Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 20


__ADS_3

Hal yang paling menyesakkan dada Nathan adalah melihat Kinan, 'perempuan kesayangannya' menangis senggugukan dengan kondisi mengenaskan. Membuatnya menjadi seorang lelaki tak berguna. Tidak bisa menjaga Kinan dengan baik. Dia lalai.


Pelukan Nathan semakin mengerat ditubuh ringkih Kinan. Menyalurkan rasa hangat dan nyaman. Memberikan dadanya untuk Kinan bersandar, mengeluarkan segala rasa sakit dan beban yang Kinan rasakan. Sungguh, Nathan ingin menghajar wajah sang Papa, jika tak mengingat bahwa pria itu adalah Papa kandungnya sendiri dan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Ya, Nathan, sebagai direktur utama di perusahaan tekstil milik Brown. Bukan hasil jerih payahnya sendiri. Jadi Nathan tidak mungkin melawan sang Papa. Bisa-bisa dia di tendang jauh-jauh sebelum dirinya sukses membangun perusahaannya sendiri dan ingin mengalahkan Brown agar Kinan tidak tersiksa lagi.


Nathan berjanji akan membawa Kinan sejauh mungkin setelah dia berhasil mengejar mimpinya dan membahagiakan Kinan, pastinya.


"Plis, Baby, jangan menangis lagi. Hatiku seperti teriris-iris mendengar suara isakanmu," ucap Nathan seraya mengelus punggung Kinan. Sesekali tangannya juga mengelus kepala Kinan lembut dan mengecupnya.


Kinan balas memeluk Nathan erat. Wajah seram Brown masih terbayang dipikirannya. Itu membuatnya mati ketakutan.


"Jangan takut. Aku sudah ada di sini. Di dekatmu. Berhentilah menangis. Dengan kau yang begini, aku jadi sangat ingin menghabisi papa sekarang juga," kalimat terakhir berupa ancaman dari Nathan. Berharap itu akan berhasil meredakan tangis Kinan.


Sekilas Nathan tersenyum ketika isakan yang tadinya kuat perlahan melemah. Kinan langsung menuruti perkataannya. Dia tahu kalau Kinan tidak mau sampai dia benar-benar serius melancarkan aksi gilanya.


"Jangan lakukan itu, Nathan. Aku sayang padamu. Aku tidak mau sampai kau kenapa-napa karena diriku," Kinan melepaskan pelukannya lalu menatap Nathan sendu. Hati Nathan sakit sekali melihat pemandangan itu.


Dielusnya kembali kepala Kinan dan tersenyum hangat, "Iya, Baby. Aku juga sayang padamu. jangan bersedih lagi, ya?" pinta Nathan.

__ADS_1


Sudut bibir Kinan terangkat, membentuk seutas senyuman tipis, "Iya, enggak lagi kok."


"Gitu dong," Nathan mengacak-acak pucuk kepala Kinan, gemas, "Maaf karena aku telat pulang ke rumah. Jadi nggak bisa ngelindungin kamu dari amukan Papa. Maaf banget," Nathan merasa bersalah.


"Enggak apa-apa, Nathan. Aku udah biasa kok. Kamu jangan merasa bersalah gitu. Bukan salah kamu juga. Yang terpenting kamu udah ada di sini bareng aku."


Kata biasa yang diucapkan Kinan tentu menyerang Nathan dalam bentuk kekhawatiran yang luar biasa hebatnya, karena semenjak mamanya meninggal, hanya Kinan-lah yang mampu memberikan kekuatan ketika Brown-papanya bersikap tidak mempedulikan kesedihannya.


"Biasa bagi kamu, tapi bagiku itu bukan hal biasa, Baby. Jangan anggap remeh. Jangan buat ragaku mati cuma karena kamu terluka akibat kata tak biasa yang kamu katakan itu," nada khawatir yang langsung ditangkap Kinan, cepat.


"Maaf, Nathan. Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku bersyukur masih ada kau yang menyayangiku."


"Sleep tight, Baby. Have a nice dream."


.......


Nathan berjalan ke arah ruang kerja Brown setelah memastikan Kinan sudah terlelap. Tanpa mengetuk pintu, Nathan masuk.


Mimik wajahnya mengeras, mendekati pria yang saat ini duduk di kursi, membelakanginya, "Apa yang sudah papa lakukan padanya? Kenapa papa masih saja menyiksanya?!" suara Nathan menggelegar di setiap sudut ruangan. Untung saja kedap suara, kalau tidak Kinan bisa mendengarnya.

__ADS_1


Kursinya memutar, Brown sedang menghisap satu batang rokok diselipan tangannya. Air mukanya tenang bagai air. Seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.


"Hanya memberikan sedikit pelajaran. Lebih baik kau tidak usah ikut campur, Nathan. Urusin saja masalah perusahaan. Jangan pikirkan perempuan tidak tahu diri itu!" ucap Brown tajam. Dia mematikan rokoknya lalu berdiri dengan kedua tangan menelusup ke dalam saku celananya.


"Kinan adalah urusanku. Tanggung jawabku. Apapun yang menyangkut dengannya, aku harus turun tangan," Nathan berkata mantap. Sesaat, Nathan melupakan fakta bahwa pengendali Kinan dan dirinya sebenarnya adalah Brown-papanya.


Brown terkekeh, "Apa aku tidak salah dengar, Nak? Tanggung jawabmu?" Brown memutari meja kerjanya. Di berdiri tepat dihadapan Nathan, "Kalian berdua lah tanggung jawabku. Kau cuma seorang lelaki dewasa yang saat ini hanya meneruskan perusahaan yang aku bangun dan kekuasaaan sebenarnya ada di tanganku. Kau tidak bisa mengatur atau melayangkan protes tentang apa yang aku lakukan pada Kinan," ujarnya panjang lebar.


Bisa Nathan rasakan aura jahat mengelilingi tubuh papanya. Sangat disayangkan jika papanya memiliki harta melimpah tetapi sifatnya buruk, tidak patut dicontoh. Nathan akui kalau Brown seseorang yang tidak punya hati dan perasaan. Perasaan hangatnya telah mati semenjak kepergian istrinya yang tak lain adalah Ibu kandungnya. Perubahan yang Nathan tidak tahu apa penyebabnya. Intinya, Brown menjadi orang yang kejam.


Satu sudut bibir Nathan terangkat sebelah. Dia tersenyum menantang, "Nathan akan buktiin ke Papa kalau Nathan juga bisa membangun perusahaan sendiri atas hasil jerih payah, Nathan. Saat itu tiba, jangan harap Papa bisa menyentuh Kinan walau seujung kuku pun," tekad bulat yang dibalas Brown dengan tepuk tangan.


"Wow! Ternyata kau sangat berambisi melawanku, Nak!" Brown memainkan pemantik rokok, menghidupkan dan mematikannya. Begitu sampai berulang-ulang.


Pandangannya menembus tepat ke manik Nathan. Kali ini ekspresinya datar, "Tapi sayang, kau tak akan bisa menyerangku, Nak. Sebelum kau lakukan itu padaku, aku akan mencoreng namamu dari kartu keluarga dan perusahaan terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan membuat dirimu tidak bisa di terima di perusahaan manapun. Sekeras apapun kau berjuang, kau tak akan bisa menggapai keinginanmu!"


Tangan Natan terkepal erat di samping jahitan celananya. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun mendengar penuturan sekaligus berupa ancaman mematikan dari papanya. Nathan seketika gentar. Ini benar-benar rumit dari yang dia bayangkan.


"Kalau kau tak ingin Kinan aku jadikan pemuas napsu para pelangganku, lebih baik mulai sekarang kau diam dan tak usah banyak protes!" ucap Brown lantang.

__ADS_1


Ingatkan Nathan untuk tidak membunuh pria yang berstatus Papa kandungnya, itu.


__ADS_2