
Suara kicau burung yang hinggap di dahan pohon beringin, membangunkan mereka. Semburat jingga mulai menampakkan diri di ujung timur, perjalanan kembali harus mereka tempuh. Desa demi desa telah mereka lalui, dan perpisahan demi perpisahan harus mereka alami.
kini tinggal menuju ke arah paling akhir, dimana tempat Sulistyowati berasal.
"kang... ini jalan menuju rumah paman saya , akan tetapi! Pada saat-saat seperti ini paman sedang berada di kalangan sabung ayam." Sulis membuka suara kembali, setelah membisu sekian lama.
"Lalu, kamu dengan siapa di rumah. Kalau di culik lagi bagaimana?" Gurau Naris sembari memalingkan wajah melihat ke arah Sulis, yang sedikit terkejut.
"Saya ikut kang Naris saja kalau begitu!" Sulis menatap wajah Naris dengan keseriusannya.
Ha...ha...ha...
"Itu tidak mungkin loh ndhuk cah ayu... aku orang jalanan mana bisa kamu ikut dengan ku..." Gelak Naris
"Tidak mungkin kang Naris tidak memiliki keluarga" Sulis masih juga melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.
Disisi lain Naris semakin nyaman menjawab semua tanya Sulis. Dan ketika matahari berada tegak di atas kepala, sampailah mereka di depan rumah Besar, luas dan bersih.
"Kang... itu istri paman, saya memanggil beliau dengan sebutan ibu, beliau ibu Wiji."
Seorang wanita paruh baya, bersama dua anak remaja seusia di bawah Sulistyowati. Keluar dari dalam rumah ketika menyadari kedatangan sebuah mobil patroli, yang memang jarang di lihat pada waktu itu.
"Ini rumah paman ku kang, tapi mungkin paman tidak ada di rumah."
Sulis buru-buru turun dari mobil, lalu berlari menghampiri tiga wanita itu.
"Ibu..."
"Oalahhhh... nggerr anak ku...!" Wanita itu berdiri dan berlari merengkuh Sulis dalam pelukannya, menangis sejadi-jadinya, mereka membaur dalam kegembiraan.
"Kami putus asa mencari mu ndhuk, ibu kamu sakit."
"Maaf kan Sulis ibu, panjang ceritanya." Sulis menceritakan apa yang telah terjadi, hingga ia bertemu dengan Naris.
Mereka berbincang, dan ucapan terimakasih atas pertolongan Dan penyelamatan Sulistyowati.
"Kang...." Sulis mendekat dan mata mereka saling beradu.
"Saya ingin Menganti, membalut luka kang Naris kembali."
"Luka itu masih, merembes. Tentu masih sakit, biar saya ganti kain nya" Sulis bergegas masuk.
Naris menatap punggung Sulis sesaat sepasang mata menatap tingkah Sulis serasa aneh.
__ADS_1
Tidak lama Sulis kembali dengan kain bersih, lantas ia duduk tepat di depan Naris, membuka kain pembalut luka yang Kumal, karena warna darah mengering.
Wiji menatap mereka, sorot mata mereka mengatakan ada sesuatu diantara mereka.
"Nak Naris... berasal dari mana. Maaf kalau ibu lancang, berapa usia nak Naris...? Tentu saja pertanyaan Wiji membuat gelagapan Naris.
"Maaf nyonya.. saya berasal dari kalangan bawah, di perbatasan Utara kota Kediri. Dan saat ini saya sedang mengabdi pada kepentingan bersama, saya berusia lebih dari dua puluh tahun nyonya." Naris merasa menerima interogasi yang sedikit menyudutkan posisinya saat ini.
Tentu tidak mudah bagi Naris untuk, membuka rahasia mengenai siapa dirinya dan bagaimana liku kehidupan yang ia jalani.
Bahwa Naris adalah seorang intel di balik layar. Orang kepercayaan Suprapto, dan dibawah perlindungan hukum.
Wiji mencermati setiap perkataan Naris, kekhawatiran kembali menjalar pada batin Wiji.
Tiba saatnya Naris harus berpamitan, karena belum tentu menjelang malam akan sampai pada tempat tujuannya.
Cikar ia tinggalkan, dan mereka menaiki mobil patroli.
"Jaga diri baik-baik kang, terimakasih sudah mengantar saya pulang dan, tanpa kurang suatu apapun."
"Semoga Kang Naris dan teman-teman selamat sampai pada tujuan."Sulistyowati mengucap kan kata sambil menundukkan kepala.
Deru mobil menjauh dari pekarangan, dan menghilang di tikungan. Ada rasa gamang di antara mereka, dan hanya mereka yang tau.
"Ya... itulah sebuah gambaran, bisa untuk kita jadikan sebagai tempat bercermin." Naris menimpali dengan menoleh dan senyum kepada kawan nya.
Nyanyian misteri tentang hati mengiringi perjalanan Naris, atau bahkan. Gelayut tanpa asa, berbaris pada rayuan hati Sulistyowati.
Hari berganti hari.. Pekan demi pekan terlewati dengan kedamaian. Seiring dengan berjalannya waktu, βseleksi alamβ jugalah yang akan menunjukkan siapa yang benar-benar setia, dan ada di dalam sebuah penantian.
Cinta anak manusia nyatanya, penuh berbagai rentetan cerita. Dengan berbagai gelombang, pasang dan surut.
Sementara di kediaman Atmosiman, semua berjalan dengan lancar.
Mahendra bahkan menjalankan tugas, sebagai pemasok minyak goreng. Dan berbagai kegiatan yang harus ia lakukan, dengan lancar tanpa hambatan berarti.
Ketakutan akan teror dari Sardi pun perlahan surut, keluarga yang dahulunya harmonis dan bahagia kini kembali seperti semula.
Kebahagiaan bukan milik Mahendra semata, namun Atmosiman dan karmilah pun merasa kan. Akan Hikmah dari hasil yang mereka petik, pada peristiwa kemaren.
Perlahan kesembuhan Sundirah pasca melahirkan, berangsur membaik. Dan banyak perubahan.
__ADS_1
Air susu ibu yang Dirah hasilkan, juga sangat membantu perkembangan Teguh dengan bagus. Tangis teguh makin kencang, menandakan pertumbuhan baik dan sehat.
"Warti... Sebentar lagi hari selapan nya thole Teguh akan tiba, aku ingin pulang ke rumah di Mbelik." Ucap Dirah kepada Warti.
"Yu.... apa yang sedang kau pikirkan setelah ini...? Warti balik bertanya, sambil membantu mengurai rambut panjang Dirah.
"Jangan banyak pikiran yu! fisik mu masih terlalu lemah, jangan memaksa dirimu untuk kembali pada kepahitan kemaren " Warti memegang dagu Sundirah, dan tersenyum.
"Aku bahagia Warti, bukankah setiap saat kau ada di sampingku, dan menyaksikan kebahagiaan ku." Kedip mata Sundirah.
"Lihatlah, aku bahkan sudah lupa betapa sulitnya aku menitikkan air mataku lagi."
"Sungguh dusta besar, kalau aku tidak bahagia selama ini. Aku hanya ingin mengenang, masa-masa bahagia kita, saat bapak dan mbok berada di samping kita waktu itu, Warti " Dirah berusaha tersenyum, walaupun itu masih terlihat mendung menggelayut di bening matanya.
"Warti... Sebentar lagi juga hari perkawinan ku dengan mas Hendra. Kemana harus aku letak kan rasa hati ku...?" Kali ini air mata Dirah berhasil lolos bergulir jatuh.
"Yu... jangan mengorek luka lama, masih ada Teguh yu. Kamu pasti mampu."
oeekk...ooeekk....
Tangis Teguh melengking terdengar dari dalam rumah, Karmilah berjalan cepat, dengan Teguh berada dalam gendongan nya, mendekat ke arah Sundirah.
"Dirah... mungkin Teguh lapar, coba kamu susui dulu." Karmilah mengulurkan Teguh kedalam gendongan Dirah.
"Kamu bersedih ndhuk...?" Karmilah menatap Warti dan Sundirah bergantian.
"Apa yang sedang dalam pikiran mu...?"
"Kontak batin antara anak dan ibu sangat kuat ndhuk, jangan terlalu banyak berfikir yang aneh-aneh." Karmilah duduk di samping Dirah, sedangkan Teguh dengan lahap menyesap air susu yang Dirah berikan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
ya ampun π€§π€§
maaf ya Mak... up nya jadi ini lemot sayang sekarang like, komen plus rate βποΈ.
kalau sudah tenan favourite jangan unfav donk Mak ππ jadi syedih loh Mak π°
anyway Rhu tetep lope you Mak πππ
__ADS_1