SUNDIRAH

SUNDIRAH
Tamu tidak di undang


__ADS_3

"Yu... apa yang kau lamun kan...?" Warti tiba tiba datang dan menepuk pundak Dirah.


"Wartii...! Kamu kebiasaan dari dulu, bikin kaget saja." Dirah mendelik kan mata nya ke arah Warti.


"He..he...he... maaf yu... dari tadi Warti amati, yu Dirah kok melamun terus, mikirin apa to yu...?" Warti mendekat dan duduk di samping Dirah.


"Bicaralah, kita hanya berdua yu.. jangan pernah simpan duka mu sendiri. Ada aku, jangan pernah merasa sendiri."


"Warti..." Dirah merengkuh tubuh Warti dalam pelukan nya.


"lihatlah ndhuk... aku sudah tidak bersedih lagi, ada kamu di samping ku, aku harus tegar menghadapai kenyataan ke depan."


"Teguh semakin memberikan kehidupan ku menjadi kuat, kasih dan sayang mas Hendra membawa ku lengkap dalam kehidupan."


"Rasa legowo dan keikhlasan ndoro Atmosiman dan nyonya Karmilah, mengingatkan aku akan emak dan bapak." Sundirah memandang jauh ke depan, lalu menatap Mahendra yang masih terlelap dengan dengan halusnya.


"Warti..." Bisik sundirah lagi. Warti menatap balik, tangan nya mengusap halus pipi Dirah oleh tetesan air mata.


"Katakan yu, aku tau penyesalan sampean begitu dalam, akan tetapi jangan terus menyiksa diri begini yu..


Bapak dan emak sudah bahagia, mereka akan bersedih bila melihat keadaan mu terpuruk begini."


"Jangan sia-siakan pengorbanan bapak sama emak yu.. ayo sampean pasti bisa." Warti tidak henti-hentinya memberi semangat pada Sundirah.


"Apa yang kau sedih kan dek...? Kau tidak pantas untuk menangis dan meratapi kisah kita yang sudah bahagia saat ini."


"Tersenyumlah menyongsong hari esok." Suara Mahendra mengejutkan Sundirah dan Suwarti.


"Oalah sampean nguping Yo mas." Gumam Warti sambil tersenyum malu.


Sundirah hanya bisa tertunduk malu oleh sikapnya.


"Dek... bukan kamu saja yang bersalah, cinta kita membawa takdir dan menciptakan sebuah cerita."


"Kita bersyukur dan menikmati yang ada, dan semoga membawa berkah pada kehidupan kelak kedepan nya." Mahendra Tau betapa sedih dan sakitnya Sundirah. Namun tidak untuk nya meratapi tentang kesalahan.


Terdengar sayup suara gemerincing dokar, lalu di iringi suara ringkih kuda, Mahendra memalingkan muka. Lantas turun dari amben tempat dia tertidur tadi.


Sementara Suwarti pamit akan ke dapur dengan Surip, dan Sundirah berjalan pelan menuju ruangan dimana Karmilah dan Teguh sudah terlelap.


Senyum Sundirah seakan enggan melebur diantara lengkungan bibir merah natural itu. Sungguh kelegaan yang luar biasa ia rasakan.


Jari-jari nya memainkan ujung kaki-kaki Teguh yang terlepas dari kain bedongan.

__ADS_1


Mahendra, berjalan menuju ruang bale-bale, dan menyapa tamu yang bertandang ke rumah nya.


"Kulo nuwon...Mas Mahendra...!" Ternyata tamu itu adalah dua lelaki yang beda usia jauh, dengan seorang wanita menyapa Mahendra dengan akrab.


"Wah.... Monggo... Monggo pak Prapto! Njanur gunung." Mereka saling bersalaman, dan mempersilahkan duduk.


"Maaf kan saya mas, setelah kejadian kemaren, saya belum bisa menyempatkan diri untuk menjenguk Ning Dirah yang sudah melahirkan, putra pertama kalian. Selamat ya mas." Senyum merekah menghiasi Prapto bersama sang istri.


"Terimakasih pak Prapto, Puji syukur semua kekacauan telah berakhir dengan aman, dan istri saya juga telah berangsur membaik kesehatannya."


"Semua berkat dukungan, bantuan dan tidak luput dari doa kita bersama." Mahendra menautkan kedua tangannya sebagai tanda terimakasih kepada Suprapto bersama istri.


Sedangkan sosok pria muda yang berada di samping Prapto, mengikuti anggukan Mahendra dengan sopan.


"Sebentar pak Prapto, saya akan panggil ayah dan ibu."Mahendra berlalu ke belakang.


Mahendra berlalu ke belakang mengabari Slamet untuk mencari Atmosiman, ke gudang kopra.


Lalu ke dapur mencari Suwarti untuk membuat sesuatu sebagai suguhan tamu.


Dan setelah itu menuju ke tempat dimana sundirah dan karmilah berada sedang menemani Teguh.


"Ibu.. di luar ada pak Prapto berserta istri dan seorang pria muda." Mahendra mendekat dan berbicara agak berbisik kepada karmilah.


"Ngapunten ibu... kenapa dengan Warti..?" Sundirah memberanikan diri menyela perkataan mereka.


"Dirah... itu istri dan anak pak Prapto, semoga berjodoh dengan Suwarti." Karmilah mesem melihat kebingungan pada raut wajah Sundirah.


"Kamu tenang saja ndhuk... Tidak akan terjadi masalah yang sama dengan masalah kalian berdua."


" Warti anak ibu juga, ibu dan ayah tidak mungkin membawa dia dalam duka." Karmilah berlalu sambil tersenyum ke arah Mahendra dan Sundirah.


Berjalan lenggang menuju bale-bale menemui tamu yang di maksud. Senyum mengembang di bibir mereka, terlihat baru saja Atmosiman berjabat tangan lalu duduk berhadapan dengan Prapto. Karmilah pun menghampiri mereka, dan berbincang-bincang apa adanya, tentang perkembangan kopra dan usaha masing-masing, dan tentang pendidikan anak-anak mereka.


Muncul dari arah belakang Suwarti dengan membawa minuman dalam cangkir, serta makanan ringan dalam piring, sukun kukus, pisang kepok kukus, ada juga kerupuk gadung khas desa jatilengger.


Dengan sedikit canggung Suwarti memasuki bale-bale, namun Surip yang membantu membawa, mendorong Suwarti agar tidak bersikap canggung pada tamu.


"Ayo Warti, jangan gugup. mereka keluarga pak Prapto orangnya baik."


"I...iya mbok."


" Anak ragil ya mbak yu..." Tanya istri Prapto, sembari menoleh kearah karmilah lalu ke arah anak laki-laki nya.

__ADS_1


"Iya dek, anak ragil saya."


"Ayo ndhuk beri Salim kepada pak Prapto sama Bu Prapto." Atmosiman berantusias memberikan kesempatan kepada Warti.


Namun Suwarti malah memandang kearah karmilah dan tersenyum sambil mengigit bibir.


Karmilah mengangguk kan kepala membalas senyuman Suwarti.


Suwarti menerima uluran tangan suami istri Suprapto lalu terakhir, ia berjabat tangan dengan anak Suprapto, Prayuda saling menatap lalu menundukkan mata dan kepala.


Dan pada saat yang sama Suwarti, mohon diri untuk kebelakang kembali. Dengan membawa sejuta tanya, dan berbagai macam rasa di dalam hati.


"Wah... ragil nya mbak yu Karmilah ayu, dan luwes Yo pak." Istri Prapto membuka suara setelah mencicipi suguhan di meja.


Mahendra yang ada di antara mereka, sudah bisa menduga. Kemana arah mereka berbicara, bukan tentang basa-basi semata, namun ada udang sama wortel di balik wajan.


Prapto tersenyum sambil melirik ke arah Prayuda, yang masih belum menyadari perkataan mereka, karena matanya masih sibuk mengikuti kemana arah Suwarti menghilang.


"Nak Yuda... silahkan di minum dulu." Atmosiman sudah menyadari, anak muda ini sedang penasaran dengan sosok Prayuda.


"I..iya paman." Gugup terdengar jawaban Prayuda.


Suprapto yang menyadari itu menyembunyikan senyum nya lalu, mereka kembali ke perbincangan semula. Mereda rasa anak muda dalam pandangan pertama.


Suwarti setelah sampai di dapur, terdiam di dekat perapian. Sambil menepuk nepuk dadanya, Surip yang menyadari itu buru-buru mendekat, dan mengulurkan Cangkir yang berisikan air putih dingin dari kendi, yang baru saja ia tuang untuk Suwarti.


"Warti... ono opo...? Apa kamu berbuat kesalahan." Surip yang tidak tau menahu , bingung di buatnya oleh sikap Warti yang seperti orang ketakutan.


"Ndhak ada apa-apa mbok, hanya sedikit ngantuk, he...he...he.."


"Saya mau ketempat Teguh dulu, sudah kangen mbok." Warti mencoba mengalihkan rasa hati yang ia rasakan saat ini, dan berlalu, meninggalkan Surip.


Suwarti berlalu ke arah luar rumah, dan memungut baju-baju kecil milik Teguh, dan melipatnya. Namun kembali raut wajah itu menghias pada fikiran nya.


"Ahh.. kenapa dengan ku?" Pungkas Warti dalam hati, akan tetapi kupu-kupu itu, nyatanya terbang berkeliaran dalam senyuman penuh tanya.


"Kami mohon pamit, pak Siman! Semoga kedepan nya kita akan bisa sambung kembali. Dan lebih akrab daripada hari ini." Sayup terdengar, di saat Suwarti melintas tidak jauh dari tempat ia berjalan.


Ia mengintip dari celah sekat, namun buru-buru berlalu menuju tempat Teguh dan Sundirah berada.


...****************...


Tuh kan... udah di bilang Naris bukan jodoh Warti juga Mak...😂😂

__ADS_1


Wes ahhh... makan sukun kukus yuk 😂 uenak Mak...


__ADS_2