Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 21


__ADS_3

Sekecil apapun pertolongan yang kau berikan, akan berefek besar pada perasaanku. Aku ingin kau berhenti, biarkan rasaku mengalir sendiri tanpa perlu kau campuri


......


Setibanya di kampus, Agra tidak langsung masuk ke dalam kelasnya. Melainkan, pergi ke loker untuk mengambil beberapa berkas yang Agra taruh di sana, semalam. Universitas Brawali menyediakan loker khusus untuk para Mahasiswa. Letaknya sesuai dengan gedung Fakultas masing-masing. Untuk Fakultas Ekonomi, baik program studi Manajemen atau Akuntansi, letak lokernya ada di lantai satu. Dekat kantin.


Agra mengambil berkas yang diperlukan dan maniknya jatuh pada sekumpulan surat dengan amplop berbeda warna. Dia meraih salah satunya. Pasti kalian tau siapa pengirimnya.


Ya, itu semua adalah surat dari Kinan.


Kembali diletakannya, Agra tampak merogoh-rogoh laci tas depannya. Agra baru ingat, kemarin, sewaktu habis mengantarkan Kinan ke toko buku, perempuan itu memberikannya surat lagi. Agra tak ingat pasti, sudah berapa surat yang Kinan buat untuknya. Agra tak ingin memikirkannya. Toh, dia tak begitu peduli.


Dia membuka surat yang di bungkus amplop berwarna ungu. Agra sempat berpikir bahwa Kinan pecinta warna pelangi, sebab semua amplop suratnya berwarna ngejreng. Dan Agra tidak terlalu menyukainya. Apalagi warna merah. Sangat tidak suka. Tidak ada alasan khusus.


***Surat keempat dariku.


Teruntuk Agra, yang aku suka.


Semenjak mengenalmu, keinginanku bertambah banyak. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Aku selalu berangan-angan bisa lebih dekat denganmu. Aku selalu ingin mengobrol banyak hal bersamamu. Menghabiskan waktu berdua tanpa di tentang waktu. Berjalan beriringan. Bukan malah kamu yang berjalan di depanku, sementara aku di belakangmu.


Aku ingin berganti haluan. Aku yang berjalan di depanmu, sementara kamu berada di belakangku. Menjagaku, agar diriku tetap aman. Menjadi sandaran ketika diriku di terjang badai dari arah depan.


Mengenalmu, aku jadi menginginkan hal lebih. Aku menjadi egois demi kebahagiaanku sendiri.


Tapi, ketahuilah, kehadiranmu, memberi semangat untukku. Membawa sebuah kebahagiaan bagiku. Tetaplah menjadi kebahagiaanku, Agra. Meski kamu selalu bersikap tak peduli, selalu mengabaikanku, tidak apa. Asal kamu jangan hilang dari pandanganku.


Lebih bahagia lagi, kalau kamu membalas perasaanku.


Aku mencintaimu, Agra. Selalu***.


Love.


Dari Kinan, yang mencintaimu.


Tatapan Agra seperti biasa, datar. Tidak ada ekspresi ketika membaca surat itu. Setiap kalimat, dia pahami betul-betul. Agra tahu bagaimana perasaan Kinan saat menerima responnya yang terbilang cukup cuek dan kasar.


Agra tidak tahu lagi harus melakukan apa. Dia bertindak sesuai hatinya. Dia tak ingin perempuan manapun menyukai dirinya. Apalagi semacam Kinan, mengutarakan perasaannya secara langsung tanpa merasa segan ataupun malu. Agra juga belum mau membuka hati, setelah dia pernah dikhianati dan dibohongin. Dia tidak ingin itu terulang lagi. Bisa dibilang, trauma. Tapi, suatu saat, dia akan kembali membukanya. Pastinya, Agra duluan yang akan menyatakan perasaannya.


Setelah dibaca, Agra menyimpan suratnya di dalam loker lalu menguncinya. Dia melanjutkan langkahnya, ke kelasnya di lantai dua. Setiap orang yang melewatinya, terutama para Mahasiswi melempar senyum padanya. Agra hanya menganggukkan kepala tanpa niatan membalas senyum. Wajahnya datar, menatap lurus ke arah depan.


"Sekali-kali ukir itu muka, jangan datar mulu," desis Afka begitu batang hidung Agra terlihat masuk ke dalam kelas. Afka memandang Agra, di sebelahnya, "Gimana? Udah dapet orangnya?"


Agra bersandar di sandaran kursi. Dia menoleh, "Udah."


"Siapa? siapa? Cantik nggak ceweknya?" tanya Afka heboh. Mau tidak mau, Abyan menggetok kepala Afka dengan buku tulisnya.


"Nggak usah sibuk lo! Kayak kucing dikasih ikan segar!" Abyan menatap Afka tajam. Lelaki bertopi putih itu mendengus sebal.


"Biasa aja," balas Agra malas.


Abyan ikut bertanya. Dia juga penasaran walau reaksinya tidak berlebihan kayak Afka, "Emang siapa, Gra?"


"Kinan."


"SERIUS?!" serempak Afka dan Abyan. Keduanya memasang tampang tak percaya.


Agra hanya berdehem sebagai balasan.

__ADS_1


"Kinan mau, Gra?" Afka tampak tertarik dengan pembahasan ini. Apalagi Kinan orangnya. Dia tidak menyangka kalau Kinan pandai bermain piano.


"Masalahnya, dia nggak mau ngaku. Gue jadi nggak tahu harus ngapain."


Kening Afka maupun Abyan berlipat, heran, "Lah, kenapa?" keduanya sama-sama menjawab. Seakan bertelepati terlebih dulu. Lalu mereka saling pandang. Kemudian, menatap Agra lagi.


Agra mengedikkan bahu, tidak mau tahu.


Abyan berdecak, "Ya, lo tanya lah, Gra!"


"Perlu gue bantuin?" tawar Afka, "Apa perlu gue melakukan pendekatan sama Kinan supaya dia mau ngakui kelebihannya?" alisnya Afka mainkan, ke atas dan ke bawah.


"Modus lo bisa aje, tudung saji!" gemas Abyan.


"Yang ada dia makin nggak mau ngaku! Apalagi sama buaya darat kayak lo!" tandas Agra kejam.


Afka merutuki temannya itu, "Mati lo, Gra! Mati lo! Gue telen! Kesel gue!"


......


"Na, gue ke loker dulu ya, mau ngambil buku. Lo balik duluan aja, takutnya kelamaan nunggu gue-nya," ucap Kinan pada Zerina.


Zerina mengangguk, "Yauda, lo hati-hati ya pulangnya. Kalau ada apa-apa telepon gue."


Kinan mengacungkan jempolnya, "Oke, Tuan puteri."


Perempuan berambut sebahu itu, terkekeh lalu berlalu pergi. Meninggalkan Kinan seorang diri di koridor. Kinan berjalan menuju lokernya. Setelah mengambil bukunya, Kinan tak sengaja melihat Agra turun dari lantai dua. Kesempatan bagi Kinan, untuk mendekati Agra. Sehari tidak menganggu Agra, rasanya ada yang kurang di hidup Kinan. Meskipun sering tak mendapat respon, setidaknya Kinan lega masih bisa menatap wajah Agra.


"Agra!" panggil Kinan, kuat.


Agra tetap berjalan terus ke arah parkiran kampus. Tidak mempedulikan Kinan yang memanggil namanya. Kinan tak pantang menyerah. Dia pun mengejar langkah Agra. Mensejajarkan langkahnya agar saling beriringan.


Hening. Tak ada jawaban.


"Udah nggak ada kelas lagi ya, Gra?"


Boro-boro berhenti dan balas menatap Kinan. Agra tetap saja melangkah. Tanpa mempedulikan keberadaan Kinan. Kinan tersenyum kecut. Luka yang masih membekas di hatinya, seakan ditetesin air jeruk nipis. Perih. Menyadari bahwa dirinya tidak dianggap ada oleh Agra. Tapi Kinan tidak boleh menyerah begitu saja. Dia harus mengejar cintanya sampai terbalaskan.


"Jawab dong, jangan diem mulu. Agra kan nggak bisu," kata Kinan lagi, terus mengikuti langkah Agra.


Kinan dilanda kebingungan, melihat sikap Agra seperti bunglon. Sebentar berubah. Sebentar enggak. Kemarin, bahkan tanpa Kinan duga, Agra mengiriminya pesan lebih dulu dan mengajaknya sarapan bersama. Padahal, sebelum-sebelumnya, sikap Agra padanya terlampau datar, cuek, dan tidak pedulian. Lebih parahnya, kehadirannya selalu terabaikan. Sehabis Agra mengantarnya kerja, Kinan sangat berharap Agra akan bersikap baik padanya seperti itu, nyatanya hari ini, Agra kembali seperti biasanya. Datar dan tidak punya hati.


"Agra! Sebentar aku mau ngomong," Kinan terus saja berkoak agar Agra jengah sendiri dan meresponnya.


Terbukti. Karena saat ini, Agra berhenti melangkah dan menatap Kinan, datar, "Apa?"


Kinan tersenyum senang. Ternyata berhasil, "Kamu mau pulang?"


"Iya, kenapa?!" galak, Agra.


Kinan meremas baju, gugup, "Kamu mau anterin aku ke suatu tempat nggak?"


Agra diam dan menatap Kinan datar. Dia tidak bersuara sama sekali.


"Mau, Agra?" tanya Kinan lagi.


"Kenapa harus gue?" suara datar Agra membuat nyali Kinan, ciut. Kinan kicep seketika. Bibirnya kelu.

__ADS_1


"Ya, ya, karena aku sukanya sama kamu," jawab Kinan, gamblang.


Agra mendengus. Alasan Kinan tidak masuk akal baginya, "Apa karena kemarin lo, gue antar kerja, jadinya lo minta gue anterin lagi?"


"Bukan gi---"


Memotong ucapan Kinan, Agra semakin mempertajam tatapannya, "Dengerin gue baik-baik, jangan karena gue udah bersikap friendly sama lo, baik sama lo sampai ngajak lo sarapan bareng, lo anggap itu sebagai tanda gue nerima kehadiran lo. Enggak. Enggak sama sekali. Gue hanya kasihan sama lo. Gue cuma nggak mau dibilang laki-laki nggak berperasaan, karena selalu mengabaikan lo. Walau kenyataannya gue memang nggak punya hati."


Sendi-sendi tubuh Kinan, melemas, mendengar penuturan frontal dari bibir Agra. Kinan terdiam. Meresapi kata-kata Agra dalam otaknya. Hati Kinan semakin sakit saat mengetahui jika kebersamaan mereka semalam adalah bentuk rasa kasihan Agra padanya. Mata Kinan memanas.


"Makanya, jadi perempuan jangan gampang baper! Gue cabut!" Agra berucap sarkas lalu pergi.


Kinan meratapi punggung lebar Agra yang perlahan menjauh. Cairan bening menggantung dipelupuk mata. Bersiap terjun bebas. Dadanya sesak bukan main. Kata-kata Agra tentu saja melukai perasaannya. Kinan berusaha tetap tegar dan tidak mudah goyah.


Satu bulir bening lolos tanpa bisa dicegah lagi. Kinan menangis. Menangisi nasibnya yang menyedihkan. Kehidupannya, masalah percintaannya, berakhir tragis.


"Dibutakan oleh cinta ya gini!" celetuk seseorang dari balik tubuhnya.


Kinan cepat-cepat menghapus air matanya. Dia membalikkan badan. Mendapati Cakra, menatapnya datar. Kinan tersenyum lirih pada Cakra.


"Untuk apa lo tangisin cowok kayak dia?! Dia itu nggak punya hati!" ucap Cakra dengan suara meninggi, "Jangan jadi bucin! Agra udah jahat sama lo! Berhenti suka dia!"


Tidak marah ketika Cakra mengatakan hal itu. Justru, Kinan semakin tersenyum. Meski dipaksakan, "Kamu sama jahatnya kayak Agra."


Cakra berdeham canggung, "Ya, gue beda jahatnya. Jahat gue bukan macem Agra. Jahatnya gue lihat lawannya juga. Kalau cewek, gue nggak bakal ngomong kasar kayak apa yang Agra lakuin ke lo."


"Itu tadi, kan kamu ngomong kasar ke aku. Aku kan cewek," ucap Kinan dengan polosnya.


Skakmat!


Cakra kicep, tak bisa lagi melawan. Dia menatap Kinan tajam, "Lupain soal itu. Sekarang, gue mau nagih permintaan pertama gue."


"Apa permintaannya?" tanya Kinan penasaran.


"Pulang bareng gue."


Kinan langsung menggeleng kuat, "Nggak bisa. Aku mau ke pergi ke suatu tempat. Ada urusan penting," tolaknya.


"Gue antar," tawar Cakra.


"Jangan hari ini. Besok aja ya?"


"Gue maunya sekarang. Nggak ada acara penolakan," putus Cakra dan langsung menarik pergelangan tangan Kinan agak kasar, menuju parkiran motor.


Kinan memberontak, "Lepasin, Cakra! Aku nggak bisa! Tolong ngertiin!"


Cakra tak menghiraukannya dan tetap menyeret Kinan.


"Lepasin tangannya. Dia pulang bareng gue."


Mendadak, keduanya berhenti. Mereka sama-sama melihat siapa penginterupsi itu. Kinan terbelalak, tak percaya. Sementara Cakra, mengeraskan wajah.


"Ayo," ajak Agra seraya mengulurkan tangan.


Kinan menerimanya tanpa mengingat, bahwasannya hatinya baru saja terluka karena Agra.


.........

__ADS_1


**Udah berulang kali aku masukin visual tokoh Kinan Agra, tetap aja gagal huhuhu.


Kenapa itu yaaa??? kesel bgt**.


__ADS_2