
Hamparan langit sore menjelang malam perlahan meredup. Belum menggelap seutuhnya. Menyisakan perpaduan warna jingga bercampur orange yang sebentar lagi akan tertutupi. Semilir angin bergerak lamban, menerpa apa saja yang bisa dia goyangkan.
Rambut tergerai Kinan salah satunya. Di sepanjang perjalanan yang dia tidak tahu ke mana Cakra akan membawanya, helaan napas lelah keluar dari bibir mungilnya. Kinan memegang kedua pundak Cakra, erat, ketika kecepatan laju motornya dipercepat dan sangat kencang. Kinan ingin berteriak bahkan memukul keras punggung laki-laki di hadapannya, namun Kinan urungkan. Hatinya yang justru ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Mendapati perlakuan Agra yang tidak ada perubahan. Bahkan sikapnya seperti bunglon. Berubah-ubah. Sebentar baik dan lembut. Sebentar kasar dan membentak. Kinan semakin rapuh dibuatnya.
Lirikan singkat dari pantulan kaca spion, tidak menyadarkan Kinan dari gelutan pikirannya. Pikirannya tentang Agra seakan meraup habis kesadarannya. Cakra sendiri sangat tahu penyebab mengapa Kinan diam, tak bersuara. Dia sempat melihat sosok Agra sebelum motornya melesat, meninggalkan halaman restoran.
Sampai motor ninjanya berhenti di depan sebuah taman, pandangan Kinan tetap sama. Kosong menatap punggungnya. Dengusan kasar pun terjun bebas dari bibir Cakra. Pingin mengumpati Kinan dengan kata bod*h tepat di depan wajahnya. Namun, Cakra berpikir ulang dan mengerti kadang cinta bisa membuat seseorang mampu bersikap bod*h. Bod*h yang dihasilkan oleh cinta itu sendiri. Sepertinya dulu. Dulu sekali. Cakra tidak mau mengingat tentang 'dia' lagi.
"Sampai kapan lo mau bengong di atas motor gue? Sampai diam lo berubah jadi emas terus gue jual?" desis Cakra seraya menjauhkan kedua tangan Kinan dari pundaknya.
Perkataan yang menyadarkan Kinan kembali ke dunianya. Mata Kinan mengerjap pelan. Dia memaksakan senyum sambil memperhatikan sekitarnya. Ramai.
"Ini di mana?" Kinan bertanya seusai turun dari motor. Masih mengamati satu persatu yang dapat dijangkau pandangannya.
Saat ini, keduanya berada di taman Kota. Awalnya, Cakra ingin mengajak Kinan ke apartemennya, mengingat jika keadaan tempat tinggalnya berantakan layaknya habis perang, meminta Kinan membersihkannya. Dan harus dia tunda karena keadaan Kinan tak memungkinkannya melakukan perintahnya. Bisa-bisa apartemennya bukan semakin rapi, tapi semakin kacau balau akibat kegalauan Kinan.
"Di depan rumah sakit," jawab Cakra ngasal. Dalam hati dia mengumpat untuk kedua kali.
__ADS_1
Satu pukulan kecil mendarat indah di bahu Cakra. Kinan pelakunya, "Ih! Serius ini loh!"
"Ya lo lihat aja sendiri ini di mana! Pake nanya lagi!" lagi-lagi Cakra mendesis. Ekspresinya kesal bukan main.
"Yauda sih, sewot bener jawabnya. Aku kan nanya,"
"Pertanyaan lo buat gue naik tensi," perjelas Cakra seraya menarik tangan Kinan agar mengikutinya, "Ikut gue. Gue butuh yang dingin-dingin."
Tak membalas lagi, dengan baik budi Kinan menurut. Dia juga butuh sesuatu yang dingin-dingin, yang bisa menyejukkan hatinya. Tarikan pada tangannya terlepas. Mereka berdiri tepat di depan gerobak es serut. Cakra sudah duluan memesannya untuk mereka berdua. Kinan memilih duduk di atas pinggiran batu dekat gerobak es. Selagi menunggu Cakra.
Wajahnya kembali murung. Dia menunduk dengan genangan air di pelupuk matanya. Di saat sendiri begini, dia mengingat sosok Agra ketika berbicara kasar padanya. Matanya jadi memanas.
"Makasih ya," ucap Kinan tulus bersama setetes cairan bening itu turun dari kedua sudut matanya. buru-buru dihapusnya, takut Cakra menangkap basah dirinya. Sayangnya, Cakra lebih dulu melihatnya. Ekor matanya menangkap jelas.
"Jangan nangis. Air mata lo bisa masuk ke es-nya. Es lo ntar asin. Nggak manis lagi kayak lo."
Sakit tetaplah sakit. Segores luka tetaplah luka. Tidak bisa terobati jika tak diberi obat penghilang luka. Obatnya sangat susah Kinan dapat dan berakhir terluka sampai waktu yang tak bisa Kinan prediksi.
Air matanya semakin mendesak keluar dan menghasilkan isakan pilu dari bibir Kinan. Cakra mengambil gelas es di tangan Kinan yang masih utuh isinya, "Udah gue bilang, jangan nangis juga. Malah ngeyel. Gue nggak bakal beliin lo lagi kalau sampai es lo ini cair."
__ADS_1
Isakannya semakin kencang, bukannya mereda. Cakra kelabakan sendiri dan cepat-cepat menaruh kedua gelas es itu ke mana saja yang bisa menopangnya. Berniat menghentikan tangisan Kinan karena saat ini semua orang yang ada di sana memandangnya lekat. Penjual es serut pun mengerut heran.
"Mas apain Neng geulis-nya? Kok nangisnya sampai meraung gitu?" tanya penjual es.
Cakra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tersenyum canggung, "Biasa Mang, lagi PMS, jadinya sensitif terus nangis deh," jawabnya asal.
"Oh, biasa itu Mas. Kalo menurut saya, Neng geulis-nya kode itu Mas, minta peluk, sama kayak istri saya di rumah," penjual es memberi masukan dan saran.
Sedangkan Cakra terdiam diiringi suara tangis Kinan. Dia memikirkan ulang perkataan penjual es. Apa benar? Batinnya.
"Serius Mang?"
"Iya Mas. Coba aja kalau tidak percaya. Sambil bisikin kata-kata menenangkan Mas. Biar nggak nangis lagi," pesan penjual es, lagi.
Tidak mau memperlama dan mengakibatkan dirinya di serang orang-orang karena dikira membuat anak gadis orang menangis, Cakra mengikuti saran penjual es. Cakra menarik napas dan menghembuskannya perlahan dan selanjunya dia menarik Kinan ke dalam dekapannya. Dekapan yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar.
"Coba sekali-kali lo jadi es yang membeku dan tetap tersimpan di tempatnya, pasti lo nggak akan sesakit ini saat diri lo mencair. Gue harap hati lo sebeku saat sebelum diri lo ketemu Agra. Biar hati lo tetap terjaga dan nggak terluka."
Berhasil. Kinan berhenti menangis.
__ADS_1