Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 43


__ADS_3

Hai aku kembali lagi nih:)


Selagi itu untuk kebaikanku, akan aku turuti apapun yang kamu larang.


......


Tanpa mengucapkan rasa terima kasihnya, Kinan berlari tergesa-gesa meninggalkan klub, menyusuri jalanan lenggang yang kian menyepi. Tengah malam. Langit kelabu tiada bintang dan rembulan menyebar di ruangnya.


Suara teriakan Cakra di belakangnya tetap tak mengubah keputusannya untuk menepi. Kaki jenjangnya terus melangkah pasti menuju kemana saja asal Cakra lelah lalu mundur mengejarnya.


Justru, semakin Kinan berusaha melarikan diri, semakin gencar Cakra mengejarnya. Cakra merasa sikap Kinan mengalami perubahan, menjauhinya dan seakan malas bersitatap dengannya.


Berbelok di lorong sempit, Kinan berhenti, bersandar di dinding bangunan dengan napas ngos-ngosan. Kinan mengatur derunya yang memompa cepat. Pelan-pelan Kinan mengintip apakah Cakra masih mengikutinya, ternyata tidak. Batang hidungnya telah menghilang. Kinan lega kemudian memutar kepalanya dan alangkah terkejutnya dia ketika sosok itu sudah berdiri di hadapannya dengan wajah lelahnya.


"Kenapa lo kabur seakan gue ini preman jalanan yang berniat jahat? Ayo pulang. Biar gue anter," Cakra berujar. Pandangannya lekat, menembus maniknya. Kinan terdiam dengan degupan jantung tak karuan.


"Aku bukan anak umur lima tahun. Aku bisa pulang sendiri. Kamu nggak usah peduliin aku!" Kinan menolak mentah-mentah tawaran Cakra.


Awalnya, perkataan Agra soal kejahatan Cakra terhadap mantan pacar Agra yang sudah dinodainya dan malah pergi, tak bertanggung jawab. Kinan yang memang tidak sepenuhnya percaya bahwa Cakra sebejat itu pada perempuan, kini menyetujui larangan Agra yang menginginkan dirinya untuk tidak dekat-dekat dengan Cakra. Kinan sanksi sama Cakra. Apalagi dengan mata kepala sendiri, Kinan melihat Cakra berada di ruangan VIP di klub tempatnya bekerja bersama pria-pria bermulut kurang ajar tadi. Berarti, Cakra juga sama jahatnya. Maka dari itu mulai sekarang Kinan akan menuruti perintah Agra.


"Gue tau lo bukan lagi anak kecil, gue nggak buta, tapi ini udah tengah malem, Kinan. Lo itu perempuan. Nggak baik pulang sendirian. Naik taksi pula. Pokoknya balik sama gue. Titik!" mempersingkat waktu, Cakra lantas menarik pergelangan tangan Kinan, membawanya keluar dari gang sempit, menuju di mana mobilnya terparkir. Kinan memberontak dan menyentak tangannya agar pegangan Cakra terlepas.


"Aku nggak mau! Kamu jangan maksa-maksa! Aku udah punya Agra! Kamu tau itu!" Kinan bersikeras. Wajahnya merah padam, tak suka pemaksaan yang dilakukan Cakra.


Alis Cakra jengat ke atas. Dia menatap Kinan bingung, "Hubungannya apa? Niat gue kan baik cuma mau nganterin lo pulang doang, bukan mau ngerebut lo dari Agra. Lagian, gue tau kalo lo itu cewek Agra. Gue juga tau lo cinta mati sama dia."


Kinan termangu. Benar juga apa yang Cakra katakan. Cakra peduli padanya serta-merta sebagai seorang teman. Tidak lebih dari itu. Kinan membuang mukanya ke arah lain sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal sama sekali. Dia malu sendiri. Dan tanpa sepengetahuan Kinan, Cakra melakukannya sebab dia mengkhawatirkan keadaan Kinan. Cakra masih menyimpan rasa. Meskipun Cakra sudah merelakan Kinan bersama Agra, tetap saja Cakra peduli pada Kinan. Cakra takut Kinan kenapa-napa.


"Aku nggak mau dekat-dekat sama cowok lain sementara aku udah ada pacar. Memang sih Agra nggak tau. Tapi sama aja, aku nggak mau main belakang. Kamu pergi sana. Jangan ngikutin aku lagi."


Cakra semakin dibuat tak mengerti akan sikap Kinan. Dia ngasal menebak, "Lo ngehindari gue?"


"Apa sih, nggak nyambung!" kilah Kinan.


Cakra mendesah berat, "Jujur, lo pasti lagi mencoba menghindari diri dari gue, kan? Kelihatan jelas. Gue nggak ngerti kenapa sikap lo berubah jadi sok ke gue. Gue merasa nggak melakukan satu kesalahan pun sama lo. Lantas apa yang membuat lo begini? Jelasin ke gue." tagihnya.


"Aku nggak apa-apa. Alasanku pengen sendiri, males di ganggu kamu. Aku harap kamu ngertiin aku, Cakra. Plis, tinggalin aku," Kinan berucap lalu bergegas pergi. Namun Cakra menarik lengannya untuk kedua kali.

__ADS_1


"Gue ngijinin lo cabut setelah lo ngasih penjelasan ke gue. Kalo alasan lo bisa gue terima, gue nggak bakal maksa lo lagi," kata Cakra memberi pilihan. Dasarnya, dia terlanjur penasaran. Terakhir kali bertemu, Kinan masih seperti Kinan yang dia kenal, ramah dan bersikap layaknya teman lama.


Arloji ditangannya menunjukkan pukul dua malam. Kelamaan berdebat jadi tidak sadar kalau sekarang sudah pagi buta. Kinan harus buru-buru pergi dari sini. Lelaki di depannya bersikukuh menahan langkahnya. Kinan menghembuskan napas gusar. Netranya menilik Cakra datar.


"Kamu lelaki brengs*k yang nggak bertanggung jawab Cakra. Kamu udah nyakitin Agra dengan ngehamilin pacarnya dan malah ninggalin perempuan itu gitu aja. Di mana hati kamu? Kamu jahat Cakra. Aku pikir kamu laki-laki baik selama ini. Ternyata kamu lebih jahat daripada apa yang Agra perbuat ke aku. Aku nggak nyangka." tersirat kekecewaan di pancaran matanya. Kinan bisa membayangkan bagaimana nasib Ana waktu itu ditinggal pergi oleh Cakra. Pasti dia menderita sekali.


Mendengar penuturan panjangnya, manik Cakra terbelalak. Cakra tidak terima dengan penjelasan singkatnya. Cakra berseru emosi, "Oh, jadi Agra udah ngaduh ke lo masalah itu? Intinya lo kemakan omongan Agra? Pantesan aja lo takut gue dekatin. Gak taunya karena itu. Gue paham."


Kinan tersenyum sarkas, "Ya. Mending jauh-jauh dari aku. Orang jahat kayak kamu emang pantes dijauhin! Berarti kebaikan kamu selama ini semuanya palsu. Kedok kamu udah ketauan!"


Selepas berkata tajam, Kinan menghilangkan jejaknya di balik pintu taksi yang baru saja dia setop. Kinan meninggalkan Cakra dengan rahang mengetat.


......


Hari yang cerah. Burung-burung tengah berterbangan menyemburkan kicauan merdunya. Suara yang kalah saing dengan kegaduhan di pelataran kampus pagi ini. Dua manusia yang saling melempar tatapan tajam bagai laser menembus kulit.


Cakra menggeram marah seraya menarik kerah kemeja Agra. Mendapat perlakuan secara tiba-tiba itu, Agra meresponnya santai. Cakra kepalang emosi.


Bugh!


Bugh!


"Puas lo ngedoktrin pikiran Kinan supaya benci ke gue?! Puas, anj*ng?!" Cakra memaki Agra terang-terangan di depan banyak orang. Tidak peduli di antara mereka adalah seorang dosen. Cakra tidak dapat bertahan lebih lama lagi ketika Agra mencoba meracuni Kinan agar menjauhinya.


"Gue cuma ngasih tau. Tujuan pacaran kan juga buat saling terbuka satu sama lain. Baik itu soal masa lalu. Ya gue ceritainlah. Salah?" Agra berucap tenang. Tidak seperti Cakra, meledak-ledak.


"Salah! Salah karena yang lo bilang ke Kinan itu nggak bener! Gue nggak pernah nyentuh Ana seinci pun! Apalagi ngambil dia dari tangan lo! Lo kira gue temen makan temen?! Enggak, Gra!" dada Cakra naik turun dengan wajah mengeras, "Lo itu salah paham! Ketika gue pengen ngejelasin semuanya dari awal sampai akhir, lo selalu nolak. Alhasil, lo sibuk berpendapatan sesuka hati tentang gue."


Agra berdecih, dia melepaskan tangan Cakra dari kemejanya. Tatapannya kali ini benci penuh dendam.


"Memang kenyataannya begitu. Lo nggak usah ngelak lagi. Basi, bangs*t."


Cakra melipat tangan di depan dada, "Apa yang membuat lo sebegitu yakin kalau gue yang menghamilin Ana?"


"Malam di mana gue mau mastiin keadaan Ana di apartemennya, gue lihat lo keluar dari sana dengan kondisi baju yang nggak terkancing. Lo habis berhubungan sama dia. Saat itu gue biarin dan milih pura-pura nggak tau. Gue pengen kalian ngaku ke gue tanpa gue paksa. Gue tunggu-tunggu dan sebulan kemudian Ana mutusin gue, ninggalin gue dengan alasan hamil anak lo. Lo buat gue kecewa, Cak." jelas Agra meluruh di kalimat terakhirnya. Luka lama masih membekas, enggan sembuh.


Cakra terperangah. Dia sungguh tidak tahu menahu jikalau saat itu Agra ada di sana. Melihat sosoknya. Cakra membungkam, tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Gue nggak habis pikir punya sahabat sebejat lo ini? Ngambil apa yang menjadi milik sahabat lo sendiri. Segitu teganya lo sama gue? Apa persahabatan kita dulu nggak berharga sama sekali di mata lo?" rasa kecewa itu kian terasa merasuk jiwanya.


Cakra terdiam. Pandangannya menetap menatap Agra.


"Gue mohon sama lo dengan sangat, tolong jauh-jauh dari Kinan. Cukup Ana yang lo rusak, jangan coba ngerusak milik gue lagi untuk kedua kalinya. Dengan cara itu juga gue bisa maafin semua kesalahan lo di masa dulu," kali pertama dalam hidupnya, Agra memohon pada orang lain.


Pertunjukan drama pun selesai saat Agra memilih menyudahi bagian dialognya dan melipir dari sana. Semua penonton yang menyaksikannya, membubarkan kerumunan. Meninggalkan Cakra yang mematung dengan pikiran tidak pada tempatnya.


......


"Aw! Pelan-pelan! Sakit!"


Kinan memperlembut tekanan kapas di tangannya pada sudut bibir Agra yang memar akibat ditonjok Cakra. Mereka berdua saat ini berada di taman kampus. Kelas keduanya sudah kelar setengah jam lalu. Kinan yang tadinya ingin mengajak Agra makan di kantin, berganti haluan ketika dia tak sengaja menemukan luka di bagian wajah sang kekasih.


"Kamu kenapa bisa begini sih? Berantem sama siapa?" Kinan bertanya seusai meletakkan obat biru di dalam kotak P3K miliknya ke tasnya.


"Sama orang lah sayang," Agra berucap santai dengan satu tangannya mengelus rambut Kinan yang terurai panjang.


Jawaban gamblang yang terlontar itu membuat Kinan memutar bola matanya malas. Yailah sama orang, masa hewan, "Iya, tapi siapa Agra? Kamu gitu ya main rahasia-rahasian segala, nggak mau kasih tau aku."


"Ganti topik obrolan aja. Masalah luka aku, anggap aja tanda persahabatan dari orang itu. Enaknya ini bahas tentang hubungan kita aja," ujar Agra beralasan agar Kinan tak memperpanjangkan masalah lukanya lagi. Lelaki berkemeja hitam yang lengannya di gulung itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah gelang berbandul kucing lucu.


"Ini khusus buat kamu sayang," Agra meraih tangan kiri Kinan dan memasang gelang itu di sana. Putih cerah kulitnya, semakin cerah ketika gelangnya mengkilap diterpa sinar matahari, "Semalam aku nggak sengaja lihat pas nemenin kakak aku ke Mall."


Manik kecoklatannya berbinar menatap desain sederhana benda cantik itu. Kinan terus memperhatikan pergelangannya kemudian beralih pada sosok tampan di sampingnya. Rasa cinta akan Agra bertambah besar. Sukar mengecil walau beribu sakit yang Agra ciptakan untuknya. Sekarang, sakitnya perlahan memulih.


"Indah banget, Agra. Aku suka," Kinan haru, "Makasih ya Agra. Gelang ini bakal aku jaga sebaik mungkin. Sama seperti perasaan aku ke kamu, bakal aku jaga sampai akhir," ucapnya tulus.


Agra tersenyum kecil, "Sama-sama sayang. Makasih juga udah mencintai aku sebesar itu."


Kinan mengangguk dan balas menyunggingkan senyum, "Iya. Gimana kalau sekarang kita nonton film? Kamu mau?"


Agra berpikir sejenak, "Nonton? Siang-siang terik gini? Apa itu ide bagus?"


"Kalau sama kamu mah semuanya bagus-bagus aja."


"Oke kalau itu keinginan kamu. Ayo kita pergi. Tapi aku bukan bawa kamu ke bioskop, melainkan ke suatu tempat yang di sana kamu juga bisa nonton film sampe sepuasnya. Gimana? Mau?" Agra menawarkan sesuatu yang lebih menggiurkan. Kinan tentu saja tidak akan bisa menolak.

__ADS_1


Tawaran yang Kinan tanggapi dengan anggukkan antusias. Jarang-jarang kan Agra mengajaknya ke tempat yang belum pernah dia jamah sebelumnya.


Dan lihatlah, betapa bahagianya wajah manis itu ketika bersamanya. Wajah yang senantiasa tersenyum walau Agra tahu di dalamnya sedang tak baik-baik saja.


__ADS_2