Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 14


__ADS_3

"Gra, gimana soal pemain piano wanitanya? Udah dapat siapa yang bakal ngisi?" tanya Abyan yang sedang mengaduk-aduk jus alpukat pesanannya.


Tepat, kurang dari sebulan yang akan datang, acara ulang tahun kampus, akan dilaksanakan. Tetapi sampai saat ini, terhitung dari hari terakhir panitia acara rapat, Agra sama sekali belum menemukan siapa yang akan menjadi pengisi acara di bagian terakhir acara.


Yang di tanya menggeleng santai. Fokusnya masih pada ponsel di tangannya.


"Belum. Ketemu sama Dosen musiknya aja, enggak," Agra berucap santai.


Abyan dibuat terdiam di posisinya. Matanya setengah melebar, "Gila! Kemana aja lo beberapa hari ini?! Kurang dari sebulan Bro! Santai banget lo!" cercanya.


"Hidup dibawa santai. Nggak usah terlalu terburu-buru," Balas Agra. Kemudian, dia menyesap jus kuini, pesanannya.


"Masalahnya, besok rapat panitia lagi, pinter! Faris pastinya bakal nanyain lo soal perkembangan tugas yang lo emban," ujar Abyan mengingatkan.


Agra menatap Abyan dengan raut biasa saja, tidak kepanikan. Tenang bagai air, "Gue tau. Nanti, gue bakal nemuin dosennya lagi. Siapa tau hari ini ada jadwal dia ngajar."


Abyan mengangguk, mengerti. Detik selanjutnya, kedua lelaki itu menoleh ke arah Afka yang sejak tadi diam sambil menatap layar ponselnya. Seolah dunia miliknya sendiri.


Kepala Afka terus saja tertunduk, sesekali dia tersenyum melihat benda pipih di genggamannya.


"Lo lagi liat apaan sih, Ka? Serius amat dah. Liat bokep ya lo?!" Abyan memajukan kepalanya, mencoba melirik isi ponsel Afka yang duduk di depannya.


Cepat-cepat Afka menjauhkan ponselnya, takut jika temannya itu melihat isi pesannya dengan maba perempuan yang beberapa hari lalu tak sengaja bertemu di depan lab komputer.


Afka menatap Abyan galak, "Dih mau tau aja lo Yan! Kayak netizen kurang asupan lo lama-lama!"


"Alah! paling chattingan sama Mpok Soimah," tebak Abyan asal. Dagunya menunjuk ke arah sudut kantin, terlihat perempuan bersanggul sedang sibuk melihat ponsel. Jemarinya menari-nari di atas layar, seperti sedang bertukar pesan dengan seseorang.


Persis seperti yang Afka lakukan. Dan itu sangat Abyan curigakan. Afka langsung menoleh ganas, mengikuti arah pandang Abyan.


"Jangan-jangan lo beneran chat sama Mpok Soimah Ka?" tuding Abyan semakin memancing kekesalan Afka.


Tidak terima, Afka menjitak kepala Abyan kuat, tak peduli jika temannya itu meringis kesakitan.


"Sakit gila!"


"Sukurin! Siapa suruh lo ngomong gitu! Rasain akibatnya!" kesal Afka. Kekepoan Abyan membuatnya jengah.


Sebenarnya Afka tidak masalah akan hal itu. Tapi kali ini privasi tentang masalah percintaannya. Dan Afka tidak mau kedua temannya mengetahuinya, sekarang. Karena perempuan yang bertukar pesan padanya, masih berstatus gebetan, belum berstatus pacarnya.


Abyan balik menyerang. Dia memiting leher Afka ganas, "Sukurin juga lo! Siapa suruh maen rahasia-rahasian kayak detektif!" Abyan membalikkan ucapan Afka.


Afka mencoba melepaskan diri. Dia menyenggol-nyenggol bahu Agra, grasak, "Gra, temen lo ini, main kasar sama gue," tingkah Afka layaknya seorang perempuan yang sedang dianiaya.


Membuat Agra mendengus keras, "Lo memang pantes dikasarin."


Bibir Afka mengerucut, sebal. Agra sama sekali tak membelanya. Abyan sendiri tertawa kencang dan melepaskan tawanannya.


"Diem lo kutu! Berisik suara lo!" kekesalan Afka semakin bertambah karena Abyan menertawakannya.


Suasana kantin yang sepi, membuat mereka dengan leluasa melempar candaan dan bersuara keras. Tidak takut jika menganggu aktivitas orang lain.

__ADS_1


Agra melirik Arloji di pergelangan tangan kirinya, teringat akan tugasnya, "Gue cabut duluan," dia bangkit berdiri. Bertos ala-ala lelaki dengan Abyan dan Afka.


"Hati-hati Bro!" ucap keduanya serentak.


Agra menyampirkan tasnya ke bahu, berjalan sambil menelusupkan satu tangan ke dalam saku jaket almamaternya. Setiap perempuan yang dilewatinya, memandang Agra tanpa berkedip. Wajah dingin itu semakin membuat para wanita jatuh cinta. Daya tarik yang dimiliki Agra begitu kuat.


Namun, semacam ada benteng kokoh di diri Agra sehingga dia tidak ingin berdekatan dengan wanita manapun kecuali ibunya, kakaknya dan Adira---sahabatnya.


Langkah lambat Agra terhenti. Tubuhnya mematung. Mata tajamnya, menatap lurus ke depan. Menatap perempuan berkucir satu dengan napas tak beraturan. Seperti habis berlari, sedang memandangnya berbinar.


Agra merutuki diri dalam hati. Sudah salah memilih jalan. Pandangannya menyapu sekitar. Pantas saja Kinan mengetahui keberadaannya. Sebab saat ini, Agra melewati kelas Ekonomi Manajemen semester satu. Di mana kelas Kinan berada.


"Agra! Akhirnya ketemu juga," Kinan mengatur napas sejenak, berusaha menstabilkannya kembali, sebelum melanjutkan perkataannya.


Diam. Itulah yang selalu Agra lakukan ketika perempuan itu mengusiknya.


Setelah dirasa sudah teratur, Kinan tersenyum ke arah Agra, "Ini buat Agra," Kinan menyodorkan surat cinta yang dia buat.


Agra melirik surat itu dalam keheningan. Beralih menatap binar di wajah Kinan, setelahnya, mengambil surat yang disodorkan untuknya dan menyimpannya langsung ke dalam tasnya. Pastinya, tanpa mengucapkan rasa terima kasih.


Kinan senang bukan main. Agra menerimanya tanpa melakukan penolakan, "Agra habis ini masih ada kelas?"


Diam lagi, menjadi bahasa Agra.


"Nggak ada ya?" tebak Kinan, "Temenin aku beli buku dong, Gra," Kinan sudah tahu respon Agra, selalu sama. Tapi Kinan tidak akan menyerah.


Agra sudah membuat Kinan cinta mati pada lelaki itu. Dan dia ingin meminta pertanggung jawaban Agra atas perasaannya yang terlanjur menggebu. Terdengar aneh memang. Tapi itulah sifat Kinan. Jika sudah suka pada satu orang, maka dia akan mendekatinya terus sampai dapat. Tipe wanita setia juga.


Tapi Kinan masih bisa tersenyum. Jika saja saat ini ada Zerina, Kinan pasti sudah ditarik menjauh dari pria tak punya perasaan seperti Agra. Agra melanjutkan jalannya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kinan. Dia sudah dikejar waktu. Takut seseorang yang dia cari, sudah pulang sebelum dirinya mendapat sebuah informasi penting.


Kinan mengejar, menyamakan langkah Agra, "Agra, kamu tau nggak? Tadi pagi aku lupa kalau kelas aku ada kuis dadakan, eh akunya malah nyamperin kamu. Padahal dosen Ekonominya Pak Broto, dosen terkejam. Terus ya, aku disuruh keluar sama Bapak itu, nggak boleh ikut kuis gara-gara telat masuk. Nilai aku jadi terancam, Gra," curhat Kinan panjang lebar, mengenai apa yang tengah dialaminya hari ini.


Sudah membujuk Pak Broto untuk mengadakan kuis susulan, tapi ditolak mentah-mentah. Kinan sudah pasrah akan nasib nilainya.


Agra berhenti, menghadap samping, menatap Kinan tajam, "Jadi, lo menyalahkan gue karena nilai lo terancam?!"


Kinan terbelalak. Agra salam paham. Kinan takut sendiri jadinya, "Eh, bukan gitu, Agra. Aku cuma cerita aja ke kamu. Nggak ada maksud nyalahin kok, bener deh," sungguh Kinan takut Agra marah. Dia saja tidak berani menatap mata elang milik Agra.


"Alah! Ngaku aja! Nggak usah banyak alasan lo!"


Refleks Kinan memegang lengan Agra, "Beneran. Aku nggak maksud gitu, Agra. Itu semua kesalahan aku, bukan kamu."


"Singkirin tangan lo dari lengan gue!" Agra membentak Kinan, membuat Kinan semakin takut. Pegangan itu pun terlepas, Kinan menundukkan kepala. Matanya sudah berkaca-kaca akibat bentakan Agra.


"Nggak ada yang nyuruh lo nemuin gue apalagi bawa makanan sampah seperti tadi pagi! Jadi gue nggak akan pernah iba sama apa yang terjadi sama lo! Mau nilai lo jelek, itu bukan urusan gue!" lanjut Agra. Suara lantangnya begitu nyaring di telinga Kinan, sampai-sampai kedua mata indahnya tertutup rapat. Takut menatap manik mata Agra yang berkobar api.


"Lo nggak ada bosen-bosennya apa gangguin gue? Gue eneg lihat muka lo!" ungkap Agra pedas. Tentu sangat menyakiti hati dan perasan Kinan.


Perlahan matanya terbuka, dia mendongak, menatap Agra sendu. Air mata sudah menggenang di sana, "Aku begini, karena aku suka sama kamu, Agra. Aku cinta sama kamu. Apa itu salah?" melemahnya suara Kinan tidak berefek apa-apa pada Agra. Malah emosi lelaki itu makin memuncak.


"Salah! Salah besar!" bentak Agra kuat, untung sekitar mereka sepi. Kalau tidak mereka sudah menjadi tontonan gratis, "Jangan pernah berpikir kalau gue bakal balas perasaan lo! Itu nggak akan pernah terjadi!"

__ADS_1


Setetes air mata jatuh. Hati Kinan seperti disayat pisau tajam. Luka itu semakin lebar dan terus melebar.


Melihat cairan bening menetes dari pelupuk mata Kinan, hati Agra tidak tersentuh. Menurutnya itu hanyalah air mata palsu. Fatal baginya, jika perempuan duluan yang menyukai dan menyatakan perasaannya.


Sangat murahan.


"Aku bakal nunggu kamu suka sama aku. Mau sampai kapanpun itu aku tunggu, Agra. Aku benar-benar cinta mati sama kamu." lirih Kinan, pilu.


"Lo kira gue peduli? Mimpi aja lo!"


Kata terakhir yang Agra ucapkan, setelahnya pergi meninggalkan Kinan yang terisak di posisinya bersama hati yang mulai hancur.


.......


Berhubung sudah dikejar waktu, Agra buru-buru ke ruang musik. Pikirannya terpecah belah. Agra mengingat lagi perkataannya pada Kinan yang terbilang cukup kasar. Apalagi Kinan sampai menangis karena perkataannya. Dia merasa tidak enak dan bersalah. Namun, di satu sisi, egonya berkata tidak usah meminta maaf. Dan Agra, memilih egonya mengambil alih dirinya.


Sungguh miris, Kinan!


Sesampainya di depan ruang musik, Agra membuka pintu setelah membuka sepatunya. Agra tersenyum saat seorang pria setengah baya menyambut kedatangannya. Pak Edo---dosen musik itu, sedang duduk santai di sofa, sudut ruangan. Agra mendekat. Pak Edo mempersilahkan Agra duduk tepat di sebelahnya.


"Saya sudah tahu maksud kedatangan kamu ke sini karena apa," Pak Edo memulai percakapan terlebih dulu.


Agra menaikkan sebelah alisnya, bingung. Melihatnya, Pak Edo tertawa kecil. Dia menepuk pundak Agra pelan, "Saya bukan cenayang, kalau kamu penasaran."


Agra tersenyum canggung.


"Faris-lah yang memberi tahu saya," lanjut Pak Edo.


Manggut-manggut, mengerti. Agra berdehem, dia menatap dosen itu, lekat, "Perkenalkan, saya Agra, Pak. Anggota panitia acara kampus, mewakili Faris, ingin menanyakan informasi tentang Mahasiswi Brawali yang mahir dalam bermain piano untuk mengiringi pemotongan kue ulang tahun pada saat terakhir acara. Faris merekomendasikan Bapak pada saya, karena kebetulan saya mendapat tugas mencari dan meminta persetujuan para pengisi acara. Hanya saja, saya belum mendapatkan pemain piano wanitanya," jelas Agra panjang lebar.


"Saya ingin meminta bantuan Bapak. Barang kali, bapak selaku dosen musik, mempunyai kenalan Mahasiswi yang bisa bermain piano," lanjut Agra.


Pak Edo tampak berpikir keras. Dia memang Dosen musik. Tapi, dia tidak mengetahui banyak soal itu. Rata-rata Mahasiswinya pandai bermain gitar dan biola. Bukan piano.


"Sepertinya tidak ada," jawab Pak Edo.


Dalam hati, Agra berputus asa, "Bapak, yakin? Coba Bapak ingat-ingat lagi, siapa tahu ada."


Pak Edo tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Matanya seketika berbinar cerah. Agra ikut-ikutan menegakkan tubuh. Dia sangat berharap pada dosen itu.


"Oh, ya!! Saya baru ingat!" seru Pak Edo, "Ada salah satu Mahasiswi Ekonomi yang sering berkunjung ke sini untuk sekedar meminta ijin memainkan piano. Bapak sering mendengarkan permainannya. Benar-benar membuat Bapak terpukau. Sangat bagus. Kalau kamu mau, Bapak bisa memberi nomor ponselnya, padamu."


Agra ikut senang. Akhirnya dia tidak perlu pontang-panting mencarinya lagi, "Boleh Pak. Tapi, kalau saya boleh tahu, siapa nama perempuan itu, Pak?"


Pak Edo tersenyum, "Kinan. Namanya, Kinanta Aurelia."


Agra mematung. Napasnya tercekat. Benarkah, dia orangnya?


Kalau benar, bagaimana cara Agra meminta persetujuannya?


Kau bisa membuatku menunggu selamanya, mendorongku, dan mengatakan tidak padaku. Tak masalah, aku tak mempedulikannya. Aku akan kembali ke hadapanmu. Lagi, lagi dan lagi. Bahkan sampai waktu yang tak bisa kutentukan.

__ADS_1


__ADS_2