Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 6


__ADS_3

*Surat kedua untukmu.


Teruntuk Agra, sang pengacau hati dan pikiran.


Kamu itu cuek.


Kamu itu datar.


Kamu itu susah untukku gapai.


Kecuekanmu, melemahkan pikiranku.  Wajah datarmu, mengacaukan hatiku. Pada akhirnya, akan sulit untukku, menarik seluruh perhatianmu.


Tapi tak apa. Aku menyukai segala hal yang ada pada dirimu. Semua menyangkut tentangmu. Meski diriku akan menanggung sakitnya diabaikan, bagiku tak masalah. Asal kau membiarkanku jatuh cinta kepadamu. Jika kau melarangku untuk tak menyukaimu, aku hanya perlu menulikan kedua telingaku saja. Agar kau mengerti bahwa aku tak ingin berhenti suka*.


Love


Dari aku, si gadis penggilamu


Sudah kali ketiga Kinan membaca serentetan kalimat di secarik kertas putih hasil tulisannya, untuk dia berikan pada lelaki tampan bernama Agrata Razzan.


Ingatannya kembali jatuh saat adegan dimana dia bersikap kurang ajar dengan mengambil kunci motor Agra secara tiba-tiba, tapi tak jauh kurang ajar dari Agra yang meninggalkannya di emperan toko, sendirian. Tidak mempunyai rasa kasihan sekali terhadap perempuan. Walau di akhir, Kinan pulang menaiki taksi dan sampai rumah dengan selamat, meski waktu di perjalanan sebuah motor mengikuti laju taksi yang dia naiki. Syukur saja tak berlangsung lama. Namun, tetap saja Kinan masih kesal pada Agra. Dan juga tak lama, karena Kinan sudah tidak kesal lagi.


Perlahan senyum manis milik Kinan mengembang penuh, memperhatikan sekali lagi isi surat cinta darinya, khusus dia buat penuh rasa cinta. Memilih begadang sampai tengah malam hanya agar surat itu benar-benar layak dia persembahkan pada Agra.


Kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop berwarna merah lengkap dengan stiker love tertempel sempurna di bagian kanan atas beserta namanya terpampang jelas di sana, lalu membawa langkahnya ke tempat di mana Agra berada.


Saat ini, Kinan berada di kampus. Gedung kampus Agra dengannya, sama. Hanya beda lantai saja. Kinan di lantai satu sedangkan Agra di lantai tiga.


Kekuatan tekad mengumpulkan keberaniannya, Kinan yakin, Agra pasti menerimanya. Bersedia membaca isi suratnya sampai selesai. Bersedia memberikan senyum atas kejujuran dari perasaannya. Maka dari itu, hal berbau negatif dia enyahkan jauh-jauh dari pikirannya.


Sosok laki-laki yang sejak tadi malam memenuhi sebagian ruang di kepalanya, muncul dari arah perpustakaan, berjalan santai ke dekat taman kampus, duduk di salah satu bangku yang tersedia sambil membawa buku tebal bersampul hijau di tangannya.


Senyum di wajah Kinan pun semakin tak terkendalikan lagi. Hatinya berdesir kala memandang wajah dingin namun tampan. Jantungnya berdebar saat mata tajam itu bertemu dengan mata teduhnya.


"Boleh gabung?" Kinan bertanya saat dirinya sampai di hadapan Agra. Meminta izin duduk di samping lelaki itu. Walau tidak ada larangan sekalipun, rasanya tidak sopan. Seperti mengganggu.


Entah karna Agra malas menghentikan kegiatan membacanya, entah karna tak minat mengangkat sedikit saja kepalanya, atau berpura-pura tidak mendengar, Kinan tak tahu. Yang jelas Agra bergeming.


"Yaudah, aku anggap aja kamu ngebolehin," Alhasil, Kinan menjawab sendiri. Meski setelah itu juga tidak ada suara dari arah Agra.


"Kamu lagi baca apa, Agra? Serius banget," Diliriknya Agra sekilas. Ekpresinya masih sama saat pertama kali Kinan melihatnya, dingin.


"Jawab dong. Aku berasa ngomong sama patung tau gak," bibir Kinan memberengut kesal. Nyatanya, diabaikan sangat miris.


Diam. Fokusnya tetap pada buku di tangannya. Sama sekali tak menghiraukan ocehan perempuan asing tepat di sebelahnya.


Agra tak suka jika kegiatan bacanya di ganggu. Agra tak suka mendengar suara perempuan itu. Agra tak suka kehadiran orang lain saat dirinya bersantai dengan keadaan menenangkan ini.


"Kamu hari ini nggak ada kelas lagi Gra?"


Tidak ada respon.


"Agra, kamu dengar aku ngomong kan?"


"Enggak ada yang nyuruh lo duduk di sini," suara datar Agra terdengar dari sekian lama berdiam. Matanya tak bergerak dari pandangan. Cukup membuat Kinan tersenyum singkat.


"Memang nggak ada. Ini keinginan aku sendiri buat nyamperin kamu," Kinan meremas jari tangannya, gugup, "Kamu nggak suka kehadiran aku ya?"


"Lo tau sejak awal."

__ADS_1


"Tapi kenapa?" mimik wajah Kinan berubah sendu.


"Gue nggak suka."


Kinan menyadari jika wajah Agra mengeras. Seakan menahan emosi yang hendak dia semburkan keluar. Namun, namanya Kinan tetap Kinan. Tetap mendekati Agra dengan topeng berlapiskan kebahagiaan.


"Kalau aku bilang aku suka kamu, kamu juga nggak suka?"


"Gue lebih nggak suka," balas Agra dingin.


Kinan memperlihatkan senyumnya. Padahal hatinya sakit tak karuan, "Tapi sayang Gra, aku udah terlanjur suka sama kamu. Bahkan aku udah cinta sama kamu."


"Berhenti suka gue. Apalagi cinta," Agra menutup kasar bukunya lalu melirik Kinan datar, "Karna lo nggak akan dapat apapun dari gue sebagai balasan," Setelah mengucapkan itu Agra bangkit sembari menyampirkan tas ke bahu kanannya. Namun di tahan oleh tangan mungil Kinan.


"Jangan pergi. Aku masih mau ngobrol banyak sama kamu, Agra."


"Gue nggak ada waktu. Bisa lepasin tangan lo dari tas gue?" Agra berucap datar. Kedua bola matanya seakan menyirat kebencian yang mendalam.


Dengan tak rela, Kinan menjauhkan tangannya. Dia masih saja tersenyum lembut saat Agra baru menyakiti hatinya melalui penolakan telaknya, "Yauda kalo nggak ada waktu. Enggak apa-apa kok. Mungkin lain kali. Tapi kamu mau kan terima surat dari aku lagi?" Kinan menyodorkan amplop merahnya ke arah Agra. Kinan berusaha menahan getaran dijarinya akibat Agra tak kunjung mengambilnya.


Di detik berikutnya, amplop itu sudah beralih tangan. Tanpa berkata apapun lagi. Agra melangkah pergi. Meninggalkan Kinan dengan luka-luka baru.


......


Sudah lama Agra membentengi diri dari perempuan mana pun. Seperti ada tembok kokoh di sekelilingnya agar tak ada satu yang berani mendekat bahkan meraihnya sejengkal saja. Baginya, perempuan hanya membuat dirinya buta. Membuatnya menjadi sosok lelaki lemah. Membuatnya melupakan sejenak orang-orang terkasihnya.


Cukup sudah Agra memikirkan hal yang tak seharusnya dia pikirkan lagi. Agra pun memilih duduk di bangku perpustakaan, menyibukkan diri dengan buku-buku akuntansi di tangannya, mempersiapkan diri menjelang ujian harian, besok.


Guratan serius tercetak jelas di wajah tampannya. Ujung pena terpegang sempurna di sela jemarinya, meliuk-liukkannya di atas kertas kosong, mencoba beberapa soal yang dia tebak dan yakini akan masuk dalam ujian. Meski tidak seratus persen perkiraannya benar. Setidaknya Agra sudah belajar.


Berkutat selama hampir satu jam, Agra menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Merenggangkan sebentar otot-otot tangan yang kaku sehabis menulis. Setelahnya berniat bangkit, namun sebuah amplop merah di laci tas kirinya menyita perhatiannya.


"Lo gak boleh cinta sama gue," Gumam Agra pelan.


Demi menghargai usahanya, Agra pun meraih dan membukanya. Matanya menjelajahi setiap kata demi kata isinya. Tak ada senyum. Tak ada tawa renyah. Sampai Agra kembali melipat surat itu dan menaruhnya di tempat semula. Ekpresinya tetap datar.


Lanjut membaca surat Kinan yang pertama. Sama saja. tetap datar dan tak menghadirkan ekspresi apapun.


Bentuk rasa terima kasih Kinan di dalam suratnya pun, Agra abaikan.


Tidak cukupkah perempuan itu mengucapkannya sekali saja? Sudah lebih dari tiga kali Agra rasa. Meski Agra sendiri tidak menanggapi.


Malas berpusing ria, Agra berlalu meninggalkan ruangan penuh berbagai macam buku, melangkahkan kakinya ke arah toilet tepat di samping tangga lantai satu.


"Awas. Gue mau lewat," Perjalanan Agra terhenti. Di depannya, Kinan berdiri tegak. Perempuan manis itu melempar senyum lebar ke arahnya, menampilkan deretan gigi putihnya. Agra diam di posisi. Tak ada niatan membalas. Malah dia muak.


"Kamu udah baca belum surat dari aku?"


"Belum," Agra berbohong. Padahal sudah dibacanya.


"Kok belum?" tanya Kinan lesu, "Baca dong. Biar kamu tau apa isi hati aku," ekpresinya berubah lagi menjadi mengulum senyum.


"Gak sempat," balas Agra datar, "Dan gue gak suka warna merah."


Kening Kinan berlipat, heran. "Loh kenapa? Padahal merah cantik loh. Terang gitu warnanya."


"Gue bilang enggak ya enggak!"


Kinan meringis pelan seraya menggangguk patuh,"Yauda iya. Jangan galak gitu mukanya. Serem."

__ADS_1


Sekitaran mereka benar-benar sepi. Tidak ada satu pun orang yang berlalu lalang. Hanya ada Agra dan Kinan berdiri persis menghalangi pintu masuk toilet pria. Agra mewanti-wanti kalau ada yang melihat mereka. Bisa-bisa timbul fitnah. Agra tak mau itu terjadi. Jalan satu-satunya yang dia tempuh, mengusir Kinan dari pandangannya.


"Minggir! Gue mau ke toilet!"


"Jangan lupa dibaca ya,"


Agra bergumam tak jelas.


"Awas kalau lupa,"


"Enggak."


"Jadi, aku pergi sekarang nih?"


"Lama! Keburu eneg gue liat muka lo!" sesudah berkata pedas, Agra tampak masuk ke dalam toilet. Membanting pintu dengan kencang. Sehingga mau tak mau Kinan merapatkan kedua mata seraya menutup telinga. Jantungnya berpacu cepat.


"Kaget sih. Tapi sakit."


......


Efek kata pedas Agra tadi, tak menurunkan lengkungan di kedua sudut bibir Kinan. Wajah cantiknya terus saja tersenyum bak malaikat, menyusuri lorong demi lorong, hingga sampai di lorong terakhir, Kinan mengambil jalur kanan. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu kaca besar bertuliskan 'Ruang musik' tertempel besar-besar di sana.


Dengan hati-hati, Kinan membuka pintu dan menyembulkan setengah kepalanya, untuk melihat apakah di dalam ruangan itu ada anak jurusan musik. Tidak ada. Kinan bernapas lega.


Lantas Kinan masuk setelah membuka sepatu flatshoes kesayangannya dan menyimpannya di rak sepatu yang tersedia di sana, kemudian dia berjalan mendekati sebuah piano besar di tengah-tengah ruangan. Kinan tersenyum simpul. Jemari lentiknya, menyentuh lembut setiap sisi piano hitam itu, membentuk garis lurus ke samping. Tak menyudahi kecintaannya akan alat musik tersebut.


Selesai dengan kekagumannya, Kinan terlihat duduk di kursi dan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan piano. Di kumpulkannya jadi satu semua rambutnya lalu mengikatnya asal. Agar tak menganggunya saat bermain piano.


Jari-jari mungilnya, mulai menekan-nekan tuts-tuts piano, menghasilkan sebuah instrument penenang hati bagi siapapun yang mendengarnya dengan tenang. Kinan terhanyut dalam permainannya sendiri. Kedua matanya mulai memejam, menikmati alunan.


Bakat bermain piano, Kinan dapatkan dari Ibunya, dulu. Sewaktu keluarganya masih hidup tentram dan harmonis. Piano, mengingatkannya akan sosok Ibunda tercintanya. Makanya, ketika Kinan rindu Ibunya, dia akan pergi ke sini. Untuk sekedar melepas rindu.


Dan saat ini, Kinan sangat merindukannya Ibunya.


Gerakan jarinya terhenti saat disadarinya, seorang pria setengah baya memberi standing applause pada permainannya. Sangking terbawa suasana, Kinan sampai tak tahu kedatangan seseorang.


"Semakin hari, permainan piano kamu semakin bagus, Kinan," puji seorang pria setengah baya, tidak jauh dari posisinya.


Kinan berdiri seraya menundukkan kepala singkat. Dia mengulas senyum simpul pada salah satu Dosen Seni Musik-pak Edo. Dosen yang berbaik hati, mengijinkannya memainkan piano.


"Pak Edo, kau selalu bisa memujiku."


Pak Edo terkekeh. Dia berdiri tak jauh dari Kinan sambil bersidekap, "Kau pasti rindu Ibumu, ya?" seakan mengerti, Pak Edo bertanya.


Kinan mengangguk. Dia pernah bercerita tentang Ibunya pada dosen itu. Wajar, jika Pak Edo mengetahuinya. Hanya Pak Edo. Tidak orang lain.


"Banget, Pak."


"Kau bisa memainkannya lagi sampai rindumu terobati. Bapak tidak akan melarangnya. Justru bapak senang bisa menjadi perantaramu menghantarkan segala kerinduanmu padanya."


Senyum Kinan semakin mengembang. Tanpa sadar, sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Kinan menangis haru dan bahagia, "Terima kasih Pak Edo. Bapak sangat baik sekali."


"Sama-sama nak. Ayo, lanjutkan lagi main pianonya. Mumpung bapak lagi di sini, bapak ingin mendengarkannya juga."


"Siap Pak!" Kinan menggerakkan tangannya membentuk tanda hormat seraya tersenyum lebar.


Kinan duduk kembali. Jari-jarinya mulai menekan tuts-tuts piano, lembut. Instrument yang di hasilkannya begitu merasuk ke jiwa. Benar-benar damai dan menenangkan. Pak Edo diam-diam ikut tersenyum bahagia.


Bersama alunan syahdu, bersama nada-nada yang menyentuh, bersama rindu yang menggebu. Kinan terhanyut bersama melodi penghilang sendu.

__ADS_1


__ADS_2