Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 53


__ADS_3

Kalau cinta sudah mengambil alih kendali, jatuhnya ada dua kemungkinan; menjadi bucin atau merelakan harta paling berharga.


......


Matahari perlahan terbit, menampakkan singgasananya. Seberkas cahaya mulai merambat masuk melalui celah-celah gorden yang sedikit tersibak. Hawa dingin dari mesin pendingin pun juga tak mempan membuat tubuh ringkihnya bergerak. Kinan terlalu letih sekedar menyibakkan selimut yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya, kecuali kepalanya.


Semalaman menangis, tentu menguras tenaganya. Bayangan dua orang yang saling bersenda gurau masih memenuhi ruang memorinya. Seakan betah menetap di sana. Kinan tidak bisa menampik bahwa Agra terlihat sangat bahagia bersama Adira, kalah banding jika dengannya. Tawa lepasnya sungguh menyesakkan dadanya. Kinan iri. Sangat iri.


Yang menjadi pertanyaannya saat ini, kenapa Agra mengingkari janjinya? Kenapa Agra selalu membuatnya menaruh harapan lebih? Kenapa Agra menerbangkannya setinggi langit lalu kembali dihempaskan ke dasar bumi?


Apa janji yang Agra ucapkan hanya main-main? atau karena sosok Adira terlalu penting bagi Agra sehingga dirinya dinomorduakan? Atau dua-duanya memang benar adanya?


Kinan butuh jawaban. Kinan membutuhkan itu tapi tidak berani menanyakannya kepada Agra. Kinan terlalu takut Agra marah lalu pergi meninggalkannya. Kinan takut usahanya putus begitu saja di tengah jalan. Kinan sudah mendapatkan hati dan perhatian lelaki itu. Kinan tidak ingin semuanya berakhir mengenaskan hanya karena keegoisannya hingga tak bisa mengerti hubungan persahabatan yang terjalin antara Agra dengan Adira.


Mungkin justru kebalikannya, Agra egois, memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaannya setelah diberi harapan palsu. Bahkan, setelah Kinan mencoba melupakan apa yang terjadi, seolah-olah Agra menyaksikan permainannya, Agra sama sekali tidak meminta maaf padanya. Ibarat Agra tak mempunyai kesalahan apapun. Yang Kinan lakukan, menunggu dan menunggu. Menunggu satu pesan masuk ke ponselnya, berisi penjelasan kenapa lelaki itu tidak ada saat dirinya tampil.


Sampai sekarang kehampaanlah yang Kinan dapatkan. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan telepon. Tidak ada Agra yang tiba-tiba datang dan menggumamkan kata maaf.


Kinan tahu, dia bodoh. Kinan tahu, dia mudah memaafkan. Kinan tahu, dia perempuan kuat yang kerjanya meredam segala sakit yang menderanya. Dan Kinan juga tahu kalau dirinya akan terus terluka karena mencintai Agra.


Ini pilihannya. Apapun konsekuensinya, Kinan harus menerimanya.


Termasuk tak dijadikan prioritas utama.


......


Rasanya butuh perjuangan untuk sampai di kamar mandi. Kinan menatap horor pantulan dirinya di depan cermin. Kedua mata sembab, hidung memerah, lingkaran hitam menggantung di bawah mata. Penampilan Kinan benar-benar kacau pagi ini.


Segera melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya, Kinan menjatuhkan dirinya ke dalam bathup, beredam kira-kira lima belas menit agar penat yang dia rasakan berkurang. Seusai itu Kinan bangkit, mengambil handuk di belakang pintu kemudian melilitkannya ke tubuhnya.


Betapa terkejutnya Kinan saat mendapati Zerina sudah berdiri manis, menunggunya.


"Kinan, gue laperrrrr," rengek Zerina bergelayut manja di lengan Kinan, "Pingin pancake, Nan. Tapi nggak tau cara bikinnya," dia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Kinan menyipitkan matanya, penasaran, "Terus kenapa ngaduh ke gue?"


"Buatin, ya?" Zerina memasang puppy eyes andalannya. Menghadirkan kekehan ringan dari arah Kinan. Kinan melepaskan gelayut Zerina dan melangkah menuju lemari baju, mengambil baju panjang berbahan rajut serta celana jeans hitam lalu memakainya. Menghiraukan permohonan sahabatnya itu. Kinan sengaja.


"Kinan, ayolahh buatin gue. Nggak kasihan apa sama perut rata gue? Belum ada dikasih nutrisi sejak tadi malam," Zerina memelas, Kinan semakin terkekeh. Dia buru-buru menaburkan bedak ke area wajahnya dan memoleskan sedikit liptint agar bibirnya tak tampak pucat.


"Ihh, Kinan!! Kok gue dicuekin sih? Tau ah, kesel gue!!" Zerina mencampakkan dirinya di atas ranjang sembari cemberut.


Kinan menghampiri Zerina dan tanpa aba-aba mencubit pipi sahabatnya itu. Dia tersenyum gemas, "Iya bawel!! Gue buatin!! Puas lo?" dia menjauhkan tangannya.


Pekikkan senang pun tak terelakkan lagi. Zerina menerjang Kinan. Dia memeluknya tanda sayang, "Tengkyuu sahabat yang paling pengertian!! Luv deh sama lo."


"Giliran gini aja luv-luvan. Dasar." dengus Kinan. Zerina menyengir lebar. Kinan meraih tas slempangnya di samping lampu tidur, "Tapi gue beli bahan-bahannya di supermarket dulu ya, Na. Di kulkas lo nggak ada apa-apa soalnya. Bentar aja kok. Nggak lama."


"Ay, ay, kapten!" Zerina berseru seraya mengeluarkan beberapa lembar uang biru dan memberikannya pada Kinan.


Kinan mengernyit, "Untuk apa?"


"Buat lo belanjain lah Kinan. Kan gue yang mau, ya pake uang gue dong. Masa iya pake uang lo."


Kinan menggeleng, "Nggak usah, Na. Lo simpen aja. Lagian gue numpang di sini. Anggap aja gue bayar uang sewa apartemen dengan beliin bahan-bahan makanan untuk kita makan."


Tepukan kuat mendarat indah di punggung Kinan. Zerina melotot ke arahnya, "Gue ini sahabat lo. Berarti rumah gue juga rumah lo. Nggak ada istilah numpang apalagi bayar sewa. Inget itu."


"Sori, Na," Kinan mengutas senyum tulus, "Yauda deh, gue pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik."

__ADS_1


"Siap, Bos!!"


......


Dalam kurun waktu dua puluh menit, Kinan selesai berbelanja dan membayarnya ke kasir. Kinan berjalan keluar supermarket membawa dua kantung plastik berlogo di tangan kanan dan kirinya. Letak tempatnya cukup dekat dengan apartemen Zerina. Tinggal jalan kaki beberapa meter saja sampai.


Mengamati jalanan raya sudah ramai para pengendara yang berlalu lalang, Kinan bersiap akan pulang, namun dering ponsel di saku celananya, mengurungkan niatnya. Kinan memindahkan kantung plastik yang satunya ke tangan kirinya lalu meraih benda pipih itu dan helaan napas meluncur bebas dari bibirnya.


Nathan meneleponnya. Lebih dari sepuluh kali. Kinan baru tahu setelah mengeceknya. Kembali menyimpannya ke dalam saku, kali ini Kinan terkejut bukan main saat belanjaannya tiba-tiba ditarik secara paksa oleh seorang lelaki bertopi. Setelah Lelaki itu melangkah menjauh. Kinan kelabakan dan mengejarnya.


"Heii, pencuri! Tunggu!!! Itu punya saya, jangan kamu ambil!"


"Heii!!! Kalau nyuri pake otak Mas! Itu barang murahan! Nggak bakal laku kalau dijual lagi!" tambahnya.


Percuma saja. Teriakan Kinan teredam oleh suara knalpot kendaraan. Kinan mengerahkan kemampuan berlarinya, demi barangnya yang lelaki itu curi. Menyusuri sepanjang trotoar. Maniknya terus memburu lelaki itu sampai dia melihatnya masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir di sisi jalan, Kinan secepat kilat ikut masuk ke kursi penumpang depan.


"Yaelah Mas! Punya mobil kok kerjaannya mencuri sih!" tandas Kinan kepada lelaki itu. Wajahnya ketutupan topi, tidak terlalu jelas terlihat.


"Jadi gimana sama para pejabat yang kaya raya dari sananya, tapi kerjanya korupsi uang negara?" lelaki itu menyeletuk sembari melepaskan topi di kepalanya lalu menoleh dengan seringai nakalnya.


"CAKRA?!" pekik Kinan.


"Iya ini gue, Cakra. Bukannya Mas-mas ataupun pencuri seperti yang lo sebutkan tadi."


Mengumpulkan kekuatannya, Kinan memukuli bahu Cakra, "Rese banget sih kamu!! Rasain nih pukulanku!" Kinan dengan brutal terus melancarkan aksinya seakan Cakra adalah drum, "Nggak tau apa kalau aku tuh syok! Kamu malah jahil kayak gini! Aku kira beneran pencuri!"


Cakra sebisanya menghalau tangan-tangan mungil itu dari jangkauannya sambil terkekeh ringan, "Iya maaf-maaf gue udah ngerjain lo. Tapi sumpah, ekspresi lo lucu banget kalau panik gitu."


"Nggak usah ketawa!"


"Oke-oke, gue berhenti," Cakra benar melakukannya. Dia memperhatikan wajah manis penuh kekesalan itu kemudian menghidupkan mesin mobil dan melajukannya. Kedua kalinya Kinan panik.


"Eh, eh, ini mau kemana? Tolong turunin aku di sini, Cakra! Aku mau pulang!" Kinan memberontak seraya menyenggol-nyenggol lengan Cakra.


Teringat peringatan Agra untuk tidak dekat-dekat dengan Cakra, Kinan kembali berseru, "Aku nggak mau! Jangan paksa aku, Cakra! Aku nggak mau berhubungan sama kamu lagi! Kamu itu orang jahat! Kamu itu laki-laki brengs*k!"


Cakra manggut-manggut, mengiyakan saja. Dia fokus mengendarai mobilnya ke tempat tujuannya, "Gue tau pasti lo bakalan nolak semisal gue ngajakin lo secara terang-terangan. Jadi, mau nggak mau gue lakuin hal tadi supaya lo bisa gue bawa pergi tanpa harus ada acara kabur-kaburan segala."


Kinan mendelik marah, "Kamu gigih banget sih?! Aku tuh nggak mau ketemu kamu!"


"Ya, ya, terserah lo mau ngomong apa. Intinya lo nggak bisa lari kemana-mana lagi."


"Aku teriak, nih?" ancam Kinan.


"Teriak aja."


"Aku serius, Cakra!"


"Gue dua rius."


"BODO AH! AKU MARAH!"


Memilih mengedikkan bahu, tidak peduli, Cakra menyetel musik keras-keras demi kesehatan telinganya yang sebentar lagi akan rusak mendengar teriakan cempreng perempuan itu.


......


"Ini kita di mana, Cakra?" Kinan bertanya saat Cakra membawanya ke sebuah rumah bergaya minimalis yang terletak di komplek elit di pusat Kota.


Sengaja mengabaikan pertanyaan itu, Cakra menarik knop pintu, mempersilahkan Kinan masuk lebih dulu. Kinan langsung menggeleng seraya bersidekap.

__ADS_1


"Kamu mau mesumin aku ya?!" tuding Kinan, "Ayo ngaku!"


"Gue mana selera sama bentuk badan kerempeng macem lo. Isinya cuma tulang sama buntelan kentut doang. Nggak ada nikmat-nikmatnya." ujar Cakra, bercanda.


Kinan mendelik, tidak terima, "Enak aja! Gini-gini banyak yang mau sama aku! Jangan salah!"


"Oh, ya?" Cakra mendekatkan bibirnya ke telinga Kinan, "Gimana dengan Agra? Mau nggak dia sama lo? Gue yakin sih dia berpura-pura mencintai lo dengan tujuan tertentu." ucapnya sadis. Semata-mata agar mata dan pikiran bodoh Kinan terbuka lebar. Cakra memang tidak tahu menahu soal Agra yang tiba-tiba berubah menjadi lembut terhadap Kinan. Ini hanya tebakannya saja sebagai sesama lelaki.


Mimiknya berubah datar. Kinan berlalu dari hadapan Cakra dan masuk ke dalam rumah itu meski dia bingung ini sebenarnya tempat tinggal siapa. Kalaupun benar apa yang Cakra katakan perihal kepura-puraan Agra, Kinan sangat ikhlas menerima kenyataan pahit itu. Ini konsekuensinya dalam mencintai. Kinan harus tetap tegar.


Kalut dengan pikirannya sendiri sampai-sampai Kinan tidak sadar sudah berada di ruang keluarga lengkap bersama ketiga manusia itu menatapnya dengan ekspresi berbeda-beda.


Nathan dengan keterkejutannya. Ana dengan alis saling bertautan sementara Keyla bertampang biasa saja.


"Na--nathan?" Kinan gagu.


"Kinan? Kamu ngapain di sini?" Nathan berdiri, menghampirinya. Kinan mundur selangkah. Nathan menggantungkan langkahnya di dekat sofa, "Panggilanku kenapa kamu abaikan?"


"Maaf. Aku salah alamat," Kinan enggan menjawab. Dia berbalik untuk pergi, Cakra yang datang dari arah lorong, menahannya.


"Minggir!" ucap Kinan dingin.


"Gue nggak denger."


Kinan mendengus. Dia bergeser ke kanan, Cakra juga melakukan hal yang sama. Dia ke kiri, Cakra juga. Kinan menggeram marah.


"Kamu apa-apaan bawa aku ke sini?! Kenapa ada pria itu?! Ini sebenarnya kenapa?! Apa rencana kalian?!"


Cakra menghela napas, "Gue bawa bukti bahwasannya gue bukan laki-laki brengs*k seperti yang Agra bilang ke lo waktu itu. Agra salah paham. Wajar kalau dia ngewanti-wanti lo untuk nggak berdekatan sama gue. Dia takut kejadian yang menimpa kekasihnya di masa lalu juga lo alami."


Kinan mendesis, "Emang kamu yang hamilin Ana, kan? Jangan ngelak!"


"Aku lelaki brengs*k yang kamu maksud, Kinan," sahut Nathan. Keadaan disekililing mereka mendadak terasa canggung dan mencekam. Ana yang paham, langsung menyuruh Keyla masuk ke dalam kamarnya. Tersisa keempat manusia yang saling pandang.


Kedua maniknya terbelalak, Kinan menggeleng sambil tersenyum masam, "Kamu nggak usah ikut-ikutan, Nat."


Ana maju dan berdiri tepat di samping Nathan. Dia mengambil alih perhatian mereka, "Nathan berhak ikut campur karena itu faktanya."


Kening Kinan mengerut, "Kamu siapa?"


"Aku, Ana. Mantan kekasih Agra."


Kinan menatapnya dengan tatapan tak percaya. Sepersekian detik, Kinan tertawa meremehkan, "Oh, jadi kamu yang nyakitin Agra sehingga sampai sekarang Agra trauma berhubungan dengan perempuan lain," Kinan mengikis jaraknya keduanya, "Kamu tahu? Selama ini aku menderita itu karena kamu! Karena ulah kamu di masa lalu, Agra nggak akan pernah bisa balas perasaan aku! Dia nggak tersentuh! Dia kejam! Dan aku selalu menjadi sasaran dari kesakitannya! Dan satu lagi, kamu juga yang membuat Agra sangat membenci Cakra! Kamu biang masalah! Kenapa kamu harus kembali lagi ke negara ini?! Kenapa?!"


"KINAN! JAGA BICARAMU!" Nathan membentak. Sungguh dia kelepasan. Melihat Ana menangis, dadanya sedikit terkoyak sedemikian rupa. Nathan memeluk Ana yang senggugukan. Tentu, Ana merasa paling bersalah di sini.


Hati Kinan mencelos. Dia memandang Nathan nanar penuh kebencian.


"Kamu pikir, setelah kamu mengakui kalau kamu yang menghamili Ana, aku akan bersikap seperti biasanya, menganggapmu sebagai Abang tiriku lalu hubungan saudara kita kembali membaik, begitu?" sarkas Kinan, "Kamu salah besar, Nathan! Aku malah semakin tidak ingin mengenalmu! Ternyata dibalik perhatian dan kelembutanmu memperlakukanku selama ini, kamu adalah pria murah*n! Kamu brengs*k! Cocok kamu sama Ana!"


Nathan dikabuti emosi mendengar nama Ana disebut. Ana buru-buru menahan lengan Nathan yang hendak menampar Kinan.


"Ah, sudahlah. Aku rasa nggak ada yang perlu diperbincangkan lagi. Kalau begitu, aku pamit undur diri," Kinan berbalik dan sekilas melirik Cakra yang diam mematung, "Cakra anterin aku pulang." dia melenggang disusul Cakra.


Merasa ucapannya sangat keterlaluan. Kinan tidak peduli. Asal kata-katanya tadi mampu membuat Ana menyesali perbuatannya.


Ya, tanpa Kinan mengingatkannya. Ana sudah menyesalinya.


....

__ADS_1


Btw cerita ini tuh udah tamat sebenarnya. Bahkan udah ada season 2 nya.


Buat yang nggak sabar nunggu updatenya dan penasaran bisa lihat di akun wattpadku. Klik ayufaziraa di kolom pencarian. Ntr muncul kok:)


__ADS_2