
#Terlalu banyak hal yang bisa dimengerti di dunia, bahkan sampai saat kematian pun tak akan ada yang bisa sangat mengerti tentang Dunia.
Keserakahan, egois, dan dendam. Nyatanya lebih kokoh daripada rasa kasih sayang.
Lebih baik....
Jadilah seperti kedua kaki yang berjalan. Kaki yang berjalan ke depan tidak memiliki kebanggaan dan kaki yang berjalan ke belakang juga tidak merasa malu, karena keduanya mengetahui bahwa situasi mereka akan bergantian.#😉
Naris memandang Mitun tanpa kedip mata, lalu Naris mendekat kan posisi duduk. Dia raih tangan tangan keriput Mitun, lalu mencium tangan tangan itu.
"Terimakasih mbok, disini saya jadi lebih mengenal. bagaimana Cinta itu harus rela dan tulus. Bahkan harta bukan jalan satu-satunya menuju kehormatan, dan kebahagian."
Mintun tersenyum, lalu mengajak Naris masuk ke dalam untuk bertemu dengan Sulastri. Akan tetapi Naris menolak untuk mengikutinya
"Tapi mbok! Biarlah saya di sini saja dengan mereka, saya ndhak mau Lastri akan histeris lagi."
"Saya yakin, Lastri akan lebih merasa aman dengan Mbok Situn dam mbok Mitun. Selagi kami menunggu saudara Lastri datang dan menjemput Lastri."
"Sedangkan kami akan melanjutkan pengejaran Sardi dan komplotannya." Nasir menolak menemui Lastri, dan menghindari terjadinya situasi yang tidak mendukung.
Naris bersama anggota keamanan lainnya menginap, untuk menunggu Paini dan Dargo menjemput Lastri. Sore itu Naris melihat Lastri dari kejauhan dan bersembunyi.
Senyum Lastri adalah harapan untuk kembali pada keseharian yang normal, dan menjalani kehidupan yang wajar.
Mitun dan Situn menyadari akan hal itu, mereka hanya saling mengangguk dalam jarak. Sungguh rasa hati Naris yang sulit ia rangkai dengan sebuah kata-kata.
"Ndhuk... makan lah! semua akan baik-baik saja, keluargamu sebentar lagi akan tiba menjemputmu untuk pulang. Jangan pernah merasa takut, kamu aman saat ini."
Lastri mengangguk dan tersenyum, lalu menerima makanan yang di sodorkan Situn.
"Mbok...! Apakah suamiku akan menerima ku sebagai istrinya?"
__ADS_1
"Tentu... tentu ia akan menerimamu ndhuk, tidak ada alasan bagi kalian saling menolak. Cinta sejati tidak memandang keburukan dan kecacatan lawan jenis. Kenapa kamu bertanya tentang itu..?" Mitun balik bertanya pada Lastri.
Lastri menundukkan kepala dalam-dalam, lalu terisak kembali.
"Sudah lah ndhuk jangan menangis, jangan mengingat kejadian yang tidak manis dalam hidup mu, jadikan itu sebagai warna sebuah lukisan, petik yang manis, buang yang pahit. dan ambil sari hikmahnya bahwa hidup itu seperti wayang, kisah perjalanan manusia tidak akan indah tanpa cerita yang membawa kita kedalam jenjang kedewasaan."
"Mbok dengar dari Naris, kamu akan di jemput oleh keluarga mu. Jadi kamu harus sehat ndhuk, jangan menyerah." Mitun berusaha memberikan semangat untuk Sulastri.
Bukan senja namanya jika tak sendu, bukan senja namanya jika tak sunyi, dan bukan senja namanya jika tak mencipta rindu. tenggelamnya sang Surya menyisakan sunyi di atas kerinduan, sebuah janji di atas pengorbanan. Raga yang lemah, layu ibarat bunga tanpa tangkai. Sukma yang berkobar dengan asa, tetap memburu mimpi walaupun harus binasa.
Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Harjito bersama yang lainnya melanjutkan perjalanan untuk ke desa tempat tinggal masing-masing.
Berbeda dengan Harjito yang harus menjalani perawatan lanjutan, karena lukanya yang parah. Dan kondisi tubuh yang sangat lemah karena kekurangan darah.
Paini yang mendapati luka Harjito, dan keadaan yang menimpa anak nya, sekuat hati harus tabah menerima kenyataan.
"Apa yang harus aku lakukan lagi, untuk kebahagian anak-anak ku. Belum kering air mata Sundirah, yang sekarang masih tergeletak tidak berdaya. Bahkan tangisan bayi merah itu, tidak ia hiraukan."
"Kini Harjito, tergeletak tanpa daya, bahkan Sulastri tidak di ketahui kondisi nya sekarang." Isak Paini mengundang kesedihan mendalam.
"Mbok.. kita susul yu Lastri, saya tidak tau bagaimana kesedihan dia nanti, bila mengetahui bahwa nenek juga telah meninggal." Dargo menatap Harjito, yang masih memejamkan mata di pembaringan.
"Sebab, saya yakin saat ini jiwa yu Lastri sangat terpukul. Dan dia akan membutuhkan sosok wanita, yang bisa menjadikan dia sebagai tempat bersandarnya duka yang ia rasakan."
"Saya tidak sanggup menceritakan kejadian malam itu, mbok..!" Mau tidak mau, sekuat apapun Dargo menyimpan duka, tetap juga tangis itu pecah.
Mahendra memeluk erat Dargo, dan memberikan kekuatan kepada Dargo, serta Paini.
"Sebaiknya kalian tidak berangkat sendiri, semua harus dalam pengawasan. Sebab kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya."
"Apalagi kamituwo Sardi belum di temukan, dan untuk Harjito. Biar pak Slamet Akan mendampingi selama kepergian kalian." Mahendra memberikan solusi.
__ADS_1
"Sebab saya tidak mungkin mendampingi kalian, Kondisi Sundirah masih juga belum terbangun dari tidua panjangnya." Lanjut Mahendra dengan wajah yang berusaha menahan kepedihan itu.
Tidak lama mereka berbincang bincang, Suprapto masuk kedalam ruang inap, dan melemparkan senyum, mencairkan suasana kesedihan.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja, biar Jito istirahat." Suprapto mengawali langkah keluar dan di ikuti mereka bertiga.
"Tidak mudah untuk menangkap seorang bajingan seperti Sardi, saat ini! Menurut laporan anak buah saya, yang baru tiba tadi pagi. Bahwa Sulastri dalam keadaan shock, karena upaya pemerkosaan yang sardi lakukan." Suprapto menceritakan ulang laporan dari bawahan nya.
"Maksudnya apa pa Prapto." ketegangan jelas terlihat pada raut muka Dargo, begitupun Mahendra tanpa ia sadari berdiri dari tempat duduk nya. Pun demikian dengan paini, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan nya karena terkejut.
"Sabaar...! duduklah kalian semua. kita bicara pelan pelan, Lastri aman saat ini. Naris, bersama sekelompok anggota keamanan sudah berada di sana." Suprapto melanjutkan pembicaraan nya.
"Sardi mampu melarikan diri lagi, kali ini kami memprediksi mengarah pada area selatan, bisa jadi area dimana mereka melakukan penganiayaan terhadap almarhum Suyud dan Yatemi beberapa bulan lalu." Terang Suprapto.
"Esok pagi sebelum fajar, kami bersama beberapa anggota akan menuju tempat di mana Sardi dan Lastri berada. dan akan melakukan penyisiran sepanjang alas jati menuju tempat yang di duga tempat persembunyian Sardi bersama Komplotan nya.
Saran Prapto sangat di terima oleh Mahendra, Dargo dan Paini. Lalu Suprapto kembali mengarahkan pandangannya kepada Dargo.
"Dargo....! kamu harus menjadi pria tangguh, saya yakin kamu mampu! Mbok Paini adalah anggota keluarga mu juga. Jaga mbak yu mu, Kami akan membantu mu semampu kami." Ucap Suprapto, kemudian beralih kepada Mahendra.
"Mas Hendra, saya sangat prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga mas Hendra, semua terjadi dalam waktu yang sama. Dengan pelaku yang sama, percayalah! Sardi tidak lama lagi menghirup nafas bebas."
"Selamat atas kelahiran sang putra, semoga ning Sundirah segera siuman." Mahendra menerima ucapan Suprapto dan membalas dengan berjabatan tangan.
\*\*\*\*\*
Menjelang sore, perpisahan antara mereka. Mahendra harus kembali dan Paini serta Dargo harus persiapan, untuk melakukan perjalanan menjemput Sulastri.
"Kang..... segera sembuh... dan menjadi kuat kembali, Kami akan menjemput yu Lastri." Dargo berpamitan kepada Harjito, dan di balas senyuman oleh Harjito yang sudah bangun, namun masih lemah di pembaringan.
yuk...yuk... semangat 💪
__ADS_1
Like, rate ⭐🖐️, and komen membangun kakak, bunda, Abang tersayang 🤭
love all of you 😘 sedang semangat up nih 🤭