Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 44


__ADS_3

Hal yang tidak bisa diputar adalah waktu. Jadi, nikmatilah waktumu bersama orang terkasih sebelum semuanya silih berganti.


......


Mobil hitam milik Agra memasuki basement apartemen di kawasan Kemang, Jakarta. Apartemen yang katanya mencapai harga ratusan juta itu benar-benar sangat megah jika dilihat dari jarak dekat. Kinan baru pertama kali menginjakkan kakinya di sana. Selama ini dia hanya berfokus pada Agra sehingga tidak mengetahui bila ada bangunan semewah dan setinggi ini.


Sangking terpesona akan desain basementnya, Kinan sampai lupa ingin menanyakan perihal kenapa mereka ada di sini. Di tempat yang jauh dari kastanya. Melihat Kinan terdiam dengan pandangan menelusuri area luar melalui kaca jendela, Agra tersenyum kecil dan segera melepas seatbelt. Agra juga membantu melepaskan punya Kinan, Kinan pun tersentak karena pergerakannya.


"Kamu mau menetap di sini terus? Ayo keluar. Katanya mau nonton, kan?" Agra berujar seraya mengusap surai Kinan yang tergerai panjang, menutupi punggungnya.


Kinan celingak-celinguk memandang sekitar. Dia bingung, "Tapi kenapa pergi ke tempat ini? Bukannya ke bioskop?"


"Kamu bakal tau setelah kamu masuk ke dalam. Kamu percaya aja sama aku. Aku pastiin kamu nggak bakal kecewa," sekuat itu Agra menyakinkan Kinan. Agra berani jamin Kinan akan merasa betah. Korbannya sendiri adalah dirinya.


"Ok. Awas kalau kamu bohong," Kinan turun, berjalan bersisian dengan Agra yang merangkul bahunya. Mereka menaiki lift, Agra menekan tombol menuju lantai 20. Selang berapa menit, pintu terbuka. Agra setia menuntun Kinan sampai di depan Apartemennya lalu memasukkan pin dan bunyi 'bip' terdengar, tanda berhasil terbuka.


Ya, selama ini Agra memang tinggal di tempat mewah itu. Tak ada yang tahu kecuali kedua temannya, kakaknya, sahabatnya dan mamanya. Di tambah Kinan sekarang. Pulang, menginap di rumah hanya sesekali saat sang mama ingin menghabiskan waktu dengannya.


"Kamu mau jumpain seseorang ya?" Kinan bertanya disambut Agra dengan gelengan kepala.


"Jadi?"


Bukannya dijawab, justru Agra mengacak-acak puncak kepalanya gemas, membuatnya mencebik kesal, "Bawel kamu. Aku nggak lagi janjian sama seseorang. Ini rumahku lah sayang," Agra mempersilahkan Kinan masuk kemudian permisi sebentar untuk berganti pakaian.


Sepeninggalan Agra, pandangannya menyapu ke seluruh titik Apartemen itu. Tidak satupun yang terlewatkan. Kinan menjatuhkan diri di sofa, depan tv dengan pikiran berkecamuk.


Kenapa Agra memilih tinggal sendiri dan jauh dari keluarganya sedangkan dia adalah anak lelaki satu-satunya?


"Ini minum dulu," Agra datang membawa nampan berisi segelas jus jeruk yang baru saja dia ambil dari dapur dan dia simpan di atas meja. Baju kemeja yang melekat di tubuhnya tadi sudah berganti dengan setelan santai ala rumahan.


"Serius kamu tinggal di Apartemen sebesar ini? Sendirian? Sejak kapan?" pertanyaan bertubi-tubi itu dilayangkan oleh Kinan. Sedari tadi dia dibuat mati penasaran.


"Satu-satu sayang nanyanya. Aku bingung mau jawab yang mana duluan," balas Agra ikut duduk di sebelah Kinan.


"Yauda, pokoknya jelasin ke aku."


Agra terkekeh melihat tampang cemberut Kinan, "Jadi intinya aku tinggal di sini hampir setengah tahun. Alasannya karena letaknya lebih dekat dari kampus. Tapi aku sering main ke rumah kok buat liatin nyokap sama kakak," jelasnya secara singkat, "Kamu heran, aku paham kok. Salah aku baru ngasih tau kamu,"


Kinan manggut-manggut mengerti dan tak ingin bertanya lebih yang besar kemungkinan Agra akan marah padanya.


"Terus kapan dong kita nontonnya?"


Asik berbincang, Agra sampai lupa tujuan utamanya mengajak Kinan kemari. Lantas, Agra beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Iya-iya sekarang bawel."


......


Kinan berulang kali menggerutu sebal sebab Agra tak kunjung membukakan pintu merah dihadapan mereka. Dan berulang kali juga Kinan berdecak kagum saat kakinya menginjak home theater---salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemilik gedung itu.


Ruangannya tidak begitu besar. Serba hitam dan pastinya kedap suara. Barang-barang di sana juga tidak banyak. Hanya ada sofa besar memanjang, meja, lukisan, bantal, selimut, tv plasma berukuran sedang. Yang buat pointnya, bagian langit-langitnya disuguhi taburan bintang. Gambarnya hidup seperti asli.


"Wah, keren banget!" Kinan memekik senang, "Temen-temen kamu pernah ke sini juga, Gra?" tambahnya lagi.


Agra menggeleng, "Khusus untuk pribadi aja karena aku nggak ngasih ijin buat temen-temenku pake." ujarnya sambil mengobrak-abrik kaset-kaset film yang selama ini dia beli dan kumpulkan.


Jawaban Agra sukses menghasilkan rona di pipinya. Ah, Kinan jadi merasa beruntung bisa memiliki kesempatan menonton di sana berdua bersama Agra.


"Kamu mau nonton genre apa? Horor? Romance? Fantasy?" tanya Agra sejenak.


Kinan tampak berpikir. Perempuan manis itu sudah duduk bersandar pada badan sofa dengan kaki selonjoran terbungkus oleh selimut tebal, "Romance aja deh."


"Oke. Aku punya rekomen kalau itu. Bentar aku putar dulu." kata Agra lanjut membongkar laci di mana kasetnya dia simpan. Film yang dia maksud judulnya After. Agra pun segera memutarnya dan ikut bergabung dengan Kinan. Menempatkan diri di sebelah perempuan itu dengan kaki tertutupi selimut yang sama.


Agra mematikan lampu melalui remot khusus. Seketika saja bintang-bintang di langit ruangan bersinar terang. Gemerlapnya bagai nyata. Sepenuhnya mereka menonton tidak dalam keadaan gelap gulita. Agra melirik Kinan yang tengah fokus menatap layar plasma itu. Dia diam, kadang kala dia tersenyum melihat adegan demi adegan mesra. Berharap salah satu adegan itu bisa dia terapkan bersama Agra. Bagian di mana kepalanya bersandar di bahu Agra dengan Agra memeluk tubuhnya dari samping.


Entah Agra bisa mendengar isi hati Kinan atau karena suatu kebetulan Agra menjadi lelaki peka, Agra menuntun kepala Kinan agar bersandar di bahunya lalu tangan kirinya mendekap erat tubuh mungil itu. Kinan menahan napas sesaat sebelum kembali menetralkannya.


Seulas senyum samar menghias wajah manisnya, Kinan menggeleng pelan, "Suka banget. Apalagi nontonnya cuma berdua aja sama kamu. Serasa dunia milik kita."


"Memang milik kita sayang. Lebih tepatnya dunia kamu milik aku seutuhnya."


Perkataan yang sukses menerbangkan Kinan sampai langit ketujuh. Asal setelahnya Agra tidak sadis menjatuhkannya lagi sampai ke dasar jurang paling curam. Kinan teramat bersyukur hubungan mereka layaknya pasangan lain. Saling menyayangi dan mencintai.


Kinan mendongak, menatap Agra yang balik menatapnya diam. Segaris senyum perlahan mengembang di kedua sudut bibirnya.


"I love you sweetheart."


"I love you too."


Pernyataan cinta mereka berakhir dengan Agra yang mengecup bibir merah muda itu. Kecupan hangat di siang hari menjelang sore.


......


Agra menggeliat dari tidurnya dan mendapati keadaan ruangan gelap gulita, tangan kirinya meraba-raba sekitaran sofa, mencari remot untuk menyalakan lampu. Setelah ruangan terang benderang, barulah Agra tersadar bahwa dia masih berada di home theater.


Diliriknya sebelahnya ada Kinan yang tengah pulas sambil memeluknya. Selama kurun waktu tiga menit, Agra hanya memperhatikan wajah damai Kinan tanpa niatan membangunkan perempuan itu. Sedikit mengintip arlojinya mengarah pukul tujuh malam, berarti berjam-jam mereka ada di sana. Terakhir kali yang Agra ingat, dia sedang mengelus lembut rambut sang kekasih sampai Kinan memejamkan mata. Taunya dia ikut terlelap.

__ADS_1


Perhatian Agra teralihkan oleh dering ponsel Kinan tepat di dekat kepalanya. Nama Nathan tertera di layar. Agra langsung mengangkatnya.


"Kinannya lagi tidur," kata Agra to the point. Dia malas berbasa-basi lagi. Apalagi sama dosen itu.


"Siapa kamu?! Apa yang kamu lakukan padanya?! Jawab!" dari nada suaranya, Nathan sangat khawatir. Tentu Nathan meradang, Kinan itu perempuan yang Nathan cintai. Perempuan yang dia jaga sepenuh hati.


"Saya Agra. Kami cuma ketiduran. Bukan abis macem-macem," Agra menjawab santai.


"Kau?!" Nathan menggeram di ujung telepon, "Antar Kinan sekarang juga atau nyawamu yang akan aku antar ke liang kubur!" sambungan terputus secara sepihak. Nathan mematikannya.


Agra mengangkat bahu acuh tak acuh dan memasukannya ke kantong jaketnya. Agra tidak tega mengusik lelapnya Kinan, maka dari itu Agra memilih membopong Kinan menuju mobilnya. Bersiap menerima apapun yang terjadi nanti. Agra tahu, Nathan tidak akan membiarkannya pulang dengan cepat.


Setengah jam Agra menempuh perjalanan, kini mobilnya berhenti di depan rumah Kinan. Belum sempat mematikan mesin, kaca jendela di sisi Kinan diketuk dari luar. Pelakunya sudah ketebak. Agra menekan tombol di sisi kirinya dan pintu pun terbuka. Nathan dengan tampang marah, masuk, mengangkat tubuh Kinan yang tertidur pulas di kursi penumpang. Sebelum benar-benar pergi, Nathan menatap nyalang Agra dan berkata, "Tunggu di sini. Urusan kita belum selesai."


See? Agra benar. Nathan tak akan meloloskannya segampang itu.


"Turun lo!" Nathan berkata lantang seraya menarik kerah jaket yang Agra kenakan. Reaksi Agra, diam tidak berusaha membalas. Ekspresinya setenang air.


"Lo apain Kinan, hah?!" bahasa formal yang biasa Nathan ucapkan ketika berbicara pada orang lain, hilang ditelan asa. Persetan dengan kesopanan. Sekarang Nathan tidak membutuhkan itu, "Gue kalang kabut nyariin dia di kampus, di toko buku, nggak taunya lagi sama lo! Gitu kerjaan lo? Bawa lari anak orang?!" cengkeraman Nathan semakin kuat.


Agra tertawa sumbang, "Dia pacar gue. Kenapa lo yang ribet?"


Sisi wajahnya mengeras, Nathan memicingkan mata, "Lo lupa? Sebelum jadi pacar, lo itu cuma orang asing di hidup Kinan! Sedangkan gue yang bertanggung jawab atas Kinan! Gue abang angkatnya! Dan nggak ada satupun Abang di dunia ini yang ngebiarin adiknya sendiri keluyuran sama cowok sampe tidur bareng segala! Jelas gue emosi!"


"Oh, jadi ceritanya jatuh cinta sama saudara angkat?" Agra manggut-manggut tak jelas, "Tapi sayang gak dicintai balik. Miris lo."


Bugh!


Agra terhuyung ke belakang. Dia meringis pelan. Pukulan Nathan cukup keras. Nathan kembali menerjang Agra.


"Kenapa lo nonjok gue? Karena perkataan gue benar adanya?" Agra memasang raut remeh. Darah Nathan mendidih.


"Udah merasa hebat karena Kinan cintanya sama lo bukan gue?" Nathan memainkan alisnya. Dia menepuk pundak Agra dan meremasnya sedikit, "Semua perlu waktu, Bro! Hari ini mungkin Kinan cinta mati sama lo dan mungkin aja hari esok berpindah hati! Jangan bangga dulu."


Membenarkan kerah jaketnya, Agra selangkah maju hingga jarak mereka terbabat habis. Miliknya tetaplah miliknya. Lawan setangguh apapun, Agra tak gentar menghadapinya.


"Seyakin itu?" Agra mengejek.


"Ya."


"Okelah," Agra balas menepuk pundak Nathan, "Siap-siap Bro nelan pil pahit. Menikmati kekalahan. Gue cabut."


Menghilangnya kendaraan Agra dibelokan jalan, Nathan mengurung langkahnya dan menerawang jauh.

__ADS_1


Nathan belum siap menerima kekalahan telak.


__ADS_2