak lain adalah Sulis. "Ndhuk kamu siapa.. apakah kamu juga gadis pesuruh Sardi...?"
"Ibu...dia adalah tamu undangan kita, kalau bukan ayah dari gadis ini, mungkin saya juga sudah terkapar di luar sana Bu." Sundirah menengahi kekhawatiran karmilah menatap Sulis, lalu mendekatinya. "Siapa namamu dan dari mana kamu ndhuk."
"Saya Sulistyowati nyonya, dan saya anak keponakan dari paman Jupri, tadi malam kawanan itu juga telah menyerang tempat tinggal kami. Salah satu pentolan dari mereka telah tewas, mereka juga ingin membawa saya pergi tapi untung ada kang Naris membantu kami melumpuhkan bajingan Tunggak itu nyonya."
"Oh... syukurlah kalau begitu, luka mu cukup panjang Sulis. Sini, yu Dirah olesi obat." Sundirah mendekat dan meraih lengan Sulis untuk di beri obat penawar sakit.
Teguh yang semula tenang, ia kembali rewel. Tiba-tiba saja menangis dan menjerit sekencang-kencangnya, membuat mereka yang di dalam ruangan panik seketika. Memberikan ketenangan dan mengendong Teguh, di sisi lain jeritan kencang juga terdengar dari luar ruangan.
"Gusti....! Iki piye ndhuk... apalagi yang terjadi." kepanikan dan ketegangan jelas terpancar pada raut wajah mereka terutama Karmilah.
Sundirah terpaku diam tanpa sedikitpun mengucapkan kata, ia memeluk erat-erat tubuh Teguh dalam gendongan nya.
Mereka para perempuan tidak tau apa yang harus mereka perbuat, selain mengharap waktu yang mencekam berubah menjadi damai dan kebahagiaan.
Kegaduhan kembali mencekam ketika, Naris berusaha mencoba bicara sebagai sesama pria kepada Sardi.
"Kang... lepaskan Sulastri, Kita hadapi semua ini dengan secara kesatria. Untuk apa kau menyandera Sulastri sedangkan pokok permasalahannya ada pada ndoro Djaelani." Suara Naris lantang terdengar, ini yang membuat Sardi semakin emosi di buatnya.
__ADS_1
"Tutup bac*tmu, kamu bocah kemaren sore, berani-beraninya kamu menasehati ku, sopo Kowe huh."
Sardi menyeret tubuh Sulastri menuju ke tubuh yang sudah terkapar tidak bernyaw* tidak jauh dari panggung pengantin, dan mengambil belati yang masih menamc*p di tubuh tak bernyawa itu.
Semua yang menyaksikan menjerit kaget, karena di saat sangkur itu di tarik paksa oleh Sardi tubuh yang sudah tersungkur itu, ternyata masih bisa bergerak dan mengerang.
Suprapto yang di buat geram oleh sikap Sardi, akhirnya dia diam-diam menembakkan senapan ke arah kaki Sardi.
dorr...dor...
Satu peluru tepat mengenai mata kaki kiri Sardi, dan satu peluru meleset dari sasaran yang sama.
Aakkhh....
Erangan keras itu tak ayal membuat tangan Sardi reflex melemparkan, sangkur yang ia bawa melayang yang tepat sasaran kembali mengenai paha Djaelani, karena sejak awal bila terjadi segala sesuatu pada dirinya maka, Djaelani juga harus ikut merasakan.
Djaelani kembali roboh, Mahendra segera membopong tubuh kurus mantan lurah itu, dan membaringkan di tempat yang lebih aman.
"Ayahh....!" Sulastri meronta ingin melepaskan diri dari cengkeraman Sardi dan berlari menghampiri Djaelani. Akan tetapi kembali cengkeraman Sardi lebih kuat daripada kekuatan yang ia miliki.
Harjito yang berada tepat di belakang Sardi, juga tidak bisa berbuat banyak. Bila maju maka nyawa Sulastri jelas terancam, namun bila hanya berdiam menunggu kepastian Sardi, semua jelas akan menghambat waktu.
Tangan kekar Sardi menyeret kembali tubuh Sulastri untuk menjauh, namun kejadian di luar dugaan.
Sulastri tiba-tiba menjerit kesakitan, dan darah mengalir diantara betisnya
"Kang Jito...tolong." Suara itu lemah tanpa tenaga. Pada waktu yang sama, Jupri bertindak dengan cepat, ia meraih senjata tulup yang juga dia persiapkan.
Tulup Jupri tepat mengenai leher Sardi, tak ayal tangan yang mencengkeram Lastri ia lepaskan.
"aakkkhhh ... Bangs*t kalian." langkah Sardi terhuyung kedepan dan melepaskan cengkeramannya.
Akan tetapi kekuatan Sardi masih terlalu kuat untuk tumbang, ia terhuyung dengan kaki yang terkena timah panas, dan leher yang terkena tulup beracun milik Jupri.
Ha....ha...ha....
__ADS_1
"Djaelani...! kau juga harus rasakan ini."
hhup.... aakkhh...
Sardi terhuyung mendekati Djaelani yah terkapar di lantai bale-bale, semua mendekat dan melindungi Djaelani.
Sardi meraih tombak pajangan di sisi dekor pengantin, kekacauan kembali sulit di hindari.
Sardi dengan seringai nya, mengayun-ayun kan tombaknya ke arah siapapun yang mendekat.
Harjito tidak membuang kesempatan itu, ia segera membopong tubuh Sulastri dan membawa menjauh dari kerumunan mereka yang hendak meringkus Sardi.
"Mbok...mbok....!"
"Bertahanlah Lastri, kamu bisa! jangan menyerah."
"Gusti... Oalah Gusti piye iki to lee..." jeritan Paini melengking.
"Sabar yu...sabar! ndhuk Lastri rupanya keguguran segera kita harus mencari bantuan untuk menangani ini." Hamidah yang berada di tengah-tengah mereka memberikan saran.
Slamet yang mengetahui situasi tersebut, ia segera menyarankan harjito untuk kembali mengendong tubuh Lastri dan membawanya pergi ke balai kesehatan.
"Ibu... kenapa harus begini, kapan semua ini berakhir..." Sundirah meratap, mengingat kejadian yang hampir saja kehilangan bayi dalam kandungan, dan kini kejadian yang sama terulang pada diri Sulastri.
"Sabar ndhuk, semua itu tidak akan terjadi asap mengepul, tanpa adanya bara api yang membakar. Jangan meratapi ndhuk, dan jangan menoleh kebelakang lagi." Karmilah menenangkan Sundirah dan mencoba mengalihkan rasa sedih yang pernah Dirah alami.
...****************...
Tetap suantaiii ya Mak 🤧, pak ..😅
ambil hikmahnya, nikmati manisnya, buang yang pahit.
Wong sabar Kuwi subur.
lope you semua pokok e😘😘😘
__ADS_1