Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 52


__ADS_3

Suka dan duka itu sepaket.


......


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Perayaan ulang tahun Universitas Brawali. Acara yang katanya akan berlangsung meriah itu dihadiri beberapa artis penyanyi solo ternama Indonesia, salah satunya Isyana Sarasvati.


Segala persiapan sudah dilakukan selama sebulan penuh demi kelancaran acara. Semua panitia gotong royang, mempersiapkan apa yang telah diputuskan dalam rapat pembentukan panitia. Tidak hanya panitia, para staf kampus, para dosen, cleaning service dan orang-orang yang berperan penting juga turut andil.


Acara diselenggarakan di gedung serba guna milik Universitas Brawali. Tempat biasanya penyelanggaraan besar diadakan. Gedungnya terletak berseberangan dengan gedung Universitas. Kapasitas tampungnya bisa mencapai ribuan orang. Ruangannya sangat megah. Banyak pilar-pilar menjulang tinggi disekeliling dan di dalamnya. Kalah ballroom hotel.


Jam 10 pagi acara dimulai. Namun sejak malam ada beberapa panitia masih sibuk berjalan kesana-kemari mengurus apa saja yang kurang. Ketua panitia memberi pengumuman bahwa jam 6 semua wajib selesai dan mereka bisa pulang, membersihkan diri, berdandan dan segala macamnya kemudian balik lagi ke kampus.


Termasuk Agra yang saat ini sudah rapi, mengenakan baju kemeja putih dibalut jas hitam dengan bawahan celana kepper ngepas dan sepatu pantofel hitam pelengkap penampilannya. Rambutnya tertata rapi dibaluri pomade. Paras tampan nan datarnya terlihat semakin tampan. Apalagi ketika tersenyum tipis dan berbicara beberapa patah kata saja, auranya merebak, menarik perhatian para mahasiswi yang berlalu lalang disekitarnya.


Satu-persatu tamu undangan serta para mahasiswa-mahasiswi berdatangan memasuki gedung dengan busana long dress bagi perempuannya, bagi laki-laki memakai jas. Memadati ruangan yang telah disusun kursi-kursi serta meja. Tersisa sejam lagi sebelum acara dibuka. Agra sendiri memilih berdiri sendirian di dekat pilar besar sembari menyelami beberapa akun sosial medianya yang tak terlalu sering dia jamah.


"Widiwww ini temen gue bukan sih?" dari arah pintu utama, Afka serta Abyan muncul, merangkulnya secara bersamaan, kanan-kiri. Yang mengatakan itu adalah Afka.


"Sumpah Gra, lo ganteng banget kayak Rizky Nazar!" lanjutnya meneliti lekat setiap sisi wajah Agra dengan raut jenaka.


Abyan memukul bahu Afka kuat seraya mendesis geli, "Nggak usah drama lo, kampret! Ketara banget lo bohongnya demi liat Agra senyum! Jijay gue!"


Mengibaskan-ngibaskan satu tangannya ke udara tepat dihadapan Abyan. Afka memasang tampang malas.


"Hidup ini kan memang penuh dengan drama. Jadi diem aja dah lo. Kapan lagi coba kita bisa lihat Agra pake jas. Udah kayak CEO gitu dia," ujar Afka antusias, membersihkan bercak putih di dekat dada Agra dengan telapak tangannya. Layaknya seorang istri yang merapikan baju suaminya ketika hendak pergi bekerja.


"Singkirin tangan buluk lo!" Agra merespon nyelekit. Gerakan mengusap-usap ala Afka mendadak terhenti. Laki-laki berjas abu-abu itu menyengir lebar, selebar daun kelor.


"Sekalinya ngomong napas gue langsung tercekat. Asli itu nyakitin Gra. Padahal tangan gue udah gue kasih hengbodi losion setengah botol biar warnanya putih cerah," Afka mendramatisir keadaan. Pura-pura bersedih.


Abyan menggeleng dan membatin kenapa bisa dia punya temen gini banget kelakuannya. Sementara Agra tetap bermuka datar.


"Otak lo tuh yang heng. Mana ada sejarahnya namanya hengbodi," Agra mengoreksi, "Inggris paling pedalaman ya gini. Asal bunyi," demi apapun, hari ini Agra baru berbicara panjang lebar hanya di depan Afka dan Abyan. Selain mereka palingan Adira atau Kinan. Tapi sedari tadi Agra datang, dia tidak melihat batang hidung kekasihnya dimanapun. Pesannya saja tidak dibalas.


Afka berdecak, "Terserah congor gue dong. Sewot amat perasaan. Perasaan aja nggak amat." ucapnya ngalor ngidul.


Pusing mendengarkan ocehan nggak jelas Afka, melarikan diri adalah solusinya. Abyan dengan segera angkat kaki dari sana, mencari Zerina--pacarnya. Sebelum benar-benar pergi, Abyan menyeletuk keras.


"Gra, titip anoa ya! Tolong jagain baik-baik! Awas gila lo!"


Semua pasang mata memburu tatap ke arahnya. Afka menggila. Ingin rasanya dia menggetok kepala Abyan dengan ujung sepatunya. Kesal dikatain binatang Anoa.


"Dapet gue, gue jadiin perkedel tuh anak! Awas aja!" Afka komat-kamit. Dipusatkannya lagi perhatiannya pada sosok Agra yang sudah menghilang entah kemana. Ditinggal pas lagi dikatain Anoa memang sakit ya.


"Agra kampret!"


......


Taksi biru itu berhenti di pinggir jalan, tepat di luar pagar. Kinan dengan gaun panjangnya tampak kesusahan keluar dari kendaraan. Sebisa mungkin dia berhati-hati agar gaunnya tidak cacat. Penampilan itu nomor satu. Terlebih lagi Kinan bakalan tampil mengisi sesi akhir acara. Dia mengharapkan penampilannya sempurna.


Jantungnya berdegup kencang. Kinan mengambil napas sebelum melangkahkan kakinya. Ada dua hal yang membuatnya cemas, pertama; tidak melihat Agra diantara banyaknya lautan manusia yang ada. Kedua; sangat gugup karena untuk pertama kalinya dia akan tampil bermain piano dihadapan umum. Selama hidupnya, hanya mendiang orang tuanya dan Pak Edo---dosen musiklah yang sudah menikmati permainannya.


Kecemasannya terurai saat suara berat seseorang memenuhi pendengarannya. Agra berdiri di belakangnya, tengah mengangkat juntaian gaunnya. Kinan baru merasakan ekor gaunnya tak terseret-seret di tanah seperti saat keluar apartemen Zerina.


Ya, Kinan menginap di sana selepas insiden pertengkarannya dengan Nathan semalam. Belum ada pulang sampai sekarang.

__ADS_1


"Ribet gaun kamu," kata Agra dengan manik memperhatikan busana yang Kinan pakai.


Kinan terdiam. Perkataan Agra tidak jadi masalah. Yang jadi masalah itu penampilan Agra dari ujung rambut sampai ujung kepala. Agra sangat tampan. Berkali-kali lipat tampannya. Lama-lama melihatnya tubuhnya bisa melemas. Kinan membuyarkan imajinasi liarnya dengan segera, sebelum Agra menyadarinya.


"Ini gaun Zerina, Agra. Aku mana punya gaun mahal buat ke acara pesta. Gaji yang aku hasilin dari kerja cuma bisa buat makan sama bayar uang kuliah. Nasib baik Zerina mau minjemin aku." kata Kinan dengan polosnya. Tidak lupa memasang topeng kebahagiaannya. Agra malah bersikap acuh, tidak peduli.


"Ayo kita ke ruang rias. Kamu bisa berbenah lagi di sana sambil nunggu giliran kamu tampil," Agra berujar dengan masih memegang ujung gaun Kinan.


Kinan mengerucutkan bibirnya, "Aku tampilnya siang Agra. Lama lagi. Aku bosen kalau di sana lama-lama." rajuknya.


"Terus kamunya mau kemana?"


"Gimana kalau kita ke taman yang gak jauh dari sini?" Kinan memberi saran yang disetujui oleh Agra. Bahkan lelaki itu berpamitan padanya dan menyuruhnya menunggu sebentar, ada yang ingin dia ambil. Kinan mengijinkan. Tidak lama kemudian Agra balik dengan menenteng kantung plastik berisi makanan.


"Aku yakin kamu nggak sempat makan. Makanya waktu di rumah aku nyempetin masak nasi goreng buat kamu."


Betapa bahagianya Kinan mendapat perlakuan manis dari lelaki tercintanya. Kinan berharap semoga hubungan dia selalu dalam keadaan baik-baik saja.


Kinan mengulum senyum, "Kamu tau banget. Yauda yuk!" dia menggandeng tangan Agra di sepanjang perjalanan. Tak apa kakinya kram dan sakit karena kebanyakan berjalan menggunakan sepatu heels asal jalannya berdua sama Agra.


Sesampainya mereka, Agra masih dengan sikap manisnya, melepaskan kedua sepatu yang menyiksa kakinya. Selama Agra melakukan itu, Kinan tak hentinya menatap pujaan hatinya. Hatinya berdesir saat tangan-tangan kokohnya mengusap-usap lembut bagian yang memerah. Sesekali Agra meniupinya.


"Kalau sakit bilang ya sayang. Aku bawa sendal di tasku. Bisa kamu pakai. Kasihan lecet-lecet gini." ujar Agra duduk di samping Kinan, mengeluarkan bekalnya.


"Kamu itu obat aku, Agra. Ada kamu pasti sakitku sembuh."


Agra membalas, mengelus permukaan pipi perempuannya. Menyalurkan kehangatan tiada tara. Mata Kinan terpejam menikmati sentuhannya.


"Aku suapin kamu ya," Agra menjauhkan tangannya, menyendokkan sesuap nasi ke mulut Kinan. Kinan melahapnya sampai tandas, tak bersisa. Agra nenyodorkan sebotol air putih kepada Kinan. Kinan meneguknya setengah.


"Agra, aku boleh minta satu permintaan sama kamu?" tanya Kinan memutus keheningan.


Agra mengangguk samar.


"Aku mau, saat aku perfom nanti, kamu lihat aku dari bawah panggung. Kamu tahu? Kamu itu semangatnya aku, Gra. Nggak ada kamu apa yang aku lakuin itu rasanya percuma. Berakhir sia-sia," harapnya pada Agra. Agra menatapnya lekat, tak berkedip. Selanjutnya jemarinya mengamit jemari Kinan dan mengurungnya erat.


Seberkas lengkungan tipis menghias sudut bibirnya. Agra mengecupi tangan mungil itu dengan perasaan campur aduk.


"Kamu jangan khawatir. Aku orang paling depan yang bakal lihat penampilan kamu."


Tidak ada lagi alasan bagi Kinan untuk merasa terpuruk seperti dulu. Adanya Agra disisinya, mampu membuatnya merasa hidup kembali.


......


Acara resmi dibuka. Pertama-tama pembukaan, disuguhkan tarian daerah. Selanjutnya kata sambutan dari kepala yayasan, rektor, perwakilan dari dosen serta mahasiswa untuk memberi ucapan selamat kepada orang-orang yang telah berjasa dalam membangun, mendirikan serta merawat kampus Brawali sampai nama kampusnya bisa terkenal sampai luar pulau dan menjadi kampus terfavorit.


Selesainya kata sambutan, penyanyi solo papan atas beraksi memeriahkan panggung acara. Menyumbangkan minimal dua lagu. Berlanjut band-band artis, penampilan dari perwakilan mahasiswa yang memiliki bakat dalam bidang seni dan masih banyak lagi. Sampai tibalah inti acara, kepala yayasan, beberapa donatur kampus dipersilahkan naik ke atas panggung untuk sesi pemotongan kue. Di sisi kanan terdapat panggung kecil dengan piano megah berdiri gagah di atasnya. Nama Kinan pun disebut oleh si pembawa acara.


Di belakang layar, Kinan gugup setengah mati. Kedua tangannya tremor hebat. Berulang kali dia menghirup napas lalu dihembuskan. Kinan mondar-mandir tidak jelas. Begitu namanya dipanggil, Kinan mencoba merilekskan dirinya kemudian melangkah keluar tirai merah.


Pertama tertangkap mata, ribuan orang serta kilauan sorot lampu mengarah tepat ke arahnya. Menatapnya kagum dibalut gaun panjang menjuntai dengan riasan sederhana namun tampak berkelas.


Kinan duduk di bangku tunggal yang diletakkan di tengah lebarnya piano. Kinan duduk ke arah depan di tengah bangku. Membiarkan kakinya santai dan menapak rata ke lantai dari tumit sampai ujung kaki. Kinan membebankan berat badannya pada bokongnya. Bahu dan lengannya dia santaikan, punggungnya tetap tegak.


Jemari-jemari lentiknya bersiap menekan tuts-tuts piano sesuai nada lagu selamat ulang tahun yang akan dimainkan, namun sorotnya menyapu seluruh bagian depan bangku para hadirin sampai ujung. Bahkan tidak hanya dibagian itu saja, sosok Agra tak berhasil Kinan temukan. Dadanya terasa sesak, ukiran senyum perlahan memudar di wajah manisnya, untuk sesaat, Kinan buru-buru merubah ekspresinya agar terlihat baik-baik saja. Walau dia sedang bersedih karena Agra sudah membohonginya. Agra tidak ada di sini, melihatnya.

__ADS_1


Mencoba mengenyahkan segala gundah demi kelancaran permainannya, jemarinya menyentuh tuts-tus piano dengan gerakan lembut, tubuhnya ikut terayun bersama nada yang dihasilkannya. Tak lupa sunggingan manis menetap di sudut bibirnya. Kinan dengan kepiawaiannya mengiringi pemotongan kue oleh para petinggi kampus sampai selesai dan orang-orang itu kembali ke tempat duduknya. Kinan memainkan lagu kedua yaitu lagu Cristina Perri - A Thousand Years yang ditemani oleh Isyana. Semakin dia hayut dalam nada, semakin dada Kinan terasa sesak. Kerinduan, kesakitan, luka, bersatu lebur dalam nada.


Kinan bukan tanpa sengaja memilih lagu itu dan khusus dia persembahkan untuk Agra. Tapi, Agra tidak ada. Lelaki itu tidak menyaksikannya. Lelaki itu pergi entah kemana. Sedih, pasti.


Berakhirnya lagu, berakhir juga acaranya. Para mahasiswa berkesempatan menyalami para dosen dan petinggi.


Kinan melenggang pergi sambil menitikkan air mata. Mencari keberadaan Agra dengan bertanya-tanya kepada anggota panitia dan kepada siapapun itu. Nyaris seperti orang gila.


......


Agra menepuk-nepuk kecil punggung Adira yang sejak satu jam lebih menangis senggugukan di dadanya. Saat ini mereka sedang di salah satu kursi dekat air mancur, sekawasan dengan gedung.


Tadi, saat Agra mengobrol dengan Abyan, Adira tiba-tiba datang dan melesak masuk kepelukannya. Agra tidak tahu masalah apa yang menimpa perempuan itu sehingga penampilannya terlihat kacau. Agra dengan cekatan membawa Adira menjauh dari keramaian, berniat menenangkannya. Sampai sekarang, Adira tak kunjung menjelaskan perihal kenapa dia menangis. Agra dengan setia menunggunya. Melupakan seseorang yang kini tengah terluka karenanya.


"Siapa yang ngebuat lo nangis, Ra? Cerita sama gue. Kalau lo nggak berhenti gimana gue bisa ambil tindakan."


Isakannya memelan, Adira menyeka bulir-bulir bening di pelupuk matanya. Dia menunduk, enggan menatap Agra, "Nathan nolak gue lagi, Gra. Kali ini alasannya bener-bener bikin gue syok. Gue pingin nerusin berjuang untuk ngedapetin hati dia, tapi kemungkinan berhasilnya sangat tipis. Kenapa gue nggak boleh bahagia, Gra? Kenapa?" Adira menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Isakannya terdengar lirih.


Agra menghela napas bosan. Selalu Nathan. Ini sudah kesekian kalinya Adira mengaduh soal Nathan yang menolak sahabatnya itu. Tidak disertai alasan. Agra kasihan pada Adira. Nathan tidak mungkin menerima perasaan sahabatnya kalau yang dicintai pria itu sebenarnya Kinan---perempuan yang berstatus sebagai kekasihnya.


"Emang alasan dia apa?"


"Ternyata selama ini dia punya anak dari wanita itu, Gra. Harapan gue pupus. Gue nggak mungkin ngerebut dia sementara ada malaikat kecil yang mengharapkan kasih sayangnya." jelas Adira secara gamblang.


Alis Agra tertaut, "Maksud lo Nathan baru tahu kalau dia punya anak?"


Adira mengangguk.


"Lo tahu siapa wanita itu?" Agra bertanya memastikan.


"Kenapa lo kepo banget?"


"Lo sering cerita ke gue, tapi lo nggak pernah nyebutin siapa nama wanitanya. Gue penasaran aja," kilah Agra. Jujur dia takut itu Kinan. Kinan tidak pernah membahas seputar kehidupan pribadi kepadanya.


Adira menatap khawatir Agra lalu berkata ragu-ragu. Takut Agra bereaksi diluar nalarnya, "Awalnya sih gue taunya cewek lo yang Nathan sukai, semakin ke ujung, Nathan bilang dia milih mengakhiri perasaannya dan berusaha membuka hatinya untuk wanita lain."


"Iya, tapi siapa?"


"Ana, mantan lo."


Deg.


Jantung Agra seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat. Sekelebat bayang-bayang di mana Ana mengatakan fakta menyakitkan yang ditelannya bulat-bulat hingga membuatnya trauma berdekatan dengan perempuan.


Jadi, intinya.....


Selama bertahun-tahun Agra salah paham dengan Cakra?


Bukan Cakra yang menghamili Ana?


Tatapan Agra kosong. Adira sadar Agra lebih terkejut bila mendengarnya. Lantas Adira mendekap lelaki itu, mengunyel-unyel wajahnya, mengalihkan pikiran Agra agar tak menyalahkan diri sendiri atas kandasnya hubungan pertemanannya dengan Cakra.


"Hey ganteng, senyum dong. Senyum ih!" Adira mencolek-colek dagu Agra, menggelitiki perutnya, mengalungkan tangannya di leher Agra, Agra yang diserang balas menggelitiki Adira. Mereka berderai tawa.


Dibalik tembok, Kinan mematung. Ribuan belati seperti menusuk-nusuk sadis dadanya. Lututnya melemas. Pertahanannya tergoyah. Matanya kian memanas dan pecah. Tangisnya merebak begitu memilukan.

__ADS_1


Aku dan dia, ibarat menggenggam setangkai bunga mawar yang sama. Aku mendapat bagian tangkainya yang berduri, sedangkan dia mendapat bagian bunganya yang indah. Aku sakit sementara dia tersenyum merekah.


__ADS_2