
Sulastri tidak melakukan pelarian, akan tetapi masih dalam area. tempat tinggal Sardi.
Sardi yang terbuai nafsu setan, tidak menyadari sama sekali akan terjadi serangan mendadak.
Rasa sakit hingga ke ulu hati, nyeri yang Laur biasa pada si kecil junior Ade imut. Mengerang, berteriak sekuat tenaga. Sardi tidak menduga kalau Lastri akan senekat itu.
Lastri mengambil kain yang berserak di lantai, mengambil begitu saja untuk menutupi tubuh nya.
Berlari keluar dari kamar remang-remang itu, saat hendak keluar... di sana terdapat dua sosok laki-laki kawanan sardi, ia berputar kembali masuk. kali ini menuju ruangan semakin kedalam.
Dan ternyata dapur...
Buntu...!!
Tidak ada celah untuk dia melarikan diri. Dari arah semula terdengar erangan Sardi sangat keras.
"Rukmini... kau tidak akan bisa lari dariku.., kembalilah, Aku akan memaafkan mu." Teriak Sardi lantang.
"Kang... Ono Opo to..?" Terdengar suara laki-laki lain bertanya apa yang telah terjadi dengan Sardi.
"Cari perempuan itu, dia telah mencoba lari dariku. tapi ingat...! jangan ada satupun yang melukai dia."
Sardi berjalan tertatih-tatih, menahan rasa sakit yang menjalar pada pangkal kaki nya, dengan muka pucat dia terduduk di bangku panjang.
"Kau tidak akan bisa lari dariku Sulastri." Wajah geram Sardi menghiasi bibirnya yang menyeringai mengerikan.
Dua laki-laki tersebut berpencar, mencari jejak Sulastri. Segala arah telah ia telusuri namun, tidak ada jejak pun yang menandakan Sulastri telah melewati jalan tersebut.
Sedangkan Sulastri bersembunyi di dalam sebuah tempayan besar, yang semula di buat untuk menyimpan beras.
Dia meringkuk dengan ketakutan yang Luar biasa ia rasakan. Ia menahan rasa pengap dalam tempayan tersebut.
Gelap dan dingin, Sulastri menangis dalam diam, batin nya nelangsa. Kenapa semua ini harus terjadi, semua kehidupan yang dulu indah, sekarang semua jadi mengerikan.
Sulastri bertahan bersembunyi di dalam tempayan hingga pagi menghampiri.
Dua orang teman Sardi kesana kemari mencari di mana keberhasilan Lastri, yang tiba-tiba hilang tanpa jejak. Sedangkan Sardi sangat murka dengan hilangnya Lastri.
*****
Di desa Mbelik, dimana Sundirah berada juga sedang bertarung nyawa. Setelah melewati malam yang mencekam, dan selamat dari rencana Sardi. kandungan Sundirah mengalami kontraksi.
"Mbok...sakit mbok..!" Sundirah merintih kesakitan., peluh membasahi kening Dirah, tangan dinginnya mencengkeram kayu amben.
"Sabar ya ndhuk... ibu sejati akan kuat menahan rasa sakit. kamu harus semangat." Surip memberikan semangat kepada Sundirah.
"Mbok... aku ndak kuat...!"
"Husshh....! ora elok ngomong seperti itu ndhuk." Surip memberikan dorongan semangat lagi.
"Mas Hendra kemana mbok, Dirah ingin di temani dia." rintih Dirah lagi.
Sementara Warti masih sibuk dengan menyiapkan segala kebutuhan yang akan di perlukan, di saat dirah melahirkan nanti.
"Den Hendra pasti akan tau keberadaan kita, Kamu adalah perempuan hebat dan tangguh yang mampu menaklukkan segala rintangan di masa kehamilan mu."
__ADS_1
"Sing kuat ndhuk." Surip membetulkan letak kepala Sundirah, dan mengelus perut nya.
"Diraah....!
"Diraahh...! Warti...!" Suara Mahendra memanggil dari luar, ia lari menyeruak masuk kedalam rumah.
Surip yang mendengar nya tersenyum lega.
"Den... kau datang tepat waktu. Dirah sepertinya mau melahirkan." Buru-buru Surip masuk kembali dan mbantu Warti yang sedang, merebus air.
Di susul Slamet, melepas kopyah nya dan berucap Syukur.
"Ndhuk..maaf kan pak Dhe terlambat datang."
"Apa yang terjadi kang..? Siapa yang melakukan semua ini kang..?" Surip tergopoh-gopoh mendekat ke Slamet.
"Semua kejadian nya sangat cepat, ini pasti ada sangkut pautnya dengan lurah djaelani. Sudahlah ... yang penting kita semua dalam keadaan selamat." Slamet menjawab kekhawatiran Surip.
Sundirah masih saja merintih kesakitan, Mahendra berada di samping nya, hanya mampu memberi kata-kata penyejuk, dan memberikan elusan di punggung Dirah.
Warti menyuapi makanan, untuk membantu kekuatan bagi Dirah. Namum jangan kan untuk makan, untuk duduk saja kesulitan bagi dirah.
Suara gemerincing bell dokar, terdengar mendekat. Atmosiman bersama Karmilah berlari kecil memasuki rumah almarhum Suyud untuk pertama kalinya. Sedih dan sesal, terlukis jelas di raut wajah Atmosiman, ketika terakhir kali dia berkata kasar, dan mengusir keluarga Suyud waktu itu.
Karmilah tidak sanggup lagi menahan buliran bening, ia menangis terisak, pilu melihat kondisi Sundirah yang semakin lemas.
"Kulo nuwon....! Mi...."
"Yud..." Suara wanita terdengar jelas.
Warti yang mengenali suara itu langsung lari, dan memeluk wanita tua itu..
"Ono Opo ndhuk, Iki Sundirah...!" Si Mbah itu tercekat sedih melihat kondisi Dirah yang lemah dengan nafas tersengal-sengal.
Si Mbah tua itu, tidak lain adalah dukun bayi, yang biasa di panggil dengan sebutan Mbah Bayem, Beliau tinggal di lain desa.
Tanpa menunggu kata-kata dari siapapun, Mbah Bayem segera mendekati Sundirah.
"Le.... minggir dulu, pangku kepala istrimu. Ambilkan kain bersih...!" Ucap Mbah Bayem buat siapapun yang mendengar nya.
Mbah Bayem, mengelus perut Dirah. keningnya berkerut lalu membuang nafas berat.
"Kalian semua yang sabar, bantu proses persalinan Dirah dengan doa. Bayi dalam kandungan Dirah dalam posisi sungsang." Mbah Bayem menceritakan posisi kandungan Sundirah.
Sundirah tiba tiba mengejan... Menggenggam kuat kuat tangan Hendra. Menjerit, nafasnya tersengal-sengal, keringat dingin bercucuran.
Mahendra yang memangku kepala sundirah, gugup tidak tau apa yang harus di perbuat.
Namun di saat tertentu, Dirah merasakan ketenangan, sebab rasa sakit itu hilang dengan sendirinya.
"Mbok... yu Dirah bagaimana..? Aku ndak sanggup melihat dia menderita lagi Mbok." bisik Warti dalam Tangisnya.
"Ndhuk..! kita pasrah.. kita berdoa bersama ndhuk, semoga Dirah di beri kelancaran, sehat ibunya, sehat si jabang bayinya." Surip mencoba menghibur warti, walaupun sebenarnya dia sendiri juga khawatir.
Atmosiman lemas bersujud di emperan luar rumah, dia miris mendengar suara erangan Sundirah.
__ADS_1
Begitupun karmilah, lemas duduk di samping Sundirah. Sambil mengelus perut Sundirah.
"Mbah.... saya mau berjalan, punggung saya sakit." Rintih Dirah lagi. Sambil perlahan bangkit dari pembaringan, tidak lama berdiri, rasa Sakit itu kembali hadir, Mahendra membawa dirah berbaring lagi. Sundirah kembali mengejan, namun kembali tidak membuahkan hasil.
"Ndhuk.... Berdoa, memohon maaf sama bapak, emak... sebut nama mereka ndhuk..." Mbah Bayem tidak pernah berhenti merapal kan doa serta permintaan kepada Sang Pengasih jiwa, Sang Pencipta kehidupan, Sang Pengampun segala dosa dan perbuatan umatnya.
Waktu berjalan sangat lambat, malam pun kembali menghampiri, namun rasa sakit yang Sundirah alami tidak kunjung ada perubahan.
Mahendra, tidak bergeser sedikit pun dari tempat duduk semula.
Ketegangan semakin merajalela, rasa ketegangan menyelimuti perasaan mereka.
Mbah Bayem mengelus perut Sundirah, kali ini kerutan wajah Mbah Bayem membuat siapa saja yang melihat, akan sulit menerka, apa yang akan terjadi setelah ini.
Mahendra, tiba tiba merasakan sakit yang hebat, punggung dan perut bawah luar biasa ia rasakan kesakitan yang tidak wajar.
Keringat dingin mengucur di kening Mahendra.
"Ayah....Ibu...!" Suara Hendra terbata-bata. Hendra sujud di hadapan Atmosiman dan karmilah. memohon ampunan atas semau perilaku yang sudah menimbulkan kekacauan ini.
Karmilah menangis tersedu, memeluk Mahendra lalu Sundirah.
"Ibu selalu memaafkan kalian ndhuk ..le...! Jabang bayi... lahirlah dengan lancar, jangan siksa kedua orang tua mu seperti ini." Karmilah mengelus perut Sundirah.
Atmosiman duduk di belakang Mahendra, seperti memberikan kekuatan pada diri Mahendra.
Karmilah membantu mendorong perut Dirah. Sundirah sudah tidak tahan lagi untuk mengejan..
"Makk...hhff..hhff... eeemmmkkk"
"Aaahhhh, ibu...eeemmmkkk...." Dirah sekuat tenaga mengejan.
Aaaaahhhhh....
"Duh Gusti...ayaaahh.....!" Mahendra juga sama halnya seperti apa yang di rasakan Sundirah.
Sundirah dan Mahendra saling menggenggam tangan masing-masing dengan erat.
Warti menjerit, membungkam mulut nya dengan pundak Surip. Sungguh semua menciptakan ketegangan yang menakutkan.
oek...oek..eekk....
Bersamaan dengan Kokok ayam, bayi Sundirah lahir ke dunia yang fana.
"Ndhuk... matur Suwon marang Gusti kang moho Kuoso..! jabang bayi lahir dhuk..." Mbah Bayem tersenyum puas.
Karmilah segera mengambil kain dan menutupi tubuh Sundirah.
Mahendra memeluk Atmosiman, lalu memeluk sang ibu, dan memeluk Sundirah yang memejamkan rapat matanya, dengan nafas lemah.Bibirnya membiru, tubuhnya menggigil,
"Yu....! kamu jangan bikin aku takut yu...! bangun yu...!
"Dirah.....!" Mahendra histeris
...****************...
__ADS_1
Hamil sungsang adalah kondisi ketika kepala janin berada di rahim bagian atas, bukannya di rahim bagian bawah mendekati jalan lahir.
yuk jempol yuk 🤧