
Naris bersama Harjito dan tiga teman nya masih adu kekuatan saling tonjok, jegal dan menghantam. Duel yang tidak seimbang, Namun Harjito penuh ambisi ingin segera mengakhiri.
Luka yang terus mengeluarkan darah segar, bukan halangan bagi dia. Naris sangat mengkhawatirkan keadaan Jito.
Bahkan semakin lama, semakin tidak seimbang. Untung tidak ada duel dengan membawa senjata tajam, tetapi tetap saja bonyok di mana-mana.
"Beri tau kami, dimana Lastri istriku berada...?" Harjito berteriak lantang.
"Kau harus melangkahi mayat ku dulu, setelah itu bisa membawa pulang dia!" Para cecunguk Sardi, tidak kalah lantang menjawab teriakan Harjito.
Kembali terjadi adu jotos, Kawanan Sardi menambah anggota, kali ini mereka membawa senjata tajam, clurit dan senjata tajam lainnya.
Semakin lama semakin memanas, dan tidak seimbang. pihak Naris semakin keteteran, pihak Sardi semangat membunuh dan menyerang.
Kepalang tanggung, mundur pasti akan di kejar, maju juga tidak seimbang. Naris dan kawan kawan hanya bisa bertahan saja.
Harjito lengah...
"Aahhkkk..... ohhh....!" Jito tumbang berdiri lagi dan menyerang lagi..
Lengan Naris juga terluka, satu kawan di antara mereka sudah tumbang dan tidak bergerak lagi, dia telah mati.
Di saat posisi terdesak, dan tidak mungkin untuk menghindar, terdengar suara.
Dorrr.....dorrrr... Dorrrrr....
aakkhh.....
kaburrrrr.....
Kawanan Sardi kocar Kacir, yang masih mampu berlari mereka segera kabur, akan tetapi yang sudah terluka parah. Mereka hanya bisa pasrah menerima nasib, Bogel lari paling awal begitu mendengar suara ledakan.
Sedangkan Sardi, yang saat itu sedang berada di dapur. Masih saja mencurigai ada sesuatu yang tersimpan di dapur, dia menyapukan pandangan ke segala penjuru, lalu berhenti ke tempayan besar dengan tutup beberapa nyiru di atasnya.
sangat menyita penglihatan nya, perlahan dia mendekati dan di saat tangan nya hendak mengangkat nyiru itu.
"Kang.... kang sarrdiii....! kabur kang...!" Bogel lari tunggang-langgang mencari keberadaan Sardi.
Tepat saat itu tempayan sudah terbuka sempurna, Sulastri langsung berdiri. Melempar cobek dari tanah liat yang sejak semalam ia siapkan.
Dan tepat mengenai pelipis Sardi, merah padam wajah Sadri di buatnya. Sardi hendak mendekat, namun bogel berteriak lebih lantang, dan menggeret lengan Sardi.
"Ayo kang... kita sudah terkepung, nyawa kita lebih penting daripada, Perempuan itu."
Kebingungan dan rasa kesal, menghampiri Sardi. Dia menatap tajam Lastri lalu berpindah ke Mitun dan Situn, tak ayal dua wanita paruh baya itu sangat ketakutan.
Namun.....
__ADS_1
Sardi merangsek, mendekati Sulastri dan mengendong panggul tubuh Lastri. Lalu berjalan cepat menuju keluar dapur.
Lastri memberontak, menjerit, tubuhnya meronta-ronta.
Akan tetapi kekuatan tidak berpihak pada situasi, Sardi mengetok tengkuk Sulastri hingga tidak sadarkan diri.
Lemas tidak berdaya, dalam gendongan Sardi.
Mitun dan Situn hanya mampu melihat dan, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hingga di pengakhiran usaha untuk membantu Lastri, ketika Sardi berlari di atas lantai ber semen Tiba-tiba ide itu muncul dari benak Situn, Sisa jagung yang belum ia tumbuk pagi tadi, ia tebarkan lantai ke arah Sardi berlari.
Tak ayal lagi, lantai jadi licin dan....
Bruukkgg..... jooohhhh...
aahhhkkk....
Sardi jatuh dan tertimpa tubuh Lastri,
erangan kesakitan terdengar nyaring, Bogel menoleh dan kembali menyeret Sardi, dan meninggalkan Lastri yang masih pingsan.
Mitun dan Situn, bersembunyi di antara karung karung goni, dengan ketakutan.
"Lastri gel....!"
"Tidak penting...! yang penting sekarang kabur, Lastri bisa kita cilik lagi di lain kesempatan." Bogel berkata, tanpa menoleh dan tetap menggeret tangan Sardi.
"Berhenti.... jangan lari ..!
Teriakan pasukan keamanan, tidak menyurutkan Bogel dan Sardi kabur dari tempat itu.
Pasukan, dengan Bogel kalah hafal lokasi dan medan, tempat persembunyian sudah mereka antisipasi bilamana ada kejadian seperti saat ini.
Mereka mengejar, namun tetap kehilangan jejak.
Suara letusan itu membuat, Mitun dan Situn takut dan lemes setengah mati, karena mengingatkan trauma tentang kematian orang tua mereka. Di saat harus melakukan kerja paksa pada saat era sebelum Indonesia Merdeka.
Setelah di rasa sudah tidak ada suara kegaduhan, Mitun dan Situn mendekati dimana Lastri yang masih pingsan, dan membetulkan kain yang ia pake.
"Oalaah... ndhuk...ndhuk... nasib mu kok apes bener, bisa ketemu sama orang sebejat Sardi itu."
Mereka menggotong tubuh Lastri, dan merebahkan di lincak yang ada di dapur itu.
Sedangkan di luar pekarangan, serta sepanjang jarak setengah mil dari tempat tinggal Sardi, di mana terjadi adu duel dan adu senjata tajam.
beberapa orang masih ada yang mengerang kesakitan, ada yang terkena luka bacok, luka tembak pada betisnya, karena mengabaikan himbauan untuk menyerahkan diri secara baik-baik.
Tepat di pelataran rumah besar tersebut, Harjito berlumuran darah. luka pada rusuk sebelah kanan nya, semakin menganga dan mengeluarkan darah segar yang tidak sedikit.
__ADS_1
Jito duduk lemas, dan bersandar pada bongkahan batu di sampingnya, menunggu pertolongan pertama.
Naris juga terluka pada lengan nya, pipi nya membiru terkena pukulan. Setelah menyerahkan Jito kepada teman-teman sejawatnya.
Naris memandang kearah Jito, lalu mengangguk kan kepala, sebagai isyarat naris hendak masuk ke dalam bangunan yang sunyi di tinggal penghuninya.
Perlahan Naris menyapukan pandangan, dia mendengar sayup-sayup suara seorang perempuan. Naris mendekat, dan lebih jelas terdengar suara tersebut.
Mitun yang bicara sendiri, dengan Lastri yang masih pingsan, sontak menoleh dan kaget.
"A...aampun tuan.... Sa sayaa, tidak mengetahui apa-apa."
Naris mendekat, dan mengetahui wanita yang pingsan itu ternyata adalah Sulastri.
Situn yang baru saja kembali dari mengambil sepotong baju untuk Lastri kaget juga, demi melihat kehadiran Naris yang asing dan terluka.
"Yu...! maaf tuan siapa...?" Tanya Situn dengan membuang rasa takut.
"Maafkan saya, kalau saya membuat mbok terkejut, tapi jangan takut mbok, saya orang baik." Ucap Naris sambil mendekat di sisi tubuh Sulastri.
Namun ia berdiri lagi, dan buru-buru mengatur debaran jantungnya yang keras berdebar.
"Mbok... minta tolong pakaikan lah baju dan kain itu yang benar. Kasihan Ning Lastri. dia akan kedinginan" ucap sambil mengusap ujung bibirnya yang perih.
Mitun dan Situn segera membetulkan kain yang di pakai Sulastri, dan baju Situn yang ia berikan untuk Lastri.
Perlahan mata Lastri terbuka, dia sekuat tenaga mengibaskan tangan tangan Mitun dan Situn. Trauma atas perlakuan Sardi membuat Lastri merasa jijik pada diri nya sendiri.
"Ndhuk .. siapa namamu..? Jangan takut kami akan membantu mu memakai baju dan Jarit yang betul. Kami tidak akan berlaku kasar padamu ndhuk."
Setelah kesadaran Lastri benar benar pulih, dia lalu menangis, dan memeluk Situn erat-erat.
Naris kembali lagi mendekat. "Ning Lastri... jangan takut, ini kami yang datang." Naris mendekat
"aahkk....jangan mendekat...pergi...pergiiii!"
Jiwa Sulastri benar-benar mengalami goncangan batin dan trauma. Rambut panjang nya yang kusut. matanya yang sembab, siapapun akan trenyuh lihat kondisi Lastri saat ini.
Naris mundur beberapa langkah, dia bingung. Dan menatap ke arah Lastri yang histeris tiba-tiba, Lastri memeluk Mitun ketakutan.
"Neekk... Lastri takut...!" tangis Lastri dalam pelukan mereka.
...****************...
Netizen....! Bisa ngebayangin nggak sih, Sardi di lempar cobek 🤣 harusnya sama sambel bawang nya sekalian ðŸ¤
Sulastri trauma, semoga mengarah ke amnesia ya 🤧🤧
__ADS_1
by the way.. tetap beri saya dukungan jempol, like, vote maupun komen positif ya kakak sekalian 🤗
And ai lope lope you pokok e Mak 😉