
#Pulanglah sayang ada. Hati yang mencintaimu menunggumu. Bagaimana harus ku jelaskan rasanya terbelenggu rindu.
Jangan tersesat sayang, cinta akan membawamu pulang. Tidaklah hatimu merasa sendirian, selalu ada rindu bersama mu.
Hari-hari tanpamu, separuh aku lepas memburu mu kian kemari.
Hingga negeri-negeri jauh, beri aku kabar indah dari bukit-bukit Luzern, atau burung-burung kota Milan yang menghampirimu, rindu kita akan terus bersanding.#
"Kang...., Cinta itu kok rumit ya! cinta mereka penuh cobaan, Padahal cinta mereka tulus." Surip mengeluarkan uneg-uneg nya tentang cinta.
"Dulu saja kita ndhak pacaran, apalagi ketemu. Langsung gabruk aja sekali jadi, ya pak."
"Cinta orang kaya banyak aturan, banyak makan korban. Kawin nya bukan sama orang nya, tapi sama ladang dan sawah nya."
"Huhhh! gemes tenan aku!"
" Sudah selesai ngomelnya mbok..?" Slamet menahan senyum melihat tingkah Surip yang gemes sambil, membawa irus kayu buat mengaduk sayur lompong .
"Itu kan masalah mereka mbok, kita hanya abdi. ya... kalau kita sampai terkena! berarti ya rejeki kita."
"maka dari itu! kita jangan lupa bersyukur mbok! nyatanya sampai detik ini. Kita masih tetap saling mengasihi, walaupun kita tidak di beri kepercayaan memiliki momongan, tetapi nyatanya kita selalu di dekatkan dengan anak-anak saudara-saudara kita."
"Wes ojo menyesali sebuah kejadian, sebab ada, maupun tanpa terjadinya sebuah kejadian, kita tetap harus menjalani kehidupan ini."
"Sing penting di sisa hidup kita ini..! Aku mencintaimu, kamu mencintaiku. Saling menjaga, dan itu sudah cukup. Usia kita sudah kepala tujuh loh mbok, Mendekatkan diri pada Gusti yang Maha Kuasa. Ini yang lebih utama." panjang lebar Slamet berbicara, membalas omelan Surip.
Surip menanggapi jawaban Slamet dengan anggukan kepala dan tersenyum.
"Ini pak... Sego aking krawu sudah siap, hati-hati di jalan pak, semoga Harjito segera sembuh dan bisa pulang." Surip menyiapkan bekal untuk Slamet. Yang hari ini mengantikan Paini di rumah sakit, di pusat kota.
"Nah....! ini yang lebih baik dari segalanya mbok...Sudah bisa ketemu nasi aking, saja sudah damai di hati. Apalagi bila bersamamu hingga akhir hayat nanti." Slamet menerima bungkusan daun jati dengan nasi aking sambil mencolek pipi Surip.
"Pak.. wes tuwo ojo aleman." Surip pun tersipu malu.
Sebelum berangkat, Slamet masuk kedalam rumah induk. Dan menemui Mahendra yang sedang duduk bersama dengan Atmosiman, berunding untuk kelangsungan usaha kopra pasca kebakaran.
"Den saya berangkat dulu. Mungkin ada pesan untuk Harjito?" Tanya Slamet pada Mahendra.
"Saya hanya mau, dia kembali bersemangat menghadapi kenyataan ke depan pak. Dan kabarkan kepada Harjito, Sundirah sudah siuman." Jawab Mahendra di iringi senyum kebahagiaan.
Slamet terkesiap, dengar berita yang ia dengar dari Mahendra baru saja.
"Sundirah sudah terbangun..?"
Slamet melepas kopyah yang ia pakai, dan menautkan kedua tangan nya, lalu bersyukur.
__ADS_1
"Saya boleh mendekat den..?" Tanya Slamet ragu.
"Masuk saja Slamet, Sundirah adalah anak mu juga, dan kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini." Atmosiman menepuk Pahu Slamet.
Slamet berdiri di ujung pintu, menatap haru Warti yang tidak pernah beranjak jauh meninggalkan Sundirah.
"Ndhuk..." Lirih suara Slamet menyapa mereka.
"Pak dhe.." Warti menoleh, tak lupa mengacungkan jempol nya dengan senyum gaya konyol nya.
"Sstttt..! jangan berisik pak dhe, yu Dirah sedang menahan senyum dia, melihat pak Dhe pake kopyah miring gitu."
"Ha... ha.. ha.." tawa Warti pecah namun buru buru ia tutup mulutnya dengan tangan nya.
"Hushh... nggak di sana, nggak disini kok pecicilan aja kamu ini!" Slamet menggelengkan kepalanya, lalu mendekat ke arah Sundirah.
"Ndhuk... Pak dhe ikut bahagia, mendengar kamu sudah sadar kembali. Segera pulih ndhuk, lihatlah.. Teguh kecil sangat lucu." Slamet mengelus pucuk kepala Sundirah.
"Semoga kelak kalian bisa bahagia, pak dhe ikut bahagia." Slamet mengusap air mata di sudut mata Sundirah.
Lalu pamit segera berangkat, tidak lupa juga mengusap kepala Warti yang sedang menimang Teguh.
"Hati-hati pak dhe, sampaikan salam ku pada kang Jito." Warti mengulurkan tangan, dan mencium punggung tangan Slamet.
Luka pada lengan Naris, sudah mengering oleh ramuan yang di racik kan Situn.
Tiba-tiba keluar Sulastri dari ruangan tersebut, dan mereka saling tatap dengan waktu lama.
Naris membuang pandangan ke arah keluar, begitupun Sulastri. Kegugupan melanda hati Sulastri, semampu ia mencoba tepis kan rasa takut itu.
"Terus lah berjalan, tidak usah takut! dia orang baik, dan dia adalah saudara mu Naris." Mitun membimbing Sulastri mendekat ke arah Naris.
Naris mencoba santai mempersilahkan duduk dan berbicara.
"Sulastri... kau baik-baik saja kan...? kau harus kuat, mereka tidak akan mampu lagi menyakiti mu." ucap Naris.
"Kang Naris..."
"Saya ingin pulang, bertemu keluarga dan nenek ku." Lastri menundukkan muka menyapa Naris.
"Duduklah di sini bersama-sama mbok.. hari ini mbok Paini akan tiba, dan menjemput Sulastri pulang." Naris mengalihkan pembicaraan.
"Ning Lastri.. Apapun yang terjadi, kau harus tetap kuat. Jalan mu masih panjang, yang telah terjadi jangan sampai menjadi beban mu dalam mengarungi kehidupan kedepan." Naris tidak tega menceritakan tentang apa yang terjadi dengan Rukmini.
"Apa yang terjadi kang...?"
__ADS_1
"Kang Jito! kemana dia kang? kenapa dia tidak menjemputku...? Ayahku bagaimana, lalu apa yang terjadi dengan nenek ku..?" Rentetan pertanyaan Lastri todong kan kepada Naris.
"Duduklah dulu, Harjito sedang terluka dan harus melakukan perawatan."
"Seharusnya kemaren bisa pulang dengan Ning lastri, akan tetapi kondisi ning tidak mungkin melakukan perjalanan." Jelas Naris.
Di balik semua penjelasan yang Naris berikan, ada sebuah keganjalan di setiap sorot matanya.
"Lalu kang Naris kenapa masih di sini, dan tidak menolong kang Jito? apa yang akan kang Naris lakukan disini..?" Pertanyaan Sulastri mengejutkan Mitun dan Situn, apalagi Naris.
Namun Naris menepis jauh jauh tentang prasangka buruk itu. Dia hanya tersenyum sambil memandang Lastri yang duduk memunggungi nya.
"Ndhuk.. kang Naris masih dalam tugas, untuk menangkap Sardi dan cecunguk nya." Mitun dan Situn berusaha menenangkan Lastri, yang sedang di rundung krisis kepercayaan karena keadaan.
"Ndhak papa Mbok, saya sangat menyadari. tidak seorang pun yang mau dalam posisi Ning Lastri saat ini."
"Begitupun dengan saya, jelas tidak akan mampu meninggalkan seorang wanita dalam kondisi lemah, dan di tempat asing, jauh dari sanak famili."
"Kalau boleh jujur padamu Lastri...! aku pun mencintaimu, sama seperti Harjito mencintaimu. Akan tetapi itu tidak mungkin." Senyum Naris melebar, memandang lekat lekat ke arah Lastri.
"Ini lah bentuk rasa ku, yang tidak mungkin terjadi. Aku hanya ingin melihatmu aman, dan kembali kepada mereka yang seharusnya berada di sisimu, suami dan saudara mu sebagai keluarga mu."
Seribu bisu dalam ucapan Sulastri, semua kata-kata Naris menyadarkan betapa pedasnya ucapan yang baru saja ia lontarkan kepada Naris.
"Lupakan Ning Lastri, aku harus berkemas dan melanjutkan perjalanan." Ucap Naris lagi dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.
Tidak berapa lama, deru mobil terdengar dari pelataran rumah besar itu, lalu beberapa orang turun. berkumpul dan saling berjabat tangan. Lastri yang mengetahui iyu, menjadi pucat pasi ketakutan. Lalu merangkul Mitun dan Situn.
"Jangan takut ndhuk, mereka teman temannya kang Naris sepertinya." Terang mitun.
lalu terdengar suara.
"Kulo nuwon...!"
\#maaf kan Lastri ya detergen Budiman🤧, Gara gara trauma sama kelakuan Sardi, dia jadi berprasangka buruk sama Naris, yang sabar ya kang...!☺️
***Lompong : adalah sebutan lain untuk batang talas atau keladi. Ya, selain umbinya, ternyata talas juga bisa dimanfaatkan batangnya untuk dijadikan sayur batang talas atau sayur lompong. Batang talas mengandung serat yang tinggi, sehingga mudah dicerna***.
***Nasi aking adalah makanan yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tak termakan yang dibersihkan dan dikeringkan di terik matahari. Nasi aking biasanya dijual sebagai makanan unggas. Tetapi belakangan masyarakat pun mulai mengonsumsi nasi aking***.
__ADS_1
Mohon maaf Mak 🙏🙏 up nya lambat, tetap dukung ya Mak 😘 like 👍 sama rate ⭐🖐️ donk 🤣
lope yu oll pokok e 😘😘