
Kalau kalian nemu kata yang di sensor, tolong kasih tau aku ya temen-temen. Terima kasih
.....
Demi cinta yang begitu besar, demi kasih sayang yang tiada duanya, demi menjaga seseorang yang tak mengharapkan kehadirannya, Kinan rela duduk di ruangan berpenerangan minim ini. Menyerahkan diri hanya karena tak ingin terjadi sesuatu hal buruk menimpa Agra. Berdua dengan sang Investor. Berpakaian seksi pula. Paha putihnya sangat menggoda. Terbukti, mata pria itu tak berkedip barang sedetik pun.
Seusai Brown menjatuhkan dua pilihan tersulit untuknya. Dengan berat hati, Kinan memilih opsi pertama. Membiarkan dirinya rusak agar Agra tetap aman dan terjaga.
"Namamu siapa cantik?" pria itu mencolek dagu Kinan. Kinan risih, tak mau menatap lawan bicaranya.
"Kinan, Pak," jawab Kinan pelan.
"Jangan panggil saya Pak. Saya tidak setua itu. Panggil saja saya Alex, mengerti?"
"Baik, Pak. Eh, maksudnya.. Alex," cicit Kinan seperti hembusan angin. Meski jaraknya dengan Alex agak jauhan, hawa di sekitarnya mendadak tak mengenakan.
"Nah, gitu kan enak di dengar, sayang. Ayo, kemarilah, merapat padaku. Aku ingin melihat wajahmu dari jarak dekat," Alex menepuk sisi kosong sofa dengan kerlingan nakal.
Kinan diam. Tidak bergerak. Jemarinya bergetar. Bulu kuduknya entah kenapa naik dan membuatnya merinding. Apalagi kamar yang terletak di lantai paling atas gedung klub, sengaja di pasang lampu berpencahayaan temaram. Kinan merapal doa dalam hati semoga saja pria ini berbaik hati melepaskannya tanpa berpikiran melecehkannya. Sungguh, Kinan sangat takut.
"Cepat, kemarilah," ujar Alex menarik lengan Kinan sampai tubuh Kinan menubruknya.
"Aw!"
"Sakit, sayang? Maafkan aku sudah berlaku kasar padamu." Alex berniat mencium bibir Kinan, Kinan segera menahan dada Alex agar tidak bersentuhan dengan bagian depan tubuhnya, "Apa yang kau inginkan dariku, Alex?"
"Aku ingin menyicipi bibirmu," kata Alex penuh hasrat. Penampilan Kinan menaikkan nafsu birahinya. Alex memajukan tubuhnya agar lebih dekat. Kinan kembali menahannya.
"Tidak, Alex! Aku tidak mengijinkanmu merenggut ciuman pertamaku! Bibir ini hanya untuk Agra, lelaki yang aku cintai. Bukan kamu!"
Rahang Alex mengetat, urat-urat di lehernya menggembung, bunyi gemeletak gigi terdengar, mampu membuat siapa saja ngilu mendengarnya. Dia mencengkram sisi wajah Kinan. Sorotnya menajam, "Siapa itu Agra?!"
Tenaga Alex sangat kuat, cukup untuk menyakitinya yang rapuh. Kinan tidak bisa bergerak karena ulah Alex, "Dia kekasihku!"
"Kau?!" Alex semakin mencengkeram sisi wajah Kinan, "Berani sekali menyebut nama pria lain di depanku! Kau harus di beri pelajaran?!" tambahnya langsung mengangkat tubuh Kinan lalu dihempaskannya ke atas ranjang. Kinan takut sekali. Dia cuma bisa mundur perlahan sampai punggungnya menabrak kepala tempat tidur. Kinan tidak bisa lari kemana pun. Alex mengunci tubuhnya dengan kedua tangannya. Alex menghirup wangi yang menguar dari rambut Kinan. Memabukkan. Cardigan yang Kinan pakai, hendak di lepas oleh Alex. Kinan menahannya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Pergi! Jangan coba-coba menyentuhku, brengsek!" teriak Kinan tepat di depan wajah Alex. Alex menggeram, marah.
Dengan murka, Alex mengoyak paksa cardigan Kinan. Melemparnya ke sembarang arah, "Malam ini, seutuhnya kau akan menjadi milikku, sayang," kata Alex bergairah dan suaranya bagai kaset usang di telinga Kinan.
Kinan menangis sejadi-jadinya. Air matanya meluruh, jatuh. Menyayangkan nasibnya, sangat menyedihkan. Kepala Alex menelusup masuk ke lekukkan leher putihnya, Kinan berontak dengan cara mendorong kuat tubuh Alex. Mendapati serangan tiba-tiba, Alex makin mengeluarkan seringainya. Kinan berlari, memungut tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Satu-satunya cara agar dia terlepas adalah menelepon Agra. Ya, hanya itu yang bisa dirinya perbuat selagi Alex diam, duduk di tepi ranjang.
Nada telepon tersambung, Kinan bernapas lega, namun Agra tak kunjung mengangkatnya. Berulang kali, tetap sama. Tidak di jawab. Kinan memaki ponselnya sendiri. Sekali lagi mencoba, Kinan terisak. Saat ini dia sangat butuh pertolongan Agra. Saat-saat menegangkan begini, nama Nathan dan Cakra tak terlintas sedikit pun di pikirannya. Sampai akhirnya ponselnya dirampas paksa oleh Alex dan dihancurkannya dengan sepatu miliknya. Alex menyeret Kinan secara tidak berkemanusiaan. Menindih tubuh mungil Kinan di bawah kungkungannya. Alex tertawa puas melihat ketidakberdayaan Kinan sebab terkuras habis menangkis pergerakan pria itu.
"Nikmatilah malam panjang kita, sayang," bisik Alex di telinga Kinan. Bisanya Kinan, menangis, meluapkan luka di hati.
Bugh!
Suara tangan menghantam kulit, terdengar nyaring. Kinan menutup matanya. Cairan bening itu terus mendesak keluar.
"BANGS*T! MATI LO DI TANGAN GUE! MATI LO BRENGSEK!"
Nasib baik, tanpa meminta pertolongan padanya, Cakra lebih dulu datang dan merentangkan sayapnya lebar-lebar.
Iya, Cakra malaikat kedua yang menolong hidup Kinan.
"Bilang ke gue, bagian tubuh lo yang mana, yang udah di sentuh set*n itu?!" Cakra bertanya keras. Emosi menguasinya.
Selepas berhasil membawa Kinan kabur, Cakra sengaja melajukan motornya ke arah Apartemennya. Tidak mungkin dalam keadaan kacau, Cakra memulangkan Kinan ke rumahnya. Tengah malam pula.
Kinan terus terisak. Dia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan. Melihat itu, Cakra meraih selimut di dekatnya, membungkus tubuh Kinan yang terekspos. Kinan memakai gaun yang diberikan oleh Brown, tadi sore.
"Jawab gue, Kinan?! Biar gue bunuh brengs*k itu sekarang juga!" kata Cakra menggebu-gebu. Amarahnya memuncak.
Suara tangisan Kinan memenuhi seluruh ruangan di Apartemen Cakra, tanpa terkecuali. Cakra menghembuskan napas lelah. Ekspresinya melunak. Dia mendekat, duduk di samping Kinan yang sedang meringkuk seraya terisak kencang. Kinan merasa dirinya ternodai.
"Jangan takut lagi, Nan, gue ada di sini. Di sisi lo," Cakra berkata lembut. Membiarkan tangannya mengambil alih, menyibakkan anak rambut yang menghalau pandangan Kinan.
Suara nakal Alex terus menggema, seakan mengganggu kejiwaannya, padahal Alex sudah jauh dari jangkauannya. Kinan memejamkan kedua matanya, erat. Telinganya dia tutup rapat-rapat dan menenggelamkan kepalanya. Bayang-bayang saat Alex mengoyak cardigannya, memutari otaknya, refleks, Kinan menyambar tubuh tegap Cakra, memeluk laki-laki itu, erat.
Mendapat reaksi tak terduga, Cakra terkejut bukan main. Kinan menangis di pelukannya. Tersedu-sedu dan memilukan. Itu yang Cakra tangkap dari suaranya.
__ADS_1
"Gue minta jangan ingat-ingat kejadian tadi. Gue tau sangat sulit buat lo untuk ngelupainnya. Tapi asal lo tau, si brengsek itu udah sekarat karena ulah tangan gue. Gue nggak akan segan-segan menghancurkan siapa aja yang berani nyakitin lo, baik secara fisik maupun batin lo. Gue janji kepada diri gue sendiri, gue bakal jagain lo dari siapapun itu. Gue nggak akan pernah takut selama gue masih hidup di dunia ini. Asal dengan hati terbuka, lo nerima penjagaan gue," Cakra serius mengatakannya seraya mendekap tubuh Kinan, mengelus punggung bergetarnya.
"Aku takut, Cakra, pria itu udah melecehkan aku," ujar Kinan di sela tangisnya.
Cakra tersenyum kecil dan Kinan tidak mengetahuinya sebab kepalanya terbenam di dada bidang Cakra. Dia senggugukan.
"Sebelum lo dilecehkan, gue lebih dulu datang, sebagai pahlawan lo. Berhenti berpikiran buruk. Intinya, lo aman bersama gue," Cakra berupaya mendoktrin otak Kinan agar psikisnya membaik seperti biasanya, "Udah ya jangan nangis terus, nanti manis lo ilang. Soalnya nggak ada yang lebih manis daripada lo di hidup gue."
Perkataan Cakra barusan bagai penangkal racun untuknya. Isakannya pun mereda dan sekejap saja menghilang. Kinan mengurai pelukan, menghapus sisa air mata di pipi pucatnya. Setelahnya, menatap Cakra penuh rasa terima kasih. Kinan tidak tahu harus membalas kebaikan Cakra dengan cara apa.
"Senyum dong, sebagai ganti tisu yang gue beli buat lo untuk kedua kalinya," Cakra mengibas-ngibaskan sebungkus tisu di depan wajah Kinan.
Kinan tidak bisa menyusupkan tawanya, dia terkekeh, matanya langsung menyipit, lucu, "Iya, nanti aku ganti tiga kali lipat."
"Gue nggak mau dalam bentuk uang. Tapi jalan-jalan bareng gue, keliling Jakarta, besok selesai kuliah, gimana?"
Kinan mengangguk dan tersenyum, "Siap! Permintaan di terima!" ucapnya girang.
Keceriaan Kinan, menghangatkan hati Cakra. Lantas, Cakra mengulurkan tangan, mengacak-acak gemas pucuk kepala perempuan itu. Kinan mencebik kemudian tertawa. Walau diakhir Kinan terdiam sesaat. Dia melupakan Agra. Ya, Agra, sang pujaan hati.
"Cakra, kamu tau ponsel aku di mana? Tasku kamu bawa kan?" tanya Kinan panik.
"Bawa. Ada di belakang lo."
Tanpa menunggu lebih lama, ponselnya sudah berada di tangannya. Kinan menghidupkannya, mewanti-wanti adakah telepon masuk dari Agra. Bahu Kinan melemas. Kosong. Tidak ada panggilan. Melainkan, satu pesan masuk.
Tatapan Kinan beralih sendu menatap lama layar ponselnya.
Agra❤
Gak ada kerjaan nelpon gue berkali-kali?! Gue nggak bisa ngangkat! Lagi diluar sm Adira!
Gelagat Kinan tak luput dari pantauan Cakra. Cakra tahu apa penyebab Kinan bertingkah aneh. Tak lain dan tak bukan karena laki-laki bernama Agra. Cakra yakin.
Ada atau tanpa persetujuan Kinan, Cakra mengambil ponsel milik perempuan itu dan melihat suguhan khusus yang diberikan Agra. Seketika dia mendengus kasar dengan tangan terkepal kuat.
__ADS_1
Agra, brengs*k selanjutnya yang pingin sekali Cakra hancurkan.