
Jam tangan itu terus dilirik sang pemiliknya. Menandakan bahwa seseorang yang dia tunggu-tunggu kehadirannya, belum juga menampakkan batang hidungnya.
Entah keberapa kalinya Cakra melirik pintu masuk, berharap Kinan muncul lalu menempati kursi kosong di hadapannya. Nyatanya semu. Lebih dari satu jam Cakra duduk sambil menyesap kopi ketiganya. Yang dia terima hanyalah kehampaan. Bahunya merosot kecewa. Seulas senyum paksa mewarnai kedua sudut bibirnya.
"Mungkin lain kali," gumam Cakra kemudian meninggalkan kafe.
Langit malam ini sangat kelabu. Sebentar lagi turun hujan. Angin bertiup kencang ke berbagai arah menerpa apa yang bisa diterpanya. Termasuk rambut acak-acakannya. Cakra segera berjalan ke arah motornya dan mendadak langkahnya menyurut kala tatapannya bertemu dengan manik coklat itu.
Cakra menyipitnya matanya, guna memokuskan pandangan akibat redupnya lampu jalanan dekat parkiran.
"Ana?" ucapnya tanpa sadar.
Sedetik kemudian Cakra terperangah tak percaya. Matanya melotot sempurna seperti menyaksikan penampakan hantu.
"Dia bener, Ana," tambahnya lagi. Cakra berlari saat wanita berpakaian serba hitam itu melangkah tergesa-gesa seakan berusaha menghindarinya, "ANAA!! TUNGGU!"
Dia, Ana. Cakra tidak mungkin salah lihat.
Mereka berdua bagaikan seekor kucing yang tengah mengejar mangsanya, si tikus. Dan secepat tikus melarikan diri, kucing akan mendapatkannya. Cakra menggapai pergelangan tangan kiri Ana dan memaksa wanita itu memutar badannya.
"Akhirnya aku menemukanmu. Kamu nggak akan bisa lari lagi Ana."
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!" Ana memberontak. Persembunyiannya terbongkar sudah. Ana tidak bisa mengelak dari kenyataan. Pertemuannya dengan Cakra terlalu cepat. Bahkan Ana tidak meminta dipertemukan untuk kedua kalinya. Ana belum bisa melupakan masa lalu yang terjadi diantara mereka. Takdir lebih gesit dari yang Ana duga.
Cakra mendesis, "Kamu pikir setelah bertahun-tahun aku mencarimu, aku akan melepaskanmu begitu saja ketika dapat? Kamu salah, Ana. Sekarang kamu tidak bisa kemana-mana sebelum kamu jelaskan padaku kemana kamu selama ini? Kenapa kamu menghilang?"
"Jawab, Ana!" Cakra membentak.
"Tolong lepaskan aku Cakra! Jangan memaksaku menjelaskan semuanya padamu!" Ana melakukan perlawanan dengan menendang ******** Cakra, Cakra dengan lihai bergerak menjadi di belakang tubuh Ana. Mengunci tangan wanita itu.
"Kamu tahu aku ini keras kepala. Percuma kamu memohon, aku akan terus mendesak jawabanmu sampai rasanya kamu ingin membunuh dirimu sendiri."
Ana menarik napas lelah. Lama-kelamaan tenaganya habis melawan Cakra yang kekuatannya jauh lebih besar darinya. Sejenak, Ana membiarkan dirinya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kepalanya celingak-celinguk menatap sekitaran, berniat berteriak meminta bantuan. Yang didapatkan kesunyian. Diluar ekspektasinya.
"Menyerahlah Ana. Apa kamu tidak rindu padaku?"
Ana tertawa sarkas, "Untuk apa aku rindu lelaki yang rela mengorbankan diri demi wanita tak tahu diri sepertiku?"
Kata-kata Ana sedetik lalu sangat menyakiti hatinya. Tak sebanding dengan kebencian Agra. Ekspresi Cakra pun melunak seraya melepas pegangannya pada pergelangan Ana. Ana meraba kulitnya yang memerah sebab Cakra mencengkeramnya kuat.
"Kalau aku harus diberi dua pilihan antara kamu atau Agra, aku jelas milih kamu meskipun setelah keputusanku itu hubungan persahabatanku dengan Agra hancur. Kamu tau gimana sayangnya aku sama kamu, Ana. Kamu udah aku anggap sebagai adikku sendiri." ujar Cakra.
Ana menggeleng patah-patah, dia seakan tak terima alasan Cakra, "Saat itu kamu bisa nolak hal gila yang aku tawarin ke kamu. Kenapa kamu mau berpura-pura menjadi ayah dari janin yang aku kandung dan bertanggung jawab atas bayiku padahal kamu tau resiko menerimanya yang otomatis hubungan persahabatan kalian jadi taruhannya."
__ADS_1
Cakra tersenyum "Asal kamu bahagia, apapun aku lakukan, Ana. Sampai hari ini Agra masih membenciku. Aku tak masalah Ana karena kebenarannya aku bukan ayah dari janinmu. Seseorang yang tidak mungkin tega menelantarkan wanita cantik beserta darah dagingnya sendiri."
Andai pria itu adalah Cakra, Ana pastikan hidupnya bahagia. Cakra itu lelaki dewasa, bertanggung jawab, dan bijaksana. Idaman sekali.
Ana terharu lantas menerjang tubuh tegap dihadapannya, menangis tersedu-sedu dan menggumamkan kata maaf berulang-ulang. Cakra balas memeluk Ana. Menyalurkan rindunya.
"Maafkan aku, Cakra. Maafkan aku," kata Ana disela tangisnya.
Tangan besarnya mengelus punggung bergetar itu, "Tidak apa-apa Ana. Jangan menangis lagi." tukas Cakra.
Ana mengurai pelukan, memandang Cakra dengan mata sembabnya.
"Jadi di mana anakmu sekarang? Aku mau ketemu keponakanku."
Keterdiaman Ana, menyalakan api curiga lelaki itu. Cakra mengangkat satu alisnya ke atas, "Apa kamu mengugurkannya?" lanjutnya.
Ana bungkam.
"Oh my god, Ana, jangan bilang tebakanku benar? Kamu benar-benar Ibu yang jahat. Aku nggak nyangka."
"Berhentilah mengoceh, dude. Ayo ikut aku," Ana merangkul tangan Cakra, membawanya ke apartemennya.
Membiarkan lelaki itu menemui anaknya yang selalu menangis, menanyakan di mana ayahnya.
Ana mempersilahkan Cakra masuk dan menyuruhnya duduk sementara dia ke dapur menyiapkan teh hangat untuk Cakra. Selagi Ana membuatkannya minum, Cakra mengamati interior apartemen Ana. Tidak ada yang spesial sejauh mata memandang. Dinding kosong tak ada hiasan.
Tapi satu yang mengalihkan perhatiannya, sebuah bingkai foto di dalam rak samping televisi, foto berisikan dia, Ana, dan Agra, saling berangkulan dan tertawa senang. Cakra ingat itu momen saat merayakan hari jadi Ana dan Agra yang ke dua tahun. Saat itu dia menjadi nyamuk pengganggu. Senyum perlahan terbit di wajah tampannya.
Cakra merindukan kebersamaan mereka. Sangat rindu.
"Minum dulu Cak, mumpung masih hangat," Ana muncul seraya meletakkan nampan di atas meja kemudian memberikan segelas teh untuk Cakra.
Cakra tersentak lalu berjalan ke arah sofa, menyeruput minuman itu. Dia melirik Ana yang memasang raut gelisah. Cakra tahu tapi dia pura-pura tidak menyadarinya.
"Anak kamu perempuan atau laki-laki?" Cakra mengambil eksistensi Ana dengan pertanyaan random.
"Perempuan," jawab Ana.
Cakra manggut-manggut, "Pasti cantik kayak kamu."
Ana tersenyum menanggapinya, "Kalau laki-laki pasti gantengnya nurun kamu."
Kening Cakra mengerut heran, "Kok aku? Ya mirip ayah kandungnya lah."
__ADS_1
Ana menggeleng, "Soalnya aku ngidam lihatin muka kamu. Foto kamu pas di pesta ulang tahun Agra aku bawa kemanapun aku pergi."
Cakra tertawa, "Ada-ada aja kamu."
Terjadi keheningan diantara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ohya, mana anak kamu? Aku pingin lihat," Cakra bersuara.
"Dia di kamarnya. Ayo lewat sini," Ana menuntun Cakra agar mengikutinya.
Sesampainya di kamar bernuansa merah muda itu, seorang anak kecil berambut hitam legam tengah tertidur pulas di balik selimut tebal. Cakra terdiam, meneliti lekuk wajahnya yang sangat mirip dengan Ana. Seperti apa katanya tadi. Cakra mendekat, duduk di pinggiran ranjang. Jemarinya mengelus kepala si kecil penuh sayang.
"Namanya siapa?" tanya Cakra tidak memutuskan fokus dari si kecil.
"Keyla Rinjani."
"Halo Keyla, ini uncle Cakra," Cakra berujar seolah-olah Keyla membuka mata dan memperhatikannya, "Kamu cantik banget, udah besar jadi istri uncle, ya."
Refleks Ana memukul bahunya kuat, Cakra sampai meringis. Ana memberi pelotot tajam.
"Aku bercanda Ana. Aku bukan pedofil asal kamu tau."
Ana mendengus saja.
"Di mana pria itu Ana? Apa dia sudah mengetahui tentang Keyla?" Cakra bertanya ke pertanyaan inti.
Gelengan lesu Ana tampilkan, "Sampai sekarang aku tidak tahu di mana dia. Yang aku dengar dari salah satu temannya, dia saat ini ada di Jakarta. Aku sama sekali tidak berinisiatif mencari keberadaannya. Aku sudah nyaman hidup berdua dengan Keyla."
"Itu bagimu Ana. Tidak untuk anakmu. Keyla butuh figur seorang ayah. Apa kamu akan membiarkan anakmu nantinya diolok-olak sama teman-temannya karena ayahnya tidak ada di sisinya?"
Sekali lagi, Ana menggeleng lemah, "Orangtua mana yang menginginkan anaknya jadi bahan ejekan orang lain?"
"Nah, maka dari itu kamu harus menemui ayah kandung Keyla. Pertemukan anakmu dengannya. Aku yakin dia lamban laun menerima kehadiran kalian."
"Nggak semudah itu, Cakra. Jakarta luas. Bisa mati duluan aku kalau nyari sampai ke sudut-sudut tempat di kota ini."
Cakra berdiri lalu memegang kedua bahu Ana, "Aku bantu kamu cari. Aku punya banyak kenalan di kampusku. Aku bisa minta tolong ke mereka buat nyari pria itu. Kamu tenang aja, Ana."
"Kamu yakin ini berhasil?"
Cakra mengangguk mantap, "Aku yakin seratus persen. Kamu hanya perlu sebutin nama pria itu biar aku gampang nyebarin informasinya ke temen-temenku."
Ana menatapnya ragu-ragu, lidahnya seakan sukar digerakkan. Butuh sepuluh detik hingga jawaban itu sukses meluncur dari bibir tipisnya.
__ADS_1
"Nathan Moreno, nama pria itu."