SUNDIRAH

SUNDIRAH
Misi pengejaran Sardi


__ADS_3

"Kulo nuwon...!" Suara wanita itu terdengar tidak asing bagi telinga Sulastri. Akan tetapi bukan nya menyongsong, dan melihat siapa yang datang. Sulastri semakin beringsut kearah Situn.


"Monggo..." Mitun menjawab salam itu lalu mendekati dari mana asal suara itu.


"Monggo, ini mbok nya ndhuk Lastri! apa betul?" Mitun mengedarkan pandangannya ke arah Paini dan Dargo.


Paini menyalami mitun, begitupun dengan Dargo.


"Betul... saya Paini, mbok mertua sulastri."


"Dan ini adik Sulastri, namanya Dargo." Dargo menganggukkan kepala sembari tersenyum.


"Oh... Monggo Monggo silahkan masuk, saya mbok Mitun, dan di dalam ada saudara kembar saya Situn." Sapa mitun memperkenalkan diri.


Mereka menuju ke tempat di mana Sulastri berada. Di pojok amben terlihat


Sulastri duduk meringkuk, dengan tangan memeluk lutut nya erat-erat.


Dargo yang melihat pemandangan seperti itu menjadi trenyuh, dan menyeruak masuk duduk di samping Sulastri, memeluk dari samping.


"Yu... jangan takut, ini aku Dargo."


Sulastri menangis sejadi-jadinya dalam pelukan dargo. "Go... aku.. aku takut Go...!"


"Ndhuk...kamu aman bersama kami, tidak perlu ada yang di takuti lagi." Paini meraih tangan dingin Lastri. Merengkuh tubuh Lastri hingga ke dalam sandaran teduhnya.


Mereka bertiga dalam satu pelukan, menciptakan keharuan, dan kelegaan.


"Mbak yu sekalian... saya atas nama keluarga Sulastri mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga. Hingga anak saya terselamatkan dari keberingasan kamituwo Sardi.


"Tidak harus berterima kasih, mbak yu Paini. Ini sudah menjadi kewajiban kita saling membantu, dan menyelamatkan saudara kita daripada kekejaman."


"Namun! sebelum kamutiwo Sardi belum di tangkap, atau mati sekalian. Bumi yang kita pijak saat ini, belum terasa aman mbak yu." Situn menjawab ucapan Paini, dan sekaligus memberikan sebuah kata-kata kegeraman nya untuk sosok Sardi.


"Mbok Paini, mbok Mitun dan Situn, saya mohon maaf. kami akan melanjutkan perjalanan menuju arah yang sudah kami terima, untuk melanjutkan pengejaran kamituwo Sardi dan komplotannya." Naris muncul dari balik sekat gedhek, untuk berpamitan.


Naris bersama beberapa anggota akan berpencar menjadi dua bagian untuk mengepung lokasi tempat persembunyian nya.


Sulastri yang sedang dalam kebimbangan dan ketakutan, berusaha menekan rasa trauma itu. Dia bangkit dari duduk nya, dan berjalan mendekati Naris.


"Kang..." Wajah Lastri tertunduk, dan bergetar.


"Kang Naris... Saya..."

__ADS_1


"Saya mohon maaf, beberapa waktu lalu telah berpikiran tidak baik, kepada kang Naris. Saya mohon maaf kang."


"Ning Lastri... saya tidak pernah memikirkan hal tersebut. Segeralah menjadi sosok Sulastri yang kemaren saya kenal, bukan sebagai Sulastri yang terkekang rasa takut, seperti saat ini."


"Bersiap lah, kepulangan mu sedang dalam penantian. Semoga Harjito segera pulih dari sakit nya." Pesan Naris, berusaha membuang jauh jauh kontak mata antara mereka berdua, sebab sungguh sulit rasanya menepis rasa hati.


"Duduklah Ning, kita berbincang sejenak" Naris mempersilahkan Lastri untuk kembali duduk.


"Oh ya mbok.. Bagaimana keadaaan Jito, luka nya sudah membaik...?" pertanyaan teralihkan untuk Paini.


Paini hanya menunduk, dan kesedihan itu kembali terlukis.


"Doa mu yang mbok harap kan le... Jito mengalami infeksi luka tusukan, sebab. Luka itu menurut dokter yang memeriksanya, terdapat tusukan belati yang mengenai lambung kirinya." Paini bercerita dengan kepasrahan nya.


"Sabar mbok, saya yakin Jito akan segera sembuh." Naris menatap Sudargo yang dari tadi hanya diam.


"Dargo... jadilah laki-laki yang sanggup melindungi wanita mu kelak." Lalu Naris lebih dekat lagi membisikkan sesuatu ke telinga Dargo, yang bersebelahan dengan Paini.


"Jaga mbak yu mu, pelan-pelan memberi tau tentang nyonya Ratmini. sebab, kondisi nya saat ini sedang tidak stabil."


Paini memandang trenyuh kearah Sulastri. Lalu memberikan isyarat mata kepada Mitun, untuk keluar ruangan dengan nya.


Setelah keluar ruangan, Mitun berbicara pelan kepada Paini. "Maaf yu..."


"Apa yang terjadi yu...?" Tanya Paini ragu-ragu.


"Bersyukur yu ... Tidak terjadi apa-apa dengan diri Sulastri, hanya saja. Hampir terjadi ruda paksa oleh Sardi."


"Akan tetapi, jiwa Sulastri sangat tertekan, dan dia seperti kehilangan rasa percaya diri. Dia butuh orang terdekat untuk membawa kembali seperti semula." Terang Mitun lagi.


"Ohh... sungguh malang nian hidup anak-anak ku." Seketika wajah-wajah Sundirah, menghiasi benaknya. Tangis nya, begitu perih tersayat sembilu ketika mengahadapi kenyataan kedua orangtuanya yang meninggal karena kebrutalan Sardi.


Dan kini, kejadian serupa terjadi menimpa Sulastri. Harjito dalam keadaan lemah berbaring, Dan dengan meninggalnya Ratmini tentu akan menambah goresan luka bagi Sulastri.


Semua berawal dari ulah lurah Djaelani dengan keserakahan nya, kini anak serta yang lain nya harus menjadi korban nya.


"Yu... yu Paini...!" Mitun menyadarkan lamunan Paini.


"Semua sudah terjadi yu..! kita ambil hikmahnya saja." Jawab Paini dengan perasaan sedih.


"Kami akan bertolak secepatnya yu Mitun, sebelum gelap kami harus sampai di tempat kami."


Mitun mengangguk kan kepala, sembari berkata "Saya akan berat melepas kalian, akan tetapi kita memang harus berpisah. Berangkat lah yu.... Hati-hati dalam perjalanan, datanglah kesini bila mana kalian ada waktu." Mitun tersenyum, dan mempersilahkan kembali kepada Paini, untuk berbincang sejenak dengan Naris, yang juga sedang mempersiapkan rute dan anggota nya.

__ADS_1


Perpisahan harus terjadi, ketika matahari telah melewati tengah hari. Persiapan sudah selesai, seluruh anggota menumpangi mobil, dengan rapi. Sebelum berangkat Naris berpamitan kepada Paini, mitun maupun Situn. Paidi memeluk Sudargo, dan menepuk pundak Sudargo.


"Ingat... kau harus kuat..! jaga mbak yu mu. Lindungi dia dari siapapun." pesan Naris lagi.


Dan yang terakhir, Naris pamit kepada Sulastri dengan anggukan kepala, namun tidak di duga. Sulastri mendekat, dan mengulurkan tangan nya untuk berjabat dengan Naris.


"Kang... kembalilah dengan tanpa luka, Kami menunggu mu." Sulastri berbicara sambil menundukkan kepala.


Naris menerima uluran tangan Lastri, dan membalas kata-kata nya.


"Aku pasti pulang kembali, dan aku ingin melihat engkau tersenyum lagi. Begitu orang yang kita cintai, tidak akan pernah benar-benar meninggalkan kita. Ada hal-hal yang tidak bisa di sentuh oleh kematian. kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Tapi yang kita rasakan hanya satu, yaitu kehilangan." Ucapan Naris membuat terpana Sulastri.


" Hati hati le... kamu harus pulang, dan kami akan menunggu mu." Paini juga memberi semangat kepada Naris.



Deru suara mobil beriringan dan hilang dari pandangan Mitun dan Situn. hening seketika hanya tinggal mereka berdua, dalam rumah Sardi yang ia tinggalkan.


Perlahan mereka berjalan, masuk dan duduk di lincak depan rumah sambil menunggu datang nya matahari meninggalkan mereka, lalu menuju ke arah senja dan mengukir mimpi.


"Yu... Aku kok merasa Naris ada sesuatu sama Sulastri. ya...?" Situn berkata sambil menerawang melihat jauh ke halaman.


"Mereka itu pasangan serasi loh yu!"


"Lastri itu ayu, ***pawakane*** ***lencir , kulite kuning***, Jan pantes banget. Naris pun juga begitu, pria yang gagah, hidung nya mancung Yo yu...? lalu rambutnya yang panjang, ***ngandan-ngandan***."


"Jan idola banget Yo yu...!" kata-kata Situn di balas dengan cibiran Mitun.


"Wes ora usah ghibah, ***saru***! itu urusan para pemuda, kita yang sudah tua Mendoakan yang terbaik pada mereka." ucap Mitun sambil meracik kapur sirih nya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


***Pawakane lencir, kulite kuning \= di tujukan pada fisik tubuh seorang wanita ramping dan kulitnya kuning langsat***.



***ngandan-andan \= mengartikan rambut yang panjang ikal bergelombang***.



🙋Akhirny bisa up lagi, Alhamdulillah ya Mak 🤭

__ADS_1


dukung Naris yuk Mak 🤧 like, komen, rate ⭐🖐️ jangan lupa😘


__ADS_2