Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 32


__ADS_3

Pantulan cahaya matahari pagi, masuk melalui jendela yang baru saja di buka. Kicauan burung di atas pohon saling bersahutan. Suaranya begitu merdu jika di dengar dengan seksama. Tetesan embun paling senang menyentuh permukaan kaca. Apalagi dedaunan. Udara pun masih segar. Belum terkena polusi dari asap kendaraan.


Suara merdu yang sama sekali tidak membuat Agra terbangun dari tidur lelapnya, untuk sekedar menikmati segarnya udara di luar. Cahaya menyilaukan, juga tidak mempan.


"Ini anak, ngebo banget sih. Mentang-mentang hari libur," Agni, kakak Agra, ngedumel sendiri di samping ranjang adiknya. Dia bersidekap seraya geleng-geleng kepala melihat pulasnya Agra, "Cahaya udah silau begini, malah makin nyenyak."


"Woy! Agra! Bangun lo! Jam 7 nih!" Agni memang kakak paling sangar, judes, dan kasar, kalau kata Agra. Dia membangunkan Agra dengan cara menarik-narik kecil rambut Agra yang ketutupan selimut, "Pemalas banget jadi cowok! Nggak ada yang mau sama lo baru tau rasa!"


Agni menggeram kesal saat tidak ada reaksi apapun dan semakin menarik kuat rambut Agra. Masa bodo jika Agra marah. Agni tidak peduli lagi. Percayalah, Agni adalah tipe wanita yang tidak bisa menahan sabar dan mengontrol emosinya sendiri. Di rumah, pasti selalu ribut dengan Agra. Hal sepele pun di permasalahkan.


"Bangun, kebo! Jangan sampai gue siram muka lo pake air comberan depan rumah!" terus, Agni mencoba meneriaki Agra tepat di telinganya. Tidak lupa menariknya.


Rupanya, kekuatan Agni kali ini berhasil menggerakkan kedua mata Agra untuk terbuka. Agra menyibak selimut yang menutupi seluruh badannya. Kecuali rambutnya, "Apa apaan sih lo?! Telinga gue masih sehat, jangan lo buat sakit dengan suara toak lo itu! Keluar sana, gue mau tidur lagi!" usir Agra tanpa perasaan. Dia kembali memejamkan mata.


Desisan Agni tidak dapat terelakkan lagi, "Makanya bangun! Lihat noh, di luar udah cerah! Buruan mandi sana! Adira udah nungguin lo tuh di bawah! Masih nggak mau bangun juga lo, Gra?"


"Serius lo?" efek Adira memang sangat manjur. Terbukti, Agra langsung beranjak dari tempat tidur begitu mendengar nama sahabatnya disebutkan. Agra buru-buru mengambil handuk di sampiran kursi dekat meja nakas.


"Iyalah!"

__ADS_1


"Sejak kapan?"


"Dua jam yang lalu."


"****!" umpat Agra, "Kenapa lo nggak bilang daritadi, Kak?!" baru saja bibir Agni ingin bergerak ketika Agra menyalahkannya, Agra sudah menyelenong masuk ke dalam kamar mandi. Alhasil, Agni ikutan mengumpati adiknya yang tidak ada rasa terima kasihnya sama sekali.


"Untung aja lo ganteng, bisa gue bangga-banggain ke temen-temen kantor gue. Coba kalau jelek, nggak bakal gue anggep."


......


Sekitar setengah jam Agra berkutat di dalam kamar. Kini, laki-laki itu menuruni anak tangga dengan berpakaian rapi. Baju kaos hitam polos yang berhasil mencetak otot tubuhnya dipadukan celana jeans panjang warna navy. Sepatu converse, pemanis bagian bawahnya.


"Gue kira lo mati terguyur air dingin," sentak Agni, kesal bukan main.


"Bising," Agra duduk setelah menarik kursi kosong tepat di seberang kursi Adira, "Sana lo cuci piring. Menumpuk, minta di belai kesadisan lo."


"Berani lo ya nyuruh yang lebih tua," kata Agni tidak berniat menyuruh balik Agra dan malah berjalan ke arah wastafel. Kepergian Agni menyiptakan senyap di antara keduanya. Adira memberi roti buatannya pada Agra tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dengan sigap, Agra mengambilnya.


"Udah dua jam nunggu dan lo nggak berniat bangunin gue?" Agra bersuara tiba-tiba. Dingin serta datar. Ekspresinya pun tak ada.

__ADS_1


"Emang kenapa? Lagian gue suka nunggu kok," balas Adira santai sembari menyuapkan potongan roti kecil ke dalam mulutnya. Tidak menyadari jika laki-laki di depannya, memperhatikannya dengan intens.


"Termasuk nunggu Dosen Matematika itu balas perasaan lo? Iya?"


"Apaan sih, jangan sok tauan," Adira menghindari tatapan Agra jadi mengarah ke piring rotinya. Sebenarnya, pertanyaan Agra barusan memang benar adanya. Sampai sekarang Adira masih menunggu Nathan, membalas perasaannya walau Adira sendiri belum memberitahukan pada Nathan akan perasaannya melewati sebatas Mahasiswa dan Dosen. Adira ingin hubungan lebih dari sekedar itu.


"Dari pancaran kedua mata lo aja gue tau, kalau saat ini lo lagi bohong ke gue. Jujur, cinta lo bertepuk sebelah tangan kan?" tanya Agra tanpa pikir panjang. Tidak tahu pertanyaannya itu berefek besar pada Adira.


"Kalau iya, masalah buat lo?" Adira merasa jatuh karena Agra, padahal kalau di pikir-pikir pertanyaan Agra tidak salah sama sekali. Adira sangat jengah. Lantas, dia mendorong kursinya ke belakang dengan kasar lalu berdiri, memandang Agra datar, "Nyesel gue minta ditemenin ke kampus, kalau ujungnya gue tau lo nerima ajakan gue cuma buat mancing amarah gue. Lo nggak perlu repot-repot anter gue, gue bisa sendiri!" ujar Adira tajam dan langsung pergi begitu saja setelah mengangkut semua barang-barangnya.


Apa Agra salah bicara? Dia kan hanya mengutarakan isi pikirannya secara jujur? Kenapa Adira marah? Apa karena memang cinta Adira bertepuk sebelah tangan? Ataukah ada hal lainnya?


"Jangan ambekkan kayak anak kecil, Ra," kata Agra. Adira memilih tidak mendengarkannya dan terus melewati pintu utama.


Melihatnya, Agra menghela napas lelah. Dia berlari dengan tergesa-gesa mengejar langkah Adira, kemudian menggapai tangan perempuan itu begitu jarak keduanya dekat. Adira menyentak kuat tangannya hingga pegangan Agra terlepas, "Lo boleh marah sama gue, tapi, lo tetap gue anter ke kampus sampai urusan lo selesai sama Pak Nathan."


"Nggak perlu! Ojek banyak!" Adira berjalan lagi meninggalkan Agra.


"Udah, ayo. Gue kan ojek pesanan lo." berakhir dengan penolakan telak, Agra tidak peduli.

__ADS_1


Bukankah janji yang telah terucap dari mulut seorang lelaki harus ditepati?


__ADS_2