
Ting!
Denting pintu kafe berbunyi, menandakan seseorang telah masuk ke dalam. Laki-laki berkemeja hitam dengan ransel hijau tua yang tersampir dipundaknya, naik ke lantai dua setelah memesan sesuatu pada pelayan di meja kasir, berjalan menuju meja kosong yang terletak di ruangan outdoor. Gerak-geriknya seperti menunjukkan bahwa dia sudah sering ke sana dan hafal betul tempat duduk paling strategis.
Raveena café, namanya. Gedung besar berlantai dua yang disulap menjadi tempat tongkrongan anak muda jaman sekarang. Di dalamnya, berbagai gambar grafity tercoret rapi di dinding berwarna hitam. Rak-rak buku disetiap sudut ruangan dengan macam-macam novel remaja tersusun rapi di sana serta buku-buku kunci gitar beserta lagunya juga ada. Para remaja maupun orang tua tidak akan rugi jika berkunjung ke sana, sebab pemilik kafe juga menyediakan fasilitas untuk keluarga seperti tempat karaoke yang ada di lantai dua. Dan tentunya buku-buku seputar dunia olahraga, fashion dan memasak.
Ruangan outdoor-nya, dihias sedemikian rupa seperti berada di tengah-tengah kebun bunga. View-nya benar-benar memanjakan mata. Semua pelanggan yakin jika pemilik kafe adalah seseorang perempuan muda dengan selera yang pas. Pas bagi para kaum muda-mudi. Harga makanannya pun terjangkau.
Agra meletakkan ranselnya di kursi kosong sampingnya. Laki-laki berwajah datar itu sudah terhanyut pada buku di genggamannya. Membaca buku adalah salah satu hobi Agra selain berenang. Tempat ini, rumah kedua baginya. Suasananya damai dan tentram. Agra betah.
"Satu coffe latte dan pancake coklatnya, Mas," perempuan berpakaian serba putih, datang dan meletakkan nampan di atas meja yang di atasnya terdapat pesanan Agra.
Diam menjadi bahasa Agra.
"Orang bisu dilarang ke sini Mas. Mas bisa turun melalui tangga lalu belok kiri. Di sana Mas-nya bisa melihat pintu keluarnya," perempuan tadi berkata jengkel. Dia duduk tanpa permisi di kursi kosong berseberangan dengan Agra. Tidak peduli jika laki-laki itu menendangnya atau mengadu pada pemilik kafe. Karena dialah pemiliknya.
"Berisik," balas Agra datar.
"Dih, mendingan gue. Daripada lo, ngalahin orang bisu," perempuan cantik dengan name tag Adira di bagian dada kirinya, terlihat memasang raut dongkol. Tidak di sini, tidak di kampus, tidak di rumah sering sekali berwajah tanpa ekspresi seperti itu. Adira sampai bosan melihatnya.
Suara buku tertutup terdengar, Agra si pelakunya. Dia menaruh buku kembali pada tempatnya kemudian menyesap kopi pesanannya. Diliriknya Adira sekilas. Senyumnya pun mengembang meski tipis.
"Bisu-bisu tapi cakep," Agra berucap pede.
"Boleh nggak nih gue mual?"
"Silahkan aja."
Respon Adira, mendesis.
Kepala Agra menengadah, memandang hamparan langit sore di atas sana. Burung-burung membentuk sekawanan dan terbang secara bersama-sama. Agra iri pada burung. Bebas dan lepas seolah tanpa beban. Meskipun beban yang dirinya tanggung tidaklah terlalu besar.
"Gimana kampus hari ini? Makin rame dong ya semenjak ada mahasiswa baru?" tanya Adira meminta jawaban melalui siratan mata hitamnya.
"Seperti biasa. Obrolan unfaedah Afka dengan segala sifat playboy-nya. Kampus juga lumayan padat."
Adira Raveena. Perempuan yang memiliki bola mata berwarna hitam, berkulit putih dan berwajah cantik itu adalah sahabat Agra sejak SD. Sifatnya yang humble sangat disukai banyak lelaki. Dia baik dan kadang cerewet. Pemilik Raveena Café. Harta satu-satunya peninggalan orang tuanya sebelum mereka pergi meninggalkan Adira sendirian di dunia yang kejam ini. Adira kecil yang dulu sangat rapuh.
Untungnya, keluarga kecil dari sahabat lelakinya itu, berbaik hati menampungnya serta merawatnya sampai Adira segede sekarang. Umurnya saja sudah 20 tahun. Adira sangat berterima kasih untuk semua curahan kasih sayang yang keluarga Agra beri padanya. Pundak laki-laki itulah yang menjadi sandaran Adira selama dia masih berkabung dalam kesedihan.
Adira mendengus. Tak heran lagi dengan Afka, "Temen lo sangking jomlonya, minta banget dirukiyahin. Dia tuh sebenarnya bukan pemain wanita, tapi jomlo ngenes. Emang dasar sok dielitin bahasanya jadi playboy."
Respon Agra, tertawa kecil, "Memang bawaan dari orok udah begitu. Lagian, gue nggak terlalu ambil pusing. Ada dia, kampus jadi rame. Rame dengan segala khayalannya tentang para cewek-ceweknya."
Alis Adira naik-turun. Dia tersenyum misterius, "Lo-nya kapan punya pacar?"
Agra langsung mendatarkan ekspresinya. Dia sangat tak suka pembahasan itu. Terlalu sensitif. Kalau di suruh memilih, Agra lebih baik membaca buku Akuntansi setebal mungkin daripada membicarakan soal cinta. Tidak terlalu penting baginya.
"Gue lagi nggak mood bahas gituan Ra. Jangan pancing amarah gue."
"Oke-oke. Gue khilaf."
__ADS_1
"Kapan ngampus lagi?" gantian, Agra bertanya.
Adira hanya mengedikkan bahu, tidak begitu tertarik.
"Jangan keseringan bolos Ra. Pikirin nilai kuliah lo. Percuma aja lo bayar uang kuliah tapi nggak dipergunakan dengan sebaik mungkin, ilmunya. Mubazir juga kan uang lo."
Helaan napas lelah keluar dari bibir Adira. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Lo tau sendiri Gra, belakangan ini bisnis gue bermasalah soal keuangannya. Gue harus ada di sini buat ngontrol sendiri di bagian kasir. Tentang kasir yang lama juga udah gue pecat. Selain gue, siapa lagi yang nerusin bisnis ini?"
Agra menatap dalam sahabatnya, "Ada gue kalau lo lupa. Gue sahabat lo. Terserah lo mau repotin gue sebanyak apapun soal urusan lo. Gue akan bantu sebisa gue."
Ini lebih dikatakan cinta terhadap sesama manusia. Adira sendiri sudah Agra anggap sebagai adiknya sendiri. Semua kasih dan sayangnya, sebagian dia curahkan untuk Adira agar perempuan itu tetap kuat tanpa sosok orang tua di sisinya.
"Lo juga kuliah, kalau lo lupa," Adira membalikkan ucapan Agra padanya.
"Itu urusan gampang. Yang paling terpenting, lo nggak bolos kelas lagi."
Sungguh, Agra selalu membuatnya terharu. Mata Adira berkaca-kaca karenanya, "Makasih ya Gra. Lo memang yang terbaik deh."
"Gue nggak akan pernah mau terima ucapan terima kasih lo. Yang gue mau tanya, kapan gue boleh makan pancake lo ini? Keburu dirubungi semut," Agra memandang makanan itu dan Adira bergantian. Raut wajahnya tetap datar.
Perempuan cantik itu mendengus geli, "Silahkan tuan, sebelum semut yang cantik ini mendahuluinya."
Keduanya pun meleburkan tawa.
......
Kaki beralaskan sepatu flatshoes, melangkah memasuki toko buku Matahari di pusat Kota. Kinan melempar senyum ramah khasnya ketika tak sengaja berpapasan dengan karyawan toko. Dia berbelok ke kiri dan masuk ke ruangan bagian karyawan lalu menyimpan tas slempangnya di rak khusus. Langsung saja Kinan meraih baju seragam yang tergantung di balik pintu dan memakainya.
Yang Kinan pertanyakan, kenapa papanya mengangkatnya sebagai anak kalau biaya hidup dirinya sendiri yang harus menanggungnya?
Sampai saat ini Kinan selalu dirundung tanya dan belum menemukan apa alasan di balik itu.
Sekali lagi, Kinan mematut penampilannya di kaca toilet. Bergegas keluar. Di luar, ramai sekali pengunjung. Dia berjalan ke bilik kasir, menyapa teman kerjanya terlebih dahulu.
"Selamat siang, Denis," sapa Kinan hangat.
"Siang nona Kinan," Denis mengedipkan matanya sebelah. Dia paling suka menggoda Kinan.
Di pukulnya lengan Denis gemas, "Kau ini! Jangan panggil aku begitu Denis! Aku jadi merasa seperti majikanmu tau!"
Denis terbahak, "Tak apa. Aku malah beruntung bisa mempunyai majikan manis sepertimu. Lagian, terserah aku ingin memanggilmu apa. Kau tidak boleh melarangku, Nona."
"Ya, ya, terserah kau saja. kalau begitu, aku ingin berkeliling dulu," pamit Kinan seraya berlalu. Denis mengangguk paham.
Toko buku Matahari ini sangat besar dan luas. Banyak sekali rak-rak besar di sana dan beberapa meja dengan tinggi sepinggang tersusun rapi. Di atasnya sudah tertata cantik macam-macam buku berbagai judul. Kinan sendiri kerjanya, memantau para pengunjung, jika ada kesulitan mencari buku yang ingin mereka beli, Kinan siap siaga membantu.
Menyusuri lorong demi lorong, Kinan mengamati buku-buku di sana, siapa tahu tata letaknya berantakan, jadinya dia bisa mengaturnya kembali. Ekor matanya tak sengaja tertuju pada satu buku tipis, tergeletak di lantai. Dia mendekat lalu merunduk, mengambilnya.
Cara jitu mengambil hati seorang pria
Dengan membeo, bibir Kinan tanpa sadar menyebutkan judul buku tersebut. Seketika, dia tersenyum kecut. Mengingat pertemuannya dengan Agra yang bisa dikatakan tidak berkesan baik. Boro-boro berhasil mengambil hatinya, hadirnya saja diabaikan. Meski begitu, Kinan tidak semudah itu menyerah.
__ADS_1
"Tanpa melihat buku ini, aku yakin bisa ngambil hati kamu, Agra," tekad Kinan. Suaranya seperti berbisik.
"Permisi," celetuk seseorang.
"Ah, iya," buru-buru Kinan menaruh buku tadi pada tempatnya. Lantas kepalanya terangkat agar dapat melihat si penginterupsi, "Ada yang bisa saya bantu?"
Kinan mematung. Terlalu terkejut, sampai kedua biji matanya hendak copot dari sarangnya. Dunia sesempit ini? Sosok dihadapannya, membuat Kinan lupa berkedip. Tampannya. Sedangkan laki-laki itu memasang ekspresi datar. Mata tajamnya mengintimidasi Kinan. Kinan jadi grogi. Dia memilin jemarinya, agak takut.
"A-ada yang bisa aku bantu?" Kinan mencoba menghilangkan kegugupannya di depan Agra.
"Buku Akuntansi, letaknya di mana?" tanya Agra to the point.
"Mari, aku tunjukkan," Kinan mengambil arah kanan, berjalan ke rak khusus buku permintaan Agra. Agra mengekor di belakangnya.
"Kamu bisa mencarinya di rak ini," Kinan berpesan, "Aku pamit dulu," dia pergi. Bukan untuk menghilangkan diri dari sekitar Agra. Lebih tepatnya, bersembunyi guna menetralkan degupan jantungnya. Lutut Kinan benar-benar lemas. Rupanya, sangat menantang bila berhadapan dengan Agra.
Katakanlah Kinan lebay. Dia tidak peduli.
"Thanks," balas Agra pelan.
Sempat tertangkap telinga Kinan tetapi Kinan berpikir, mungkin dia salah dengar.
Diam-diam dari sela buku di belakang punggung tegap Agra, Kinan mengintip layaknya sedang menguntit seorang selebriti. Mata kirinya menyipit dan menajam. Wajah Agra tak kelihatan. Dalam hati Kinan bersorak sedih.
Kinan mengambil napas banyak-banyak. Alih-alih sebagai cadangan jika nantinya napasnya berhenti tiba-tiba. Karena detik berikutnya, dia melangkah, menghampiri sosok Agra.
"Agra," panggil Kinan ketika sudah berdiri di samping Agra.
Agra menoleh sebentar kemudian membuang tatapannya pada buku di genggamannya. Tampangnya masih datar saja. Kinan sampai kepo, apa Agra tak pernah sekali pun tersenyum? Datar melulu ngalahin triplek.
"Agra jurusan Akuntansi ya?" dengan hati-hati Kinan bertanya.
Agra bergumam tak jelas. Kinan mengganggap itu adalah jawaban iya.
"Segitu sukanya menghitung angka-angka? Emang kalau boleh tau, cita-cita Agra, apa?" dua pertanyaan sekaligus dilayangkan Kinan.
Agra tidak menyahut. Dia terdiam cukup lama sampai hati Kinan bergejolak tak karuan. Agra pasti menolak kehadirannya lagi. Kinan menyiapkan mental.
"Kalau nggak suka, ngapain gue masuk jurusan itu."
Kinan tersenyum kecil mendapat respon dari Agra. Padahal jantungnya sudah marathon sejak tadi, takut laki-laki itu tetap bungkam, "Aku sendiri masuk Manajemen karena cita-cita aku sejak kecil pengen jadi direktur," dengan semangat 45 Kinan membeberkannya.
Suara buku yang dibalik-balik berhenti. Agra melirik Kinan datar, "Gue nggak nanya."
Deg!
Di garuknya tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, Kinan cengengesan, "Hehe, maaf Agra. Aku terlalu seneng bisa ngobrol sama kamu."
"Sama gue, jangan terlalu senang dan jatuhnya bakal berujung sakit," Agra berucap datar. Setelahnya pergi dari hadapan Kinan, membawa satu buku ditangannya dan membayarnya ke kasir.
Meninggalkan segala kebingungan dibenak Kinan.
__ADS_1
Dari sekian banyak kata, kenapa harus sakit?