Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 30


__ADS_3

Sejahat dirimu menyakitiku, aku tidak ingin membenci. Aku akan terus menyukaimu walau menyakitkan. Agar kau tahu, semudah itu perempuan memaafkan.


......


Hempasan tas di atas meja dengan kasar, menandakan jika Agra tidak bisa mengendalikan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang baru saja dia keluarkan atas dasar emosi ketika mendengar pernyataan cinta Kinan, untuknya.


Sudah terjadi beberapa kali, namun telinganya tetap menolak dan tidak bisa menerima pernyataan apapun.


Perempuan? Cinta? Berhubungan dengan lawan jenis? Sama sekali tidak ada dalam kamus kehidupan Agra yang sekarang.


Mungkin itu dulu. Sebelum semua rasa kepercayaannya tentang cinta, harus mati di telan asa karena kesalahan yang tak bisa Agra terima sampai saat ini.


Bahkan dengan kejam, Agra melimpahkan kekecewaannya pada Kinan, perempuan manis yang tidak tahu menau tentang kehidupannya dan harus merasakan hasil dari ketidakterimaan atas kesalahan seseorang di masa lalunya.


Agra akui dirinya jahat. Sangat jahat. Menjatuhi Kinan dengan bom yang kapan saja Agra ingin ledakkan, tinggal menekan pengaktifnya. Tergantung, kapan Agra menginginkannya. Semua keputusan ada di tangannya.


Keempat kalinya, napas gusar meluncur begitu saja dari bibirnya. Agra mengacak-acak rambutnya, frustasi, saat rekaman ulang bagaimana dia menyakiti Kinan, terputar jelas di otaknya.


Dibilang menyesal, Agra tidak menyesalinya. Malah Agra lega setelah unek-unek tertahannya, berhasil dia bongkar. Dibilang jahat, ya, Agra mengakui itu. Perkataannya pada Kinan sungguh menyakiti perempuan itu pastinya. Kesekian kali, Kinan kembali tersakiti. Sakit yang diciptakan olehnya secara sempurna tanpa celah.


"Arghhhhh!!" teriak Agra akhirnya. Kepalanya bersandar pada sofa. Matanya terpejam erat sampai kerutan di dahinya tercetak.


Sejuknya ruang rapat dari pendingin ruangan, tidak terasa menyentuh permukaan kulit Agra akibat hawa panas menjalari hampir seluruh tubuhnya. Agra paling benci ketika respon tubuhnya seperti ini daripada kalem dan santai kayak biasanya.


Semuanya gara-gara perempuan bernama Kinan. Agra benci nama itu.


Entahlah. Agra sendiri saja tidak mengerti kenapa dia sebenci itu dengan Kinan. Intinya, dia tidak mau perempuan manapun menaruh hati padanya.


"Jelasin ke gue soal kejadian yang gue liat tadi," dari arah pintu, Afka menyelonong masuk setelah menguncinya dua kali. Laki-laki berjas hijau ala anak Akuntansi itu, duduk di sebelah Agra. Menatapnya penuh tanda tanya.


"Ngapain lo ke sini?!" menyadari suara tak asing barusan, Agra membalasnya ketus, "Pergi! Gue lagi males ngeladenin lo!"


Tak mengindahkan perintah Agra, Afka tetap di tempatnya, "Kenapa lo nggak cerita ke gue dan Abyan kalau Kinan suka sama lo? Apa persahabatan kita nggak ada artinya sama sekali?"


Kalimat terakhir yang dengan segera mata Agra terbuka lebar, memandang Afka seraya mendesis, "Buat apa lo semua tau? Toh, nggak ada gunanya juga!"


"Berguna lah! Itu artinya sahabat gue beruntung disukai oleh orang yang tepat," kata Afka, "Jadi, yang gue pertanyakan, sejak kapan Kinan suka sama lo?"


"Berhenti ngomongin dia," tolak Agra.


Afka mendengus sambil geleng-geleng kepala, "Segitu nggak sukanya lo sama Kinan? Kinan salah apa sama lo, Gra? Sumpah ya, kata-kata lo kasar banget tadi. Gue tau lo nggak suka Kinan, jelas dari respon lo yang datar kalau ketemu dia. Tapi bisa nggak sih lo nolaknya lembutan dikit?" Afka memberi saran, melihat Agra tak menghargai Kinan, membuatnya gemas sendiri.


"Dia nggak bisa dilembutin. Ngelunjak."


"Bukan Kinan yang ngelunjak. Tapi lo yang pengen gue injak-injak!" gemas Afka.

__ADS_1


"Kenapa lo yang sewot?" Agra menuding Afka sembari melepas jaket almamaternya dan meletakkannya di atas meja.


"Cara lo nolak Kinan kayak seorang pecundang! Lo boleh nggak suka sama dia tapi tolak baik-baik, Gra. Jangan pake cara kasar. Lo itu udah mahasiswa. Cara lo mengungkapkan sesuatu yang nggak lo sukai, beda jauh dari jaman lo masih kecil," jelas Afka panjang lebar.


"Oke. Gue rasa nggak perlu nasihatin lo sampai ke akar-akarnya. Intinya, hati perempuan itu sangat rapuh. Termasuk Kinan. Mungkin luarnya Kinan terlihat baik-baik aja, bahkan masih bisa tersenyum saat lo nyuekin dia, tapi apa lo pernah tau gimana perasaan Kinan yang sebenarnya? Reaksi luar dengan di dalam itu beda jauh, Gra. Kinan bisa tersenyum dengan mudahnya di depan lo, dalam hati? Dia menangis. Resapi kata-kata gue," lanjut Afka layaknya seorang pakar cinta.


"B*do amat. Gue nggak peduli," santai Agra. Laki-laki itu mengotak-atik isi ponselnya tanpa minat. Sangat jelas dari gerakan jempolnya, meng-scroll layar ke atas dan ke bawah dengan asal.


"Apa alasan lo anti sama perempuan lain karena Ana? Mantan kekasih lo dulu?" Afka menebak sembarang, mengalihkan pandangan Agra yang kini memandangnya sangat datar.


Seketika ekspresi Agra menjadi pias. Rahangnya mengeras ketika mendengar nama itu. Nama yang susah payah dia kubur dalam-dalam dan berhasil disebutkan dengan mudah oleh Afka. Agra membenci nama Ana. Seseorang yang pernah membuat Agra jatuh ke dasar jurang paling curam.


"Jangan sebut nama dia lagi di depan gue!" Agra mulai terpancing.


Dari responnya, Afka sudah bisa menyimpulkan apa penyebab Agra begitu marah dan emosi ketika Kinan menyatakan isi hatinya. Tidak salah lagi. Ini semua awal mulanya dari Ana. Mantan kekasih Agra dulu.


Afka tersenyum sarkas dan bangkit dari duduknya. Merapikan sebentar jas almamaternya yang tampak kusut lalu berkata, "Gue pikir lo laki-laki dewasa, Gra, bisa menyelesaikan masalah di masa lalu dengan bijak. Ternyata, lo sama kayak anak SMP yang kalau diajak duel sama anak lain, balas duel balik. Kalau gitu, gue setuju lo nolak cinta Kinan. Habisnya gue kasihan sama Kinan, kok bisa suka sama laki-laki pecundang macem lo. Gue cabut."


Setelah mengatakan hal yang menyusun akal dalam kepala Agra untuk memilah sejenak akan sikapnya, Agra terdiam. Saat pintu dibanting kuat oleh Afka, pun, Agra tetap bergeming.


Apa sikapnya memang tidak dewasa dalam mengambil keputusan?


......


Apa harus sepedih ini mencintai sendirian?


Kinan tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sehabis dimuntahkan kata-kata pedas oleh Agra. Ibarat sebuah peledak, meledak tepat di depannya. Kinan hancur berkeping-keping. Luka itu menyebar seperti virus mematikan. Tidak ada obatnya selain menunggu ajal menjemput.


Apa salah mencintai seseorang? Apa salah ingin memilikinya seutuhnya?


Ya, Kinan tidak salah. Di satu sisi, Kinan tidak mengerti apa yang salah dari pernyataannya?


Setidakbisa itukah Agra mencoba membuka hati untuk Kinan masuki? Apa sebentar saja juga tidak boleh?


Apa Kinan terlalu murahan untuk sekedar menjadi peneman dikala langkah Agra mulai menepi?


Tidak ada yang bisa Kinan lakukan selain menangis. Menangisi pahitnya kehidupan yang dia jalani.


Apa sekali saja Kinan tidak bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia? Apa selama hidupnya hanya untuk merasakan patah tanpa penyembuh?


Di sudut paling belakang, tepatnya di balik kursi lapuk, Kinan menangis senggugukkan dengan kepala tenggelam diantara lipatan lutut. Air mata sarat akan luka. Cairan bening yang terus saja mendesak keluar meski tubuhnya sudah melemah tak berdaya. Sekedar mengangkat kepala saja Kinan merasa tidak mampu lagi.


Apa dirinya sehina itu sampai-sampai Agra mencap dirinya sebagai perempuan murahan?


Bagian mana yang murahan? Apa karena mengejar-ngejar cinta Agra? Kalau pun iya, biarlah. Kinan akan terus mengejar cinta Agra sampai dapat. Tidak peduli Agra membencinya. Toh, sekalinya murahan, akan tetap murah*n di mata Agra.

__ADS_1


Ruangan serba putih itu menjadi saksi betapa hancurnya hati Kinan. Mendengar cetusan murahan dari orang lain tak sesakit yang keluar dari mulut Agra.


Selama satu jam Kinan berada di ruangan gelap tak berpenghuni yang terletak di lantai empat paling ujung. Hanya masuk sedikit cahaya matahari melalui celah-celah gorden yang tersibak terkena terpaan angin sepoi. Cerahnya langit siang hari di luar sana, tidak menyurutkan seramnya ruangan perkakas itu. Tidak takut sama sekali bila mana sesuatu tak kasat mana, mengganggunya.


"BUKA, NAN! GUE TAU LO DI DALAM!" gedoran pintu dari arah luar, Kinan abaikan. Bahkan posisinya tidak berganti. Tetap menelusupkan kepalanya agar orang lain tidak memandangnya kasihan.


"KINAN! GUE BILANG BUKA!" suara Cakra menggema nyaring sampai ke telinganya. Mungkin karena lantai empat kelas ujung, jarang ditempati. Jadi sunyi dan senyap. Suara sebesar Cakra pasti bisa terdengar sangat jelas.


Suara pintu terhempas kuat, cukup jadi bukti bagaimana cara Cakra dapat masuk dan berjalan ke arah Kinan. Ya, Cakra baru saja mendobraknya.


"Bod*h lo bisa dikurangin dikit nggak?" Cakra berkata ketus. Dia berdiri di depan Kinan sembari bersidekap.


"Berhenti maksain cinta dari laki-laki yang sama sekali nggak menghargai kehadiran dan perasaan lo! Lo cantik tapi soal cinta paling bod*h!" Cakra tidak bisa mengendalikan omongannya pada lawan yang tak semestinya dia kasarin. Tapi mau gimana lagi, Kinan memang butuh dikasarin sekali-kali, agar berhenti suka pada laki-laki tak punya hati bernama Agrata Razzan.


"Angkat kepala dan hapus air mata lo! Air mata lo terlalu berharga untuk sekedar jatuh. Agra nolak lo, Kinan. Lo paham itu artinya dia mau lo menjauh dari dia. Jangan sukai dia. Apalagi berharap terlalu tinggi bisa miliki Agra seutuhnya. Yang ada lo mati sebelum berhasil mendapatkan hati Agra. Apa kata-kata gue barusan bisa lo terima? Kalau bisa, angkat kepala lalu tatap mata gue?!" Cakra memegang kedua sisi bahu Kinan dan sedikit menggoncangkannya.


Perkataan Cakra terucap di waktu yang kurang tepat sebab setelah dia selesai berbicara, suara isakan Kinan semakin kencang. Menggema ke sepenjuru ruangan. Bahunya bergetar hebat. Kinan membutuhkan sandaran, bukan bentakan.


Cakra mencebik sambil mengusap wajahnya, kasar, tak mengerti lagi akan perempuan dihadapannya. Sangat gigih dan keras kepala.


"Nyusahin banget sih lo!" Cakra meletakkan sebungkus tisu di telapak tangan Kinan yang terbuka, "Gara-gara lo uang gue keluar buat beli tisu," meskipun Cakra sendiri dongkol bukan main melihat tangisan Kinan tak kunjung berhenti, tetapi Cakra akan tetap berbaik hati, menjadi teman dikala Kinan semenyedihkan ini.


"Pokoknya ganti uang gue setelah lo puas nangisnya. Sayang dua rebu gue bisa untuk bayar parkir, itu. Ingat, jangan lupa," walau tak serius mengatakannya, Cakra berusaha membuat lelucon garing. Sukses. Kinan mengangkat kepalanya hingga tampaklah mata sembab perempuan itu. Jejak air mata menghiasi pipi mulusnya. Tangisannya pun sudah tidak terdengar.


"Nanti aku ganti," balas Kinan seraya mengucek-ucek hidung memerahnya.


Tanpa sepengetahuan Kinan, Cakra tersenyum kecil. Sangat mudah ternyata memancing Kinan agar meresponnya, "Ganti dua kali lipat. Gue nggak mau tau."


Kinan mengangguk lemah. Perlahan dia membuka bungkus tisu, mengambilnya satu untuk mengelap sisa-sisa genangan air matanya.


"Ayo cepetan bangkit! Gue pegel berdiri terus kayak gini! Kaki gue kram lama-lama!" ketus Cakra lagi. Kemudian dia membantu Kinan dengan memberikan satu tangannya agar digenggam Kinan. Kinan menerima uluran itu seraya menepuk-nepuk celana bagian belakangnya yang jor*k karena duduk selama kurang lebih satu jam di lantai.


"Ayo biar gue anter pulang. Kasihan tampang lo, macem singa abis ngamuk. Semrawut," kata Cakra tak kehilangan cara supaya Kinan tersenyum seperti biasanya. Cakra berjalan lebih dulu keluar, disusul Kinan di belakangnya.


"Oh, ya, satu lagi," Cakra berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya dan memandang Kinan datar. Kinan mengerutkan kening. Merasa was-was akan perkataan Cakra selanjutnya.


"Tolong bersihin itu ingus lo. Meler gitu. Jor*k jadi perempuan."


"CAKRA! TAU AH!! AKU MAU NANGIS LAGI NIH!"


...


Cakra Dikara


__ADS_1


__ADS_2