Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 45


__ADS_3

Ada kalanya sikap seseorang berubah. Entah berubah menjadi baik atau lebih buruk dari sebelumnya.


......


Selepas meminjam buku untuk referensi tugas manajemennya di perpustakaan kampus, Kinan bergegas menempuh taman belakang gedung Fakultas Ekonomi. Duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana sambil memanjakan kulitnya diterpa oleh sapuan angin sepoi.


Belajar paling enak di bawah pohon rindang sekaligus menikmati daun yang berlari dari rumahnya. Mengugurkan diri demi mendekap sang rumput hijau.


Menekuni setiap lembar demi lembar buku tebal di tangannya, Kinan seakan hanyut dalam bacaannya. Tidak terusik akan suara-suara sumbang yang menyapa telinga. Kalau saja diberi pilihan antara hangout atau membaca, Kinan dengan semangat memilih opsi kedua karena baginya membaca dapat memberikannya banyak keuntungan daripada jalan-jalan dan berfoya-foya.


"WOI KINAN!!"


Tangan yang semula menggarisi kalimat-kalimat penting di dalam buku, tersentak akibat teriakan dari belakangnya. Kinan mengelus dadanya dan mendelik pada pemilik suara. Dia Zerina.


"Gue nggak budek kali Na. Selow aja nyapanya," gerutu Kinan.


Zerina mengambil posisi di sebelah Kinan lalu merangkul pundak sahabatnya sambil menyengir lebar, "Kan gue niatnya memang mau ngagetin. Masa iya harus pelan-pelan? Yang ada lo nya biasa aja. Nggak seru entar."


Demi sahabat yang Kinan rindukan selama lebih dari seminggu tidak nampak batang hidungnya, Kinan manggut-manggut saja menanggapinya. Kinan beringsut memeluk Zerina tanda bahwa rindunya perlu diobati.


"Kangennnn."


"Ululu tayangg, sama gue juga kangen banget," Zerina membalas pelukan Kinan. Keduanya seperti kawanan teletubies di siaran televisi jaman kanak-kanak dahulu. Meski sekarang filmnya sudah ditelan bumi, entah bagaimana kelanjutannya, tetapi semua orang tetap menerapkan ritual saling berpelukan dan berangkulan sesama saudara, sahabat.


"Kemana aja kok nggak pernah nampak? Hape lo juga jarang aktif. Gue susah mau ngabarin lo tau!" Kinan memberengut kesal.


Zerina terkekeh, "Sori banget Nan, gue bener-bener sibuk sama tumpukan tugas kuliah gue. Deadline nya singkat. Gue sampai kelimpungan sendiri. Apalagi lo juga tau kalau gue anggota BEM. Jadinya kalau selesai nugas, gue bakalan sibuk di sana, berorganisasi. Waktu main sama lo berkurang deh. Padahal dulu kita sering bareng-bareng kemana-mana. Maafin gue ya."


Kinan tersenyum kemudian mengangguk, "Nggak apa-apa kok. Gue ngerti karena posisinya gue sama kayak lo. Seorang mahasiswi. Pastinya sering dikasih tugas rumah. Harus bisa bagi-bagi waktu. Biar nggak bentrok sama kegiatan lain."


Jawaban yang semakin mendekap tubuhnya erat, Zerina terharu pada sahabatnya dari semasa kecil, "Thanks Kinan! You're my best friend ever!! Love you sweetie!!"


"Love you too my bestie!"


"Oh ya, Nan," Zerina mengurai pelukan lalu menatap Kinan dengan raut bertanya-tanya, "Sekarang lo itu kan menyandang status sebagai pacarnya Agra, jadi tau dong gimana sifat temennya, si Abyan. Bolehlah lo ceritain dikit ke gue. Gue kepo," ucapnya merayu-rayu.


Alis Kinan terangkat sebelah, "Kenapa tiba-tiba nanyain Abyan? Oh, atau jangan-jangan lo naksir ya sama dia? Hayo, ngaku lo!" tudingnya.


Muka Zerina langsung kesemsem, malu. Seperti anak remaja yang baru mengenal cinta-cintaan. Zerina salah tingkah. Duduknya tidak tenang.


"Duh, gimana ya jelasinnya. Gue bingung mau mulai dari mana duluan. Intinya tuh, gue udah jadian sama Abyan," jujur Zerina dengan kondisi wajah merona. Dia hanya malu saja membeberkan rahasianya selama sebulan ini kepada Kinan. Karena dilihat dari waktu yang selalu mengagalkannya untuk menemui Kinan.


Kinan terkejut. Tentu berita yang baru dia dengar, menghebohkan. Seperti yang orang ketahui, Abyan adalah sosok cowok kalem dan tidak terlalu banyak berkoar-koar macam sahabatnya si Afka.


"Wah, selamat ya Na! Lo beruntung banget bisa jadi pacarnya Abyan. Semoga langgeng ya!" Kinan mengutarakan rasa senangnya.

__ADS_1


"Makasih ya Nan! Lo juga sama Agra, semoga hubungannya awet sampai nikah."


"Amin-amin," Kinan terbayang semisal apa yang Zerina katakan menjadi kenyataan. Pasti Kinan bahagia bisa memiliki Agra seutuhnya, "Bisalah ini kapan-kapan kita double date."


Zerina mengangguk setuju, "Ide bagus!"


"Ayo kita rencanain!"


"Ayo!!"


Kinan jadi tidak sabar sampai menunggu saatnya tiba. Mudah-mudahan keinginannya terwujud.


Amin.


......


Ketiga lelaki berjas hijau itu keluar secara beriringan dari lab komputer sambil mengobrol ringan. Saat ini mereka berencana singgah ke ruang panitia sebelum pulang ke rumah masing-masing. Sesekali Abyan tertawa akibat guyonan Afka. Tidak untuk Agra. Lelaki itu terus memasang wajah datar sejak kelar praktik. Sama sekali tidak tertarik pada sekitarnya. Entah apa yang sedang Agra pikirkan.


Menyadari salah satu diantara mereka enggan nimbrung, Afka berinisiatif memulai percakapan. Afka tahu jika pikiran Agra tidak pada tempatnya. Pasti lelaki itu sampai sekarang masih memikirkan tugas kepanitiaan. Tidak kunjung membuahkan hasil padahal acara tinggal seminggu lagi.


"Sob!" Afka menepuk bahu Agra. Alhasil Agra tersadar dari lamunannya, "Lo kenapa sih? Diem bae kayak anak perawan? Ada masalah? Cerita sama kita."


Abyan mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Afka barusan. Keduanya merebahkan diri di sofa sudut ruangan. Sedangkan Agra duduk di kursi kayu tak jauh dari posisi mereka.


"Gue tebak, pasti kebungkaman lo ada hubungannya sama Kinan? Gue bener?" Afka beralih kerjaan menjadi peramal.


Agra mendongak, memandang Abyan lekat, "Perasaan seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Gue nggak bisa memungkiri soal gue yang cinta sama dia. Dan masalah Cakra, gue nggak ingin itu menimpa Kinan. Cukup Ana yang dia embat untuk kepuasan nafsunya. Gue hanya takut semakin mereka akrab, semakin gampang Cakra menguasai Kinan. Lo tau Kinan itu mudah terpedaya, polos dan lugu. Nggak habis pikir gue udah kuliah kenapa tingkahnya macam anak SD."


Afka berdehem pelan, "Tapi gemesin kan?"


Tatapan Agra pindah pada Afka, "Lebih gemesin muka lo yang lagi nahan boker."


"Kampret!"


"So, kenapa lo nggak dapet-dapet ijin Kinan buat main piano di acara kita?" Abyan bertanya. Mengambil perhatian Agra.


Pertanyaan Abyan membuat Agra mengusap wajahnya kasar setelahnya menghelas napas, "Gue rasa berhenti maksa-maksa dia untuk mengakui keahliannya."


Mendengarnya, Afka terkejut. Begitu juga Abyan. Pasalnya, Agra bukan tipe lelaki yang cepat menyerah.


"Serius yang ngomong barusan elo Gra?" Afka buru-buru menegakkan badannya, "Ck! Bukan lo banget!"


"Gue janji sama dia jadi pacar yang baik. Ya menurut gue dengan nggak maksain kehendaknya. Gue sadar, gue terlalu sering nyakitin hatinya. Lihat dia tersenyum ceria aja bikin hati gue sakit. Mungkin karena sebelum-sebelumnya dia lebih suka nangis dan itu gara-gara gue."


Afka semakin terperangah dan curiga jika tubuh sang sahabat dimasuki roh baik. Tumbenan.

__ADS_1


"Lo kok bucin gini?"


Agra bangkit seraya menyampirkan tas ransel di bahu kanannya lalu bergegas menuju bibir pintu.


"Terserah apa kata lo. Gue cabut."


"Eh! Gue belum selesai ngomong! Woii Agra!" Afka berusaha menahan namun Agra gesit menjauh. Ujung-ujungnya dia berdecak sebal.


"Udahlah biarin aja tuh anak pergi. Mending lo dengerin curhatan gue tentang pacar baru gue," Abyan menawarkan sesuatu yang menggiurkan. Tidak ada alasan bagi Afka menolaknya. Ketahuilah, kekepoan Afka melebihi kaum wanita.


"Boleh-boleh. Cewek lo yang bau bawang itu kan?"


Seketika Abyan memasang tampang paling datar. Keinginannya menceritakan perihal kisah asmaranya mendadak terhempas ke segala arah.


Dasar korban bawang!


......


Kinan merapatkan jaketnya ketika hawa dingin menembus kulitnya. Langit mendung menggantung. Hujan akan turun bersama aroma khasnya. Kinan melangkah lebar ke sisi parkiran, menunggu Agra keluar dan turun menghampirinya. Agra sudah berjanji mengantarkannya bekerja.


Selagi Agra belum datang, untuk mengusir rasa bosan, Kinan menyetel musik dari ponselnya tanpa menggunakan headset. Kepala cantiknya kadang kala terangguk-angguk mengikuti irama. Bibir mungilnya bergerak lucu.


"Kinan," panggil seseorang yang kini berdiri tegak dihadapannya.


Mata Kinan terbuka lebar. Dia segera melipir dari sana tanpa membalas sapaan hangat Cakra.


"Tunggu!" Cakra mencegat Kinan dengan menggapai tangan perempuan itu, "Gue mau ngasih sesuatu sama lo." ujarnya.


Kinan melirik Cakra singkat kemudian membuang muka, "Lepasin. Jangan deketin aku."


"Plis, terima," Cakra menodongkan sebuah buku sejarah padanya, "Khusus gue beliin buat lo," semalam saat mengunjungi bazar buku di pusat Kota, Cakra teringat Kinan dan membelinya sebagai hadiah. Kinan hanya menatapnya tak minat. Kalau dibilang suka, ya jelas Kinan suka. Tetapi karena sang pemberinya itu Cakra, Kinan malas menerimanya. Penjelasan Agra masih melekat sempurna diingatannya. Kinan takut.


"Nggak perlu. Aku nggak suka."


"Lo beneran ngejauhin gue? Gue mohon, jangan Nan. Gue nggak seperti dalam bayangan lo. Apa yang Agra bilang nggak sepenuhnya benar. Lo percaya gue kan Nan?" Cakra berkata lirih.


Kinan melepaskan pegangan Cakra pada pergelangannya, "Ijinin aku pergi."


Cakra menatap Kinan sedalam perasaannya. Mengikhlaskan perempuan yang dia sukai sangat melelahkan hati dan pikirannya.


"Oke gue bakal ijinin setelah lo nerima buku dari gue. Ambil ya?"


Kinan bingung. Ternyata lari dari Cakra tak sesukar yang Kinan kira. Cakra sangat keras orangnya.


Mencoba melunakkan hatinya yang perlahan membeku terhadap sosok Cakra, Kinan meraih benda yang tersodor ke hadapannya dan tangan lain berhasil mendahuluinya.

__ADS_1


"Simpan, bawa pulang. Gue bisa beliin itu buat cewek gue."


__ADS_2