SUNDIRAH

SUNDIRAH
Sepasaran


__ADS_3

Sardi kepalang tanggung, sakit dimana-mana. Pendek kata dia bonyok semua, masa depan sudah suram, gagal menghisap madu, masih juga kena lemparan cobek. Lengkap sudah penderitaan dia, sudah jatuh lemes ter timpuk pula karena ambisi dia.


Dengan nafas terengah-engah, Bogel memberi isyarat. " Kang... kita istirahat, nafas ku serasa mau putus saja. Sepertinya kita sudah aman kang!"


"Kalian tidak becus melawan mereka, hanya bacot saja yang kalian banggakan, hhuuhh..." Sungut Sardi dengan muka merah padam.


"Kerja apa saja kalian, masa melawan lima orang saja keteteran?"


"Wanita sama tuak saja, yang kalian bangga banggakan!" Ucapan Sardi seperti mengejek diri sendiri.


"Lah....! Kang...! tidak usah bilang begitu! lha wong sampean sendiri. Udah di depan mata, tinggal nubruk tanpa perlawanan saja, masih gagal kok."


"Jadi ya.... jangan asal menilai seseorang loh, kita adu duel melawan tenaga pake celurit juga, kalau sedikit lengah kuping ilang, atau kita yang sendiri modyar." Rupanya Bogel sedang tidak terima di samakan asal bacot saja.


"Kalian orang banyak, lah aku sendirian!"


"Aahhhkk..... sudah lah bikin pusing saja kalian."


"Sekarang kemana kita akan melanjutkan perjalanan ini?" Ketus Sardi, sambil duduk ber selonjor kaki.


"Iya.... percuma juga aku melawan mu kang. Kau mana mau di lawan, mana mau mengalah. Salah pun maunya tetep di antara kebenaran." Bogel menggerutu sambil menyalakan rokok lintingan nya.


"Sudahh..! diam bacot kamu, sini!" Sardi kelewatan, masih juga merebut rokok lintingan yang baru di sulut api oleh Bogel.


Bogel hanya pasrah, dan melotot kan matanya. Dan kembali membuat lintingan baru.


"Begini kang, kita harus mencari pertolongan dan bala bantu dari teman-teman. Lalu kita kembali ke markas pertama, Aku yakin di sana kita akan sulit di temukan. Selain medan sangat terjal, juga terpencil." Bogel semangatnya memberikan ide-ide dia.


"Oh... baiklah! Kali ini kamu sedikit cerdas Bogel. Ha haa ha."


plak...plak...plak...


Sardi tertawa puas, sambil bertepuk tangan.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan, sebelum malam menghampiri semoga kita sampai di tujuan." Ajak Sardi, berdiri lalu berjalan lagi.


"Kalau berjalan begini, kita akan sampai lusa kang..! Kita harus mencuri, minimal cikar kecil lalu bisa membantu memperlancar perjalanan kita."


"Tidak usah mencuri...! aku akan merampas saja ke rumah penduduk di desa depan sana, atau minimal pinjam. Nanti kalau kita turun ke bawah lagi, kita kembalikan." Sardi seperti orang mabuk saja alur bicaranya. Tapi tetap di tanggapi oleh Bogel.


Perjalanan mereka dengan langkah cepat, hingga hampir sore menjelang tiba di ujung sebuah desa.


Sardi masuk kesebuah pekarangan seorang warga, dan mengetuk pintu ya g sudah tertutup.


"Kulo nuwon....! Ada penghuni tidak?" Berkali-kali mereka berdua mengucapkan salam, namun tidak ada juga yang menjawab.


Bogel melangkah ke samping rumah, suasana belum begitu gelap. Jadi jelas terlihat ada sepasang sapi, dan cikar.

__ADS_1


Tidak membuang waktu lama, Bogel segera menyiapkan kan sapi-sapi dan cikar nya untuk di pasang. Tidak memakan waktu lama sapi-sapi beserta cikar nya sudah siap untuk di jalankan.


Dengan obor kecil yang juga sudah tersedia di samping kanan-kiri cikar, lalu mereka berangkat tanpa beban dan dosa, meninggalkan rumah yang tidak berpenghuni, dan mengambil harta milik mereka.


Dalam perjalanan menuju sarang kawanan nya, tidaklah sulit bagi mereka yang sudah begitu hafal medan lokasi.


Kidungan demi kidungan mereka lantunkan, sebagai rasa pencegah kantuk mereka.


Bulan sabit temaram, menjadi saksi perjalanan mereka. Para kelelawar yang berterbangan, melintasi di atap cikar mereka yang berjalan melintasi gelapnya malam.


Dan ketika menjelang pagi, mereka telah sampai pada tujuan.



Hari berganti hari, dan waktu pun berjalan lambat. Tangis Teguh rahayu tidak juga mampu membangun kan tidur lelapnya Sundirah.


***Sepasaran*** bayi Teguh rahayu, berlangsung dengan penuh doa doa untuk kesembuhan Sundirah.


Tubuh lemah Sundirah yang masih terkulai, membuat rasa prihatin sanak famili.


"Mbak yu karmilah... Apa tidak sebaiknya bayi Teguh, kita dekatkan saja dengan ibunya?"


"Sudah dek... akan tetapi air asi tidak lancar."


"kontak rasa dan batin, akan menambah terjalinnya ikatan ibu dan anak semakin dekat." Seorang kerabat memberikan saran kepada Karmilah.


"Iya itu betul Karmilah...! Dekatkan saja setiap saat, berikan juga air susu ibu dengan keseringan yang rutin. Perlahan cara ini sangat membantu." Saran bermaafan terus mereka utarakan untuk kebaikan dan perkembangan ibu dan anak Sundirah.


Oeekk... ooeekk... ooeekk....


Tangis Teguh memecahkan lamunan Mahendra, Karmilah mendekatkan teguh pada Sundirah lalu memiringkan tubuh Sundirah dengan penopang guling pada punggung ke bawah, supaya tubuh bisa menjadi sedikit miring.


Teguh menghisap air susu Sundirah dengan lahap. Matanya yang masih enggan membuka, sebentar-sebentar kehilangan punting susu yang semula di hisap nya.



\#Bayi yang baru lahir pada waktu itu, pada umumnya baru bisa melek mata. kisaran, usia lima hingga tujuh hari\#



Rasa trenyuh dan iba di rasakan saudara sekandung Karmilah, terutama Warti. Dia tidak henti-hentinya mengamati perkembangan Sundirah, dari mengelap tubuh, mengajak berbicara, dan bercanda walaupun mustahil bagi Sundirah untuk menjawab gurauan Warti.


"Ibu... Apakah kondisi yu Dirah akan selama nya seperti ini..?" Tanya Warti pada Karmilah yang sedang menatap trenyuh dari samping Mahendra.


Karmilah hanya mampu menatap Warti, dengan mata yang sudah mengembun menahan air mata.


Lalu saudara tertua Karmilah, mendekati Suwarti. "Ndhuk Warti! mbak yu mu hanya mengalami trauma . Kamu harus yakin, mbak yu mu akan sembuh total."

__ADS_1


"Saat ini, dia hanya butuh ketenangan dan dukungan kasih sayang dari kita."


"Untuk asupan makanan sudah lewat infuse dan itu sudah dalam pengawasan kesehatan, serta gizi yang di butuhkan mbak yu mu, sama Teguh." Panjang lebar bu Dhe Supik mencoba memberikan ketenangan pada Suwarti. Tidak lama Teguh sudah selesai menghisap air susu, ia kembali tidur pulas dengan mata terpejam, dan dalam hangatnya kain bedongan.


Karmilah buru-buru membetulkan kembali posisi semula Sundirah, dan membaringkan Teguh di sisi kanan Dirah.


Mahendra dengan telaten mengantikan kain ***Tapih***, membersihkan tubuh dengan mengelap, serta semua kebutuhan Dirah. Mengoleskan ramuan ***Bobok***, pada pelipis, perut dan kaki-kaki Sundirah. Penuh kasih sayang dan perhatian ia tumpahkan semua pada Sundirah dan Teguh.


Setelah selesai tugas yang Mahendra rutin lakukan setiap hari, dia kembali duduk di samping Dirah.


Suwarti dengan mata sembab kembali mendekat di pembaringan Sundirah, Mahendra memberikan ruang pada Warti, dengan menggeser duduk di sisi lain.


Sambil membelai tubuh mungil teguh di dalam kain bedongan, Suwarti mengajak bicara Teguh, seolah-olah teguh sudah bisa mendengar dan bisa berkomunikasi.


"Teguh.. thole bocah bagus... lihatlah... Ibu mu semenjak kau hadir di tengah-tengah kami. Dia melempar tanggung jawabnya, dia telah melupakan mu, dia asyik dengan dunia mimpi yang ia ciptakan setiap saat." Warti menghela nafas dan melirik ke arah Sundirah.


"Bagaimana kalau kita tinggal pergi saja! percuma menemani orang tidur."


"Iya bulek... Kita tinggal saja, ibu lebih mencintai selimut usang daripada Teguh." Suara Warti menjawab seperti seorang anak kecil yang sedang berdialog dengan nya.


Mereka yang berada di sekitar nya tersenyum dan menahan air mata agar tidak tumpah.


Mahendra mengusap air mata Dirah yang menetes pelan di ujung pelipisnya.


"Aku tau kau mendengar semua percakapan kami Dirah, menangis lah, aku akan tetap menunggumu."


\*\*\*



***Upacara sepasaran merupakan upacara yang menandakan bayi telah berumur sepasar (5 hari). Sebagian masyarakat mengadakan upacara sepasaran dengan sederhana, yaitu mengadakan kenduri atau selamatan dan dihadiri oleh keluarga dan tetangga terdekat***.



***Bedong bayi adalah teknik membalut tubuh bayi, terutama bayi baru lahir, dengan menggunakan selimut atau kain bedong (lampin). Konon, teknik seperti ini dapat membuat bayi merasa nyaman, hangat, dan terlindungi seperti saat berada di dalam rahim ibu atau sedang dipeluk erat***.



***Kain Tapih \= adalah jenis kain yg digunakan untuk alas ibu melahirkan atau persalinan***.



***Bobok*** \= ***ramuan dengan bahan tertentu khusus untuk ibu yang baru melahirkan***.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

__ADS_1


Dirah..... semangat kuy💪☺️


like, komen and fav ⭐🖐️kakak ku semua😘😘


__ADS_2