
Pantulan kaca besar itu menampilkan sosok Kinan yang tengah memoles wajahnya dengan make up. Tubuh indahnya terbungkus dress hitam ketat sebatas paha. Siapa lagi kalau bukan kerjaannya Mr. Brown. Pria itu selalu dan tidak pernah lupa memberikannya baju yang tak sesuai seleranya. Jauh dari kata pantas. Rata-rata kekurangan bahan semua.
Siapa yang tidak risih mengenakan baju seksi itu di antara puluhan bahkan ratusan pria hidung belang di tempat berpenerangan minim dan mayoritas di sana adalah seorang pemabuk?
Kinan bisa dikatakan beruntung selama bekerja tidak sampai dilecehkan. Pernah, untungnya ada Cakra yang saat itu menolongnya. Ngomong-ngomong soal kejadian itu, Kinan masih penasaran tentang Cakra bisa tahu keberadaannya. Sebelumnya Kinan tidak memberitahukannya pada siapa-siapa. Waktu itu Kinan sempat ingin bertanya namun dia urungkan.
Selesai mematut diri, Kinan keluar dari ruang ganti, berjalan ke arah meja bartender. Sepanjang itu pula lekukan tubuhnya dinikmati para pria di setiap sudut klub yang dilewatinya. Kinan memang sudah lama bekerja dan sialnya jantungnya selalu berdetak kencang.
"Apa ada minuman yang harus aku antar, Beni?!" Kinan setengah berteriak di telinga Beni, bartender malam ini. Di klub Mr. Brown ada tiga bartender cowok yang setiap satu malam bergantian berjaga.
Beni mengangguk seraya meletakkan empat gelas dan empat botol wine di atas nampan, "Antar ke ruangan VIP nomor 3! Klien Mr. Brown dari Amerika ada di sana bersama beberapa rekan kerjanya! Cepat antar sebelum kau kena amuk pria tua itu!" jelasnya dengan suara keras. Sebab suara mereka teredam dentuman musik EDM.
Kinan mengangguk segera membawa minuman itu ke lantai dua gedung. Dengan perasaan campur aduk, Kinan menapaki satu persatu anak tangga. Kinan gugup, takut, menjadi satu. Ritme pompa jantungnya lebih cepat dari yang sewajarnya. Sesampainya di depan ruangan, Kinan masuk dan berhati-hati karena cahaya di sana temaram. Netranya menangkap empat orang di sekeliling meja bundar. Asap rokok berpadu di udara. Dada Kinan terasa sesak. Dia pun menyimpan nampan di atas meja dan meletakan isinya.
"Silahkan di minum Tuan-tuan," meskipun ruangan itu gelap, Kinan masih bisa melihat wajah-wajah di sana, berkisar 20-50 tahunan. Ada empat orang. Tidak termasuk Mr. Brown. Hanya satu yang tidak bisa dia lihat dengan jelas, laki-laki di sofa sudut ruangan, sedang bersandar, wajahnya tertutupi oleh majalah.
"Thank you beautiful," kata pria paling tua.
Sekali anggukkan, Kinan langsung balik badan dan niatnya itu terhalang suara berat di belakangnya.
"Kau mau ke mana Nona? Ayo temani kami minum. Kita bersenang-senang di sini. Hanya ada kita berlima. Kau akan menikmatinya," celetuk laki-laki berparas tampan asli Indonesia. Perkataannya disetujui oleh rekannya lainnya.
"Tidak, Tuan. Terima kasih atas tawarannya. Saya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di bawah." Kinan mengangguk sopan sembari tersenyum canggung.
"Kau mau bayaran berapa? 100 juta? 200 juta? Bilang saja Nona. Kami bayar berapapun itu," sambung pria berewok di samping pria tua itu.
Tak sadar, tangan Kinan terkepal kuat, menahan emosi. Kinan seolah sedang menjual diri. Kinan tidak terima direndahkan.
"Saya tidak butuh uang anda, Tuan-tuan sekalian. Saya di sini bekerja, mencari uang halal. Tidak uang haram dari kalian."
__ADS_1
Brak!
Meja bundar itu dihantam oleh tangan kekar pria berewokan yang saat ini berdiri tegap dengan sorot nyalang. Dia murka.
"Kau berani-beraninya menolak dan mengatakan uang yang kami punya adalah uang haram?" pria berewokan itu maju, mengikis jarak dengannya. Kinan menahan napas saat bau alkohol menyentuh penciumannya, "Asal kau tau, kau lebih pantas mendapatkan uang haram untuk memuaskan kami." Kinan meringis ketika tangannya di tarik paksa.
"Saya bukan jal*ng!" Kinan berkata lantang. Berusaha melepaskan diri dari jeratan pria itu yang terus memaksanya bergabung.
"Jose, kau ingin memakai perempuan ini kan? Boleh aku dulu yang menyicipinya? Aku janji, setelah aku selesai, aku akan melemparkannya padamu. Bagaimana?" tawar lelaki yang tadi di sudut ruangan. Kinan tidak nampak wajahnya karena posisinya membelakanginya.
"Tentu saja, Bro. Semoga sukses ya," kata Jose kembali duduk. Mempersilahkan temannya membawa Kinan pergi.
"Ayo ikut aku," lelaki berkemeja hitam itu merangkul Kinan keluar, Kinan memberontak, tak mau. Jelas saja Kinan bukan seorang wanita murahan.
"Lepaskan, brengs*k! Kau jangan macam-macam padaku! Aku akan berteriak kalau kau berani menyentuhku!" Kinan berteriak dan mencoba melarikan diri.
Lorong panjang nan sepi itu seperti tidak berpenghuni. Temaram dan tenang. Kinan takut jika dia dilecehkan. Sangat takut. Lelaki itu terus membawanya entah kemana. Sampai di lantai satu pun, Kinan masih belum melihat rupa si lelaki. Lelaki itu melangkah lebar tiba Kinan ingin menyamakan langkahnya.
Lelaki itu menghela napas dan memutar arah pandangnya, "Bisa diem? Ini gue, Cakra."
Kinan terbelalak, "Cakra?!"
"Iya, ini gue."
"Jadi, kamu salah satu rekan dari pria-pria itu?!"
Cakra berdehem.
"Berarti kamu termasuk brengs*k juga?!"
__ADS_1
"Pengecualian."
Mengingat perbincangan Kinan dengan Agra, Kinan memundurkan langkahnya. Kinan awas terhadap Cakra. Apalagi Cakra agak mabuk. Kinan khawatir sesuatu hal terjadi. Menyadari gelagat aneh Kinan, Cakra menggapai lengan perempuan itu dan di tepisnya kasar.
"Jangan dekat-dekat!"
Cakra mengangkat satu alisnya, "Lo kenapa, Nan?" dia maju selangkah. Kinan mundur lagi.
"Plis, tetap di tempat."
"Tenang Kinan, gue nggak akan macem-macem ke lo. Lo percaya gue kan?"
"Pergi!" Kinan berteriak.
Cakra memandang sekitaran yang tampak makin ramai. Tidak ada yang terusik, tidak ada yang memusatkan perhatian ke arah mereka berdua. Cakra bingung. Kinan tidak biasanya begitu. Saat ini, Cakra ibarat seorang penjahat kelamin di mata Kinan. Cakra menoleh lagi ke arah kanan dan matanya membulat, tak sengaja melihat Agra yang barusan keluar dari kamar mandi klub.
Gila! Kalau Agra lihat Kinan ada di sini, bisa-bisa lelaki itu kembali menyakiti hati Kinan. Dan mata Cakra semakin mendelik, saat pandangan mereka bertemu. Cakra buru-buru menarik Kinan dan menghimpitnya ke dinding, memposisikan tubuhnya agar punggungnya lah yang bisa Agra tatap. Cakra berupaya menyembunyikan keberadaan Kinan. Posisi keduanya seperti sedang berciuman. Kinan menutup maniknya, mendapat pergerakan tiba-tiba itu. Dia membukanya lagi.
"Kamu mau apa Cakra?! Jangan mesum?! Pergi sana!"
Cakra mendesis, "Nething mulu sama gue. Ada Agra di sana kalau lo mau tau. Lagian buat apa juga gue begini ya," dia menggeser tubuhnya ke samping kanan, Kinan mengikutinya, "Gue mau pergi sesuai keinginan lo. Minggir."
"Jangan! Jangan! Tetap tutupin aku! Nanti ketahuan Agra! Dia bisa marah kalau sampai tahu aku kerja di tempat ini!" mohon Kinan.
"Bodo amat." Cakra bergeser, Kinan pun sama.
"Cakra baik deh, jangan pergi ya," melas Kinan seraya memasang puppy eyes.
Wajah imut Kinan terekam indah diingatannya. Sayangnya, Cakra hanya mampu mengagumi tanpa memiliki.
__ADS_1
Karena mau seberapa besar rasa sukanya, mau seberapa dalam rasa cintanya, sepenuhnya hati Kinan cuma untuk Agra. Cakra ikhlas dan mencoba menghapuskan rasa.