Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 41


__ADS_3

Yang kelihatannya jahat belum tentu jahat. Yang baik juga belum tentu baik. Topeng bisa saja menipu.


......


Suasana ruang makan di kediaman Brown begitu mencekam saat sang kepala keluarga duduk di ujung meja, menyantap makanannya dengan tampang datar. Auranya membius seluruh tubuh Kinan hingga tangannya terasa kaku sekedar mengangkat sendoknya, mendekat ke mulutnya.


Sepiring nasi beserta lauk pauknya yang bisa Kinan tatap selain menghadap depan di mana Nathan berada dan di samping kanannya di mana Brown makan dengan tenang.


Pagi ini adalah pagi menegangkan sepanjang seminggu lebih Brown tidak menginjakkan kaki di rumah. Justru hari ini pria setengah baya itu kembali hadir menemani acara sarapannya.


Tiba-tiba Brown bangkit, mendorong kursinya setelah mengelap mulutnya dengan tisu yang tersedia di atas meja. Selama itu pula Kinan menahan napas ketika Brown mulai mengeluarkan suara beratnya. Suara yang terdengar mengerikan saat amarah dalam tubuhnya meledak-ledak. Berkali-kali juga Kinan menjadi sasaran empuknya. Pelampiasan atas kemurkaannya.


"Klienku dari Amerika akan berkunjung ke klub milikku nanti malam. Untukmu Kinan, jangan sampai telat atau kau tau sendiri apa akibatnya. Dan kau Nathan, uruslah perusahaan dengan baik. Tinggalkan sejenak profesimu sebagai dosen untuk satu minggu ke depan," Brown berkata tegas seraya berlalu, tak lupa menenteng tas kerjanya.


Meninggalkan Kinan yang menghembuskan napas lega. Sedangkan Nathan tetap diam dengan pandangan lurus, menatap Kinan. Dadanya mendadak bergemuruh hebat membayangkan wajah manis itu tersenyum karena pria lain. Ada rasa tak rela menggerogoti sebagian ruang hatinya. Sampai kini pun rasa itu terus menyedot pikirannya sampai Nathan merasa kepalanya akan pecah kalau dia tidak segera berhenti memikirkannya.


"Tadi malam kau ke mana? Kenapa telat pulang? Bukannya kau mengambil cuti di klub?" Nathan tidak tahan untuk tidak bertanya pada Kinan.


"Bukan urusanmu," jawab Kinan seadanya tanpa menoleh sama sekali. Semenjak kejadian di kantin kemarin lusa, Kinan agak menjaga jarak dari Nathan. Kinan marah pada pria itu. Akan sikap yang menunjukkan bahwasannya Nathan tak suka melihat kedekatannya dengan Agra.


Bunyi piring bergesekan dengan sendok, berdenting nyaring, Nathan menghempaskannya di sisi piring. Maniknya menyorot Kinan penuh emosi.


"Tentu saja itu urusanku. Kau adalah tanggung jawabku Kinan kalau kau lupa!"


Kinan berdesis dan menengadahkan kepalanya, memandang Nathan remeh, "Kalau kau juga lupa, aku adalah tanggung jawab Mr. Brown, bukan dirimu."


Nathan menghela napas lelah, "Kenapa belakangan ini kau bersikap dingin padaku? Apa pacarmu itu yang mengajarimu untuk memusuhiku dan melawanku?"


Di atas pahanya, kedua tangan Kinan terkepal erat. Kinan tidak habis pikir kenapa Nathan begitu membenci Agra. Kinan bisa menebak hanya dari kalimat yang Nathan ucapkan barusan. Sebelumnya, Nathan tidak pernah mengenal Agra dan Agra juga tidak mengenal Nathan. Lantas, kenapa Nathan terlihat benci pada Agra?


"Apa Agra pernah membuat kesalahan padamu? Kenapa kau terlihat tidak suka dengannya?" tukas Kinan datar, "Ingatlah, aku begini karena siapa. Tentu saja karenamu, Nathan. Sikapmu bagaikan seseorang yang sedang terbakar api cemburu."

__ADS_1


"Ya, aku memang cemburu."


Jawaban Nathan sukses menghentikan pergerakan Kinan yang hendak menuangkan air ke dalam gelas kacanya. Kinan beralih menatap Nathan dengan raut terkejut. Apa Kinan tidak salah dengar? Kenapa juga Nathan harus cemburu?


"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu."


"Aku sayang padamu. Sayang sebagai seorang pria pada wanitanya. Bukan adiknya. Aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu. Apa sudah jelas?" Nathan berkata jujur setelah sekian lama memendam. Baginya, sekarang waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jika Nathan lewat sedikit saja, Nathan pastikan Kinan terlepas dari genggamannya.


Sontak mata Kinan terbuka lebar, bibirnya terkatup rapat. Aliran darahnya seakan berhenti mengalir menangkap kalimat demi kalimat yang terlontar darinya. Kinan setengah percaya.


"Tidak mungkin. Kamu bercanda. Tolong jawab serius Nathan. Aku malas bermain-main lagi. Kamu semakin memperlama waktu pergiku ke kampus."


Nathan tertawa sumbang, "Untuk apa aku bercanda di depanmu? Kau sangat tau aku Kinan jika perasaanku selalu serius terhadapmu. Aku menyukaimu sejak pertama kali dirimu menjadi bagian dari keluargaku."


"Kamu bohong," Kinan tampak tidak mempercayainya. Penjelasan gamblang yang Nathan rincikan membuatnya pusing, "Bagaimana mungkin kamu jatuh cinta pada adikmu sendiri?"


"Tolong tarik kata-katamu dan aku anggap kamu tidak pernah mengatakannya. Aku pergi dulu."


......


"Kamu ada masalah?" Agra bertanya pada Kinan saat mobil yang dirinya kendarai berhenti di parkiran kampus. Mereka tidak langsung keluar melainkan duduk tenang di dalam mobil dengan tatapan mengarah ke pepohonan rindang di hamparan depan.


"Hei," Agra meraih dan menggenggam satu tangan Kinan ke atas pahanya, "Kamu melamun?"


Kinan tersentak sembari mengerjapkan matanya. Dia menoleh ke samping, "Hah? Kenapa Agra?"


Agra menghela napas, "Kamu beda hari ini. Nggak kayak biasanya selalu ngoceh buat aku pengen cubit pipi kamu."


"Aku baik-baik aja kok. Cuma lagi kurang sehat aja," ujar Kinan tersenyum tipis, "Kamu khawatir ya liat aku diem terus?"


Agra mengangguk, "Iya. Kalau ada yang menganggu pikiran kamu, cerita sini sama aku. Siapa tau aku bisa kasih solusi," dia menawarkan diri menjadi pendengar yang baik.

__ADS_1


Sepanjang Agra mengenal Kinan, baru kali ini perempuan manis itu lebih betah diam daripada berkoak-koak membuatnya pusing. Agra merasa ada sesuatu hal yang Kinan sembunyikan darinya. Menebak-nebak pun bukanlah keahlian Agra. Mungkin saja Kinan perlu waktu untuk sendiri.


"Makasih ya Agra udah khawatirin aku," kata Kinan tulus.


Agra mengangguk dan tersenyum lembut, "Sama-sama sayang. Yauda ayo kita keluar. Aku antar sampai depan kelas kamu."


Sebelum menarik handle pintu, Agra menaikkan kaca mobil di sisi kanannya yang terbuka sedikit seusai itu Agra berniat keluar, namun ujung bajunya di tarik-tarik secara pelan oleh Kinan. Kinan memasang wajah tak enak. Kinan senang bila Agra berinisiatif menemaninya tanpa diminta, tapi sepertinya dia harus menolak.


"Kamu langsung ke kelas aja, aku mau nemuin seseorang dulu."


Alisnya tertaut, Agra memperhatikan Kinan yang tengah gugup sembari memilin jemarinya. Benar, pasti ada yang Kinan sembunyikan, "Siapa?" Agra kembali masuk ke dalam mobil dan menutup rapat pintunya.


"Cakra," cicit Kinan dengan kepala tertunduk. Dia sebenarnya takut Agra marah.


"Mau apa kamu nemuin dia?" suara Agra berubah dingin. Nyali Kinan menciut. Ini yang paling Kinan hindari, perubahan Agra padanya.


"Ada hal penting yang mau aku sampein ke Cakra. Cuma sebentar kok, nggak lama-lama."


"Jangan temuin Cakra. Aku melarang keras kamu dekat-dekat dia. Cakra itu jahat. Nggak usah menjalin pertemanan sama dia kalau nggak ingin diri kamu kenapa-napa," Agra memperingati. Sebab kejadian yang terjadi dengan Ana beberapa tahun silam, menghantui pikirannya. Dia tidak mau Kinan ikut merasakan kebejatan yang Cakra lakukan.


Kinan memandang Agra tak percaya. Yang Kinan tahu, Cakra itu baik. Malaikat penolongnya. Selalu ada di saat keadaannya menyedihkan karena Agra. Selalu menyodorkan bahunya dengan suka rela untuk merapuhkan dinding pertahanannya agar terasa lebih ringan. Cakra banyak berjasa dalam hidupnya. Agra tidak tahu itu.


"Cakra bukan seperti yang kamu bilang, Gra. Saat aku sedih karena kamu, dia ada buat aku. Dia udah aku anggap sebagai Abang aku sendiri. Kamu kenapa jadi begini coba? Kalau kamu cemburu sama Cakra, ngomong sama aku. Tapi jangan nuduh dia yang enggak-enggak. Aku nggak suka," Kinan membuang mukanya ke arah lain. Jujur, Kinan kecewa mendengarnya. Bisa-bisanya Agra berkata diluar ekspektasinya.


Rahang Agra mengeras, dia mencengkeram stir kuat sampai urat-urat ditangannya terlihat. Amarahnya memuncak mengetahui jika Kinan lebih memihak kepada Cakra daripada dirinya.


"Dia udah ngehamilin Ana. Pacar aku dulu. Dan dengan bangs*tnya dia nggak mau bertanggung jawab lalu ninggalin Ana gitu aja bersama bayi dalam kandungannya. Lantas, apa salah kalau aku bilang dia jahat? Apa kamu mau bernasib sama dengan Ana? Aku baik Kinan, ngingetin kamu. Tapi terserah kamu mau percaya apa enggak. Aku nggak akan maksa kamu," jelas Agra panjang lebar.


Manik Kinan membulat mendengar penuturan Agra. Apa benar Cakra sebrengs*k itu? Antara percaya tidak percaya, Kinan termangu selama beberapa detik dan dibuyarkan Agra.


"Jadi aku minta kamu jauhi dia. Kamu sayang aku kan? Maka lakuin itu buat aku."

__ADS_1


Percayalah, Kinan bimbang antara harus menjauh atau tidak.


__ADS_2