Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 39


__ADS_3

Yang belum aku mampirin ceritanya, sabar ya guys hehe. Belum ada waktu luang. Dan utk jadwal updet 2x dalam seminggu


......


Tuhan maha baik, mengabulkan doaku, mengijinkanku merasakan kebahagiaan darinya di saat aku sudah terluka karenanya.


......


Senyumnya, mata teduhnya, kelembutannya, memupuk padat di pikirannya. Nathan tak bisa menampik kenyataan bahwa hanya bayang-bayang Kinan yang dengan setia memenuhi seluruh isi kepalanya. Sampai pagi ini, di kampus, di ruang kelas, sedang mengajar, wajah bersemu perempuan itu menari-nari di ingatannya. Enggan pergi.


Setengah jam berdiri di depan para mahasiswanya, Nathan berusaha fokus mengajar materi Matematika Bisnis karena memang pada dasarnya Nathan adalah Dosen Matematika. Dosen muda yang paling banyak disukai oleh mahasiswa-mahasiswa yang diajarkannya sebab cara Nathan menjelaskan di depan kelas, mudah di tangkap mereka. Bahasanya pun tidak terlalu baku dan kaku. Tidak seperti Dosen lain, lebih sering menggunakan bahasa formal.


Nathan selalu mengontrol diri beserta emosinya yang kadang menggoyahkan pertahanannya. Apalagi di depan calon-calon penerus Bangsa, harus mencontohkan sikap, perilaku yang baik. Terkadang, tingkah dan sikap anak didiknya itu membuat Nathan jengah. Seperti mengobrol di saat dia tengah memaparkan materi, bermain ponsel, bercakap-cakap berakhir mengganggu konsentrasinya. Parahnya, ada beberapa mahasiswinya, menyatakan perasaan padanya secara blak-blakan tanpa rasa segan sama sekali.


Nathan hanyalah manusia biasa. Kantung kesabarannya terbatas. Amarahnya bisa meledak kapan saja. Sebagai seorang Dosen tentu Nathan merasa kehadirannya tidak di hargai. Emosi pastinya. Sering terjadi malah. Kerap kali Nathan menjaga emosinya agar tidak kebablasan. Baginya orang terpelajar tidak harus emosian menghadapi sesuatu hal. Ujungnya akan memperparah keadaan. Tidak baik juga untuk ke depannya, kan.


Maka dari itu Nathan lebih suka menegur dengan cara baik-baik tanpa marah-marah. Juga lebih enak di terima mereka. Selanjutnya terserah mereka ingin apa. Intinya, Nathan sudah menasehati mereka. Memberi pengertian. Kalau terjadi lagi, Nathan tinggal turun tangan pada nilai mereka di akhir semester. Tidak perlu capek lagi berbicara panjang lebar, cukup kibarkan ancaman.


Satu hal yang sampai sekarang susah Nathan pikirkan bagaimana mengatasi ketika ada mahasiswinya menyatakan perasaannya. Bagaimana caranya dia menolak tanpa menyakiti hati mereka. Jujur, Nathan bingung. Sebagai pria dewasa yang belum menikah, Nathan tidak mempersalahkannya. Masalahnya, mereka itu anak didiknya. Tidak etis juga menjalin kasih. Ya meskipun katanya cinta itu tidak pandang status sosial, pendidikan, umur dan lainnya, sama saja. Nathan tidak mau mempunyai hubungan lebih pada mahasiswinya. Pengecualian untuk Kinan.


Kinan berbeda. Itu alasannya.


"Baik semua. Materi saya tutup sampai di sini. Minggu depan, ketua kelompok sudah wajib mengumpulkan bahan diskusinya kepada saya. Letakkan di ruangan saya. Jika ada di antara kalian belum paham benar tentang tugasnya, bisa tanyakan pada teman yang lain atau langsung tanya saya. Sekian, selamat pagi," Nathan berujar tanpa basa-basi, merapikan barang-barangnya di atas meja kemudian meninggalkan kelas.


Setiap langkahnya, semua orang tersenyum ke arahnya seraya menundukkan kepala. Menyapa ramah dirinya. Nathan balas tersenyum. Di kampus, Nathan bukan tipe Dosen yang banyak bicara sama Dosen lain. Sekadarnya. Itu pun kalau penting dan mendesak. Bukan sombong, tetapi Nathan orang sibuk. Tidak punya waktu bertukar obrolan. Selepas mengajar, Nathan harus pergi ke perusahaannya, memegang kendali di sana sebagai Direktur. Rutinitasnya setiap hari.


Di tengah perjalanan, Nathan berhenti melangkah. Nathan merogoh tas jinjingnya dengan grasak, mengingat dari tadi pagi dia belum menanyakan apakah Kinan sudah sarapan atau belum. Itu penting. Tidak akan terlupakan. Sesudah ponselnya berada dalam genggaman, Nathan melanjutkan tujuannya ke kantin, menebas rasa lapar sambil menelepon Kinan. Tak sadar jika sesuatu dari dalam tasnya, terjatuh di atas lantai tepat di koridor kampus. Nathan terus berjalan menjauh.


Perempuan dengan rambut tergerai muncul, menunduk, mengambil benda yang jatuh tadi.


"PAK!! INI BAR----" baru Adira ingin menyelesaikan teriakannya, Nathan menghilang di belokan lorong. Adira mengulas senyum.


Ini kesempatannya mendekatkan diri semakin dalam dengan Nathan, pria yang telah berhasil membuatnya jatuh hati. Kali ini, Nathan pasti tidak akan berkata kasar dan menghindari seperti biasanya.


......


Kantin di Fakultas Ekonomi, ramai penduduk. Menyantap makanan, saling mengobrol sesama teman maupun orang terkasih, ada juga bermain gitar yang semakin menciptakan kebisingan di sana. Di satu sisi terhibur oleh permainannya. Ibarat sedang dinner romantis diiringi alunan musik.


Di bangku pojokan, sedikit menjauh dari keramaian, dua sejoli itu duduk berhadapan. Sesekali si perempuan melempar senyum pada sang lelaki. Agra dan Kinan. Keduanya termasuk penduduk kantin tersebut. Menyantap pesanan masing-masing.


"Habis ini kamu ada kelas lagi?" Kinan bertanya pada Agra setelah menyedot es jeruknya.


Well, sejak adegan peluk-pelukan tadi malam dan berujung Agra meminta maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat, hubungan mereka adem ayem. Kecuekan Agra sedikit banyaknya berkurang. Meski kadang responnya singkat. Setidaknya, wajah tampannya sering tersenyum. Tidak datar.


Agra menggeleng. Tangan kanannya terjulur, mengambil jumputan anak rambut yang menghalangi pandangan kekasihnya itu, "Kelasku udah selesai dari sejam yang lalu."


Perlakuan sederhana yang Agra lakukan barusan lantas menerbangkan kupu-kupu di dalam perutnya. Pertama kalinya semenjak mereka jadian, Agra bersikap manis begitu padanya. Wajar saja Kinan senang.


"Kok sama ya? Kelas aku juga udah kelar," Kinan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya pelan.


Agra mengangkat bahu, "Jodoh kali sama kamu."


Tidak sadar kalau perkataannya itu membuat kedua pipi Kinan memanas. Dia malu bercampur senang. Dalam hati Kinan berteriak, mengucapkan kata amin berulang kali. Lelaki di depannya ini benar-benar Agra, kan? Kenapa manisnya tidak hilang-hilang? Masalahnya, Kinan lemah jika berhadapan dengan Agra yang sekarang.


"Jangan lihatin aku aja. Cepat habisin makanan kamu. Mubazir kalau bersisa. Hari ini aku bakal anterin kamu kerja sekalian nungguin kamu di sana," inisiatif Agra. Matanya tak lepas dari Kinan. Menganggap hanya Kinan, satu-satunya objek penglihatannya.

__ADS_1


Ekspresi tak percaya pun Kinan suguhkan padanya. Mata indah itu mengerjap lambat, seolah meminta penjelasan sekali lagi agar dia sepenuhnya percaya bahwa telinganya masih bekerja dengan baik.


"Serius kamu?"


"Iya, sayang."


Duh!


Rasa hangat menjalari seluruh permukaan wajahnya. Kinan bersemu. Pipinya memerah dan itu karena kata 'sayang' yang terlontar dari sang pujaan hati. Sepanjang sejarah perkenalan mereka, Agra memanggilnya dengan sebutan layaknya sepasang kekasih pada umumnya.


"Ini tawaran pertama kamu yang nggak bisa aku tolak. Makasih ya, Agra," Kinan memasang senyum sumringah.


"Iya, sama-sama. Kamu udah ngasih aku kesempatan untuk berubah dan aku berusaha buktiin ke kamu melalui hal-hal kecil. Aku harap kamu suka. Aku mau kamu senyum terus kayak gini. Bisa?" Agra mengelus pipi mulusnya dengan gerakan lembut.


Ada rasa nyaman mendekap relung hatinya ketika kalimat demi kalimat itu memasuki pendengarannya. Kinan masih merasa ini hanyalah mimpi yang bersifat nyata. Ya, meskipun memang nyata terjadi. Agra berubah menjadi lelaki yang lebih baik lagi untuknya. Demi kebahagiaannya.


Kinan mengangguk cepat persis anak kecil yang tergiur di tawarkan sekantung lolipop. Kinan tersenyum lebar, "Bisa dong. Selama kamu ada di sisiku, senyum di wajahku nggak akan pudar walau kamu mengeluh bosan melihatnya."


Agra terkekeh dan mengacak pucuk kepala Kinan dengan gemas, "Dasar, kamu."


Drama romantis mereka harus di tunda sejenak saat suara berat entah dari arah mana datangnya, menginterupsi.


"Baby, ternyata kamu di sini."


Agra segera menjauhkan tangannya dari Kinan. Tampangnya langsung datar mendapati pria berkemeja biru dongker dengan bagian lengan di gulung sampai sikut, berdiri tepat di belakang Kinan. Alisnya menekuk, mengamati penampilan wajah pria itu. Dia seperti pernah mengenal, tapi lupa bertemu di mana. Wajahnya sangat tidak asing, baginya.


Berbeda jauh dengan Kinan, justru perempuan berambut panjang itu membeku di tempatnya. Bibirnya yang semula melengkung, merosot dan mengatup rapat. Jantungnya mendadak berdetak kencang. Tidak terpikirkan olehnya, Nathan akan menghampirinya ke Fakultasnya. Mau apa dia? Apa tidak bisa di jam lain? Kenapa dia datang di saat Kinan tengah bermesraan dengan Agra? Hah, Nathan menganggu saja!


Terus apa tadi dia bilang? Baby? Kinan memejamkan mata erat. Habislah dia. Ada Agra pula di sini. Pasti Agra tadi mendengarnya dengan jelas. Kinan hanya takut keharmonisan mereka yang baru saja di bangun, runtuh seketika karena Nathan memanggilnya begitu. Ya sebenarnya Nathan tidak salah juga. Dia kan tidak tahu kalau Kinan sudah memiliki kekasih yang saat ini duduk di hadapannya.


"Kamu kenapa nggak ngangkat teleponku? Padahal, aku niatnya mau ngajak makan bareng. Sekalian ngobrol. Udah lama nggak menghabiskan waktu berduaan," Nathan menurunkan tangannya. Tanpa permisi lagi, dia mengambil susu kotak rasa coklat di atas meja lalu meminumnya. Agra diam seraya memandang mereka. Lebih tepatnya mengamati ekspresi dan tingkah Kinan. Dia kelihatan khawatir, bingung, takut, menjadi satu. Tetapi dia tidak tinggal diam ketika tahu minuman yang dia beli untuk Kinan, ludes diseruput pria asing itu.


Agra berdehem, "Bro, yang lo minum punya cewek gue," tegurnya santai.


Satu telapak tangan Kinan terbuka lebar menghadap Agra, mengisyaratkan pada lelaki itu bahwa dia tidak mempermasalahkannya. Kepala Kinan juga mengangguk. Bukti dia tidak masalah.


Nathan terkejut dibuat-buat seraya melirik sampah kotak susu di genggamannya. Tampak sekali jika pria dewasa itu tengah dilanda cemburu tingkat akut, "Eh, punya kamu ini, Baby?" dia menoleh ke arah Kinan, "Maaf, aku habisin. Haus soalnya nyariin kamu kemana-mana."


"Kamu ngapain main sampai ke sini, Nat? Entar mahasiswa kamu lihat gimana? Mereka bakal pikir macem-macem," ujar Kinan dengan suara pelan. Jantungnya mau copot rasanya saat raut Agra begitu tak bersahabat. Senyumannya luntur.


"Nyamperin kamulah," balas Nathan sedikit kuat. Sengaja.


Kinan mendesis, "Kamu merusak suasana tau nggak!"


Lihatlah, bukannya pergi malah tersenyum. Kacau! Kacau! Agra pasti bakalan marah besar kalau begini caranya.


"Pulang ke rumah, yuk! Mumpung kerjaanku udah siap," ajak Nathan tak tahu diri. Kinan melotot ke arahnya. Nathan mengedikkan bahu, tidak peduli. Alasan lain, Nathan ingin tahu apa reaksi lelaki di depan Kinan yang katanya kekasih perempuan tersayangnya. Kalau dia sayang, pasti dia marah. Kalau tidak, pasti dia akan bersikap bodo amatan.


Bersikap tenang sebagai pendengar perdebatan kecil itu. Dagunya bertopang pada kedua tangannya. Maniknya tak beralih dari Kinan.


"Kamu duluan aja. Aku mau ke toko buku. Kerja. Aku pulangnya bareng sama Agra."


"Sama dia?" tunjuk Nathan pada Agra.


Kinan mengangguk patah-patah, "Iya, Nat."

__ADS_1


"Aku aja yang nganter kamu. Bila perlu aku tungguin sampai jam kerjamu selesai. Kita kan satu arah. Serumah lagi," cetus Nathan terang-terangan. Kali ini sisi wajah Agra samar-samar mengetat. Kinan sendiri semakin kicep.


Nathan benar-benar nyari mati dengannya! Awas saja nanti di rumah! Kinan akan memusuhinya!


"Nggak bisa, Nat. Kamu kenapa sih? Aneh banget hari ini," bisik Kinan.


Kan, aneh! Nathan malah mengutas senyum misteriusnya.


"Dia, gue yang anter," timpal Agra, dingin.


Nathan menaikkan kepalanya seakan menantang Agra. Agra tetap memasang raut andalannya. Datar.


"Lo bukan siapa-siapanya sedangkan dia cewek gue. Jadi, dia pulang sama gue. Ngerti, Bro?" Agra menekan kata-kata terakhirnya. Mimik Nathan berubah dingin.


Kinan melemaskan bahunya, pasrah. Dia tidak mengerti apa yang tengah merasuki tubuh Nathan sehingga pria itu menjadi konyol dan kekanak-kanakan. Sebelumnya, baik-baik saja. Sangat baik pun.


Pusing meladeninnya sementara di bawah sana, dirinya menahan buang air kecil. Kinan bimbang, dia ingin segera ke kamar mandi, tapi, melihat gelagat kedua lelaki itu seolah bersiap mengeluarkan tanduk, Kinan urung. Namun dia sudah tak dapat menekan perut bawahnya lagi sangking tak tahannya. Kinan bangkit buru-buru seusai permisi. Tidak mempedulikan bagaimana nasib keduanya setelah dirinya balik.


Semoga saja kantin yang luas dan rapi ini tidak menjadi kapal pecah akibat kedua lelaki itu.


Semoga.


......


Sepeninggalan Kinan ke kamar kecil, baik Nathan maupun Agra sama-sama bungkam. Padahal tadi mulut Nathan tak hentinya berkoak. Sekarang bak patung pancoran.


Beberapa menit keheningan melingkupi mereka sampai akhirnya Nathan lebih dahulu bersuara, "Saya tidak ingin berbasa-basi lagi. Saya minta jangan pernah kamu sakitin Kinan apalagi sampai membuatnya menangis. Jika kamu ketahuan melakukannya, saya tidak akan segan-segan merebutnya dari tanganmu." ancamnya.


Agra mendengus. Sisi kiri bibirnya, bergerak ke atas, "Tidak perlu mengingatkan, saya pasti akan membahagiakannya."


Nathan manggut-manggut, "Baguslah. Apa kamu benar-benar mencintainya?"


"Untuk apa anda harus tahu perasaan saya terhadap Kinan?" Agra balik menyerang dengan pertanyaan.


"Karena semua hal yang menyangkut Kinan adalah urusan saya. Saya, walinya. Saya berhak ikut campur baik itu masalah hidup dan percintaannya. Setidaknya, dia bersama orang yang tepat. Yang mencintainya dengan tulus."


"Apa saya terlihat tidak tulus di mata anda?"


Wajah tampannya mengulas senyum. Nathan menatap Agra lekat, "Saya seorang Dosen. Saya tahu sifat seseorang hanya dengan melihat gestur dan menatap matanya. Yang saya simpulkan, kamu tidak mencintainya. Kamu tidak peduli padanya. Bahkan ketika sedari saya berdebat dengannya, kamu hanya diam seakan tidak tertarik pada dunianya. Kalau kamu cuma ingin menyakitinya, lebih baik mundur sekarang. Saya bisa menggantikan posisimu di hidupnya."


"Wow!" Agra takjub mendengar penuturan itu, "Jadi, anda Dosen di kampus ini? Pantes, muka anda tidak asing lagi. Lebih wow-nya saat tahu jika seorang Dosen menyukai mahasiswinya sendiri. Melupakan peraturan yang sudah disematkan pihak kampus," ujar Agra berani.


"Jangan menggurui," kata Nathan, dingin.


"Kenapa? Ada yang salah dengan perkataan saya, Pak?!" Agra sengaja menekan kata 'Pak'.


Nathan meraup udara banyak-banyak mencoba mengontrol emosinya. Berhadapan dengan yang lebih muda harus ekstra sabar. Hormon anak muda cepat naik. Nathan menghindari perkelahian. Dia pun tersenyum layaknya tak ada masalah sebelumnya.


"Tidak. Yang kamu katakan benar adanya. Saya cuma ingin kamu tahu kalau saya menaruh hati pada Kinan. Saya mencintainya. Bahkan sejak dia masih remaja. Karena keadaanlah yang membuat kami tidak mungkin bersatu. Sebenarnya bisa saja, tetapi kemungkinan besar, Kinan akan membenci saya jika saya bertindak lebih jauh. Sekiranya, saya cukup memberi kamu peringatan untuk tidak menyakiti hatinya. Berhubung kamu kekasihnya."


"Saya mengerti. Dan sebagai kekasihnya, saya ingatkan juga kepada anda, untuk membuang jauh-jauh perasaan anda itu. Karena apa? Karena Kinan milik saya!" bertepatan dengan Agra berbicara, Kinan muncul sembari mengucap maaf akibat lama meninggalkan mereka.


Lantas Agra bangkit dari duduknya dan berdiri, mendekati Kinan lalu merangkulnya mesra. Tepat di hadapan Nathan, "Ayo sayang, kita pergi. Kata temen kamu, dia masih mau di sini, renungin nasib," Agra menuntun Kinan keluar dari area kantin walau Kinan meronta dalam rangkulannya karena dengan tega meninggalkan Nathan seorang diri.


Beginikah rasanya bersaing dengan seseorang yang menginginkan milik kita?

__ADS_1


Huh, melelahkan!


__ADS_2