
Deru mesin motor memperkeruh suasana kampus pada pagi hari ini. Yang awalnya para gadis saling berbincang ria tanpa memerdulikan sekitar, kini mereka saling lirik melalui kode mata, penasaran wajah dibalik helm full face yang saat ini berada di parkiran khusus Mahasiswa.
Nathan turun dari motor sportnya, mengacak-acak rambut bagian depan setelah melepaskan helmnya. Dia menggantungnya di kaca spion. Nathan mendadak diam. Bingung, saat tidak merasakan pergerakan seseorang dari jok belakang.
"Baby, are you okey?" Nathan semakin bingung ketika kepalanya memutar, justru yang dia lihat, Kinan menutupi wajahnya menggunakan buku tulis. Entah apa maksud dari gadis itu.
"Sudah sampai, Baby. Kenapa kau menutupi wajahmu? Kau malu pergi denganku?" tanyanya penasaran. Nathan mengelus lembut pucuk kepala Kinan.
Kinan menggeleng cepat, sedikit menurunkan buku itu dari pandangannya, "Bukan. Bukan begitu, Nathan."
"Jadi?"
Kinan menggerakkan matanya, memandang sekitarnya. Tepatnya ke arah segerombolan orang-orang di halaman kampus, "Kau lihat? Semua orang melihat ke arah kita. Lebih tepatnya kau Nathan. Gadis-gadis itu memandangmu tanpa berkedip. Kemudian mereka malah melempar tatapan maut padaku. Aku harus bagaimana, Nathan? Aku merasa terintimidasi." suara Kinan terdengar pelan penuh kepanikan.
"Tingkahmu sungguh menggemaskan, Baby," Nathan tersenyum geli lalu mengambil buku Kinan. Barulah Nathan nampak ekspresi lucu di wajah Kinan, "Kenapa kau harus panik? Mereka kan punya mata. Jadi wajar saja jika mereka melihat kita."
"Haishhh!! Kau sungguh tidak mengerti maksud perkataanku tadi?" Kinan kesal, lantaran Nathan kurang peka.
Cowok ganteng memang tidak pekaan.
Nathan menampilkan cengiran bodohnya sambil menggelengkan kepala, "Tidak. Aku tidak mengerti, Baby. Jadi, jelaskan padaku."
Kinan menghela napas. Kegantengan Nathan tidak ada apa-apanya bagi Kinan, kalau tahu lelaki itu tidak pekaan begini.
"Gadis-gadis itu terpesona padamu secara terang-terangan Nat. Mereka juga tak segan melempar tatapan sinis padaku, karna aku ada bersamamu, sekarang. Dikira mereka aku telah merebut lelaki pandangan pertama mereka."
Kekehan keras Nathan perdengarkan. Asli, apa yang Kinan katakan barusan, sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Lucu saja ketika mendengarnya.
Dahi Kinan mengerut, "Kenapa tertawa? Aku sedang tidak melawak, Nat."
Nathan mencubit pipi gembul Kinan dengan gemas, "Kau ini terlalu berlebihan ya. Biarkan saja mereka memandang kita seperti itu. Kau tidak perlu bersusah payah memikirkannya. Kalau mereka macam-macam, aku selalu ada di sampingmu, Baby."
"Sakit, Nat. Pipiku bisa kendur karena perbuatanmu," adu Kinan sembari menjauhkan tangan Nathan dari wajahnya.
"Siapa suruh pagi-pagi gini sudah membuatku gemas," ucap Nathan sembari terkekeh, "Ayo masuk, sebentar lagi kau kan ada kelas, Baby."
Kinan mengernyit heran, "Kau cukup mengantarkanku sampai sini Nat, tak perlu ikut masuk segala."
Diacaknya rambut Kinan, "Mulai hari ini, aku akan menggantikan salah satu Dosen Matematika yang ada di sini selagi perusahaanku masih dikelola oleh Papa, Baby. Kau tidak lupa kan kalau Papa donatur terbesar di kampus ini?"
Kinan mengeluarkan cengiran lebar, "Aku lupa hehehe. Ya sudah kau cepatlah masuk. Aku ingin pergi ke toilet sebentar."
"Oke. Pulang nanti, hubungi aku ya," pesannya. Nathan berjalan masuk ke dalam gedung Fakultas Matematika. Sepanjang jalan, banyak wanita yang menyapanya dan Nathan hanya balas tersenyum tipis.
Pagi ini langit sangat cerah, seperti wajah Kinan. Nathan selalu memperlakukannya dengan manis. Untung saja Kinan tidak mempunyai riwayat penyakit diabetes.
Kinan melangkahkan kakinya ke arah toilet. Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap sosok tampan lainnya yang sedang berbincang dengan satpam di dekat pos. Kinan tersenyum merekah. Dia mendekat, ingin berterima kasih pada Agra, karna Agra sudah menolongnya, menjelaskan pada Pak Broto tentang kejadian beberapa hari lalu, penyebab Kinan terlambat saat kuis tengah berlangsung.
Cukup terkejut dan tak menyangka Agra akan turun tangan terhadap permasalahannya, mengingat sikap dingin Agra tempo hari. Kinan tak tahu apa alasan yang Agra gunakan. Yang jelas nilai Kinan tidak terancam lagi. Dan itu semua berkat Agra.
Dari mana Kinan tahu? Pak Broto sendiri yang memberitahu siapa orangnya. Rupanya, Pak Broto mengenal baik Agra. Kinan tak berhenti tersenyum.
Jangan salahkan Kinan, kalau rasa cinta Kinan ke Agra semakin bertambah.
"Agra," panggil Kinan ketika jaraknya sudah dekat.
Agra menoleh singkat, kemudian membuang muka, "Terima kasih ya pak atas waktunya. Saya permisi," ucapnya pada pak satpam. Di langkahkannya kakinya menuju perpustakaan, menghiraukan Kinan yang bersiap mengeluarkan suara.
"AGRA, TUNGGU! AKU MAU NGOMONG SESUATU!" teriak Kinan kencang. Namun Agra memilih tetap berjalan terus.
"AGRA! SUKA BANGET SIH MAIN TINGGAL! TUNGGUIN AKU DONG!" lagi-lagi Kinan berteriak, mengusik sekumpulan mahasiswa yang berada tak jauh di posisinya.
__ADS_1
Suara Kinan menyentak gendang telinga Agra. Mau tidak mau Agra berhenti sebab dia menjadi pusat perhatian semua orang. Dan Agra benci itu.
Tubuh berbalut jaket denim berwarna hitam itu memutar 180 derajat, menghadap Kinan dengan raut wajah datar, "Lo mau ngomong apa?" tanya Agra dingin.
Kinan meremas jemarinya. Gugup pun melanda. Ekspresi Agra begitu menyeramkan ditambah suara beratnya yang mampu menggetarkan hati Kinan, sangat cepat.
"Aku cuma pengen bilang makasih sama kamu, karna kamu udah mau repot-repot ngejelasin ke Pak Broto, alasan keterlambatan aku kemarin. Siangnya, Pak Broto langsung buat kuis susulan, supaya nilai aku nggak anjlok. Sekali lagi makasih ya, Agra," ucap Kinan tulus. Bahkan Kinan mengerahkan seluruh senyumnya saat ini, untuk diperlihatkannya pada Agra.
Stok senyum Kinan terlampau banyak, dan itu hanya untuk lelaki tampan bernama Agrata Razzan.
"Hmmm," dehaman yang menjadi jawaban atas rasa terima kasih Kinan. Agra melakukan itu bukan karena Kinan. Bukan dan tidak sama sekali. Nampaknya perempuan itu kepalang senang karena pertolongannya.
Dua hal yang tidak Agra sadari.
Pertama, sekecil apapun bentuk pertolongan yang Agra lakukan, mampu memberikan efek besar bagi Kinan. Semakin menyakinkan Kinan, kalau Agra adalah sosok lelaki baik dan masih mempunyai perasaan. Hanya saja Agra tidak tahu cara mengungkapkannya.
Kedua, rasanya Kinan beruntung seperti mendapatkan uang satu koper di saat dirinya tak memiliki uang sepeser pun untuk bertahan hidup.
Bahagia Kinan, sesederhana itu.
"Ada lagi?" tanya Agra, memastikan.
"Kalau boleh tahu, alasan Agra apa waktu itu? Kok Pak Broto yang dijuluki dosen terkejam itu mau nyetujui ngadain kuis susulan buat aku?"
Agra menatap Kinan, datar, "Yang pasti bukan karna lo. Gue ngelakuin itu karena gue kasihan sama orangtua lo, ngebiayain kuliah lo mahal-mahal tapi lo malah mengecewakan mereka dengan nilai lo yang terancam di salah satu mata kuliah yang ada," Tutur Agra tak bersahabat.
"Gue harap lo nggak usah kegeeran. Ngerti?" lanjut Agra lagi tanpa perasaan.
Hati Kinan di serang ribuan jarum, menancap hingga berdarah. Perkataan Agra selalu berhasil mematahkannya berkeping-keping. Bantuan Agra nyatanya tidak atas dasar suka. Melainkan rasa kasihan. Dan Kinan tidak butuh dikasihani.
Kinan memaksakan senyum, walau dia tahu sangat sulit, "Iya, jelas kok. Makasih, Agra," ucapnya, "Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu," Kinan merogoh isi tas selempangnya, mengambil coklat dan sebuah gantungan kunci berbandul hati lalu menyodorkannya pada Agra.
Dibiarkannya tangan Kinan menggantung di udara. Selang beberapa detik di ambilnya pemberian Kinan. Otomatis Kinan tersenyum senang.
Agra menoleh ke arah Adira dengan tatapan lembut, "Maaf. Gue ada urusan mendadak tadi."
"Nggak apa-apa. Sekarang kan udah ketemu," balas Adira, "Cewek manis ini siapa, Agra?" dia melirik Kinan sekilas.
Kinan mengulurkan tangannya, "Aku Kinan," sembari tersenyum ramah.
Adira membalas uluran Kinan seraya mengulas senyum, "Gue, Adira. Panggil aja Rara. Anak Akuntansi?" tanyanya pada Kinan.
Kinan menggeleng, "Bukan. Aku anak Manajemen. Kamu?"
"Gue anak Matematika," jawab Adira, "Eh, tunggu deh. Muka lo kayak nggak asing gitu? Gue berasa pernah liat. Tapi nggak tau di mana," Adira tampak berpikir keras.
"Aku penjaga kasir di toko buku Matahari, tempat kamu beli buku beberapa hari yang lalu," Kinan kembali mengingatkan memori Adira. Adira lantas terkekeh. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia ingat sekarang.
"Pantesan aja. Lo kerja paruh waktu, di sana?"
"Iya, Ra."
Agra yang mendengar obrolan antara Adira dan Kinan dalam diam, tiba-tiba menginterupsi, "Ra, ini buat lo," tanpa rasa bersalah, Agra memberikan coklat dan gantungan kunci dari Kinan tadi kepada Adira, tepat di depan Kinan. Dengan senang hati Adira menerimanya.
Kenapa kamu kasih ke Adira, Agra?
Apa dia pacar kamu? Batin Kinan sedih.
Kinan meratapi bandul dan coklat yang sebelumnya dia berikan pada Agra, sudah beralih tangan. Dada Kinan terasa sesak. Sesak yang sama saat Agra berkata datar dan pedas padanya. Diabaikan, Kinan sudah biasa. Apalagi, Agra orangnya. Tetapi merasa tidak dihargai begini oleh Agra, apa Kinan harus tetap biasa saja? Kinan ingin menangis rasanya.
"Tau aja, gue lagi pengen coklat. By the way, gantungannya cantik, Gra. Gue suka. Makasih ya," karena Agra, Adira merasa tidak sendirian. Lelaki itu selalu bisa membuatnya senang.
__ADS_1
"Baguslah kalau lo suka," ucap Agra dengan tak berdosanya, "Katanya kelas lo ada kedatangan dosen pengganti kan? Masuk gih sana. Kuliah yang rajin. Gue cabut dulu," sebelum pergi Agra sempat mengelus pucuk kepala Adira dengan sayang.
Dan itu semua tak lepas dari perhatian Kinan.
Selamat, Agra, luka di hati ini semakin tersayat lebar.
......
Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja di dalam kelas, sedang melakukan kegiatan masing-masing. Agra berjalan ke kursinya di dekat jendela. Dia meletakkan tas ranselnya di atas meja. Agra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia sejenak terdiam. Mereka ulang ucapan dan perbuatannya pada Kinan, tadi.
Agra sama sekali tidak merasa bersalah telah berkata pedas pada Kinan. Menurutnya, Kinan pantas diberi kata-kata mematikan, agar Kinan berhenti menampakkan diri dan menganggu hari-harinya. Agra benar-benar risih.
Di satu sisi Agra gelisah akan sikapnya tadi. Agra merasa terlalu judes dan tidak berperasaan. Namun, yang namanya Agra akan tetap menjadi Agra. Agra yang cuek, datar, frontal dalam berbicara. Tidak bisa berubah.
Agra dalam dunia keresahannya, "Apa gue terlalu jahat ke dia?" dia bertanya pada dirinya sendiri. Mengingat pemberian Kinan, Agra kasih pada Adira. Tepat di depan Kinan pula.
"Lo memang jahat, Gra!" putus Agra, menyebut dirinya sendiri, "Lo balas dendam ke perempuan yang nggak seharusnya lo kasarin."
Kembali ke dunianya, saat tepukan keras menyapa bahunya. Agra menoleh, mendapati Afka dan Abyan sudah duduk di sebelahnya. Mereka bertiga duduk sebaris. Sebaris, tiga orang.
"Pagi-pagi udah bengong aja lo! Kayak orang kekurangan micin!" serang Afka.
Agra mendesis tajam, "Daripada lo, kelebihan micin! Pantesan orangnya rada miring!"
"Bangke!"
"Kit! Kit! Nyelekit!" celetuk Abyan sambil memegang dadanya dengan ekspresi menyedihkan.
"Pagi-pagi udah ngumpat! Gue basmi juga lo!" ancam Agra. Dia menatap Afka, tajam.
"Yo, yo, ayo! Yo, ayo, yo, yo, ayo!" Abyan kembali menyeletuk. Kali ini, wajahnya girang bukan main.
Yang terjadi selanjutnya, Afka menjambak rambut Abyan, kuat, penuh perasaan, sampai Abyan meringis kesakitan, "Pagi-pagi bukannya ngedukung gue! Malah jadi kompor meleduk lo! Gue ketekin juga lo di sini!"
"Ampun Mas! Ampun! Ketekmu beracun, Mas!"
Suara Abyan yang terlampau kencang, membuat seisi kelas menyemburkan tawa. Termasuk Agra. Tidak lama, suara-suara itu kian meredup dan kembali hening.
"Lo udah dapet info cewek yang bakal ngisi acara terakhir, Gra?" Abyan bertanya. Kali ini, mereka bertiga terlihat serius. Bahkan Afka, memasang telinga baik-baik. Meskipun sebenarnya tidak perlu sebab Agra berada tepat di sebelahnya.
Agra mengangguk dengan pikiran berkecamuk.
"Siapa, Gra? Cantik nggak ceweknya?" tuding Afka. Pantang kalau sedang membahas cewek. Sifat playboy yang ada dalam dirinya seketika bangun dan mulai berkelana bebas.
Abyan menjitak kepala Afka, pelan, "Jangan mulai lagi lo, micin!"
Laki-laki berkemeja biru itu langsung kicep.
"Gue mau nanya sama lo berdua," Agra menyerongkan badannya, menghadap kedua temannya, "Tau nama kepanjangan Kinan?"
Afka dan Abyan saling pandang. Alis keduanya tertaut sempurna.
"Ada angin apa seorang Agrata Razzan nanyain nama kepanjangan cewek?" cetus Afka.
"Jawab aja. Nggak usah ngebacot."
"Iye! Iye! Baperan amat sih!" Afka mencoba mengingat nama Kinan. Dia sempat menanyakan nama kepanjangan cewek itu, sehari setelah mereka berkenalan saat duduk di koridor.
"Kalau nggak salah, Kinanta Aurelia," lanjut Afka setelah mengingatnya.
Agra langsung terdiam. Dia mematung di tempatnya. Pikirannya bercabang-cabang tak tahu arah. Dugaannya seratus persen benar. Perempuan yang dimaksud Pak Edo, ternyata benar-benar Kinan. Pemain piano itu adalah Kinan.
__ADS_1
Masalahnya, Agra sudah bersikap keterlaluan pada Kinan. Harapannya mendapat persetujuan dari Kinan mendadak musnah.
Yang Agra pertanyakan sekarang, apakah Kinan akan memaafkannya setelah berhasil menyakiti perempuan itu berulang kali?