Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 10


__ADS_3

Mata indah milik Kinan memencar saat pijakan kakinya sampai di lantai dua, khusus kelas kakak tingkatnya yang berada di semester tiga. Kawasan kelas Agra.


Kinan tidak tahu mengapa dirinya bisa seberani itu datang ke sekitar yang menurutnya sangat asing. Kinan juga sama sekali tidak tahu, Agra berada di kelas yang mana. Di hadapannya kini, ada sekitar empat kelas. Kelas yang mana pun, Kinan bingung sendiri. Mulutnya seperti di lem, tak mau bertanya pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Lebih jelasnya, dia ingin berusaha mencari sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.


Langkah kecilnya menelusuri lorong. Iseng mencari keberadaan sosok Agra diantara Mahasiswa lainnya yang tengah membentuk sekumpulan tepat di depan kelas. Lumayan ramai. Melewati satu persatu orang, bahkan sesekali para lelaki di sana, memberi siulan nakal padanya.


Tak melewati sedetik saja tubuh seksi dibalut kemeja ngepas warna merah dan celana jeans panjang abu-abu itu.


Meski risih di pandang bagai mangsa seekor predator ganas, Kinan memilih acuh tak acuh. Dia hanya balas tersenyum jika salah satu diantara mereka melempar senyum padanya. Bersikap ramah.


Berhenti melangkah, Kinan terlihat menggaruk tengkuknya. Padahal, gatal pun tidak. Kinan mencoba melirik ke setiap kelas, siapa tahu Agra ada diantara mereka. Namun nihil. Matanya tak berhasil menemukan sosok tampan pengisi hatinya.


Bahunya merosot. Wajahnya lesu. Kinan benar-benar tidak tahu lagi mencari Agra di mana. Hingga suara seseorang, mengalihkan perhatian Kinan sepenuhnya.


"Anak kelinci nggak takut masuk ke kandang singa?" celetuk laki-laki dengan plester tertempel di dahinya. Tak jauh dari posisi Kinan berdiri.


Kinan menoleh. Kedua alisnya tertaut penuh, bingung. Laki-laki itu berbicara pada siapa?


"Kamu bicara sama aku?" tanya Kinan, memastikan.


"Dari tampang lo, sepertinya lo masih polos. Gue bener nggak?" suara itu mengalun jahil di telinga Kinan. Tanpa disadarinya, keadaan di sana sudah sepi. Hanya ada dia dan ketiga laki-laki yang sedang memandangnya terang-terangan, termasuk pemilik suara tadi.


"Hajar terus Cak. Jangan kasih ampun," Sahut lelaki lain. Setelahnya, mereka tertawa keras. Memang kerjaan mereka selalu mengganggu para Mahasiswi yang berlalu lalang. Tak ada kerjaan.


"Mana nih seorang Cakra Dikara, yang katanya dalam waktu beberapa menit bisa menaklukkan hati perempuan polos bertubuh seksi?" dengan diiringi kerlingan mata, lelaki yang sedang memakai topi hitam, berkata kurang ajar. Kinan mendidih seketika.

__ADS_1


Apa mereka membicarakannya?


"Gampang. Kalau ini mangsanya, gue jamin nggak perlu waktu lama. Gue pasti bisa buat dia bertekuk lutut di bawah kaki gue," ucap lelaki bernama Cakra tadi. Nadanya sangat angkuh.


Tampan sih. Tapi mulutnya berbisa. Jadi kelihatan jelek di mata Kinan. Mungkin perempuan lain juga akan sependapat dengannya.


Lantas, Kinan menghampiri mereka. Raut wajahnya di galak-galakkin, "Kamu ngomongin aku di belakang ya?"


Cakra terkekeh. Benar dugaannya. Benar-benar polos. Masa sudah jelas jika perkataan tadi ditujukan untuknya, malah bertanya lagi.


"Iya. Lo keberatan?"


"Jangan jadi laki-laki muka dua deh. Ngomongnya sini, di depan aku langsung kalau berani," balas Kinan tak ada takut-takutnya.


Cakra bangkit dan tersenyum penuh arti, "Gue terpesona sama lo. Apalagi lo itu punya tubuh yang aduhay. Dan gue berniat membuat lo tunduk di bawah kaki gue. udah kan? Gue berani kan?"


"Nyari target buat dikencani terus dikuras habis-habisan uangnya? Kira-kira, kayak gue ini, masuk kriteria lo nggak?" sesantai itu Cakra berucap sembari bersidekap.


Plak!


Kinan menampar kuat pipi Cakra. Bahunya naik turun. Perkataan itu berhasil menyentil harga dirinya sebagai seorang perempuan.


"Kamu dikuliahin selain tujuannya belajar, buat bisa menghargai kaum perempuan, berperilaku sopan dan belajar tata krama. Percuma kamu jadi Mahasiswa tapi mulut kamu kayak sampah begitu!" wajah Kinan merah padam. Dia tidak bisa mentolerir lagi.


Sementara kedua teman Cakra berseru di tempat. Pertunjukan siang ini sangat bombastis dan spektakuler. Cakra paling bisa menciptakan suasana menegangkan sekaligus memperihatinkan di waktu bersamaan.

__ADS_1


Cakra tak terima. Dia mencekal pergelangan tangan Kinan, kuat. Dia dalam mode marah, "Coba ulangi sekali lagi? Gue nggak denger. Cepetan!"


Kinan merintih, kesakitan, "Sakit. Lepasin tangan aku."


"Cuma lo satu-satunya perempuan di kampus ini, yang terlalu berani nyebut gue bermulut sampah! Lo pikir lo siapa? Hah?!" teriak Cakra lantang. Urat-urat di lehernya sampai kelihatan jelas, "Jangan harap lo bisa tenang di hari selanjutnya karena udah berurusan sama gue!"


Rupa Cakra bagai iblis mengeluarkan tanduk. Ekspesinya, menyeramkan. Kinan merinding. Nyalinya ciut seketika saat manik matanya bertemu manik mata berkobar api dihadapannya.


"Ancaman kamu percuma. Aku nggak takut sama kamu," Kinan bertahan dalam kondisi kuat.


Seringai Cakra bagai anak panah yang mengarah tepat di jantungnya. Kinan berdebar tak karuan. Perlahan lelaki itu mendekat. Kinan mundur satu langkah ke belakang. Cakra semakin maju, tubuh Kinan gemetar hebat seraya berjalan mundur. Lagi dan lagi.


"Jangan coba-coba mendekat lagi! Pergi!"


Kini tinggal Kinan dan Cakra di sana. Kedua temannya sudah pergi setelah Cakra perintahkan.


Alis Cakra terangkat sebelah. Dia ingin bermain-main sejenak, "Kenapa? Takut?"


"Berhenti! Jangan ganggu aku!" Kinan tak bisa lari kemana-mana lagi saat punggungnya terasa menabrak tembok.


"Lo kira segampang itu gue ngelepasin lo? Kali ini, lo target spesial gue. Siapin diri lo untuk menerima apapun balasan dari perkataan lo tadi."


Tepat saat Cakra menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya terhuyung ke samping, sebab seseorang menyingkirkan bahunya, kuat.


Agra. Laki-laki itu berdiri menjulang tinggi di hadapan Kinan. Pandangannya menghunus tajam ke arah Cakra. Semacam ada kebencian mendalam di balik sorot matanya.

__ADS_1


Sedangkan reaksi Kinan, kaku. Darahnya seakan berhenti mengalir. Penglihatannya tidak salah kan? Di depannya sekarang, Agra kan? Laki-laki yang dicintainya?


"Cukup Ana yang lo jadiin target incaran. Nggak untuk perempuan ini."


__ADS_2