
Satu harian ini, Kinan tidak bisa menghitung, sudah berapa kali dia tersenyum senang seperti saat ini. Mendapatkan sebuah pesan singkat dari Agra. Sepanjang jalan menuju area parkiran, Kinan terus saja menatap layar ponselnya yang masih menampilkan pesan Agra.
Agra<3
Tunggu parkiran.
Jangan tanya kapan Kinan menamai kontak Agra dengan tambahan emot hati. Sejak nomor Agra masuk direntetan pesannya, Kinan langsung mengubahnya. Kinan senyum-senyum sendiri. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Dia memilih duduk di bangku, dekat parkiran. Selagi menunggu Agra keluar.
"Eh! Cewek polos!" sentak Cakra. Laki yang mengenakan hoodie hitam sudah berdiri tak jauh dari posisi Kinan. Cakra menyeringai. Dia berjalan mendekati Kinan.
Kinan membuang mukanya. Malas melihat laki-laki yang tempo hari berkata tidak sopan padanya.
"Akhirnya, kita ketemu lagi, sayang," tanpa permisi, Cakra duduk di samping Kinan. Kinan bergeser ke kiri. Cakra ikut bergeser. Begitu seterusnya.
Kinan merasa risih dan jengah. Kinan pun menatap tajam, Cakra, "Mau kamu apa sih?! Tolong jangan ganggu aku lagi!"
Cakra tertawa keras disertai seringainya, "Lo lupa sama perkataan gue? Gue nggak akan ngelepasin mangsa gue. Jadi, lo nggak akan bisa menghindar dari gue," ucapnya mengingatkan Kinan.
"Aku nggak kenal kamu. Kamu itu orang asing. Jangan ganggu aku. Aku nggak pernah buat salah sama kamu!" Kinan berkata lantang. Dan itu semakin membangkitkan rasa main-main seorang Cakra Dikara.
"Oke, gue akan buat diri gue nggak asing lagi di mata lo. Nama gue Cakra Dikara. Anak Akuntansi B. Laki-laki paling berkuasa di kampus. Dan yang pasti, pengganggu lo," Cakra memperkenalkan diri secara resmi dengan sifat jenakanya.
Kinan pergi begitu saja tanpa memerdulikan ocehan Cakra. Kinan terpaksa berhenti, saat Cakra menarik kuat pergelangan tangannya. Tubuhnya dipaksa memutar, menghadap laki-laki itu.
"Gue nggak suka diabaikan! Terutama sama mangsa gue!" ucap Cakra tajam.
Mencoba melepaskan tangan Cakra dari tangannya, Kinan terus memberontak. Cakra makin erat mencengkramnya sampai Kinan meringis, "Lepasin atau aku teriak?!" ancamnya.
"Teriak aja. Atau besok nama lo dikenal seluruh penghuni kampus. Pilih mana?" Cakra balik mengancam. Kali ini, Kinan tidak bisa berkutik lagi. Dalam hati, Kinan berharap Agra segera datang dan menolongnya.
"Gitu dong, sayang. Diem. Gue jadi nggak perlu repot-repot ngeluarin suara gede." lanjutnya seraya menjauhkan tangannya dari Kinan.
"Mau kamu apa?" tanya Kinan to the point.
Cakra berpikir sejenak, "Gue mau lo di samping gue, di saat gue butuh."
Kinan menggeleng kuat, "Nggak! Enak aja! Emang aku siapa kamu?"
__ADS_1
"Gampang, kalau lo nggak mau, gue bakal nyebarin berita hot itu ke Agra, perihal pekerjaan lo sebagai pelayan di klub malam."
Seperti tersambar petir di siang bolong, Kinan merasakan darahnya berhenti mengalir. Dia terperanjat tak percaya. Detak jantungnya berpacu cepat. Kinan belum siap jika orang lain mengetahui pekerjaannya. Apalagi di sebuah klub, tempat para wanita malam berada. Tempat maksiat. Tempat menghibur diri sendiri dari kepekatan hidup. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Kinan amat sangat tidak percaya, orang yang pertama kali tahu adalah Cakra---lelaki gila ini.
"Gue tau lo suka banget sama Agra. Gue bisa lihat dari tatapan lo tempo hari ke Agra. Penuh cinta. So, kalau lo pengen aman tanpa ketauan identitas lo sebenarnya, ikuti aturan gue. kalau nggak mau, lo pasti tau apa yang terjadi, Agra akan membenci lo seumur hidupnya. Gue cukup mengenal baik, Agra."
Perkataan Cakra terngiang-ngiang di kepalanya. Kinan takut Agra tahu, Kinan khawatir. Dia harus apa sekarang?
"Gimana?" tanya Cakra, meminta kepastian.
Kinan memberi tatapan datar pada Cakra, "Oke. Aku bakal turutin apa yang kamu mau, asal Agra nggak tahu soal aku bekerja sebagai pelayan klub," keputusan ini sangat berat buat Kinan. Kinan tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Cakra. Dia Cuma ingin identitasnya tetap tersembunyi.
"Tenang. Serahin semuanya sama gue. Gue cabut dulu. Cinta bertepuk sebelah tangan lo udah datang," Cakra berlalu dari hadapan Kinan.
Kinan mengatur napasnya agar tidak gugup dan panik. Dia tersenyum begitu Agra sudah dekat, "Udah siap kelasnya?"
Agra mengangguk. Dia menatap Kinan, datar, "Lo diapain sama anak itu?"
"Nggak diapa-apain kok, Agra."
"Dari ekspresi lo keliatan bohongnya," cetus Agra.
Agra tidak menjawab. Dia pergi mengambil motornya. Kinan mengekori Agra.
"Kamu khawatir sama aku ya?" tanya Kinan percaya diri tingkat akut.
Diam, menjadi bahasa Agra.
"Kamu takut aku kenapa-napa ya?"
Hening lagi.
Bahkan ketika Agra sudah duduk di atas motornya, Kinan tetap menanyakan pertanyaan tak penting. Telinga Agra sampai mampet.
"Aku nggak apa-apa kok, Agra. Jangan takut apalagi khawatir," kata Kinan semakin pede.
Agra membuka sedikit kaca helmnya, "Berhenti kegeeran. Gue cuma takut reputasi kampus hancur gara-gara skandal lo sama Cakra," tegas Agra, tepat dan jelas.
__ADS_1
Hati Kinan seakan tertusuk duri. Sakit. Padahal dia berharap sekali Agra peduli dan khawatir padanya. Tidak tahunya, Agra lebih memilih reputasi kampus daripada dirinya. Kinan kembali kedunianya, bahwa dia bukanlah siapa-siapa di mata Agra.
"Naik atau gue tinggal?!"
......
Agra menghentikan laju motornya di depan sebuah taman di pinggiran jalan, pusat Kota Jakarta. Dia turun setelah melepas helm. Agra meninggalkan Kinan seorang diri. Dia tak ada niatan mengajak perempuan itu. Kinan pasti dengan sendirinya mengikuti langkahnya.
Kinan meratapi punggung tegap Agra. Lagi-lagi, Kinan diabaikan dan ditinggalkan. Hidupnya akan selalu begitu. Entah sampai kapan kepedihannya berakhir. Kinan ikut duduk di samping Agra. Mereka duduk di salah satu bangku di sana.
"Kok kamu bawa aku ke sini? Kan aku mau kerja lagi," kata Kinan membuka percakapan.
"Sebentar aja. Gue mau ngomong sesuatu."
"Apa itu?"
Agra menoleh ke arah Kinan, tatapannya datar, ekspresinya terlihat serius, "Lo pandai main piano?" tanyanya langsung.
Kinan terdiam. Dia tidak tahu akan menjawab apa. Selama hidupnya, tidak ada yang mengetahui kebenaran itu. Bahkan Nathan dan Mr. Brown juga tidak tahu. Kecuali Pak Edo dan orangtuanya.
"Gue butuh pengisi acara wanita. Yang bisa main piano. Lo bisa kan?" Agra bersuara lagi.
Dengan penuh kebohongan, Kinan menggeleng lemah seraya tersenyum lembut, "Aku nggak bisa, Agra."
"Pak Edo bilang lo bisa. Lo sering kan ke ruang musik, minta ijin sama Pak Edo buat pakai piano yang ada di sana?" jelas Agra semakin membuat Kinan tak bisa berkata-kata. Karena menyangkut acara yang tinggal menghitung minggu, mau tidak mau Agra sedikit menurunkan egonya dan berkata panjang pada Kinan.
"Aku bilang nggak bisa, ya nggak bisa!" Kinan murka. Dia berdiri dan menatap Agra dengan tajam.
Agra tak percaya ketika suara lantang Kinan, menyentaknya. Biasanya perempuan itu bersikap lembut sambil tersenyum. Sekarang, lihatlah, wajahnya merah padam. Senyumnya sirna.
"Jangan paksa aku bilang bisa, sementara aku memang nggak bisa! Pak Edo salah orang! Yang namanya Kinan juga bukan aku aja!" suara Kinan meninggi.
Diamnya Agra, sedang berpikir. Dia tahu Kinan berbohong. Agra tidak tahu alasan kenapa Kinan melakukan itu, intinya Agra harus ekstra pelan-pelan, membujuk Kinan, agar mau mengisi acara nanti. Masih ada waktu bagi Agra.
"Oke. Gue ngaku salah," Agra bangkit, "Ayo, gue antar kerja," ajaknya.
Kinan kembali tersenyum cerah, "Ayo."
__ADS_1
Agra sendiri melongo di tempat melihat perubahan drastis perempuan itu.