
Pertemuan awal yang tak pernah kusangka. Kau datang bagai malaikat dan menolong ragaku yang sakit. Dalam sekejap aku sembuh.
......
Bau obat-obatan menyeruak masuk ke dalam penciuman Agra. Agra benci itu. Cukup kejadian 5 tahun lalu, membawa raganya menginjak tempat terkutuk ini. Nyatanya, seseorang telah mengajaknya masuk kembali. Agra tak bisa menolak. Mana bisa dia mengabaikan perempuan yang berusaha bunuh diri dengan menabrakkan diri di depan sebuah truk besar. Mana bisa Agra meninggalkan tubuh yang terkulai lemah di atas aspal dengan keadaan lumayan parah. Satu-satunya tujuan Agra ya, rumah sakit.
Lamunan Agra buyar saat Dokter dan beberapa perawat, keluar dari balik pintu bertuliskan 'Ruang ICU'. Lelaki berkaos hitam itu bangkit, menghampiri pria berjas yang saat ini memandangnya serius. Sepertinya kondisi perempuan tadi tak baik-baik saja. Pikiran itu yang bersarang di kepalanya sekarang.
"Gimana kondisinya dok?" pertanyaan itu dilontarkan Agra pertama kali.
"Kondisinya cukup parah. Pasien mengalami pendarahan akibat terlalu banyak mengeluarkan darah," jeda dokter seraya menghela napas, "Masalahnya, pasien mempunyai golongan darah AB dan kebetulan saja stok darah yang dibutuhkan pasien habis. Kami butuh darah itu secepatnya. Kalau tidak nyawa pasien tidak akan bisa tertolong."
"Ambil darah saya saja dok. Golongan darah saya AB," Agra langsung menawarkan diri. Agra tahu setelah darahnya di ambil nanti, tubuhnya akan ikut melemas. Tapi itu bukan menjadi alasan untuk Agra tak menyumbangkannya. Toh, bagaimana pun sesama manusia harus saling tolong-menolong.
Meskipun tipe Agra adalah tipe lelaki yang tak mau mencampuri urusan orang lain. Masalah nyawa, Agra rasa dia harus turun tangan.
"Apa anda yakin? Saya tidak punya banyak waktu lagi. Pasien harus segera diberi pertolongan," ucap dokter memastikan.
"Sudah Dok. Ambil darah saya. Yang terpenting perempuan itu bisa selamat," Agra berucap mantap. Meski wajahnya berekspresi datar.
Dokter mengangguk cepat, "Baiklah kalau begitu. Anda bisa ikut saya untuk pengambilan darah. Tapi sebelumnya anda harus di cek kesehatannya terlebih dahulu," Agra menyetujui dan mengikuti kemana dokter membawanya.
Kira-kira sekitar 20 menit, Agra keluar dengan raut wajah sedikit pucat. Wajar, darahnya di ambil lumayan banyak. Tak punya waktu lagi untuk mencari pendonor lain. Keadaan perempuan itu sudah genting. Kembali melangkah ke ruang ICU, Agra duduk di kursi tunggu yang ada di sana, sembari memijit pelipisnya akibat pusing mendera.
Satu hal yang Agra lupakan, yaitu Agni----kakaknya.
Agra menepuk dahinya pelan. Seharusnya dia menjemput kakaknya pulang ngantor. Dan ini sudah hampir satu jam Agra berada di sini. Menutup telinga rapat-rapat adalah hal yang harus Agra lakukan saat dirinya sampai di rumah nanti. Kalau sudah mengomel, telinga Agra seakan pecah. Suara Agni menggema di sepenjuru sudut rumah bila sedang marah.
Ting!!
Suara ponsel Agra berbunyi tanda pesan masuk. Dia merogoh ponsel dalam saku celananya dan melihat siapa si pengirim.
Benar saja.
Nama Agni terpampang jelas di layar ponselnya yang terbuka. Dengusan pun lolos dari bibirnya. Agni pasti akan mencercahnya habis-habisan.
Agni bawel
__ADS_1
Heh adek sok dingin tapi ganteng! Kenapa lo nggak jemput-jemput gue?! Gue udah nungguin lo hampir satu jam di lobby kantor sendirian kayak orang jomblo! Padahal mah gue ada pacar! Kemana sih lo? Di rumah juga nggak ada lagi. Awas aja kalau lo udah sampe rumah, gue cincang abis anu lo! Sukurin! bye!
Apa kata Agra. Agni memang kakak terbawel sekaligus menyeramkan. Bagi Agra, pesan Agni ini seperti cerpen yang tak berfaedah. Memilih mengantongi benda pipihnya lalu bangkit menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Gimana dok?" tanya Agra.
"Pendarahan yang dialami pasien sudah berhenti. Keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Tinggal menunggu pasien sadar," jelas dokter, "Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan, baru anda bisa melihatnya."
Agra tersenyum tipis, "Terima kasih dokter."
"Sama-sama. Kalau gitu saya permisi," pamit dokter.
......
Pintu di buka perlahan, agar tidak menimbulkan suara decitan. Pemandangan pertama yang Agra lihat, seorang perempuan cantik tertidur bak putri salju sesaat setelah memakan buah apel beracun. Agra mendaratkan bokongnya di kursi samping ranjang. Meneliti lekat wajah perempuan yang belum sadarkan diri.
"Lo cewek terbodoh yang pernah gue lihat," Agra berucap sendiri. Seakan perempuan itu mendengarkannya.
"Gue akui lo cantik. Tapi otak lo nggak sepadan," jujur Agra, "Gue heran, apa sih alasan lo ingin bunuh diri? Apa segitu beratnya kehidupan yang lo jalani, sampai ngelakuin hal yang paling Tuhan benci?"
Sifat Agra yang harus kalian ketahui. Asal ceplos plus nyelekit. Agra tipe orang yang blak-blakan tentang apa yang dia rasakan. Sorry, mungkin terdengar seperti perempuan. Tapi Agra bukan tipe laki-laki munafik.
Cukup berbicara omong kosong. Karena mata indah itu perlahan terbuka. Mengerjap beberapa kali. Menyesuaikan pencahayaan yang masuk melalui retina matanya.
"Haus," suara serak milik Kinan terdengar begitu lemah di telinga Agra.
Mau tak mau Agra mengambil gelas berisikan air putih di atas nakas samping ranjang. Meminumkannya pada perempuan itu.
Kinan menoleh pada sosok lelaki asing yang baru saja membantunya kemudian beralih memandang ruangan serba putih itu, bingung, "Ini di mana?"
"Rumah sakit," balas Agra singkat tanpa ekspresi.
"Bukannya ini di surga?" pertanyaan polos Kinan menghadirkan dengusan kasar dari Agra, "Ngelindur nih orang," tak habis pikir dengan apa yang perempuan ini katakan. Nyatanya dia beneran pingin mati cepat.
"Kamu malaikat pencabut nyawa?" sepertinya arwah Kinan masih di awang-awang. Dengar saja pertanyaannya, sangat ngawur.
Lagi, lagi Agra mendengus. Kali ini disertai kesinisan, "Ini di rumah sakit. Dan gue manusia. Bukan malaikat pencabut nyawa atau semacamnya."
__ADS_1
Kinan tampak berpikir sejenak, "Jadi, aku masih hidup? Bukannya aku tadi ke tabrak truk?"
Astaga! Spesies perempuan macam apa yang Agra hadapi saat ini? Kepala Agra benar-benar pusing meladeninya, "Lo kurang ke tengah," jawab Agra ngasal. Dia terlalu kesal dengan perempuan ini.
"Hmm kurang ke tengah ya?" beo Kinan, "Berarti besok-besok posisi berdiri aku harus lebih diperhatikan lagi," antara **** dan tulalit, ingin sekali Agra meneriaki wajahnya. Namun, dia urungkan dan lebih memilih bermain ponsel daripada terus menanggapinya.
Kinan tahu, lelaki itu menahan kesal sedari tadi. Dia paham. Kinan hanya mengerjainya. Kinan juga tahu bahwa lelaki itulah yang menolongnya. Kinan sempat melihat sosoknya sebelum dia di sapa oleh kegelapan.
Dan entah kenapa, sosok tampan yang sedang menatap layar ponselnya saat ini, membuat jantung Kinan berdebar tak karuan. Sejak tadi Kinan ingin melempar senyum manisnya, namun dia simpan kembali saat melihat ekspresi gaharnya.
Kinan belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Belum pernah merasakan bagaimana rasanya di cintai, belum pernah merasakan rasanya di beri perhatian dan kasih sayang oleh seseorang. Banyak yang menyukainya, tapi Kinan seakan menutup mata dan hati. Satu pun tak ada yang mampu memenangkan hatinya. Baginya, hampir semua lelaki itu jahat. Hanya memanfaatkan wanita lemah. Meski tidak semuanya begitu.
Kalau saja Kinan bisa memilih, dia akan senang hati membuka hatinya untuk sosok tampan yang sedang bersamanya ini. Masalah lelaki itu mau atau tidak, Kinan tidak mempermasalahkannya. Yang jelas, Kinan sudah jatuh dalam pesona si tampan.
Lebih jelasnya lagi, Kinan jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kok diem?" Kinan membuka suara lagi, "Kalau boleh tau nama kamu siapa?"
"Penting?" jawab Agra tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangannya.
"Iya, buat aku penting."
"Gue rasa enggak."
Kinan berdecak pelan,"Pelit banget. Itu nama apa pin ATM. Nggak boleh bagi-bagi."
Agra diam. Tidak menjawab.
"Udah pelit. Irit ngomong lagi. Lengkap. Kayak seafood 2000," ejek Kinan.
Bukan jawaban yang menjadi respon atas perkataan Kinan, melainkan tubuh tegap itu bergerak bangkit. Otomatis Kinan gelagapan di tempat. Apa lelaki ini marah?
"Gue udah ngabarin keluarga lo dan sebentar lagi mereka datang. Tugas gue nyelamatin lo udah selesai. Gue balik," Agra bersiap pergi. Tapi tangan mungil milik Kinan, menahan tangan kanannya.
"Makasih," ucap Kinan tulus, "Makasih udah nolongin aku. Pasti sekarang aku udah mati kalau semisal enggak ada kamu yang nolongin aku. Aku hutang nyawa sama kamu," Kinan tersenyum lembut.
Anggukan kepala dari arah Agra, mengakhiri pertemuan mereka, "Berhenti berlaku bodoh," pesan Agra sebelum punggung tegapnya menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Menyisakan Kinan dengan jantung yang masih berdetak kencang, "Aku berharap, semoga kita bisa bertemu lagi." gumamnya pelan.
"Terima kasih, malaikat penolongku. Ragaku sembuh karenamu."