Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 50


__ADS_3

Pertemuan adalah awal dari sebuah hubungan dan akhir dari sebuah kerinduan.


......


Kesekian kalinya Adira dibuat tak berkedip oleh sosok berwibawa yang saat ini tengah memaparkan materi Matematika di depan kelas melalui layar proyektor.


Sudah satu jam berlangsungnya mata kuliah ini dan selama itupula Adira hanya terfokus pada pria tampan yang berhasil mengaduk-aduk perasaannya sejak pertama mereka bertemu.


Mata tajamnya, suara beratnya, penampilannya casual, kedewasaannya dalam mengambil keputusan dan berpikir, tegas serta bertanggung jawab, semuanya mampu menjungkir-balikkan hidup Adira dalam sekejap. Pesona yang Nathan miliki tentu dengan cepat menarik perhatian para kaum hawa termasuk Adira. Ditambah pria tampan yang menjabat sebagai Dosen itu belum menikah. Mempunyai kekasih sepertinya juga belum. Kesempatan mendekat pun masih ada di depan mata.


Adira sangat menginginkan Nathan. Adira menyukainya. Adira jatuh cinta padanya. Adira sungguh-sungguh akan perasaannya terhadap Nathan.


Tetapi, bagaikan langit, Nathan susah untuk Adira raih. Seakan ada tembok pembatas disekelilingnya. Adira kesulitan menjangkau dan melompatinya. Mengagumi pun rasanya begitu sulit Adira lakukan sebab Nathan selalu tahu bila dia sedang memperhatikannya lalu pergi menghindarinya tatapannya. Hatinya mencelos menyaksikan bagaimana Nathan yang berusaha menjauh.


Apa tak ada sedikit saja ruang dihati pria itu sehingga kehadirannya saja ditolak mentah-mentah tanpa berpikir lebih dahulu?


Tak bisakah Nathan membalas perasannya walau dengan terpaksa sekalipun?


Sekali lagi Adira tersenyum miris mengetahui kisah cintanya berakhir menyedihkan, cintanya bertepuk sebelah tangan tanpa adanya balasan. Poor, Adira.


Bel kampus berbunyi. Buru-buru Adira mengalihkan pandangan saat dirinya kepergok telah menatap Nathan dengan intens. Batinnya memaki diri sendiri bisa lalai sampai ketahuan begini, membuatnya malu setengah mati kalau Nathan benar-benar menyadari aksi terang-terangannya itu.


"Cukup sampai di sini pembahasan kita. Minggu depan saya mau nama-nama kelompoknya sudah ada di atas meja saya. Pergunakan waktu kalian untuk mencari referensi buku terkait materi yang saya sampaikan tadi kepada kalian." Nathan berujar tegas sembari merapikan peralatannya dan mengabsen satu persatu wajah mahasiswanya. Mata tajamnya bergerak ke sepenjuru ruangan.


"Baik, Pak!" jawab mereka serentak.


"Kalau gitu saya permisi. Sampai ketemu hari senin," Nathan pamit setelah melempar senyum tipisnya kemudian berjalan keluar kelas. Tak ingin ketinggalan jejaknya, Adira langsung beringsut dari tempat duduknya, melangkah dengan pasti, mengikuti Nathan yang mengarahkan kakinya ke area taman belakang kampus. Tempat yang enak merehatkan otak sejenak.


Kayuhannya berhenti saat Nathan memilih mendaratkan bokongnya di salah satu bangku di sana. Dari jarak lumayan dekat, Adira bisa melihat Nathan yang menyandarkan kepalanya dengan manik terpejam. Adira kembali ke dunia khayalannya dimana dia ada di sisi Nathan, memeluk lengan kekarnya sambil bersandar manja. Ibarat sedang kencan di sebuah taman bunga yang sangat luas. Indah dan menenangkan.


"Kamu nggak lelah berdiri disitu?"


Pertanyaan kilat yang terlontar dari bibir tebal Nathan, seketika Adira mematung seolah dirinya tawanan psikopat yang hendak menancapkan sebilah pisau tepat dijantungnya. Lidahnya kelu. Mulutnya terkatup rapat.


"Sini duduk bersama," ajak Nathan seraya menepuk-nepuk sisinya yang kosong, "Tujuan kamu ngikutin aku mau membicarakan sesuatu, kan? Kenapa bengong? Kemarilah."


Adira balik badan, merutuki kecerobohannya. Kini, rasa malu lebih mendominasi. Tidak ada muka lagi bersitatap dengan Nathan. Semangatnya diserap habis olehnya. Tinggallah rasa lemas di kedua lututnya.


"Selagi aku mau menjawab apapun yang kamu tanyakan, Adira," Nathan mengakui instingnya kuat mengenai alasan dibalik penguntitan yang Adira lakukan.


"Aku tahu kepala cantikmu punya banyak pertanyaan seputar kehidupan asmaraku," lanjutnya seperti cenayang.


Mengelak adalah pilihan sia-sia, maka dari itu Adira memutar tubuhnya menghadap Nathan yang saat ini menatapnya dengan senyuman. Berjalan pelan menghampiri Nathan dengan degupan kencang lalu duduk di samping pria itu. Tidak bernyali membalas tatapan hangat yang Nathan pancarkan.


"Maafin aku diam-diam ngikutin kamu. Aku cuma penasaran akan satu hal. Aku nggak bakal tenang kalau belum dengar dari mulut kamu sendiri," jemari lentik itu saling bertautan, Adira gugup.


Nathan terkekeh, "Nggak apa-apa, Adira. Kita kan temen. Santai saja."


Mengumpulkan segenap keberaniannya, Adira menoleh, menembus manik hitam legam itu.


"Apa hal yang membuat kamu nggak bisa nerima aku? Apa kamu menyukai perempuan lain? Kalau iya, siapa, Nat? Apa dia lebih cantik dari aku?" sebisa mungkin dirinya menahan bulir bening di sudut matanya agar tidak terjatuh dihadapan Nathan.


"Aku mencintai orang lain, Adira. Perempuan itu Adik tiriku sendiri. Seberapa besar usaha kamu menarik perhatianku, sebesar itu juga aku mencintainya. Maaf kalau aku menyakitimu. Aku harap kamu mendapat pria yang lebih baik daripada aku."

__ADS_1


"Siapa perempuan beruntung itu, Nat?" tanya Adira lirih.


Sepintas figur Kinan terbayang dibenaknya, segaris senyum muncul di kedua sudut bibirnya, "Namanya Kinan. Walau aku sudah menyebutkan, aku yakin kamu nggak kenal."


"Siapa bilang?" raut wajahnya berubah datar, Adira menyerongkan tubuhnya untuk melihat rupa Nathan yang tengah menaikkan sebelah alisnya.


"Pacarnya, Agra. Benar?"


Nathan mengangguk cepat dengan tampang bingung. Adira tersenyum miris mengetahui kenyataan itu. Dunia memang sempit. Sahabatnya adalah kekasih Kinan sementara orang yang dia sukai menyukai perempuan yang sama.


Kenapa harus Kinan?


"Permisi," intruksi seseorang, Nathan dan Adira mengalihkan fokus mereka ke lelaki berjaket hitam yang berdiri dihadapan mereka, "Anda, Nathan Moreno?"


"Ya, itu saya. Ada apa?"


"Saya boleh minta waktunya sebentar? Ada sesuatu penting yang harus saya beritahu ke Anda."


Nathan menyetujui.


"Boleh. Ayo kita ke tempat yang lebih privasi," kata Nathan seraya beranjak, tak lupa berpamitan dengan Adira, "Aku tinggal dulu ya, Ra. Kamu langsung pulang kalau tidak ada kelas lagi."


Kepergian Nathan, Adira tercenung sambil meremas jemarinya. Mencoba mereda kesedihannya dengan mengirim pesan pada Agra, meminta ditemani jalan-jalan. Lima menit berselang Agra membalasnya dan mengatakan jika dia tidak bisa karena sudah janji mengajak Kinan mengelilingi Kota Jakarta.


Kinan lagi, Kinan lagi.


Tangannya terkepal erat, setegar apapun Adira, aliran kecil tetap turun membasahi pipinya sekeras dia menahan kejatuhannya.


......


Abyan yang tahu jika pertanyaan Agra barusan tertuju untuknya, merespon, "Katanya sih bentar lagi."


Setelahnya tidak ada suara dari arah Agra. Lelaki berkemeja hitam itu sibuk dengan ponsel ditangannya. Mengabaikan kehadiran kedua temannya di ruangan panitia.


Perdebatan antara Afka dengan Agra semalam berakhir tak saling cakap. Afka malas mengajak Agra mengobrol, begitupun Agra yang pada dasarnya pendiam.


"Gimana tugas lo? Udah beres?"


Agra mengangguk, "Udah. Ini gue nunggu Faris buat ngasih laporannya. Besok acaranya, kan?"


"Iya. Gue nggak sabar lihat Kinan main piano," perkataan Abyan sukses memancing pelototan tajam lawan bicaranya. Abyan menyengir lebar, "Hehehe, serem amat Bro mukanya. Iya-iya ntar gue tutup mata."


Memindahkan pandangan ke pintu yang terbuka, Faris masuk. Agra mendahului niat Faris yang mendekatinya. Kini, mereka berdua saling berhadapan. Agra menyerahkan surat-surat kontrak para bintang tamu.


"Semuanya lengkap. Nomor teleponnya ada di dalam. Lo bisa hubungin mereka besok untuk kepastian hadirnya." kata Agra datar.


Faris menepuk bahu Agra, tanda sesama lelaki, "Ginilah dari kemarin, jadi gue nggak perlu repot-repot ngedesak lo terus-terusan. Oke, makasih atas kerja kerasnya, Gra."


Agra berdehem, respon atas perkataan Faris, kemudian melesak, meninggalkan ruang panitia menuju kelas Kinan dengan perasaan lega, terlepas dari segala beban yang mengurungnya selama berminggu-minggu lamanya.


......


Mobil milik Cakra memasuki pelataran rumah sakit, tempat dimana anak Ana dirawat. Diperjalanan, Cakra sempat membeli beberapa jenis buah-buahan dan sebuah boneka pinguin untuk Keyla.

__ADS_1


Mengabaikan tatapan penasaran dari arah kursi penumpang, Cakra meraih barang-barang belanjaannya di jok belakang kemudian terdiam sesaat.


"Anda pasti bingung kenapa saya membawa anda ke sini. Seseorang telah menunggu anda di dalam sana. Tapi saya minta tolong kepada anda, jangan berkata yang aneh-aneh apalagi sampai menyakiti hatinya," pinta Cakra.


Nathan yang belum mengerti sama sekali apa maksud lelaki di sampingnya, bertanya.


"Ada apa sebenarnya?"


Cakra meliriknya sekilas, "Anda akan tahu nanti. Mari ikut saya." dia melangkah keluar berbarengan dengan Nathan.


Sesampainya di lantai tiga, di depan kamar Anggrek nomor 156, Cakra menarik knop pintu, membukanya perlahan, hingga dua perempuan berbeda umur terlihat asik menonton televisi di atas brankar. Tidak menyadari kedatangan mereka.


"Ana, aku bawa kejutan buat kamu," Cakra berujar dengan mempersilahkan Nathan berdiri tepat di sebelahnya.


Refleks Ana menoleh, lantas terkejut, mulutnya menganga lebar tertutupi telapak tangannya. Di lain sisi, Nathan memperhatikan lekat wajah kedua perempuan itu. Dia merasa tidak asing dengan rupa salah satunya.


"Na--nathan?" Ana membeo. Lidahnya berkelit menyebutnya.


Kerutan di dahi Nathan tergambar. Mengingat-ingat apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Tampang seriusnya beralih sama terkejutnya dengan reaksi awal Ana tadi.


"Ka--kamu Ana?"


Ana turun setelah mendaratkan kecupan singkat di pipi Keyla. Dia mengangguk sembari menghapus gumpalan air mata dipelupuk matanya.


Situasi sedang tidak baik, apalagi ada Keyla, Cakra dengan sigap mengganti topik pembahasan. Menyudahi kalimat Ana yang hendak meluncur.


"Keyla, kamu udah baikan sayang?" Cakra membelai lembut rambut panjang si kecil. Keyla berumur empat tahun. Wajahnya sangat menggemaskan jika tertawa.


"Udah, uncle."


Cakra menunjukkan apa yang dia beli ke hadapan Keyla, "Uncle punya hadiah nih untuk tuan puteri."


Binar-binar bahagia mewakili perasaan Keyla ketika mendapatkan boneka kesukaannya, Keyla menerimanya dengan sumringah, "Makaciii, uncle."


"Sama-sama sayang," kebahagiaan Keyla tertular kepadanya, Cakra meraih dan membingkai tangan kecil Keyla. Dia berkata pelan, "Keyla kangen Papa Keyla, nggak?"


"Kangen banget, uncle."


"Kalau misal ketemu kamu mau ngomong apa sama Papa kamu?"


Keyla menyudahi bermain-main dengan bonekanya lalu memusatkan perhatiannya penuh pada Cakra, "Aku nggak mau ngomong apa-apa uncle, aku cuma mau peluk dan bisikin ke Papa kalau aku sayang Papa."


Mendengar kalimat bijak anaknya, dadanya sesak luar biasa, air matanya mendesak keluar tanpa jeda. Anak sekecil Keyla saja sudah bisa bersikap dewasa dan mengartikan sebuah pertemuan. Ana bangga melihatnya. Ana bersyukur memiliki Keyla dihidupnya.


"Yauda sekarang bilang dong kalau kamu sayang Papa dihadapan temen uncle ini," Cakra menunjuk Nathan menggunakan dagunya. Saat bingung, reaksi Keyla, diam. Cakra paham kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Keyla. Ana dan Nathan saling pandang.


Entah apa yang Cakra katakan, kaki Keyla sudah menapak dilantai, berlari tertatih-tatih memeluk kaki Nathan sambil mengucapkan 'Keyla kangen. Keyla sayang Papa'


......


Find Me:


Instagram: @ayufaziraaa

__ADS_1


*******: ayufaziraa


__ADS_2