
Hari sabtu, kampus Brawali tidak seramai hari biasa. Terbukti dari beberapa motor terparkir manis di tempat penyimpanan kendaraan khusus Mahasiswa. Termasuk juga motor Agra yang baru saja tiba. Adira buru-buru turun dan melangkah masuk dengan langkah cepat. Adira sengaja ingin menghindar. Adira masih marah sekaligus kesal sama Agra. Toh, kalau Agra merasa bersalah, laki-laki itu pasti mengikutinya terus dan berupaya tiada henti meminta maafnya.
Jantung Adira berdegup kencang setibanya di depan ruangan Nathan. Adira mengatur deruan napasnya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu. Begitu suara Nathan menyuruhnya masuk, barulah Adira berani membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Pak Nathan, saya ingin mengumpulkan revisian makalah kemarin, Pak," Adira berdiri dengan gugup dihadapan Nathan. Lihatlah, Nathan benar-benar sempurna dibalik balutan kemeja putih ngepasnya.
"Letakkan saja di atas meja saya," balas Nathan singkat, tanpa melihat wajahnya. Pria dewasa itu tengah sibuk berkutat pada berkas-berkas di atas mejanya.
Hati Adira mencelos ketika respon Nathan terbilang sangat cuek. Padahal, Adira satu malaman mengerjakan revisian tugas makalah Matematika yang sangat-sangat rumit menurutnya. Tanpa makan dan tidur hanya demi mendapat pujian dari sang Dosen, mengumpulkan tepat sebelum hari terakhir pengumpulan.
Dengan berat hati, Adira meletakkan hasil kerjaannya seperti apa yang Nathan suruh, "Bapak keliatannya sibuk banget hari libur begini? Kalau saya boleh tau, bapak lagi ngerjain apa? Siapa tau kehadiran saya bisa membantu meringankan pekerjaan bapak," Adira berbaik hati menawarkan diri. Itung-itung agar hubungan mereka semakin dekat.
"Sudah tau saya sibuk, kenapa kamu masih ada di sini?" telak Pak Nathan, "Silahkan keluar dari ruangan saya kalau sudah tidak ada lagi keperluan. Saya banyak kerjaan. Tidak punya waktu untuk sekedar berbasa-basi."
Pengusiran yang dilakukan Pak Nathan, secara halus menyentil hatinya. Mata Adira memanas. Secepatnya dia menganggukkan kepala, bersikap sopan, "Ma-maaf sudah mengganggu waktu kerja, Bapak. Saya permisi," Adira keluar.
Di depan pintu, tatapan Adira kosong menatap lantai marmer yang dia pijak. Bahkan Agra di sampingnya, tidak membuatnya tersadar. Setetes cairan bening, jatuh di pelupuk matanya. Dengan cepat, di hapusnya.
"Barusan lo nangis?" nada suara Agra meninggi satu oktaf, "Siapa yang buat lo kek gini? Pak Nathan?"
Tersentak, Adira menoleh. Dia menggelengkan kepalanya kuat, "Enggak, Gra. Gue kelilipan. Mata gue perih, jadi keluar deh air matanya."
"Lo nggak bisa bohongin gue, Ra. Gue tau lo sejak kecil. Gue udah sangat hafal reaksi tubuh lo saat lo sedih atau sakit itu gimana. Kayak sekarang, pandangan lo kosong saat keluar dari ruangan Pak Nathan. Itu artinya, lo lagi nggak baik-baik aja."
"Gue nggak apa-apa, Gra," kilah Adira, "Oh ya, lo abis ini ke mana?" pertanyaan pengalihan. Kemarahannya beberapa menit lalu,sudah enyah entah ke mana.
"Kenapa nanya gitu? Lo mau minta ditemenin lagi?"
Adira mengangkat bahu, "Rencananya sih mau ngajakin nongkrong. Abisnya gue gabut di rumah."
"Untuk hari ini lo nongkrong sendirian ya. Gue ada urusan mendadak."
Bahu Adira melemas, "Sepenting itu urusan lo daripada gue?"
"Lo sama pentingnya dengan urusan gue ini. Tapi gue bener-bener nggak bisa nge-cancel tiba-tiba demi nemenin lo pergi. Gue udah di kejar waktu, kalau gitu gue tinggal duluan. Lo pulang naik gojek aja. Lebih aman dari angkutan umum," saran Agra seraya berlalu, tidak mau menghabiskan lebih lama lagi menunggu balasan dari Adira selanjutnya. Adira hanya bisa menatap punggung tegap Agra sampai menghilang di belokan lorong.
__ADS_1
Biasanya, sepenting apapun urusan Agra, dia akan tetap memprioritaskan Adira. Namun sekarang, Adira di buat menganga. Karena dalam sepanjang sejarah jalinan persahabatan mereka, laki-laki itu baru kali ini dengan tega menyuruhnya naik ojek online seorang diri.
Adira jadi penasaran, siapa seseorang yang merubah prinsip Agra bahwa dia bukan lagi prioritasnya?
........
Selesai menyantap makan siang di kafetaria, Kinan langsung mengganti baju seragam kerjanya dengan baju yang dia pakai tadi pagi. Siang ini, lebih tepatnya jam 13.00, pegawai Gramedia Matahari berganti shift dengan pegawai lain. Jam kerjanya memang saling bergantian setiap siang saja.
Beruntungnya di hari libur ini, Kinan mendapat shift pagi, jadi setelah pulang dari sini, Kinan bisa beristirahat di rumah.
"Nona Kinan udah mau pulang?" tanya Denis---pegawai cowok di sana, pada Kinan yang baru saja keluar dari ruang ganti cewek.
Kinan tersenyum kala Denis melempar senyum padanya, "Iya nih, Den. Kamu kedapetan shift siang ya?"
Denis mengangguk sedih, "Gara-gara gantiin shift Qori kemarin, aku jadi nggak bisa jumpa sama Nona Kinan. Padahal kangen, pengen sarapan bareng kayak biasa."
"Besok juga kita sama-sama balik masuk pagi. Ntar kan ketemu. Udah dong, jangan manyun gitu, Den. Jelek dilihat," ucap Kinan sembari terkekeh kecil.
"Iya juga ya, Non," cengir Denis terlihat berpikir, "Terus Nona mau ke mana habis ini? Langsung pulang ke rumah?"
"Siap, Nona."
Kinan bergegas keluar toko sebelum cuaca makin panas. Baru beberapa langkah berjalan menuju persimpangan jalan besar, seluruh tubuh Kinan serasa membeku saat kedua mata indahnya, menangkap sosok tegap tengah bersandar di badan motor, tidak jauh dari posisinya.
Apapun yang berhubungan dengan Agra, Kinan seperti mati rasa. Lain halnya, perasaannya, justru Kinan sangat senang Agra menghampirinya lebih dulu, bukannya dia.
Kinan tidak bisa menyembunyikan lagi lengkungan senyum di kedua sudut bibirnya, "Agra, kamu ngapain di sini? Nungguin aku ya?"
Agra diam. Matanya menyorot Kinan saja.
Kinan mencebik, "Ish, kebiasaan. Di tanya, nggak pernah mau langsung jawab. Ke sini karena aku apa orang lain?"
"Bukan dua-duanya," jawab Agra datar tanpa ekspresi.
"Terus?"
__ADS_1
"Motor gue tiba-tiba mati."
"Terus?"
Agra mendesis kesal, "Ya lo bayangin aja sendiri gimana kelanjutannya!"
"Aku tau, Agra bohong. Pasti mau jemput aku, kan? Jujur aja. Aku seneng. Seneng banget malah," mata Kinan berbinar cerah.
Kedua alis Agra tertaut, "Sesederhana itu?" tanyanya sedikit tidak percaya.
Anggukkan Kinan, membuat Agra terdiam sesaat. Kemudian menaiki motornya dan memakai helm, "Mau lebih bahagia lagi?" tawar Agra.
"Mau banget, Agra. Apalagi karena kamu," Kinan antusias sekali. Dia tidak menyangka Agra sebaik ini padanya.
Apa Agra begitu sebab status mereka sekarang adalah sepasang kekasih?
"Buruan naik! Gue mau ngajak lo ke suatu tempat!"
"Serius?"
"Iya! Cepetan! Sebelum gue berubah pikiran!" balas Agra sedikit membentak.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan emas, Kinan duduk di belakang Agra, mengambil posisi ternyaman. Kalau dibolehin, Kinan dengan senang hati memeluk Agra. Itu pun kalau Agra tidak ngamuk.
Motor Agra melesat pergi, meninggalkan area pelataran toko buku, ke tempat tujuan yang sudah dia rencanakan dari jauh-jauh hari. Di perjalanan, keduanya saling bungkam. Sepanjang jalan juga, Kinan tidak hentinya tersenyum girang dan hampir saja luapan bahagianya meledak, kalau saja Kinan tidak bisa mengendalikan dirinya.
Sekitar lima belas menit, akhirnya mereka sampai di depan sebuah gedung tingkat tiga. Kepala Kinan celingak-celinguk mengamati pemandangan di hadapannya.
Boleh Kinan berputar arah?
Rasanya, bahagianya beberapa saat lalu melebur bersama degupan jantungnya yang memompa kencang. Rautnya pucat pasi.
Dari sekian banyak tujuan, kenapa harus ke tempat les piano?
Kinan mendadak takut. Takut kalau Agra memaksanya bermain alat musik itu. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Kinan harus mencari alasan agar dirinya bisa terbebas. Jangan sampai Agra tahu kalau dia bisa bermain piano.
__ADS_1
Tapi, apa?