
Jauh-jauh hari pengamanan sudah di lakukan, untuk menghindari kericuhan kembali terjadi, yang bisa memecah kefokusan dalam keamanan, Mahendra bersama Atmosiman menghimbau Harjito untuk membawa Paini dan Djaelani menyatu dalam satu area, yaitu di tempat Atmosiman yang sudah di sediakan.
Penjagaan menjadi berlipat, antara masyarakat juga para aparat pengaman. Mereka saling bahu membahu untuk mengamankan acara ngunduh mantu juragan Atmosiman.
Hiasan janur melengkung di gapura desa, indah dan menjulang tinggi. Umbul-umbul berjajar rapi berkibar berwarna-warni.
Alat-alat gamelan juga sudah tertata rapi, di sudut pelataran yang luas. Para Niyaga sudah saling mempersiapkan diri untuk acara esok hingga beberapa hari kedepan.
Beberapa utusan Suprapto juga bersiaga di beberapa titik pengamanan, persiapan demi persiapan hampir terlaksana semua. Bahan pangan yang hendak dipakai untuk menjamu para tamu, juga sudah rapi di siapkan.
Sundirah yang dari tadi mondar-mandir tidak tenang, meremas jari jemarinya dan menarik nafas berat.
" Yu... kamu kenapa munyer koyok kitiran, Sing tenang yu." Suwarti menghampiri dan duduk di samping Sundirah sambil menggendong Teguh.
"Warti, hatiku kok merasa tidak nyaman ya! apakah kejadian serupa akan terjadi pada pernikahan kita?" Trauma Sundirah kembali menghantui di setiap ia melangkah.
"Aku juga takut yu, kok jadi kita yang seperti pesakitan yo yu, ndhoro lurah yang salah kita yang dapat musibah." Gumam Suwarti sambil berdiri dan menaruh Teguh dalam ayunan.
"Akan tetapi aku dengar pengamanan sangat terjamin saat ini yu, soal nya kalau kang Sardi nggak ketangkap kasihan author nya kena omel sama netizen terus yu."
he...he..he .. gaya cengengesan Suwarti kembali kambuh bahkan di saat-saat semua orang di landa was-was.
"Warti titip thole dulu, aku mau bicara dengan Sulastri." Sundirah berjalan keluar kamar untuk membaur dengan yang lain.
Teguh yang biasa nya tertidur pulas, hari ini dia rewel dan sedikit demam. Karmilah harus menepis semua ketakutan ini.
Perasaan karmilah pun, tidak beda jauh dengan apa yang dirasakan Sundirah
"Mas, malam manggulan akan dilaksanakan besok, dan thole Teguh demam sangat rewel, apa yang akan terjadi mas." Karmilah mendekat Atmosiman yang sedang duduk mengobrol dengan mantan lurah Djaelani.
__ADS_1
"Aku kok was-was begini Yo mas!"
"Dek! berfikir saja yang positif, tidak akan pernah terjadi hal buruk. Semua keamanan dan antisipasi akan terjadi nya hal yang buruk, sudah ada yang menjalankan tugasnya masing-masing."
"Thole demam itu mungkin karena kecapean, sebab dari kemaren yang mengendong ganti-ganti orang, coba panggil Mbah Bayem untuk memijat tubuh thole, biar sedikit nyaman dan tidak rewel." Atmosiman mencoba memberi jawaban positif, agar rasa was-was yang Karmilah rasakan memudar.
"Mbak yu Karmilah, saya mohon maaf. Semua ini karena ulah saya sewaktu dulu, sehingga dendam itu hingga sekarang masih mendarah daging pada diri Sardi." Mantan lurah Djaelani mengucapkan kata-kata penyesalannya sambil menunduk kan kepala.
"Saya sebenarnya sangat membenci sampean dek Djaelani, akan tetapi semua sudah terjadi. Dan tidak mungkin waktu akan berputar kembali, percuma menyesalinya semua telah terjadi."
"Lihatlah! bukan hanya anakmu saja yang menjadi korban, namun anak-anak ku juga merasakan penderitaan nya." Pelan suara karmilah, baru kali ini Karmilah mengeluarkan uneg-uneg nya dan sangat jelas terlihat, bahwa dia sudah berada di titik paling bawah untuk menghadapi sisa-sisa kelakuan lurah Djaelani.
"Dek! sabar dek, kita Tanggulangi bersama semua sudah terjadi." Atmosiman terkejut dengan ucapan karmilah yang tidak pernah ia duga.
Selama ini Karmilah bersikap luwes, dan selalu memberikan tanggapan positif kepada siapapun. Bahkan ketika ia melakukan kesalahan dengan mengusir Suyud dan keluarganya waktu itu.
"Sebaiknya sampean istirahat dek, jangan terlalu capek biar aku dengan Djaelani yang berada di sini." Atmosiman membimbing Karmilah masuk kembali kedalam ruangan dimana Teguh sedang tidur dalam ayunan.
"Eh..kamu! bukannya kamu hilang dan belum di ketemukan oleh keluarga mu?" Sundirah memegang pundak gadis itu.
Akan tetapi gadis itu malah menarik tangan Sundirah untuk memasuki sebuah ruangan kosong tempat penyimpanan bahan pangan mentah.
"Yu Dirah, tolong selamatkan kami."
"Nyawa kami dalam ancaman kang Sardi dan komplotannya, mereka ada di luar dan sebagian sudah masuk dalam rumah juragan Atmosiman, menyamar sebagai pelayan di dapur, dan membaur di berbagai sudut area."
"Duh Gusti piye iki! kamu sembunyi saja disini."
"Mereka akan menculik yu Lastri dan anaknya tuan Jupri yu! dan mereka akan membunuh lurah Djaelani." Gadis malang itu menangis sambil meringkuk di lantai.
__ADS_1
"Lalu bila saya dan teman-teman saya gagal dalam perintah nya, maka orang tuaku yang akan di bunuhnya yu."
"Tenang yo ndhuk, kamu disini saja, jangan keluar aku akan memberikan berita ini kepada yang lain. Ingat jangan keluar, kalau ada yang masuk kamu segera sembunyi." Perintah Sundirah lalu meninggal kan tempat itu.
Lalu Sundirah bergegas menemui Harjito, dengan pelan dan tanpa menimbulkan kecurigaan bagi Lastri maupun yang lainnya, ia membisikkan sesuatu ke telinga Jito.
Sundirah pun mencari Mahendra untuk menyusun siasat, dan mendatangi tempat tinggal Jupri. Dan semua berjalan landai, sebab mata-mata Sardi menyamar dan membaur dengan para pelayan.
"Jangan panik sayang! keamanan sudah sangat ketat dan berlapis. Di rumah ini aman, jadi sampean yang tenang, yang harus di waspadai saat ini adalah tempat tuan Jupri kalau begitu yang harus dalam pengawasan."
"Jangan kemana-mana, temani Ibu dengan Teguh dek." Mahendra memeluk Sundirah dan melebur rasa was-was yang ada.
"Mas! di dalam ruangan bahan pangan ada seorang gadis bersembunyi disana, tolong selamatkan dia, kang Sardi memberikan dia sebuah tekanan." Sundirah kembali mengingatkan tentang gadis itu.
Sundirah menyimpan berita gadis itu, namun ketika sampai di dalam kamar karena ada Karmilah yang sedang beristirahat, dia berbisik kepada Suwarti dan menceritakan apa yang telah ia ketahui dari gadis pesuruh tadi.
"Yu... jangan panik, jangan terlihat takut ataupun gugup. Dan semoga kejadian seperti ini besok akan tertangkap semua pelakunya."
"Yu kita harus kuat." Mereka berpelukan dan saling menguatkan.
...****************...
***Niyaga adalah, Penabuh gamelan (lihat gamelan) Jawa, sering pula disebut dengan pradangga atau wiyaga.
Manggulan adalah perayaan malam sebelum upacara pernikahan***
Selamat membaca semua 😘😘
emak-emak, bapak-bapak sabar yah ðŸ¤
__ADS_1
para hansip sudah berjaga-jaga tuh, di jamin belut kagak akan lepas deh yak ðŸ¤