Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 38


__ADS_3

Berharap selepas malam panjang ini. kamu tidak akan berubah lagi.


......


Untuk saat ini akal sehat Nathan tidak bekerja dengan baik. Seluruh darah dalam tubuhnya mendidih, mukanya kusut seperti menopang beban terlalu berat. Tangan bebasnya terhempas ke segala arah, menjatuhkan benda-benda yang tersentuh olehnya. Kamarnya hancur. Tidak bisa lagi di katakan tempat beristirahat, melainkan cocok di sebut gudang tak terpakai.


Nuansa hitam putih kamar terlihat semakin seram kala pemiliknya menggeram marah dengan kedua tangan terkepal erat, pandangannya menajam, seolah di hadapannya tengah berdiri sesosok yang membuatnya jadi sebuas ini. Nathan memutar ingatannya ke satu kejadian beberapa jam sebelum dirinya memilih pulang di saat pekerjaannya sebagai Dosen, belum terselesaikan.


Aku ini apa di mata kamu, Gra? Orang asing atau pacar kamu?


Dari awal kita jadian apa kamu menganggap kehadiranku? Apa kamu menganggap aku sebagai pacar kamu? Sekali pun?


Apa kamu sama sekali nggak cinta sama aku?


Sekiranya, ketiga kalimat itu yang mengganggu pikirannya. Menumpuk beban hidupnya. Benar, Nathan melihat dan mendengar semuanya, tanpa terkecuali. Tadinya, Nathan ingin pergi ke salah satu stand makanan yang ada di kantin. Namun, respon tubuhnya menolak di tengah perjalanan, sebab suara lembut dari seseorang memasuki indera pendengarannya. Nathan seketika berhenti melangkah lalu setengah memutar badannya, dia mematung, terdiam cukup lama, menyaksikan sebuah drama tak lebih dari setengah jam itu tepat di depan mata. Cukup menyakinkan jika hatinya terluka.


Sungguh Nathan terkejut mengetahui perempuan yang amat dia cintai sejak lama secara diam-diam, telah dimiliki orang lain. Nathan masih belum percaya atas apa yang dia dengar. Nathan sangat tidak yakin apakah fungsi telinganya masih berjalan dengan baik. Tetapi, keyakinannya semakin diperkuat sebab Kinanlah yang mengatakan semua itu. Nathan mendengarnya langsung dari mulut Kinan bahwa laki-laki di kantin tadi adalah kekasih Kinan. Meski reaksi laki-laki itu terbilang sangat dingin, intinya, Nathan sakit hati. Akhirnya dia memilih pergi tanpa jadi memesan makanan.


"Apa salah jika seorang Abang menyukai Adiknya sendiri?" gumam Nathan. Terbesit rasa sesal kenapa dia harus dipertemukan dengan Kinan sebagai Abang dari perempuan itu. Kenapa harus Kinan yang di angkat oleh Papanya. Kenapa?


"Apa salah kalau aku mencintaimu? Apa kamu akan benci padaku setelah kamu tahu aku menaruh perasaan padamu?" Nathan merancau sembari mengacak-acak rambutnya frustasi. Nathan ingin sekali mengutarakan perasaannya sejak lama, namun, satu hal mengganjal pikirannya, akankah Kinan menerima pernyataan cintanya? Atau justru Kinan akan pergi menjauh dari hidupnya?


Nathan takut jika Kinan menjatuhkan keputusannya dan memilih opsi kedua. Nathan tidak sanggup bila harus kehilangan perempuan yang amat disayanginya. Nathan mencintainya. Tetapi, bila Nathan tak urung mengatakan isi hatinya, dia pasti menyesal karena Kinan sudah lebih bahagia bersama yang lain. Nathan tidak mau itu terjadi. Nathan mencoba menguatkan tekadnya. Ya, dia sesegera mungkin harus membicarakan masalah ini dengan Kinan. Secara tertutup. Brown---sang Papa tidak boleh mengetahuinya. Kalau tahu, Brown pasti mengagalkan niatnya.


Seusai merapikan penampilannya yang awut-awutan, Nathan bangkit, berjalan memegang handle pintu dan membukanya. Sebelum dia melakukannya, Nathan pergi menuju dapur, menegak segelas air putih. Gerakan menaruh gelasnya menggantung di udara saat maniknya mendapati Kinan sudah berdiri di hadapannya. Nathan terpaku sesaat kemudian berdehem pelan. Kerongkongannya baru saja tercekat. Untung Nathan cepat sadar.


Kinan sangat cantik dibalut dress putih selutut dengan rambut panjang tergerainya. Nathan berdecak kagum dalam hati. Andai, Nathan adalah kekasih Kinan, Nathan pastikan dia pria paling beruntung bisa memiliki bidadari di sisinya.


"Kamu marah sama aku?" tanya Kinan was-was.


Nathan menggeleng, "Enggak, baby," dia meletakkan gelasnya, menarik kursi kosong di dekatnya lalu duduk. Nathan menatap Kinan lekat. Nathan berusaha mengendalikan emosinya di depan Kinan. Sejujurnya, dia tidak tega mengabaikan Kinan seperti tadi. Apa daya, Nathan sakit hati.


"Terus kenapa kamu nyuekin aku sewaktu pulang kerja? Aku pernah buat salah ya ke kamu? Tolong kasih tau aku, biar aku paham," Kinan ikut mengambil bagian, duduk di hadapan Nathan. Dia menuntut penjelasan. Sungguh, Kinan risau.


"Aku cuma capek. Kamu ngertiin aku, kan?"


Kinan mengangguk, "Aku minta maaf udah berpikiran macem-macem tentang kamu. Yaudah, kamu mending istirahat sana di kamar. Biar aku buatin teh untuk nambah tenaga. Kamu keliatan lelah banget. Itu sampai kantung mata kamu, hitam gitu. Kamu begadang semalam?"


Nathan tersenyum tipis, "Kamu jangan pikirin keadaanku. Pikiran saja keadaanmu. Karena bagiku, semua tentangmu yang paling penting untuk aku ketahui."


"Kamu jangan ngegombal ya," Kinan mendengus sebal. Kinan lega dengan melihat senyuman yang terpatri di wajah pria itu.


"Sudah, sana ke kamar. Aku bikin teh dulu," Kinan mulai mengangkat bokongnya, Nathan mencegah dengan meraih pergelangan tangannya.


"Nggak usah. Aku udah minum air putih," tolak Nathan.


"Serius? Air aja cukup?" Kinan bertanya.


Nathan mengangguk, "Kamu mau ke mana malam-malam begini?"


"Oh, itu. Aku mau pergi dengan seseorang. Enggak lama kok, Nath. Boleh, kan?"

__ADS_1


"Lakukan apa yang kamu inginkan. Ingat, jangan pulang larut malam. Mengerti?" Nathan mengingatkan. Dalam hati bertanya-tanya siapa sosok yang nantinya akan pergi bersama Kinan.


"Siap! Kalau gitu aku pamit ya. Itu dia udah datang," Kinan bergegas setelah mendengar bunyi klakson dari arah luar.


Sepeninggalan Kinan, sorot Nathan berubah tajam. Jemarinya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Jika Kinan bukan perantaranya dalam menghantarkan isi hatinya, maka tidak ada pilihan lain bagi Nathan selain mendatangi kekasih Kinan.


......


Jantung Kinan berdegup kencang. Dia tak hentinya memilin jemari lentiknya, menahan kegugupannya. Bagaimana tidak, Agra ada di sampingnya. Bersamanya. Duduk di balik kemudi dengan pandangan lurus, menatap jalanan lenggang di hadapannya.


Sekuatnya, Kinan menahan luapan bahagianya. Pasokan udara terasa hampir habis. Di dalam mobil, keheningan terjadi cukup lama. Nasib baik memihak Kinan karena tanpa dia memulai percakapan, Agra lebih dulu bersuara.


"Udah makan?" Agra bertanya. Pandangannya tetap berpatok pada jalanan.


Kinan melirik Agra, "Belum. Agra sendiri, udah?"


Agra menjawab dengan gelengan kepala. Beberapa detik kemudian mereka kembali saling bungkam. Kinan mengumpulkan keberaniannya untuk menoleh ke arah samping, mengamati wajah Agra. Ekspresi lelaki itu datar. Cukup intens, sampai Kinan buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain saat Agra memergokinya.


Entah Kinan yang berhalusinasi atau matanya mengabur, Agra tersenyum tipis padanya. Ahh, jantung Kinan berdetak dua kali lebih cepat. Rasanya di tatap oleh seseorang yang kita cintai itu memang beda efeknya. Langsung salah tingkah.


"Kenapa buang muka?"


Kinan gelagapan, "Ah, itu, nggak apa-apa kok," dia enggan melihat manik Agra.


"Lihat gue," pinta Agra.


Perlahan, kepala Kinan memutar, kondisinya tertunduk. Jemari Agra menyentuh dagu Kinan dan mengangkatnya sedikit hingga mau tidak mau mata mereka bertemu. Jemari kokohnya berpindah, menyusuri wajahnya, membelai area pipinya dengan gerakan lembut. Kinan menutup kedua matanya, merasakan desiran hangat ke sekujur tubuhnya. Sentuhan Agra membuatnya terbuai. Pelan penuh kelembutan.


Kening Kinan mengerut memandang gedung tinggi tepat di hadapannya. Untuk apa mereka ke sini? Kinan membatin.


"Simpan pertanyaan lo. Gue tahu isi kepala cantik lo itu dipenuhi puluhan pertanyaan. Ada saatnya lo bertanya soal kenapa kita ada di tempat ini," kata Agra seolah bisa membaca pikiran Kinan, "Ikuti gue. Gue mau kasih lihat lo sesuatu," Agra mengenggam tangannya. Rasa bahagianya bertambah.


Mereka masuk ke dalam gedung. Menaiki lift. Agra menekan tombol 30, menuju atap gedung. Baik Agra maupun Kinan berdiri kaku sembari menunggu pintu terbuka. Tangan mereka masih bersentuhan.


Ting!


Pintu pun terbuka lebar. Agra keluar diikuti Kinan. Kinan berdiri terpaku. Dia terpesona oleh sesuatu di hamparannya. Tak menyadari jikalau Agra sudah berdiri beberapa meter darinya. Mengamati tingkahnya. Dengan gontai, Kinan menghampiri Agra. Senyumnya mengembang penuh. Wajah manisnya kelihatan lebih bersinar dari sebelumnya.


"Kamu masih ingat keinginan aku?" Kinan bertanya sedikit tak percaya.


Pasalnya, Kinan pernah menuliskan surat untuk Agra yang di dalamnya tertuang satu keinginannya. Memandang gemerlap Kota Jakarta dari atas atap gedung tertinggi. Seperti sekarang ini. Kinan pikir, Agra dan tidak akan pernah menuruti kemauannya. Kinan pikir, Agra tidak peduli sama sekali. Nyatanya, Kinan dibuat haru olehnya. Agra mengabulkannya. Kinan benar-benar tidak menyangka. Kinan tak hentinya tersenyum. Dia bahagia. Karena bahagianya memang sesederhana itu.


"Ya, gue ingat."


"Aku mengira kamu udah lupa," Kinan menunduk sesaat kemudian mendongak lagi, menatap sosok tampan di depannya.


Agra sangat sempurna di matanya. Meski tidak sempurna sikapnya yang kadang dinginnya kelewatan, cueknya kebangetan, Kinan memakluminya. Kinan tahu, butuh waktu lama membuka hati buat seseorang yang belum terlalu kita kenal. Suatu hari, Agra pasti jatuh cinta padanya, menyukainya, membalas perasaannya. Kinan yakin. Yang perlu Kinan lakukan, bersabar sampai semuanya berjalan sesuai harapan.


Hatinya berdesir kala Agra menyunggingkan senyuman tipis. Kinan melihat ketulusan di sana. Pancaran mata lelaki itu jawabannya. Agra berbeda. Kinan justru senang. Itu artinya Agra sedikit demi sedikit mulai menerimanya.


"Suka?" tanya Agra dengan tatapan lembutnya.

__ADS_1


Kinan mengangguk semangat, "Banget, Agra."


"Bahagia?"


Sekali lagi Kinan menganggukkan kepalanya. Jelas sekali jika itu yang dia rasakan.


"Baguslah."


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Kinan membawa langkahnya, mendekat pada pinggiran besi. Dia memegang pembatas itu dengan mata tertutup. Kepalanya terdongak ke atas, menikmati semilir angin malam, membelai sisi wajah serta rambut tergerainya. Kinan melakukannya selama beberapa menit.


Beginikah rasanya berada di atap gedung tertinggi? Sungguh, Kinan betah di atas sini. Angin dengan pelan menerpanya, membuat Kinan melupakan sejenak masalah hidupnya. Ya, untuk sesaat saja.


Di menit berikutnya, Kinan membeku, maniknya perlahan-lahan terbuka dan mengerjap lambat, merasakan tangan kokoh seseorang melingkari perutnya dari belakang. Agra memeluknya. Jantung Kinan berpacu, berdetak dua kali cepatnya. Semakin kencang saat tubuh bagian belakangnya menempel pada tubuh Agra. Kinan mengepal erat, menahan teriakan yang sebentar lagi keluar dengan mengigit bagian bibir bawahnya. Kinan merasa udara disekelilingnya lenyap seketika. Sungguh, ini sangat mengejutkan.


"Relax aja," pinta Agra, mengerti kenapa Kinan menegang seperti sekarang ini.


Permintaan Agra segera Kinan turuti, Kinan mulai menyantaikan persendiannya, napasnya kembali normal, tidak kayak tadi, menahan napas dan hampir tercekat. Satu hal lagi yang membuatnya terdiam, Agra meraih kedua tangannya dan mengenggamnya erat, membawanya ke atas perutnya dengan tangan Agra menjadi pelindung di kala angin menerpa tempurung tangannya.


"Ini kan yang lo inginkan? Bersandar di dada gue dengan gue memeluk lo dari belakang serta jemari saling tergenggam erat?" bisik Agra tepat di telinga Kinan. Kinan merinding ketika napas Agra menyapu kulitnya. Dia diam, tidak membalas. Harum yang menguar dari tubuh lelaki itu membuatnya terlena. Rasa sakit yang Agra ciptakan untuknya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang Kinan rasakan saat ini.


Agra menghela napas panjang, "Maafin gue atas semua sikap gue yang menyakiti hati lo."


"Semudah luka yang kamu torehkan di hatiku, semudah itu juga aku memaafkanmu. Bagiku, kamu nggak salah, Agra. Akulah yang salah karena terlalu memaksakan cinta dari kamu. Padahal jelas-jelas aku tahu kamu nggak akan pernah bisa ngebuka hatimu buat aku," tanpa sepengetahuan Agra, Kinan tersenyum pedih seraya memejamkan mata.


Agra mengurai pelukan lalu mundur selangkah ke belakang setelah melepas genggaman tangan mereka. Agra meraih jemarinya untuk dia kecup cukup lama kemudian berkata, "Mau kan kasih kesempatan untuk gue berubah? Gue janji akan menjadi kekasih yang baik dan perhatian."


Inikah waktunya?


Kinan bergeming, sorotnya lurus menatap Agra. Kesekian kalinya Kinan terdiam. Kinan merasa malam ini Agra benar-benar aneh. Sikapnya berubah manis padanya. Apa mungkin ada maksud tertentu? Ah, tidak. Kinan tidak mau berburuk sangka. Kinan yakin Agra mulai menerima hadirnya. Itu suatu peluang yang cukup besar baginya, mendapatkan cinta lelaki itu.


"Iya, aku mau."


"Terima kasih. Aku sayang kamu," Agra kembali memeluk Kinan erat penuh kehangatan.


Berharap setelah malam panjang ini berakhir, Agra tetap semanis sikapnya sekarang.


......


Selepas mengantarkan Kinan pulang ke rumahnya dengan selamat sentosa, Agra melajukan mobilnya menuju komplek perumahan Abyan. Agra berjanji pada kedua temannya akan menginap sekaligus mengerjakan tugas kelompok yang sama sekali belum tersentuh sedikitpun.


"Gimana kencannya? Sukses?" sekiranya pertanyaan itu yang menyambut kedatangan Agra di sana. Afka dengan Abyan di sebelahnya, menunggu-nunggu mulutnya terbuka.


Agra mendesis kemudian duduk di sofa. Jaket yang melekat di badannya dia lepaskan dan meletakkannya di atas pahanya "Bukannya nawarin minum, malah kepingin di sambet lo berdua sama gue!"


Afka menyengir, "Gue nggak sabaran ****. Maklum, berita tentang hubungan lo lebih penting daripada air putih yang nggak ada rasa manis-manisnya."


"Dasar raja gosip!"


Abyan memposisikan diri duduk di samping Agra, alisnya terangkat sebelah, menatap Agra penuh arti, "Jadi?"


Seakan tahu maksud kata 'jadi' yang Abyan lontarkan, Agra tersenyum seraya mengangguk.

__ADS_1


"Sukses."


__ADS_2