
Satu pesan darimu, menebarkan beribu-ribu bunga di hatiku. Aku masih menginginkannya. Ayo kirim ribuan pesan lagi untukku, agar hatiku tetap terus berbunga dan senyumku tak pernah pudar dari wajahku.
.......
Tubuh yang tergelung dalam selimut tebal itu, perlahan bergerak akibat nada dering sms yang menggema dari arah ponselnya. Tangan Kinan merogoh-rogoh meja nakas di samping ranjang tanpa berniat menyibakkan selimut yang menutupi kepalanya.
Hari ini seperti biasanya, berangkat ke kampus. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Kinan malas bangun cepat karena kelasnya dimulai jam delapan pagi. Tidak salahkan mengistirahatkan tubuh lebih lama lagi?
Namun, semesta tidak mendukungnya, karena di detik selanjutnya, Kinan melempar selimutnya tanpa dosa dan berakhir di lantai. Tubuhnya menegak sempurna. Matanya sukses terbelalak lebar sembari menatap layar ponselnya yang menyala. Tidak berkedip sama sekali.
Kinan menepuk kuat pipinya, agar bangun dari mimpi indahnya. Tetap sama. Tidak ada yang berubah.
"Ini aku lagi mimpi, ya?" gumam Kinan. Kinan mematikan ponsel lalu menghidupkannya lagi. Dia membuka fitur pesan. Kembali melihat pesan masuk tadi.
"Seriusan ini beneran pesan dari Agra?!" pekik Kinan tertahan.
082167xxxxx
Gue tunggu di kantin, jam 7.
-Agra
Sudah kelima kalinya Kinan terus membaca pesan singkat itu dengan mata berbinar-binar. Kantuk yang dirasanya beberapa menit lalu langsung lenyap begitu saja hanya karena sebuah pesan.
"ARGHHH!! AKHIRNYAAAA!" Kinan berteriak dan melompat-lompat di atas tempat tidur layaknya anak kecil diberi mainan baru. Dia memeluk ponselnya erat seakan itu adalah Agra---lelaki yang disukainya.
Padahal Kinan sangat ingin mendapatkan nomor ponsel Agra, tetapi melihat sikap cuek dan tidak bersahabatnya, Kinan mengurungkan niat. Dan sekarang, Agra sendiri yang mengabarinya. Ah, Kinan sungguh senang. Dia seperti memenangkan jackpot. Kinan sangat beruntung.
Kinan pun berlari ke kamar mandi. Dia ingin bersiap-siap lebih awal dan pergi ke kampus. Dia tidak ingin Agra menunggunya terlalu lama. Kinan ingin menghabiskan waktu sejamnya untuk berdandan dan tampil cantik dihadapan Agra. Sejam berlalu. Kinan sudah siap. Dia berjalan ke depan komplek dan menyetop taksi.
Sesampainya di kampus, Kinan bergegas menuju kantin. Dia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Lima menit lagi jam tujuh. Dia buru-buru mempercepat langkahnya. Kinan berhenti di depan pintu masuk kantin. Dia menghirup udara banyak-banyak seraya menetralkan deru napasnya saat matanya menangkap sosok Agra di pojokan kantin. Sedang membaca buku. Membelakanginya.
Ternyata bukan mimpi. Jadi, beneran Agra si pengirim itu. Kinan mesem-mesem sendiri.
Kinan berjalan mendekat dan mendaratkan bokongnya di kursi kosong depan Agra, "'Hai Agra, udah lama ya nunggunya?"
Agra mendongak. Agra menutup buku yang dia baca, memasukannya ke dalam tas. Tatapannya datar. Kinan jadi gugup setengah mati. Sebisa mungkin Kinan mengatur suara agar tidak gagu.
"Enggak," jawab Agra singkat.
Kinan manggut-manggut. Dia mengulas senyum manis, "Ada perlu apa Agra ngajak aku ketemuan di kantin?" tanyanya penasaran.
"Ngajak sarapan bareng."
Pasokan udara seakan hilang dari peredaran. Napasnya tercekat. Tubuh Kinan terdiam dengan jantung memompa sangat cepat di dalam sana. Kinan mencerna ulang kalimat Agra barusan. Atau jangan-jangan telinga Kinan mendadak tuli karena berhadapan dengan Agra sehingga apa yang Agra katakan, terdengar seperti nyata?
Kinan mengumpat pelan dalam hati. Mengatai dirinya sendiri.
Astaga, Kinan! Ini beneran nyata! Agra benar-benar ngajak lo sarapan bareng!
"Mau?" Agra bersuara ketika Kinan tidak meresponnya.
"Hah?"
"Mau sarapan bareng?" tanya Agra lagi, "Kalau nggak, gue cabut."
__ADS_1
"Eh, iya. Mau kok, Agra," Kinan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merutuki dirinya karena bersikap konyol di depan Agra.
"Makan, apa?"
Kinan berpikir sejenak, "Nasi goreng aja deh,"
"Minumnya?"
"Air putih aja."
Agra menganggukkan kepalanya dan pergi memesan ke stan makanan. Meninggalkan degupan jantung bagi Kinan. Sejak kepergian Agra, Kinan tidak hentinya tersenyum senang seraya memegang area dadanya. Bukan denyut nyeri yang terasa, melainkan denyut-denyut kebahagiaan.
Kinan buru-buru merubah ekspresinya, saat dilihatnya Agra berjalan sembari membawa nampan berisikan makanan mereka.
"Punya lo," kata Agra. Meletakkan nasi goreng beserta air putih dihadapan Kinan.
Kinan melengkungkan sudut bibirnya, "Terima kasih, Agra."
Agra membalasnya dengan berdeham pelan. Mereka pun makan dalam diam. Sesekali Kinan melirik Agra yang tampak tenang menikmati makanannya. Bahkan, mukanya pun berwajah datar. Tidak ada senyum yang terhias.
"Gue mau ngomong sesuatu," Agra kembali menyeletuk saat Kinan sudah selesai makan. Agra tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Kinan. Dia ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Kinan menatap Agra, tersenyum, "Bilang aja. Aku dengerin sampai selesai,"
"Gue minta maaf sama lo," ucap Agra tulus.
"Buat apa?" Kinan bertanya heran, "Agra nggak ada salah apa-apa kok."
Kali ini giliran Agra yang dibuat heran. Pasalnya agra sangat mengingat bagaimana dia menyakiti Kinan berulang-ulang. Bahkan sampai Kinan menangis. Tapi kenapa Kinan bilang dia tidak mempunyai kesalahan sedikit pun? apa perempuan itu lupa? Tidak mungkin. Jelas-jelas Kinan tersakiti karena sikapnya.
"Seharusnya yang minta maaf itu aku, Agra. Aku udah gangguin kamu terus di saat kamu nolak kehadiran aku. Tapi aku mohon, jangan suruh aku buat berhenti suka sama kamu. Aku nggak bisa," lirih Kinan. Dia takut menatap manik Agra.
Keadaan menjadi canggung. Agra bingung harus berkata apa lagi. Niatnya mengajak perempuan itu ketemuan, ingin meminta maaf dan meminta persetujuan kontrak soal pengisi acara, bukan membuatnya kembali bersedih.
Sepertinya, masalah pengisi acara, tidak usah Agra bahas sekarang melihat Kinan kayak begitu. Agra berpikir keras, agar semua cepat kelar.
"Terserah lo. Gue nggak akan nyuruh lo berhenti suka gue," jawab Agra dengan raut datarnya.
Barulah, Kinan mendongak. Kinan cukup terkejut mendengar penuturan Agra.
"Tapi, ingat kata-kata gue di awal, gue nggak akan pernah bisa ngebalas perasaan lo."
"Kenapa?" tanya Kinan sendu.
"Pulang nanti, gue antar," tak mengindahkan pertanyaan Kinan, Agra pergi berlalu begitu saja.
.......
Sudah lebih dari tiga kali, Kinan menghela napas gusar. Saat ini Kinan sedang berada di perpustakaan kampus. Buku-buku Manajemen dihadapannya, tidak lagi menjadi fokusnya. Pikirannya dipenuhi oleh sosok Agra. Sosok yang begitu dia inginkan, namun susah dia dapatkan.
Bagi Kinan, Agra itu limited edition.
Satu dari sekian banyak lelaki yang menarik seluruh perhatian Kinan. Kinan ingin memilikinya. Katakanlah Kinan egois. Kinan tidak peduli. Kinan hanya ingin membuat dirinya bahagia dan itu dengan cara menjadi bagian dari hidup Agra. Masalahnya, hati Agra tidak mudah didapatkan. Kinan hampir saja menyerah kalau saja rasa cintanya tidak begitu besar untuk Agra.
"Apa yang kau lamunkan?" seorang lelaki tampan menginterupsi. Kinan tersentak kaget.
__ADS_1
"Nathan? Sedang apa kau di sini?"
Nathan mengutas senyum lalu duduk dihadapan Kinan, "Mencari buku. Kau sendiri sedang apa di sini?" Nathan balik bertanya.
Kinan mendengus pelan, kemudian balas tersenyum, "Aku lagi mencari referensi untuk tugasku."
"Oh, ya?" Nathan memainkan sebelah alisnya, "Bukannya kau dari tadi melamun? Bukumu saja kau anggurin dan malah terbalik seperti itu," dagunya dia arahkan ke buku yang di pegang oleh Kinan.
Mengikuti arah pandang Nathan, setelahnya Kinan terkekeh. Wajahnya bersemu malu. Dia langsung membalikkannya dan menutup bukunya, "Aish! Bukunya tidak bisa di ajak kompromi," Kinan sedikit kesal.
Tangan kokoh Nathan, terulur ke depan, mengacak-acak rambut Kinan, gemas, "Kau tidak bisa membohongiku, Baby."
Kinan kelabakan. Dia memandang keadaan di dalam perpustakaan, kanan dan kirinya. Siapa tahu ada yang melihat ketika Nathan menyentuh kepalanya. Kinan memberi pelototan tajam pada Nathan, "Ingat Nat, kau itu dosen di sini. Bagaimana kalau ada seseorang yang melihat kedekatan kita? Apalagi tadi kau mengacak-acak rambutku? Aku tak ingin ada rumor mengenai diriku."
Nathan tertawa kecil. Wajah panik Kinan sangat menghiburnya, "Biarkan saja mereka melihat kita. Kan fungsi mata untuk melihat, Baby."
"Nah! Itu lagi!" Kinan menunjuk-nunjuk wajah Nathan dengan jari telunjuknya, "Berhenti memanggilku Baby di area kampus. Bisa-bisa, siapapun yang mendengarnya, akan berpikiran macam-macam, Nat,"
"Apa aku salah memanggilmu, Baby?"
"Kalau lagi di luar kampus, tak masalah bagiku. Tapi, jika masih di area kampus, jangan. Dikira para Mahasiswa, aku ini kekasihmu. Padahal kan, aku ini adikmu."
Senyum Nathan mendadak luntur. Mendengar kata 'adik' dari bibir Kinan entah kenapa membuatnya marah. Se-enggak pekanya Kinan merespon semua perhatiannya? Dia tahu, posisinya di sini sebagai abang tiri Kinan. Nathan ingin berharap lebih. Lebih dari sekedar abang untuk Kinan. Perempuan itu sama sekali tidak menyadarinya.
"Ternyata Bapak ada di sini," celetuk seorang Mahasiswi.
Nathan dan Kinan sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Kinan berdehem, gugup, "Hai, Adira," sapanya.
Adira---si penginterupsi, melempar senyum, "Hai, Kinan. Lo suka ke perpustakaan, ya?"
Kepala Kinan mengangguk patah-patah, "Iya."
"Ada apa mencari saya?" Nathan masuk dalam obrolan.
"Eh, iya Pak. Saya ingin menyerahkan hasil diskusi kelompok kemarin," ujar Adira sopan.
"Yauda, ayo ke ruangan saya. Kebetulan tugas kelas kalian ada di sana. Sekalian saya ingin membicarakan sesuatu," Nathan bangkit dari duduknya. Dia menatap Kinan, "Saya tinggal dulu, Kinan."
"Iya, Pak."
Nathan berlalu, diikuti Adira di belakangnya. Adira melambaikan tangan singkat ke arah Adira. Kinan balas melambai.
Kepergian keduanya, Kinan baru bisa bernapas lega.
Untung saja.
.....
Ini visual tokoh
Kinanta Aurelia
Agrata Razzan
__ADS_1