
Aku berharap lebih, kamu tidak. Aku menyukaimu, kamu tidak. Sampai kapan tidakmu berganti iya?
......
Niat awal Agra ke Mall, menemani Adira belanja, namun harus berganti haluan menjadi ke sebuah restoran dekat Mall, menemani Kinan makan. Sosok perempuan yang sangat Agra hindari di mana pun dia berada dan sekarang harus bersamanya karena suatu alasan. Membiarkan Adira sendirian di Mall, berkeliling, dan membawa barang belanjaan sendiri demi rasa heran yang menggerogoti pikirannya ketika tak sengaja menemukan Kinan.
Bisa saja Agra berpura-pura tidak kenal atau pura-pura tidak peduli ketika melihat Kinan berjongkok sambil kesakitan, namun Agra masih punya hati. Masih punya rasa kemanusiaan pada sesama. Tidak mungkin dia membiarkan Kinan yang sangat butuh pertolongan. Dan dengan sedikit menurunkan egonya, jadilah sekarang, dia duduk berhadapan dengan Kinan.
"Agra kita ngapain ke restoran?" Kinan celingak-celinguk, menyapu pandangannya ke sepenjuru dalam restoran. Tidak banyak pengunjung.
Seperti biasa, raut wajah Agra datar, tanpa ekspresi, "Karaokean."
Jawaban Agra mengundang tawa renyah dari bibir Kinan. Kedua mata indah perempuan itu persis seperti bulan sabit jika tertawa. Bagi laki-laki lain, sangat sayang jika melewatkan pemandangan indah itu. Lain bagi Agra, tawa Kinan saja tak membuat kepalanya mendongak. Agra tetap menunduk seraya melihat-lihat buku menu.
"Kamu lucu deh, Agra. Tapi serius, kita mau ngapain ke sini?" polos Kinan.
Entah perempuan dihadapannya ini sangat polos atau pura-pura ****, Agra tidak mengerti. Akhirnya dia mengangkat kepalanya, menatap Kinan datar, "Makan."
"Agra belum makan?" tanya Kinan. Bahkan sakit perut yang dia rasakan beberapa menit lalu sudah sirna. Menghilang begitu saja sebab Agra, ada bersamanya. Wajah datar Agra bagai obat penghilang sakit perut. Hanya dengan melihatnya, maka sakitnya sembuh.
Diam bahasa Agra. Kinan paham dan mencoba membiasakan diri walau hatinya sakit tak mendapatkan respon.
"Oh ya, Agra kenapa tadi tiba-tiba ada di Mall? Mau belanja ya?" lagi, lagi, Kinan nyerocos. Meskipun lawannya tetap sama, membungkam.
Kedua kalinya, Agra diam. Laki-laki tampan itu memilih memesan beberapa makanan serta minuman daripada membalas pertanyaan yang Kinan lontarkan. Kinan sendiri tak kehabisan kata-kata karena di detik berikutnya, dia kembali mengoceh.
"Agra bareng siapa ke Mall?"
"Lo bisa diem nggak?!" bentak Agra. Intonasinya sedikit meninggi. Kinan sampai terdiam, takut, "Nanya mulu! Nggak capek mulut lo berkoak terus?!"
Kepala Kinan tertunduk dalam. Bisa dia rasakan matanya mulai memanas. Kinan memilin ujung bajunya. Raut yang ditampilkan Agra saat ini sangat menakutkan. Mata tajam Agra menembus sampai hatinya.
"Maafin aku, Agra. Aku kelewat seneng bisa jalan bareng kamu," Kinan berucap pelan.
"Udah gue peringatin, jangan terlalu senang sama gue. Ujungnya bakal sakit," kata Agra datar.
"Yang ngerasain sakitnya aku, Agra. Bukan kamu. Jadi Kamu nggak usah khawatir."
Agra mendesis, "Terserah lo. Sekarang lo makan."
Kinan menolak perintah Agra, "Aku nggak laper, Agra. Kamu aja yang makan. Aku lihatin kamu aja."
__ADS_1
"Gue ngajak lo ke sini karena lo belum makan! Jadi cepat makan!" tandas Agra dengan agak keras. Seperti membentak. Dia tidak peduli jika nada suaranya membuat Kinan takut.
Untung saja keadaan restoran semakin sore semakin ramai pengunjung hingga suara Agra yang lumayan keras mampu teredam. Kalau tidak bisa-bisa semua mata mengarah pada mereka. Mendapati raut Kinan seperti seseorang yang sedang di tawan mafia, Agra merendahkan intonasinya dan mencairkan ekspresinya sedikit lebih lembut.
"Lo tadi ngeluh perut lo sakit. Makanya gue ajak makan. Biar perut lo baikan."
Ada binar-binar bahagia saat tahu Agra mengkhawatirkannya. Hari ini sudah tiga kali Kinan merasa tak percaya dengan apa yang Agra lakukan. Pertama, Agra menyapu air matanya. Kedua, Agra menggendongnya, dan ketiga, di ajak makan di restoran.
"Jangan kegeeran. Gue cuma kasian sama lo."
Wajah Kinan berubah murung saat semua perlakuan manis Agra padanya hanya sebatas rasa kasihan. Sebatas rasa kemanusiaan kepada sesama. Sedetik kemudian dia kembali tersenyum. Tak apa jika itu cuma bentuk rasa kasihan, paling terpenting Kinan bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Agra.
"Aku tahu Agra. Salahnya, aku udah kegeeran duluan."
......
Sekitar setengah jam Agra dan Kinan berada di restoran. Keduanya sama-sama selesai menyantap makanan. Agra hanya memesan minuman lemon tea untuk dirinya sendiri. Sementara untuk Kinan, Agra memesan satu porsi nasi ayam kecap dan minumnya, jus buah naga dan air putih. Perut kosong perlu diisi makanan berat agar tercukupi sehingga nyeri perut yang dialami Kinan, mereda. Walau tidak langsung keseluruhan.
Nasi Kinan tidak habis. Tersisa sedikit lagi. Tak apa, yang penting perutnya terisi. Melihatnya, Agra pun tak mengeluarkan argumen apa-apa. Dia hanya menatap Kinan datar dan fokus pada ponselnya, mengirim pesan pada Adira bahwa sebentar lagi dia akan menyusul. Adira juga belum siap berbelanja.
"Agra, makasih ya kamu udah nolongin aku terus ngajak aku makan. Sakit perut aku juga udah mendingan sekarang. Sekali lagi makasih," ucap Kinan tulus seraya tersenyum lembut.
Agra berdehem sebagai balasan.
"Mall."
Kening Kinan mengerut, heran, "Agra mau beli sesuatu ya?"
"Enggak."
Kinan semakin bingung dengan jawaban Agra. Sangat singkat dan terlalu bertele-tele.
"Jadi?"
"Adira gue tinggal di sana. Gue pergi bareng dia tadi."
Mendengar nama Adira keluar dari bibir Agra, hati Kinan mendadak gelisah. Sedekat apa sih hubungan Agra dengan Adira? Kenapa mereka sangat dekat sekali kayak orang pacaran? Sebegitu pentingkah posisi Adira di hidup Agra? Kinan benar-benar cemburu pada Adira. Andai saja dia menjadi Adira, dia tidak harus merasa sesakit ini. Diabaikan dan ditolak oleh Agra. Menyedihkan.
Menuntaskan segala rasa penasarannya, Kinan memberanikan diri bertanya, "Agra, aku boleh nanya? Tapi jawab jujur ya?"
Deheman yang menjadi bahasa Agra.
__ADS_1
"Adira itu siapa kamu? Kalian kelihatan dekat banget. Pas di toko buku kamu juga bayarin belanjaannya Adira."
Agra duduk tegak. Matanya lekat menatap Kinan. Rasanya Kinan lagi dikuliti hidup-hidup oleh Agra. Tatapannya menusuk, "Intinya, sama berharganya kayak nyokap gue."
Sudah terbayangkan di benak Kinan bagaimana berharganya dan pentingnya Adira bagi hidup Agra. Kinan semakin iri. Rasanya dia ingin bersikap egois saja, hanya ingin dia yang terlihat berharga. Sederajat dengan Ibu Agra. Sama-sama berharga bagi laki-laki itu. Namun, semuanya semu. Kenyataannya, bukan dia orangnya. Adira-lah yang beruntung.
"Apa suatu saat nanti aku bisa menjadi seseorang yang paling berharga di hidup kamu, Gra?" tanya Kinan seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tanpa disadarinya, matanya berkaca-kaca.
Gerak-gerik tubuh Kinan diam-diam sudah Agra kuasai. Sudah cukup lama juga dia memperhatikan respon tubuh Kinan saat sedang bersamanya. Agra hafal setiap incinya, ketika Kinan senang, sedih, menangis, sakit. Agra sangat ahli menebak gestur.
"Tanpa perlu gue bilang, lo pasti udah tau jawabannya."
Begitu jawaban Agra terdengar, bahu Kinan merosot. Dia dengan sekuat mungkin menahan bulir air matanya yang hendak meluncur bebas. Apa salah dia ingin menggapai bintang paling terang? Apa salah dia menginginkan Agra, jatuh kepelukannya?
Perlahan, Kinan mengangkat kepalanya sambil mengulas senyum. Senyum paksa dan lirih, "Iya, aku sangat tau jelas."
Hening mengambil alih keduanya. Sengaja membiarkan mereka berpikir. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tak ada tanda-tanda salah satunya membuka mulut. Suara getaran di atas meja-lah, mengalihkan perhatian Agra dan Kinan. Lampu dari ponsel Kinan menyala-nyala, tanda pesan masuk.
Cakra
Gue butuh lo. Lo lagi di mana?
Tak butuh waktu lama untuk Kinan membalasnya. Balasan atas keadaan terdesaknya.
To: Cakra
Aku juga butuh kamu. Aku lagi di restoran dekat Mall, pusat kota.
Selang beberapa detik, pesan baru dari Cakra, masuk.
Cakra
Tunggu di situ. Gue otw.
Selesai mengirim balasan, Kinan terus saja memegang ponselnya. Berharap Cakra cepat datang sebelum cairan bening yang sedari tadi dia tahan, jatuh dihadapan Agra. Dia sudah cukup menyedihkan. Dia tidak ingin semakin menyedihkan dengan menangis di depan Agra. Toh, Agra tetap akan menolaknya.
Kinan bernapas lega saat yang ditunggu-tunggunya, akhirnya sampai. Kinan buru-buru membereskan tasnya dan berdiri. Agra sempat heran dibuatnya.
"Agra, aku balik duluan ya. Makasih udah traktirin aku makan. Agra hati-hati pulangnya," Kinan berpamitan seraya tersenyum sendu.
Tanpa menunggu balasan Agra, Kinan menenteng tasnya dan keluar dari restoran. Berjalan ke arah Cakra yang menunggunya di area parkiran. Cakra memberi Kinan helm dan dia menerimanya serta memakainya. Kinan naik ke atas motor ninja milik Cakra. Keduanya pun melesat pergi.
__ADS_1
Agra yang semulanya ingin menuju ke mobilnya, mendadak menghentikan langkahnya. Dia menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyuman miring. Ternyata Kinan sama seperti ucapannya waktu itu.
Murahan.