SUNDIRAH

SUNDIRAH
Siapa dia


__ADS_3

Iring-iringan dua mobil patroli bersama dua cikar, telah tiba kembali di tempat Mitun dan Situn.


Karena tidak mungkin akan membawa semua, menuju satu persatu tempat tinggal para wanita ke rumah mereka masing-masing.


Betapa terharunya Situn dan Mitun, melihat kaum nya tertindas oleh kawanan Sardi dan Tunggak. Bisa bebas dan kembali pada keluarga nya masing-masing.


Mereka saling bersalaman, bercerita dengan rasa kelegaan yang akhirnya mereka rasakan, setelah sekian bulan mereka alami rasa ketakutan, dan kesakitan lahir maupun batin.


Dasarnya Situn dan Mitun yang memang ringan tangan, mereka segera membantu para laki-laki yang terluka, dan para wanita menyuruh mereka untuk membersihkan diri masing-masing.


"Mbok.. kenalkan nama saya Suparman, saya adalah teman dan saudara dengan Naris."


"Kami, izin istirahat barang satu hingga dua hari di sini, kawan kami ada yang terluka, dan kami membawa beberapa wanita tawanan Sardi." Suparman menyapa wanita kembar tersebut, mereka berbincang-bincang dan saling bercerita.


"Silahkan, nak Parman, sungguh suatu kehormatan bagi kami. Bisa menolong dan membantu saudara, seperti kalian dengan kemampuan kami." Jawab Situn sambil tersenyum, memperlihat kan gigi-gigi merahnya bekas kunyahan kapur sirih.


"Jangan sungkan-sungkan, istirahat dengan baik dan nyaman."


"Dahulu Tunggak, adalah orang kepercayaan mandor tebu di wilayah ini, akan tetapi! Dengan berjalannya waktu, dia lupa akan tugas dan apa yang harus dilakukan. Dia membawa kabur anak juragan penggilingan tebu, dan membantai seluruh keluarga juragan tersebut." Mitun menjeda ceritanya.


" Sardi sama Tunggak sama-sama licin nya, mungkin mereka harus menunggu karma saja, dan akan mati mengenaskan." Geram Situn.


"pada beberapa waktu lalu, Tunggak sudah pernah di tangkap, di tembak kakinya, dan sudah di masukkan kedalam penjara. Akan tetapi dia masih bisa lolos juga." Mitun dan Situn saling menceritakan semua tentang Tunggak dan Sardi.


Parman mencermati semua cerita dari kedua wanita paruh baya itu, dan mengambil kesimpulan. Bahwa berandalan tersebut sangat memahami seluk beluk tempat pelarian nya, Dan Ternyata juga seorang residivis, yang telah berbuat kejahatan dan mengulang nya kembali. karena memang tidak ada yang berani melaporkan, sebab kepandaian, kelicikan, dan rasa takut orang-orang di sekitarnya akan tunduk kepada yang lebih kuat, pada era waktu itu sangat mendominasi keadaaan.


Waktu berjalan lambat, kicau, dan gemulai tarian burung prenjak meloncat dari dahan hinggap ke dahan bergantian.


"Mbok.... mbok... apakah nama desa ini? saya ingin segera pulang." Tiba-tiba saja suara Sulistyowati datang dari samping Mitun.


Naris dari jauh memandang dalam diam, semua tingkah lakunya Sulistyowati. Dia merasa pernah berjumpa dengan sosok, yang berparas hampir mirip dengan Sulistyowati, tapi dimana...dan siapa dia...?


"Ini desa Sumbersari ndhuk, rumahmu di mana...? Apakah kamu masih ingat siapa kamu dan darimana kamu berasal." Tanya Mitun pelan.

__ADS_1


"Saya berasal dari wilayah Penataran mbok." Sulistyowati bercerita panjang lebar tentang siapa dia, dan darimana.


"Kenapa kamu bisa bersama para berandal itu ndhuk...?"


"Emak saya, bekerja pada ndoro Wedono mbok! Bapak saya sudah meninggal sejak saya kecil, saya di besarkan oleh paman saya."


"Tapi...." Sulistyowati menghentikan pembicaraan nya.


"Tapi kenapa ndhuk...? Tanya Mitun dan Situn hampir serempak.


"Paman saya juga..." Sulistyowati celingak-celinguk melihat sekeliling, siapa tau ada yang mendengar atau melihat pembicaraan, yang sangat rahasia bagi dia.


Naris berusaha berpura-pura tidak mendengar ataupun mengetahui nya.


"Paman saya juga seorang penjudi ayam sabung mbok." Sulistyowati menunduk kan kepala.


"Sudahlah.... itu mereka yang berjudi, biar mereka yang menjalani." Situn menimpalinya sambil berdiri dan melanjutkan aktivitas, untuk mempersiapkan makanan dan sebagainya, bagi para tamu tamu yang di bawa Naris dan Suparman.


"Mereka kaum lelaki sukanya main keras ya mbok, kita para wanita selalu berada di bawah, dan harus mengalah." Celoteh Sulistyowati, lantas mengekor Situn dan turun membantu mereka.


Malam menghampiri desa Sumbersari, Suparman dan Naris duduk melingkar pada lantai, beralas tikar anyaman daun pandan di antara para laki-laki.


Sedangkan Sulistyowati perempuan paling muda dan belia, juga duduk di antara perempuan, satu ruangan di bale-bale rumah besar itu.


Suparman, sebagai ketua dan bertanggung jawab atas semua yang ada diantara mereka. Ia memulai pembicaraan nya, dan membagi tugas, agar semua berjalan lancar dan selesai pada waktunya.


"Karena perjalanan akan melewati jalur berbeda, dan untuk mempersingkat waktu. Akan saya bagi menjadi dua bagian."


"Bagi yang terluka, dan sekarang sedang dalam proses perawatan. Akan bersama saya, menuju balai pengobatan di kota kediri."


"Naris, akan membawa dua diantara laki-laki, membawa para perempuan dan mengantar dimana asal masing-masing." Menjelaskan kepada kepada semua yang hadir.


"Satu cikar bahan pangan, sebagian bisa diturunkan dan di bagikan kepada mbok Mitun dan Situn. Satu cikar lain nya bisa di bagikan untuk para wanita setelah sampai di tempat tinggal dan keluarga mereka."

__ADS_1


"Esok pagi, setelah matahari terbit. Kita melakukan persiapan dan kembali melakukan perjalanan." Tambah Suparman, dan mengakhiri pembicaraan.


Gumam kelegaan terdengar dari para wanita, yang sudah berbulan-bulan telah menjadi tawanan pemuas nafsu Tunggak dan kawan-kawan nya.


Sulistyowati duduk mendekati Naris, yang duduk tidak jauh dari tempatnya.


"Pak... kemana setelah ini,? saya tidak mau kembali pada ibu saya, di tempat ndoro Wedono. Saya mau ke rumah paman saja." Sulistyowati berkata sambil menunduk.


"Saya takut kembali ke kota, saya tidak mau di culik lagi."


"Akan tetapi paman saya juga seorang penjudi ayam sabung, apakah bila saya hidup bersama paman, nasib saya akan seperti mereka. Tapi paman saya baik." Sulis seperti sedang berbicara sendiri. Sedangkan Naris berpura pura tidak mendengar nya.


"Pak....! pak...." Suara pelan Sulistyowati di dekat Nasir.


"Kamu bicara sama siapa...?" Tanya Naris menahan senyum nya.


"kenapa tidak mendengar kan saya bicara, saya bicara dengan bapak." jelas Sulistyowati lagi.


"Bisa panggil saya kang Naris saja...? Sebab saya bukan seorang bapak." Jawab Naris sambil tersenyum.


"He... he... he... iya Ding, saya lupa." Sulistyowati cengengesan.


"Tapi kang Naris tadi sudah mendengar penjelasan saya kan...?"


"Akan tetapi saya tidak tau arah menuju ke sana." Sedih terdengar suara Sulis.


"Sudah jangan sedih, kami akan mengantar kalian semua. Dan tepat di depan rumah masing-masing."


"Sekarang! kalian semua istirahat lah, Esok pagi perjalanan masih jauh." Naris menatap lekat gadis di depan nya, dan Sulis menjadi salah tingkah dengan tatapan Naris. Yang belum pernah ia dapatkan dari siapapun.


"Ikuti mereka ndhuk cah ayu, atau kamu bisa mengikuti mbok Mitun dan tidur bersamanya." Lirih Naris, mengubah kecanggungan nya sendiri.


...****************...

__ADS_1


🤔🤔Naris pernah ketemu wajah kek Sulis 😱. Siapa sih? Hampir mirip loh katanya Mak....


Hi...hi...hi... lanjut lagi yuk Mak 🤗


__ADS_2