
"Nenek...!" Jerit Sulastri, memandangi sekitar tempat dimana dia sedang terkulai.
Di atas cikar, dan Sardi yang duduk sambil tersenyum mengerikan kepada Sulastri.
"Kamu..!"
"Kang Sardi....! Pergi... jangan sentuh aku..!"
"Tolong....! Kang Jito...!" Lolongan Sulastri semakin membuat rasa puas dalam hati Sardi.
"Istirahat lah Lastri, perjalanan kita masih jauh. Jangan menjerit ataupun berteriak, semua akan sia-sia." Senyum Sardi mengembang di bibir penuh kemenangan itu.
"Apa salah ku kang....? lepaskan aku, biarkan aku hidup dengan kang Jito." Lastri bersimpuh di depan Sardi.
"Ini semua kesalahan ayah mu, dia yang telah membunuh kekasih ku! dan kini kau sebagai penggantinya. Kau akan menemani di sisa hidup ku kelak." Sardi menggeser duduk nya, dan mendekat di depan Lastri.
"Tidak kang...! tidak mungkin." Teriak Lastri berusaha menghindar, dan melarikan diri. Namun apa daya, semua!terasa sia-sia ia meronta dengan sekuat tenaga. Namun nyatanya, tenaga lemah yang ia miliki.
"Jangan meronta, aku tidak akan melukai mu ataupun menyakiti mu. Turuti lah kemauan ku." Sardi menyergap tubuh Lastri dan membawanya kedalam pelukan nya.
"Kang...kamu gila...!" Tangan Lastri membabi buta memukul, mencakar Sardi.
"Lakukan semua kemauan mu, asal kau tetap bersamaku." Sardi bahkan tertawa lebih keras.
Cikar yang mereka tumpangi, berjalan dengan pelan ber irama kan buaian sang bayu senja.
Tubuh lemah Sulastri tidak mampu lagi, meronta melepaskan kekar nya tangan tangan Sardi.
Sulastri pasrah, dengan sejuta rencana. matanya nanar mencari celah untuk melarikan diri, dan mengingat jalan yang mereka lalui.
"Lastri...! jangan pernah ada niat untuk melarikan diri dariku, sebab aku tidak akan mampu jauh dari mu. Kau adalah penyatuan raga dan Sukma Rukmini."
"Kau milik ku Lastri." Bersorak kemenangan batin Sardi.
Singkat cerita....
Perjalanan dalam pelarian Sardi akhirnya, berakhir pada tujuan nya. Rumah joglo yang luas, bersih. beberapa pekerja saling menyapa dan mengangguk kepala pada Sardi dan kawanan nya.
Rumah joglo tersebut adalah balai pengobatan, tempat Sardi di rawat pasca terkena sabetan celurit, saat terjadi duel antara Suyud waktu itu.
Langkah Sulastri enggan memasuki pekarangan, Ia masih berusaha untuk melarikan diri dan kabur dari jangkauan Sardi.
Sardi sudah tidak sabar,
lengannya yang kekar itu merengkuh tubuh Lastri dalam gendongannya.
Sulastri meronta, berteriak, mengigit dan menendang apa pun yang bisa ia tendang.
"Jangan berteriak Rukmini, malam ini akan menjadi malam panjang buat kita."
"Lihatlah.... kesabaran ku sudah pada penghujung nya." Sardi membawa mengendong Lastri menuju sebuah kamar yang luas, dan remang remang karena minim nya cahaya yang masuk.
"Tidak kang...jangan lakukan itu, aku wanita sudah sah bersuami, jangan kang .. lepaskan aku, suamiku akan mengampuni mu."
__ADS_1
"Aku tidak butuh pengampunan nya, aku hanya membutuhkan mu Rukmini."
"Aku bukan Rukmini kang, lepaskan..!"
Sardi tidak menghiraukan permohonan dan teriakan Lastri, Tubuh kurus Lastri di lempar ke atas tempat tidur.
Setan rupanya telah merasuki jiwa Sardi. Di ikat nya tangan dan kaki kecil Sulastri, di tiang tempat tidur. mulut Lastri di sumpal dengan kain panjang.
"Jangan meronta Rukmini, bukanlah kita juga saling mencintai...? tidak kah kau rindu, ingin ku peluk wangi tubuhmu. Jangan teriak sayang...hemmm kau milik ku malam ini dan selamanya." Nafas Sardi penuh dengan gelora nafsu, debat jantung nya membawa dia kedalam kenikmatan yang akan dia ciptakan.
Tok...tok...tok...
"Kang... kang Sardi...! Buka pintu.." Suara lantang dari balik pintu.
"aakkkhhh..... apa kalian buta..! hah..., aku sedang menikmati malam yang indah. kalian menggangu saja..!"
"Kang....! sabar dulu kang.."
"Paidi telah tertangkap, dan mereka memberikan informasi tentang tempat tinggal kita ini."
" Tidak menutup kemungkinan mereka akan menemukan tempat persembunyian kita." Rupanya Bogel yang sedang mengetuk pintu, dan dalam keadaan panik.
"Cegat mereka di perbatasan, habisi siapapun yang akan masuk wilayah kita" Suara berat Sardi penuh dengan kemarahan.
"Baik kang..akan kami cegat pergerakan mereka, menuju tempat kita."
Bogel berlalu, dan Sardi kembali mendekati tubuh, Lastri yang terkulai tak berdaya.
"Kang lepaskan aku...! akan aku mintakan apapun keinginan kang Sardi pada ayahku!"
"Tolong kang, ini sakit." Isak Lastri.
"Aku tidak menginginkan apapun saat ini, Rukmini."
"Aku hanya ingin menikmati impian ku bersamamu." Sardi mendekati lastri, dan menciumi wajah Lastri.
"Aaakkhhh.... lepaskan...! jangan sentuh aku."
"Bajingan... lepaskan aku...!" teriak Lastri sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Rukmini...! tidakkah kau merindukan ku? heemm...! lihatlah... seribu purnama telah terlewati, aku tetap setia menuggu mu." Semakin dekat, dan semakin diliputi setan hawa nafsu.
Satu persatu ia tanggalkan busana Lastri, tubuh molek Lastri terkulai tidak berdaya, dengan rasa takut yang tidak bisa terucapkan dengan sebuah kata-kata.
"kang... ampuni saya kang...! lepaskan saya..."
"Jangan lakukan itu pada ku, kang...!"
Kamituwo Sardi, meraba setiap inci tubuh Lastri. menciumi di setiap ceruk leher Lastri. Jeritan Sulastri bagaikan alunan Gending Asmorodhono, yang seakan kisah cinta yang kandas telah terulang kembali dengan keikhlasan..
Sardi terbuai pada setiap jeritan Lastri, seolah-olah sebuah permintaan.
"Kang... kang Sardi..! Suara Lastri melunak.
__ADS_1
"Kang Sardi... lakukan keinginan mu, aku rela menjalani nya." Pandangan mata Lastri berubah menjadi sendu.
Ada senyum di ujung bibir Sulastri. "Lepaskan aku kang, aku akan menurut padamu. kita akan menikmati bersama." Mata Lastri terpejam rapat. Nafas Lastri memburu seperti di kejar hantu di siang hari.
"Rukmini...?"
" Ya kang, aku Rukmini mu, lepaskan aku."
Mulut Lastri ber desis, membalas tuntutan Sardi. Karena Sardi sudah terbuai oleh nafsu, lupa segalanya, lupa akan sebuah jebakan.
Perlahan Sardi melepaskan satu persatu ikatan kaki dan tangan Lastri. Mau tidak mau, Lastri harus merasakan sentuhan bibir dan tubuh Sardi, yang sudah hilang nalar nya.
pov Sulastri
Aku dengar lamat-lamat suara seorang lelaki, bahwa akan ada pengejaran pada komplotan kang Sardi.
Semoga kang Jito segera menyusul ku dan mengetahui keberadaan ku.
"Kang Jito...aku takut kang..."
Aku harus berjuang mempertahankan kehormatan ku, tapi bagaimana...?
Otak ku berputar keras..
Haruskah aku menjatuhkan sedikit harga diriku, demi kehormatan ku..?
Aku jijik...! Duh Gusti..Tolong selamatkan hamba mu ini. satu persatu baju yang aku kenakan telah robek, karena di buka paksa.
Aku harus kuat menahan rasa malu ini, dari pada kehilangan kehormatan seumur hidupku.
Aku berusaha sekuat hati, berbicara lembut dan sedikit merengek seperti cerita di radio yang pernah aku dengarkan.
Rasa jijik ini sulit aku kendalikan, ingin muntah saja. Mataku perih rasa nya melihat tubuh dia yang telanjang tanpa sehelai benang pun.
"Kang jito..., maafkan aku. Ini bukan kemauanku."
Aku harus bisa keluar dari neraka ini, sebelum semua terjadi.
Rayuanku berhasil, tali-tali yang mengikat tangan dan kaki-kaki ku telah ia lepaskan. Tangan ku gemetar antara semangat untuk melarikan diri, dan takut. kang Sardi hampir saja menindih tubuh ku, pelan.... dia meraba, mengusap area sensitif ku, Tidak henti hentinya dia memanggil nama bibi ku, ku lirik kain yang berada tepat di bawah kaki ku.
Sekuat tenaga ku angkat kaki ku, dan aku tendang ************, mengenai tepat pada Sardi junior yang sudah karatan termakan waktu itu 🤧 dan terakhir pada wajahnya..
gemetar kaki, jantung ku berasa berhenti. Aku meraih kain, untuk menutupi tubuhku yang tidak berbusana. apapun yang bisa aku ambil, aku raih untuk menutupi tubuh ku.
Aku berlari keluar dari kamar, sedangkan Kang Sardi terjengkang, dan merasakan sakit pada benda keramat penunjang masa depan nya.
Aku lari keluar dari kamar, saat aku lari di luar terdapat dua orang kawanan kang Sardi, aku kembali berputar arah. namun buntu, aku berlari masuk ke dalam sebuah dapur.
...****************...
Selamat membaca 😉 jangan lupa like vote dan komen yah kak 😘😘
salam sehat always .🤗
__ADS_1