Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 23


__ADS_3

Aku butuh sedikit keberanian memasuki zona bahaya, demi memperkuat perasaanku yang berlandaskan cinta, untuk kamu yang seharusnya tak aku cinta.


.......


Dalam kamus kehidupan Agra tidak ada yang namanya hari libur. Memasuki waktu liburan pun, dihabiskan Agra dengan membaca buku ataupun mendalami hal-hal berbau angka-angka. Seperti jurusannya, Akuntansi.


Paling sesekali, di hari minggu, Agra menyisihkan sedikit waktu berharganya untuk sekedar pergi berenang. Karena memang berenang adalah salah satu hobinya selain membaca buku. Lebih dari itu, tidak ada hal menarik lainnya yang dapat Agra lakukan.


Jam dinding mengarah pukul 09.00 pagi. Weekend ini Agra berencana mengunjungi kafe Adira sekaligus melihat keadaan perempuan itu. Sudah dari tiga hari lalu Agra tidak melihat Adira di kawasan Fakultas Matematika. Bahkan di kafenya pun, Adira tidak juga nampak.


Acara mengenakan bajunya terhenti, tatkala suara teriakan Agni-kakaknya, menggema sampai sepenjuru kamarnya. Mungkin akibat pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka. Jadi suara toak Kakaknya terdengar sangat jelas.


"Agra!" Agni datang dengan raut jengkel. Perempuan kira-kira berusia 25 tahunan itu berkacak pinggang di depan Agra. Entah apa penyebab Agni layaknya singa di pagi hari ini.


"Hm,"


"Mana barang pesenan gue?" tagih Agni sambil menengadahkan telapak tangannya. Meminta barang pesanannya semalam.


Tadi malam, sewaktu Agra sedang berada di warung sate, Agni mengiriminya pesan singkat, memintanya membelikan minuman kiranti dan sebungkus pembalut di supermarket. Agra menolaknya mentah-mentah. Ya kali dia membeli itu. Seumur-umur Agra sama sekali belum pernah menyentuh kedua barang itu, meskipun Agni kerap kali mendesaknya agar dibelikan. Agra tidak tahu apa yang akan dia jawab semisal sang kasir menanyakan barang itu kepunyaan siapa, padanya.


Beruntungnya, Kinan ada bersamanya. Tak ada pilihan lain selain menyuruh Kinan. Awalnya Kinan sempat bertanya-tanya pada Agra dan Agra hanya melayangkan tatapan tajamnya, hingga perempuan itu diam sendiri. Tidak berani lagi membuka mulutnya.


"Di atas meja makan," jawab Agra santai. Penampilannya sudah rapi dengan baju hitam polos dan celana jogger, melekat di tubuhnya.


"Nggak ada, Gra!"


"Cari pake mata dan hati. Bukan pake mulut," tandas Agra.


Agni berdecak kesal, "Nyari apa-apa ya pake mata lah pinter! Itu kenapa hati lo bawa-bawa coba?!"


Agra menyambar tas ransel hijaunya dan menyampirkannya di bahu kanannya. Dengan datar dia menatap sang Kakak, "Lo kalau nyari sesuatu bawaannya emosi mulu. Sekali-kali pake hati."


Setelah membuat kekesalan Agni kian memuncak, Agra ngacir turun ke lantai bawah, berniat mencari barang tersebut. Berjalan ke arah meja makan, memeriksa satu persatu kantong plastik yang ada di atasnya. Sejurus, Agra mendengus kasar. Mendapati barang pesanan Agni di sana. Dia memandang Agni yang baru saja turun dengan sangat datar.


"Ini apa?" Agra memperlihatkan barang dapetannya pada Agni, "Gue bilang juga apa. Lo nyari bukan mata dulu yang jalan, tapi emosi lo."


Yang di ajak bicara, menyengir lebar. Agni mengambilnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya, "Iye dah. Galak bener jadi adek."


"Emang. Yauda gue cabut. Buang-buang waktu gue aja."


......


Lain halnya bagi Kinan, setiap hari minggu, dimanfaatkannya dengan sebaik mungkin untuk refreshing. Apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang Mahasiswi yang otomatis dari senin sampai jumat harus pergi ke kampus dan siang baru pulang. Bahkan sampai sore kalau ada tugas dan segala macamnya.


Ditambah siang harinya harus menjalankan tugasnya seperti biasa, menjadi karyawan toko buku dan malamnya menjadi pelayan di sebuah klub malam sampai jam dua pagi. Sungguh badan Kinan serasa remuk. Dia cuma bisa tidur paling lama empat jam. Setelah itu bersiap pergi kuliah. Begitu seterusnya.


Hari sabtu? Jangan harap Kinan boleh berleha-leha sebab Mr. Brown selalu berdiam diri di rumah, duduk di kursi ruang kerja, menyuruhnya ini dan itu yang membuatnya tak bisa bersantai.


Entah disengaja atau tidak, intinya Kinan benar-benar lelah, tetapi apalah daya, dia tidak bisa mengungkapkannya. Baginya terlalu mustahil untuk dia lakukan.


Lamunan Kinan buyar saat suara mengagetkan dari balik sofa menyentak telinganya kuat. Kinan berjengit dan langsung berdiri, menatap laki-laki berkaos putih itu sebal, "Jangan suka ngagetin gitu ih, Nat. Untung aja aku nggak punya riwayat penyakit jantung. Kalau enggak kan---"

__ADS_1


Seakan tahu apa kelanjutannya, Nathan lebih dulu mencelahnya, "Enggak apa, Baby?"


"Ah udahlah! Aku kesel sama kamu!" Kinan membuang muka dengan bibir mengerucut. Nathan sampai terkekeh. Dia mendekati Kinan dan mendaratkan kedua tangannya pada pipi Kinan dan mencubitnya pelan. Hal yang Nathan sukai.


"Berhenti manyun, Baby. Kamu jadi jelek banget. Entar nggak ada yang suka sama kamu."


Kinan mendadak termenung. Kalimat terakhir Nathan, mengingatkannya akan sosok Agra. Bagaimana Agra menolaknya terang-terangan. Jangankan mengharapkan Agra untuk menyukainya, memandangnya yang selalu tampil cantik di depan Agra saja, Agra tidak berminat sama sekali dan malah pergi menjauh.


Dia menghela napas berat ketika mengulang fakta menyesakkan itu dalam bayangannya, sampai-sampai dia tidak sadar kalau saat ini, Nathan memandangnya khawatir.


"Kamu pasti ngambek ya aku katain jelek?" tanya Nathan memastikan, "Yang tadi bercanda, Baby. Jangan dimasukin ke hati dong."


Suara memelas yang Kinan balas dengan tersenyum tipis. Saat ini Nathan sangat lucu di matanya. memilih merubah ekspresinya menjadi datar, Kinan ingin mengusili Nathan. Berpura-pura merajuk.


"Aku memang jelek, Nat. Aku sadar diri kalau aku nggak cantik seperti temen-temen kamu. Jauh banget lah kalau di pandang-pandang," ucap Kinan tanpa menatap Nathan.


"Kamu bicara apa sih? Enggak gitu, Baby. Malah kamu perempuan tercantik di hidup aku setelah Mama."


Dari nada bicara Nathan, dia amat sangat takut jika Kinan marah. Bisa dibilang itu adalah kelemahannya. Lebih melemahkan lagi ketika menyaksikan Kinan menangis dengan pandangan terluka. Nathan akui jika perasaannya melebihi perasaan seorang Abang ke Adiknya. Entah sejak kapan perasaannya keluar dari zona nyaman dan memasuki zona bahaya.


Bahaya suatu saat Kinan tahu perasaan Nathan yang sebenarnya, Kinan akan menjauh dari sisinya. Membayangkannya saja Nathan tak sanggup.


"Kamu bohong. Aku bisa bedain mana jujur mana yang enggak. Mending kamu nggak usah dekat-dekat aku lagi. Aku kan jelek," ucap Kinan seraya berlalu. Namun Nathan mencekal pergelangan tangannya.


Nathan menghadapkan tubuh Kinan ke arahnya agar dia bisa melihat wajah Kinan dengan jelas, "Plis, jangan marah ya. kamu boleh minta apa aja dari aku, asal kamu mau maafin aku," mohon Nathan, "Kamu mau apa? Bilang aja. Langsung aku kabulin."


Kepolosan Kinan sangat Nathan syukuri. Jadi dia tak perlu merasa takut jika Kinan curiga atas perhatian berlebihan yang dia tunjukkan.


"Enggak. Aku nggak mau."


"Pergi, Nathan."


"Aku tetap di sini, nemenin kamu," Nathan keukeh.


Merasa keisengannya berhasil dan tak ingin memperlama drama, Kinan maju selangkah, menyisakan sedikit jarak dengan Nathan kemudian membisikkan sesuatu di telinganya, "Gimana? Akting aku bagus kan?"


Setelahnya Kinan berlari kecil menaiki anak tangga seraya menertawakan Nathan yang tengah menghela napas gusar.


Sial! dikerjain!


.......


Nathan geleng-geleng kepala saat Kinan lebih dulu ngacir ke dalam Raveena kafe. Di sana, tempat Kinan biasa makan es krim. Bisa dibilang tempat langganannya.


Keantusiasan Kinan, tak bisa melunturkan sedikit saja senyum yang tercetak jelas di wajah tampan Nathan. Kinan adalah moodbooster-nya.


Sesibuk atau sebanyak apapun pekerjaannya, selelah apapun itu, semua akan membaik hanya dengan mendengar suara lembut Kinan, meski dari seberang telepon saja. Memilih menyusul Kinan, Nathan naik ke lantai dua kafe, pandangannya memencar, mencari keberadaan Kinan. Fokusnya berhenti di satu titik. Tak jauh darinya, Kinan duduk dengan tangan tengah membasahi jari-jarinya dengan riang di bawah air mancur kecil tepat di samping mejanya, seakan tak ada beban.


"Baby, nanti baju kamu basah," Nathan duduk di hadapan Kinan. Kinan sendiri asik sama kegiatannya, tanpa mengindahkan perkataan Nathan.


Dengan sekali gerakan, tangan Kinan sudah berada di genggaman Nathan. Diraihnya dua lembar tisu sekaligus lalu mengeringkan tangan Kinan yang basah dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau sampai baju kamu basah, nanti kamu bisa masuk angin, Baby," Nathan membuang tisu setelah siap mengelapnya, "Di mobil aku kan udah nggak ada lagi baju ganti kamu."


"Iya, kemarin udah aku ambil," kata Kinan, "Yauda ayo buruan pesen. Aku udah nggak sabar mau nyobain."


"Oke," Nathan memanggil pelayan melalui gerakan tangan.


Pelayan datang sambil membawa buku kecil lengkap dengan satu bolpoin, guna mencatat pesanan.


"Ya, Mas. Mau pesan apa?" tanya sang pelayan, ramah.


"Saya pesan satu mango snow ice. Kalau kamu pesan apa, Baby?" Nathan bertanya pada Kinan yang tengah memasang wajah melas, "Aku tau kamu mau pesan banyak-banyak. Jadi, kamu mau apa? Asal ujung-ujungnya kamu nggak sakit aja kayak waktu itu."


Kinan tersenyum senang. Nathan memang paling mengerti kemauannya, "Mbak, saya pesan triple ice cake satu, ice cream macha satu, terus sama macaron ice cream-nya satu. Yaudah deh Mbak, itu aja," sang pelayan cengo, sedangkan Nathan terkekeh pelan.


"Mending Mbak buruan pergi sebelum si ratu es krim ini minta yang lain lagi," usir Nathan halus yang di balas Kinan dengan dengusan. Pelayan pun pergi.


"Udah lama banget ya kita nggak ke sini," Kinan berucap sambil mengamati keadaan kafe yang tak pernah membuatnya bosan. Sama sekali tidak berubah semenjak beberapa tahun lalu.


Kinan sengaja memilih meja di ruangan terbuka. Selain sejuk juga sedap di pandang. Kafe yang di rancang apik dengan nuansa hijau seperti berada di taman. Mungkin penambahannya ada di air mancurnya, sebab dulu belum ada. Ada berbagai bunga warna-warni di setiap sudut. Mampu menyegarkan mata.


"Iya. Terakhir sebelum aku berangkat ke luar negeri," jawab Nathan, "Emang selama nggak ada aku, kamu nggak pernah datang ke sini?"


"Enggak. Baru ini."


"Kenapa?"


"Nggak ada temen yang bisa di ajak."


Natan menopang dagu dengan kedua tangan, maniknya tak beralih sedikitpun dari paras Kinan, "Zerina kan ada."


Kinan berdecak, "Kamu kan tau dia anti banget sama es krim. Boro-boro mau, aku baru mau ngomong aja dia langsung pergi ninggalin aku. Aku suruh pesen yang lainnya selain es krim, dia juga ogah."


"Sampai sekarang?"


"Iya. Kesel tau," bibir Kinan maju sesenti. Nathan tidak bisa untuk tak menerbitkan senyuman.


Diusapnya pucuk kepala perempuan itu dan mengacaknya pelan, "Jangan kesel lagi karena aku udah ada di sini. Aku yang bakal nemenin kamu lagi. Setiap hari pun aku jabani. Yang paling terpenting kamu seneng," kata Nathan tulus.


Satu hal yang Kinan syukuri di dalam hidupnya, ada sosok Nathan---tempatnya berlindung. Bahkan sampai detik ini.


Setitik air mata jatuh di sudut matanya. Kinan terharu, "Aku beruntung punya kamu."


....


Agra



Kinan


__ADS_1


__ADS_2