
"Kantong senyum lo ke tutup rapat ya, Gra?" Afka menyeletuk saat keheningan menyelimuti ketiganya.
Saat ini mereka sedang berada di perpustakaan kampus. Mencari sebanyak mungkin referensi tentang hal yang berhubungan dengan Akuntansi, bahan tugas mereka untuk minggu depan. Keadaan yang sepi, semakin sepi dan senyap ketika ketiganya saling diam, tak mengeluarkan obrolan. Terutama Agra. Sedari masuk pelataran kampus, terus saja menekukkan wajah, lengkap dengan muka datarnya.
Merasa pertanyaan Afka terdengar aneh, laki-laki yang sedang memakai almamater hijau itu menghentikan aktivitas membolak-balikkan buku tebalnya. Agra menoleh pada Afka seraya menaikkan sebelah alisnya, "Maksud lo?"
Afka berdecak. Otak pintar Agra pecah seketika dalam bayangannya, menyadari bahwa sampai kapan pun, laki-laki yang bernama Agrata Razzan, tak akan bisa sembuh pekanya. Apalagi terhadap perasaan seseorang.
"Maksud gue, muka lo senyumin dikit. Jangan datar mulu ngalahin triplek. Nggak sedap di pandang mata."
Jawaban yang justru semakin membangkitkan bulu kuduk Agra untuk merinding. Temannya itu lama-kelamaan makin tidak jelas. Sangat aneh. Dia melempar tatapan horror ke arah Afka, "Siapa juga yang nyuruh lo mandangin gue? geli banget."
"Ya gue kan punya mata ****! Mata gue sepet jadinya gara-gara liat muka datar lo! Jangan mikir macem-macem ya, gue bukan spesies homo! Wajar kali gue ngelihatin lo. Secara, lo juga sering bareng gue," tandas Afka, kesal.
"Lo kok jadi ngegas?"
Layaknya tetangga yang ketahuan menggosipi tetangga sebelah rumah, Afka menggaruk dagunya yang padahal tidak gatal lalu menyengir lebar, "Hehe, abis nelen motor gue," candanya garing, "Udah ah, tampang lo jangan nyeremin gitu. Ngeri gue."
Merasa percuma mengajak Agra bergurau, Afka memilih mengotak-atik ponselnya. Berbeda dengan Abyan yang sedari tadi sibuk mencatat, memindahkan kalimat per kalimat dari buku tebal kepunyaan Agra ke buku catatannya. Di saat senyap melanda, helaan napas meluncur begitu saja dari mulut Agra dibarengi menutup buku paket Akuntansinya.
Entahlah. Agra benar-benar tidak konsen membaca buku. Pikirannya terbang, melayang. Sosok Kinan memenuhi hampir seluruh isi kepalanya. Bukan karena dia sudah membuka hatinya untuk Kinan. Bukan itu. Melainkan bagaimana Kinan mengejar-ngejar dirinya, memberinya surat-surat cinta dan menyatakan perasaannya secara terang-terangan. Bagaimana perempuan itu selalu tersenyum kala Agra menciptakan luka dihatinya. Merasa begitu bahagia untuk hal yang menurut Agra sangat biasa. Misalnya, seperti beberapa hari lalu, saat di warung sate.
Semua aksi dan reaksi dari Kinan, menguatkan rasa percaya Agra bahwa Kinan betul-betul menyukainya. Tapi secepat itu meruntuhkan kepercayaannya ketika dengan mata kepalanya sendiri, Kinan berangkat bersama Cakra. Orang yang tak ingin dilihatnya di kampus, bahkan di bumi yang dia pijak saat ini.
Dibenak Agra timbul banyak tanya. Apa yang perempuan itu mau? Apa perasaannya hanya main-main saja? Kenapa dengan santainya dia berduaan sama cowok lain saat perempuan itu telah menyatakan cintanya pada Agra? Ah, sudahlah. Untuk apa dia memikirkan hal tak penting itu. Agra juga tidak bisa mengelak dari kenyataan, kalau dia sungguh penasaran dan ingin menanyakan langsung apa mau Kinan darinya.
Merasakan tepukan kencang mendarat di bahunya kanannya, Agra menoleh ganas pada Abyan, tepat di sampingnya, "Lo bisa nggak sih nggak usah ngagetin gue?"
"Abis lo kayak orang kerasukan. Diem mulu sambil natapin meja. Laper lo? Apa lo bersiap makan ini meja?" Abyan bertanya dengan nada bercanda. Agra sampai tidak sadar jika Abyan sudah merapikan seluruh alat tulisnya ke dalam tas.
"Apaan sih lo! Nggak jelas!" Agra buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas miliknya. Berharap Abyan tidak menanyakan alasan keterdiamannya.
Abyan geleng-geleng kepala seraya berdecak, "Yang nggak jelas itu elo. Hari ini lo beda banget, nggak kayak biasanya. Ya meskipun tetap aja diam dan jarang senyum, tapi ini tuh aneh. Lo berasa ketiban beban ribuan ton. Kening lo aja dari tadi gue perhatiin, mengerut terus. Mikirin apa lo?"
"Nah! Gue setuju apa kata lo Yan," timpal Afka, "Kenapa lo, Gra? Ada masalah? Cerita aja ke kita. Kita siap ngasih solusi buat lo."
Kalau sudah begini, apa Agra jujur saja perihal diamnya karena Kinan? Agra langsung memutar otak, mencari alasan yang pas. Soal Kinan, dia tidak ingin kedua temannya mengetahuinya. Tidak untuk sekarang.
"Gue lagi mikir gimana caranya minta persetujuan Kinan. Dari yang gue lihat, dia kayaknya nggak pandai main piano. Pak Edo sendiri yakin Kinan bisa. Tapi gerak-gerik Kinan nggak membuktikan omongan Pak Edo," kilah Agra dengan pintarnya. Kebetulan persoalan itu belum selesai sampai saat ini. Jadi apa salahnya dia ungkit.
__ADS_1
"Ya lo ngomong baik-baik lah ke Kinan, atau kalau perlu lo ajak Kinan jalan-jalan kemana gitu. Kalau bisa yang romantis ala-ala sepasang kekasih dan disitulah kesempatan lo tanya-tanya ke dia secara lembut," saran Afka, sama sekali tak diterima akal sehat Agra. Bukan dia banget.
"Bagus juga ide lo!" sahut Abyan.
"Enggak! Gue malas pake cara menye-menye lo itu!" tolak Agra cepat.
"Gila nih anak! Yang begitu dibilang menye. Ke mana aja lo selama ini? Di goa?" desis Afka tak terelakkan lagi, "Cewek mana yang nggak suka hal berbau romantis, Gra? Kinan pasti salah satunya. Lo kudu buat dia seneng dulu, baik-baikin dia, selepas dia diem ayem menikmati suasana, baru lo tanya dia. Gue yakin pasti dia mau ngomong jujur ke elo," salah satu trik seorang playboy versi Afka.
"Gue nggak bisa dan nggak mau!" kedua kalinya Agra menolak.
Afka gemas begitu juga Abyan. Agra orangnya memang keras dan tidak suka dipaksa. Terutama bersangkutan dengan perempuan. Ya kecuali, kalian tahu sendirilah.
Ditariknya lengan Agra secara ganas. Afka akan menjadi sutradara film pendek ini, "Ayo ikut gue! Kita jumpain si Kinan dan lo harus ngajak dia jalan nanti malam! Gue nggak mau tau!"
Mau tidak mau Agra pasrah mengikuti langkah Afka, berharap Kinan sibuk dan menolak ajakannya.
Semoga saja.
......
Suatu kebetulan yang dihadiahi umpatan oleh Agra. Afka tidak main-main dengan ucapannya. Laki-laki itu benar-benar membawanya ke tempat di mana Kinan berada. Dari radius beberapa meter saja, sosok Kinan tampak dan tengah duduk di kursi taman depan kampus, sedang menyumbat kedua telinganya dengan earphone. Agra menyuruh Afka berhenti menariknya.
Afka melengus, "Tugas, tugas siapa? Lo kan? Jadi kenapa balik nyuruh! Gue kan baik, ngasih saran supaya tugas kepanitiaan lo kelar," ujarnya tak mengerti lagi akan sikap Agra.
"Gue bisa cari pemain lain."
"Yakin bisa? Dua minggu lagi acaranya, Bro! Dalam minggu ini lo udah wajib nyetor hasil kerja lo ke Faris. Siap lo kena kick anggota panitia yang lain karena nggak becus jalanin tugas lo?" Afka emosi dibuat Agra. Padahal niat dia baik, ingin membantu. Tapi sepertinya Agra tak menginginkannya, "Malah kalau gue pikir-pikir, tugas lo paling gampang daripada gue. masa minta persetujuan Kinan aja nggak bisa. Cupu lo!"
Tak terima dikatakan cupu, Agra menatap Afka datar, "Oke, kalau itu mau lo! Puas?" setelahnya Agra berjalan, menghampiri Kinan tanpa melirik Afka yang memasang raut senang, di belakangnya.
Kata-kata Afka membuat emosinya menguap, naik ke permukaan. Agra tidak cupu. Hanya saja dia malas bertemu dengan Kinan, mengingat Kinan sangat-sangat ingin berada di dekatnya. Upaya mengelak juga tidak bisa dia lakukan.
Tidak mau berlama-lama dan menguras waktu berharganya, Agra terlihat santai duduk di sebelah Kinan. Pandangannya dia arahkan lurus ke depan. Kursi yang dia duduki bergerak, tanda Kinan menyadari hadirnya.
Kinan terkejut dan melepas benda yang menyumpal telinganya. Dia menoleh ke arah Agra dengan ekspresi tak percaya, "Loh, Agra? Kamu ngapain tiba-tiba di sini?" tanyanya heran. Keningnya sampai berlipat, "Nyariin aku, ya?"
"Gue mau ngomong sesuatu," kata Agra datar tanpa basa-basi. Pertanyaan Kinan pun tidak diindahkannya.
"Ada yang mau aku bilang juga sama kamu," Kinan tersenyum senang. Dia berharap Agra telah membuka hati untuknya.
__ADS_1
"Lo duluan. Baru gue," ucap Agra.
Suara tarikan napas dari arah Kinan, menjadi pertanda bahwa dia akan memulainya terlebih dahulu, "Aku cinta kamu, Agra. Aku mau kamu jadi pacar aku. Meskipun kamu nolak aku puluhan kali, aku nggak akan pernah nyerah ngejar kamu sampai kamu jadi milik aku."
Selesai Kinan berkata, napas Agra dibuat tercekat olehnya. Tatapan Kinan ke Agra sulit diartikan. Agra membeku di tempat. Penuturan spontan yang tak pernah dia harap-harap. Begitu juga orangnya. Membuang muka ke arah lain, Agra sedang memilah-milah dalam hati, cara menolak Kinan secara lembut.
Ekspresi Agra mendadak mengeras. Tidak bisa. Dia tidak bisa bersikap lembut pada Kinan. Mengingat Kinan pergi bersama Cakra. Dia tidak cemburu. Dia cuma tidak suka Kinan tetap jalan dengan Cakra di saat Agra sudah melarang Kinan untuk tidak berhubungan lagi dengan laki-laki itu.
"Gue nggak cinta sama lo dan gue nolak jadi pacar lo!" sentak Agra agak kasar.
"Kenapa, Gra? Kasih aku alasan atas penolakan kamu," Kinan menundukkan kepala dalam-dalam seraya memilin jemarinya. Dia sangat sedih, Agra menolaknya tanpa meminta sedikit waktu untuk dia berpikir.
Agra menghunus Kinan tajam, "Jawaban gue udah jelas. Gue nggak cinta sama lo. Nggak akan pernah cinta meski lo berjuang mati-matian dapetin hati gue! Hati gue udah mati dan lo harus tau itu!"
"Kalau benar hati kamu udah mati, aku bisa menghidupkan hati kamu lagi dengan cinta tulus yang aku punya buat kamu," mata Kinan menyorot harapan besar. Refleks dia memegang tangan Agra dan dihempas kasar oleh laki-laki itu. Dada Kinan nyeri melihat responnya.
"Lo nggak akan bisa. Kehadiran lo aja bagai musibah bagi gue. Jadi cukup hadir lo aja yang menganggu ketenangan gue, jangan tambah perasaan lo lagi."
Jika di kampus Brawali ada kontes pria tidak mempunyai hati, Agra sesegera mungkin mendaftarkan dirinya.
Kinan tersenyum miris. Hatinya tersayat-sayat hingga terluka parah. Dadanya sesak. Bibirnya bergetar, tanda dia menahan tangis, "Lalu, apa maksud kamu ngajak aku sarapan bareng? Bawa aku ke taman? Nganter aku kerja? Muncul saat aku digangguin Cakra dan nggak ngebolehin jalan sama dia? Nemenin aku ke kantor? Makan berdua di warung sate? Bawa ke restoran hanya karena aku sakit perut dan belum makan, padahal jelas aku tau, kalo kamu anti banget sama aku?"
"Kenapa, Gra? Kenapa kamu bersikap peduli seakan-akan aku ini penting di mata kamu? Apa kamu sengaja bersikap peduli ke aku, agar cintaku ke kamu makin besar dan dengan mudahnya kamu hancurkan setelah kamu berhasil buat aku terbang?" lanjutnya dengan air mata siap terjun deras dari pelupuk matanya. Kinan mati-matian menahannya.
Agra mendesis diselingi tawa sarkas, "Gue baru tau segampang itu buat lo terbang tinggi. Lo mau tau kenapa gue bersikap baik ke lo? Karena gue kasihan. Lo itu sama seperti pengemis. Bedanya, lo ngemis cinta gue."
Adakah yang lebih sakit daripada kalimat Agra barusan? Rasanya udara disekeliling Kinan mendadak sirna. Hatinya tercubit kuat. Dadanya sesak luar biasa. Kata-kata Agra sungguh menyakitkan.
"Kamu jahat, Agra," bersamaan dengan itu, air mata Kinan meluruh, jatuh, membasahi pipi tirusnya. Pandangannya mengabur akibat cairan bening menutupinya. Dia terisak. Tidak peduli orang-orang di sekitar, memandangnya kasihan. Nasib hidupnya memang pantas dikasihani. Tetapi, dikasihani oleh Agra, membuatnya mati perlahan.
Agra mendesis lalu bangkit berdiri, "Gue memang jahat untuk ukuran cewek mur*han kayak lo!" ucapnya seraya pergi dari hadapan Kinan.
Meninggalkan hati Kinan dengan kondisi hancur berkeping-keping kemudian jatuh dan diinjak oleh orang-orang yang mulai menertawakannya.
***Jika kamu tidak menyukaiku, tidak usah memberi harapan.
Jika kamu tidak menganggap hadirku, tidak usah muncul ketika terjadi sesuatu menimpaku.
Jika kamu tidak menginginkanku, cukup bersikap tak peduli dan bukan malah memberiku sebuah perhatian yang kuanggap jalan masuk ke hatimu.
__ADS_1
Dan jika kamu tidak mencintaiku, cukup tolak dengan lembut. Aku bisa mengerti. Setelah itu, aku akan mencoba lagi. Sampai aku lelah kemudian mati***.