
Kalau sekiranya kalian menemukan kata yang di sensor, tolong kasih tau aku ya temen-temen. Terima kasih.
....
Jarum jam berhenti berdetak
Ibarat hatiku yang telah retak
Mulutku seakan ingin berteriak
Namun tak bisa bergerak
......
Mungkin bagi sebagian orang, berada di puncak ketinggian hal yang paling menakutkan dan membuat sekujur tubuh merinding, tetapi lain halnya bagi Kinan, berada di depan gedung les piano lebih memacu adrenalinnya hingga kedua telapak tangannya mendadak terasa dingin. Padahal cuaca siang ini, sangat terik.
Bisa Kinan rasakan peluh keringat menetes dari dahi lalu turun ke pelipisnya. Bukan karena hasil panas sengatan matahari, melainkan panas yang Agra ciptakan untuknya. Ditambah, sorotan tajam Agra terus menelisik masuk ke manik matanya. Kinan sampai menggigit bibir bagian bawahnya sedikit kuat. Hati dan respon tubuhnya terlalu lemah menerima tatapan itu. Ingin rasanya Kinan pingsan saat ini juga di hadapan Agra, lagi-lagi pikirannya berkecamuk, apa nanti Agra mau menolongnya? Bagaimana kalau raganya dibiarkan begitu saja oleh Agra?
Kinan bimbang.
"Kenapa diem?" Agra menyeletuk pelan dan itu mampu menghempaskan Kinan dari dunianya sendiri.
"Hah?"
Memasang tampang cengo, satu-satunya reaksi yang Kinan tampilkan. Tangan bebasnya bergerak ke atas, menggaruk kulit kepalanya yang entah kenapa terasa sangat gatal. Matanya mengerjap pelan, barulah sepenuhnya sosok Agra terlihat jelas berdiri di hadapannya dengan alis menyatu, tengah memandanginya. Serangan gugup itu menyerangnya lagi.
"Agra, jangan lihatin aku terus, aku grogi tau," Kinan menundukkan kepalanya dalam, merasa terimintidasi. Sepatu lusuhnya adalah satu-satunya objek penglihatan teraman bagi Kinan.
"Angkat kepala lo dan tatap wajah gue," datar, Agra berucap tanpa ekspresi, "Gue ada di depan lo, bukan di bawah sana."
Aura dingin yang terpancar dari Agra mau tidak mau mengalihkan pandangan Kinan menjadi menatapnya. Rasanya sulit sekali membuka mulutnya lantaran sosok tampan satu ini begitu menyeramkan ketika berbicara.
Selama beberapa detik keduanya saling kontak mata, diam, dan sama-sama membungkam. Menghindari reaksi tubuhnya lebih parah dari sekedar gugup, Kinan membuang tatapannya ke arah jalan raya. Agra seperti malaikat pencabut nyawa yang ada di dalam drama Korea tontonan Kinan. Menakutkan bila memandang.
"Ayo ikutin gue!" Agra lebih dulu melangkah maju, memasuki gedung les piano. Kaki Kinan langsung melemas. Alasannya sederhana mengajak Kinan ke sini, karena Agra ingin mempertemukan Kinan dengan seseorang selain tujuan awalnya. Merasakan tidak ada tanda-tanda Kinan menyamakan geraknya, lantas Agra memutar badannya ke belakang, dengusan kasar lolos dari bibirnya saat dilihatnya Kinan terpaku sambil memilin bagian bawah bajunya.
"Telinga lo masih berfungsi, nggak?!" sentak Agra kuat sesampainya dihadapan Kinan, "Gue bilang, ikutin gue! Malah bengong!"
Kinan mengangguk patah-patah dengan perasaan takut, "Masih, Agra."
"Terus kenapa lo nggak gerak-gerak?! Lo tau, reaksi lo ini ngebikin waktu berharga gue terbuang sia-sia!"
"Maaf, Agra, tapi aku mau pulang aja," Kinan tidak berani mengangkat wajahnya dan hanya bisa tertunduk takut, meremas jemarinya.
Bertahan pada tampang datarnya, Agra memainkan satu alisnya dan menariknya ke atas. Dia penasaran sekaligus tidak mengerti akan respon Kinan barusan. Jelas-jelas sewaktu berada di depan toko buku, Kinan sangat senang saat dia mengajaknya pergi. Justru ini, Kinan bertingkah sebaliknya, tampak getir dan sesegera mungkin, menjauhinya.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba lo mau pulang? Segitu angkernya gedung les piano itu sampai-sampai muka lo tegang begitu?" sekilas, Agra mencium hal yang tidak beres dari diri Kinan. Entahlah. Agra tidak bisa menyimpulkannya saat rasa penasarannya terpancing.
"Perutku sakit. Aku mau ke toilet."
Tawa terpaksanya meledak. Sudut kanan bibirnya, tertarik, membentuk seringai tipis. Insting Agra sangat kuat jika saat ini Kinan sedang berbohong, "Ada toilet yang dekat, kenapa pilih yang jauh? Di dalam ada kamar kecil. Jadi lo nggak perlu capek-capek ke rumah. Lagian, keburu celana lo basah di jalan."
Gagal total keinginannya kabur. Kinan mengigit bibir bawahnya, tak peduli memerah akibat ulahnya sendiri, "Aku nggak nyaman berada di toilet lain, Agra. Kamu pasti pernah ngerasainnya, kan? Risih ketika di tempat orang?"
"Alasan lo sama sekali nggak masuk di akal!" kata Agra tajam, "Apa jangan-jangan lo takut kalau nantinya gue nyuruh lo main piano di dalam sana? Lo bisa main piano, kan?"
Kinan melebarkan matanya mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Agra. Jantung Kinan berpacu cepat bersama keringat dingin bercucuran membasahi dahinya. Kemudian Kinan menggelengkan kepalanya, tanda pengalihan, "Enggak, Agra! Bukan karena itu! Pokoknya aku mau pulang. Titik!" kata Kinan terakhir kali lalu berlari kencang, meninggalkan tanda tanya besar di benak Agra.
"Perempuan aneh," gumamnya.
Kepergian Kinan, Agra tak berupaya menahan atau sekedar mengejarnya, Agra hanya diam dengan segala cabang pikiran memenuhi otaknya. Baru kali ini, Kinan lebih dulu meninggalkannya. Dan ini kedua kalinya, Kinan marah ketika mendengar hal yang berbau piano. Yang pertama, saat di taman, Agra bertanya pada Kinan perihal kepandaian perempuan itu bermain piano, namun terkikis oleh amarah perempuan itu. Jawabannya pun seperti sebuah kebohongan.
Setelah tubuh mungil Kinan menghilang di belokan gang sempit, Agra menghembuskan napas lelah, mengingat hari ini rencananya gagal.
"Agra!" panggil seseorang dengan keras, dari balik punggungnya. Agra balik badan. Tampak sang Kakak, berlari kecil menghampirinya. Napas Agni sedikit ngos-ngosan. Maniknya seperti mencari-cari sesuatu di sekitar Agra.
"Loh, katanya mau ngenali seseorang ke Kakak, mana dia orangnya? Kok lo sendirian, sih?" tanya Agni, bingung.
Semakin menghela napas, Agra pergi dari hadapan sang Kakak, menuju ke mana saja asal Kakaknya itu tidak menanyakan keberadaan Kinan.
Jujur, Agra benar-benar pusing memikirkannya.
......
Sebenarnya, setiap hari sabtu, Kinan tidak ada jadwal piket menjaga toko buku, namun karena kemarin salah satu temannya masuk rumah sakit dan sampai saat ini belum sembuh, Kinan berbaik hati menggantikan pekerjaan temannya. Itung-itung sebagai jatah liburnya yang terkesan membosankan jika berada di rumah terus-menerus setiap akhir pekan.
Sialnya, Kinan melupakan satu masalah penting yaitu adanya Mr. Brown, menetap di rumah. Kinan benar-benar lupa kalau pria setengah baya itu hari ini tidak pergi ke mana-mana. Tamatlah riwayatnya.
"Darimana saja kau sejak pagi dan baru pulang jam segini?"
Deg.
Kinan membeku. Detak jantungnya seakan berhenti ketika suara berat itu memaksa masuk ke telinganya. Tangannya yang semula memegang daun pintu, dia turunkan, beralih memilin jemarinya, gugup sekaligus takut. Kinan rasa, hari ini adalah hari gugup untuknya. Tadi, Agra, sekarang Mr. Brown.
Ku mohon, jangan marah. Batinnya lemas.
Gerakan lambat, Kinan berbalik badan dan dapat dilihatnya jelas sosok Mr. Brown tengah duduk di single sofa dengan keadaan sela jemari kanannya terselip sebuah cerutu. Mr. Brown mengisap cerutu itu lalu membuang asapnya ke udara bebas. Menyebar ke sepenjuru ruang tamu. Kinan sampai terbatuk-batuk.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kau bisu?" kata Mr. Brown kedua kalinya ketika Kinan tak merespon pertanyaan pertamanya. Air muka pria setengah baya itu sangat tenang. Sesekali juga dia kembali mendekatkan ujung cerutu pada bibirnya. Melakukan hal yang sama, menghisapnya.
"Aku bekerja, Tuan. Maafkan aku, tidak memberitahumu terlebih dahulu. Tadi pagi ku lihat kau masih tidur di ruang kerjamu, jadinya aku pergi saja," Kinan menyembunyikan pandangannya dengan cara menundukkan kepala. Di dalam sana, jantungnya memompa cepat. Nyalinya ciut berhadapan dengan Papa tirinya. Sudah bertahun-tahun tinggal bersama, tetap saja Kinan tak mempunyai kekuatan menatap sepasang mata tajam itu terlalu lama.
__ADS_1
"Keluarlah dari pekerjaanmu," kalimat itu meluncur santai dari bibir Brown. Brown mematikan cerutu dan membuangnya tepat di dekat kaki Kinan. Tatapannya menghunus manik Kinan. Satu kakinya terlipat tepat di atas paha kirinya.
Kinan terbelalak dalam hitungan detik. Kemudian mengembalikan ekspresinya sebelum Brown bertindak dengan menamparnya karena dia menolak melalui siratan tingkahnya, "Apa katamu, Tuan? Apa aku tidak salah dengar?"
"Aku rasa kau tidak tuli. Aku minta kau keluar dan tak usah menjaga toko buku itu lagi."
Kinan menggeleng kuat, "Tidak bisa, Tuan. Aku menyukai pekerjaannya. Aku nyaman berada di sana," tolaknya cepat.
"Lebih nyaman kalau kau berada dalam kendaliku. Di bawah pengawasanku. Cukup menjadi pelayan di klubku. Tidak di tempat lain," Brown memutuskan keputusannya. Tampaknya, Kinan menolak terang-terangan. Lihat saja, Kinan berdiri menantang di hadapan Brown. Membuang ketakutannya bahwa pria setengah baya itu adalah jelmaan iblis yang tidak bisa dilawan.
"Tolong jangan bersikap sesuka hati, Tuan. Selama ini aku sudah mengikuti semua kemauanmu. Bekerja di tempat terkutuk itu dengan para tua bangka berada disekelilingku. Jadi jangan memaksaku meninggalkan pekerjaan baikku kalau kau tidak ingin aku berhenti menjadi pelayan di sana," kata Kinan berani.
Mr. Brown menyeringai tipis. Dia takjub melihat kelinci polos itu sudah berani menentang keinginannya. Brown banyak menemukan perubahan di diri Kinan. Sebelumnya diam ketika dia memberontak, sekarang angkat bicara. Brown akui Kinan cukup bernyali, melawannya.
"Baik kalau kau tidak mau. Aku tidak akan memaksa lagi," Brown mengalah, Kinan terpaku.
Apa dihadapannya adalah sosok Mr. Brown yang asli? Ada angin apa pria berhati besi itu meluluh? Kinan kira Mr. Brown akan mencercanya habis-habisan bahkan tak segan menghabisinya karena tak menuruti keinginan dari pria itu.
"Serius, Tuan?" tanya Kinan setengah tak percaya.
Brown mengangguk, "Ya. Sebagai gantinya, kau duduklah dulu. Aku ingin memberikan sesuatu padamu," pintanya.
Semakin terperangah, Kinan mulai menjatuhkan bokongnya di sofa panjang sebelah kanan Brown dengan perasaan was-was. Hatinya terbesit kerisauan mendalam. Detak jantungnya seperti lari marathon.
"Apa itu, Tuan?"
Brown tersenyum. Senyuman palsu. Dia mengambil sesuatu dari balik sofa yang dia duduki. Sebuah kotak hitam berada di genggamannya, diberikannya pada Kinan. Kinan mengernyit, heran. Kinan tidak berulang tahun, tapi kenapa Brown memberikannya hadiah?
"Ambil dan bukalah. Pakai itu nanti malam saat kau bekerja di klub. Kau akan terlihat cantik dengan gaun pilihanku," kata Brown santai sembari menghidupkan cerutunya. Kembali menyiptakan kepulan asap mematikan.
Khawatir, Kinan menerima dan membuka tutup kotaknya. Memang benar, sebuah gaun putih selutut dengan bagian belakang sedikit terekspos yang memperlihatkan bagian punggung mulusnya, terlipat rapi di dalamnya. Tidak hanya itu saja. Dahi Kinan dibuat mengerut oleh keberadaan foto berukuran sedang di atas gaunnya. Kinan meraihnya.
"Foto siapa ini, Tuan?" tanya Kinan, bingung. Terpampang foto seorang pria tampan mengenakan jas hitam, berdiri dengan gagahnya.
"Itu klienku dari luar negeri. Dia salah satu investor terbesar di perusahaanku. Layanin dia nanti malam. Aku sarankan, kau tidak menolak. Bila kau lakukan, kau akan tau sendiri akibatnya."
Ya Tuhan! Apalagi ini?! Apa maksudnya, dia ingin menjual keperawananku pada pria asing itu? Teriak Kinan dalam hati.
"Tidak! Aku tidak mau pria manapun melecehkanku!" suara Kinan meninggi dan tanpa segan, membantah. Emosinya membludak, "Kenapa kau tega mengumpankan tubuh anak angkatmu ini kepada seorang pria asing yang sama sekali tak ku kenali? Tidakkah kau merasa sakit melihat tubuh anakmu digerayangi pria?!"
Lagi, lagi, Brown mengulas senyum, "Kau bukan anakku. Aku juga bukan ayah angkatmu. Jadi aku tidak perlu takut bila diriku ini menanggung sakit, nantinya. Karena itu tidak akan pernah terjadi padaku! Kau paham?"
"Aku tetap menolak!" tegas Kinan. Perkatanya sengaja ditekankannya.
Brown memberi jeda demi menghisap cerutunya. Kali ini menghasilkan asap tebal dan banyak lalu dihembuskannya. Cukup berbasa-basinya, Brown langsung ke intinya saja.
__ADS_1
"Layani klienku atau kau akan lihat sendiri bagaimana lelaki bernama Agra berakhir mengenaskan di hadapanmu."