Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 46


__ADS_3

Takdir seolah lebih gesit mempertemukan kita kembali.


......


Cinta hadir seiring berjalannya waktu.


Kinan tahu kalimat itu sering terjadi di antara dua orang yang sebelumnya tak pernah saling kenal, di antara sepasang sahabat berbeda jenis, sesama teman dekat, dan parahnya sesama anggota keluarga sendiri.


Omong-omong soal itu, sampai saat ini Kinan tidak habis pikir bagaimana bisa Nathan dengan mudahnya menaruh hati pada Adiknya sendiri. Kinan belum bisa menerima kenyataan aneh itu. Perkataan Nathan tempo hari benar-benar membuatnya pusing.


Ya, sejak Nathan jujur akan perasaannya, Kinan perlahan-lahan menjauhi Nathan. Kinan tidak ingin seperti perempuan pemberi harapan palsu untuk rasa yang tak bisa dia balas. Makanya itu, Kinan memilih menjaga jarak dari Nathan. Pria yang dulunya menjadi tempat dirinya berlindung dan berkeluh kesah, kini sebatas orang asing yang tak lagi bertegur sapa.


Mengenyahkan segala pikiran yang berkecamuk di otaknya, Kinan buru-buru keluar dari kamar mandi setelah mengenakan baju kaus bertangan panjang serta bawahan celana jeans pendek selutut. Kinan duduk di depan meja rias, menaburkan sedikit bedak ke area wajahnya agar tidak kelihatan pucat.


Kinan sakit. Sudah dua hari dan tidak ada yang tahu tentang itu. Baik Agra maupun orang-orang di rumahnya. Kinan sengaja tidak memberi tahu siapa-siapa karena takut membuat mereka khawatir. Lagipula, hubungannya dengan Nathan sedang dalam kondisi buruk. Mana mungkin mereka berbicara satu sama lain.


Drtt!! Drtt!! Drtt!!


Getaran ponselnya yang tergeletak di atas nakas, mengalihkan fokusnya. Kinan meraihnya dan mengeceknya. Sebuah pesan beruntun dari Cakra dia dapatkan.

__ADS_1


Cakra


***Plis, dengerin penjelasan gue, Nan.


Ketemuan ya?


Kebetulan gue lagi di kafe dekat kampus. Gue nunggu lo di sini. Plis, dateng, ya.


Apapun yang lo ingin ketahui tentang masa lalu gue dan Agra, gue siap jawab dengan sejujur-jujurnya***.


Sungguh, laki-laki itu keras kepala. Seberapa keras Kinan mencoba menjauhkan diri, Cakra tetap tak gentar mendekatinya, mengajaknya bicara walau sebenarnya dia ingin sekali membalas perlakuan Cakra yang terkesan menjaganya dengan baik. Layaknya dia seorang adik.


Dan masih banyak lagi yang Cakra lakukan untuk dirinya. Kinan belum sempat membalas kebaikannya. Kinan merasa tidak tahu diri mengingat dia malah menghindar, bukannya balas budi.


Tanpa memperdulikan nasib Cakra di sana, Kinan melempar benda pipih itu ke atas bantal bersamaan Nathan yang masuk ke kamarnya dengan tampang kusut. Kinan menyibukkan diri, menyapu rambutnya pakai vitamin agar wangi dan halus. Dia menganggap seolah-olah Nathan tidak ada.


"Sampai kapan kamu mendiamkanku?" Nathan bertanya lesu. Kemeja putihnya tergulung sampai sikut. Permukaannya kucel seperti habis di bawa tidur. Saat ini dia duduk tepat di belakang punggung kecil Kinan. Duduk lemas di atas kasur. Matanya lurus menatap rambut panjang terurai itu. Rambut yang dulunya sering Nathan elus, sekarang tinggal aromanya saja yang terhirup tanpa bisa menyentuhnya lagi.


"Apa kamu tidak kasihan padaku sama sekali?" lanjut Nathan, "Lihatlah keadaanku. Aku kacau dan penyebabnya itu kamu. Kamu bertingkah seakan-akan teramat membenciku. Hatiku hancur, Kinan."

__ADS_1


Lidah Kinan terasa kelu sekedar digerakkan sedikit saja. Mampunya cuma diam. Kinan mengepalkan satu tangannya, mengurangi rasa sesak di dadanya mendengar suara lirih Nathan.


"Aku tahu alasan kamu begini karena pernyataan cintaku beberapa hari lalu. Aku mengerti kamu syok saat mengetahuinya, tapi memang benar adanya. Aku jatuh cinta sama kamu sejak Papa mengangkat kamu sebagai anaknya. Kamu baik Kinan, hati kamu begitu tulus, kamu selalu menyayangi Papa yang udah jahat sama kamu, kamu juga nggak pernah dendam sama dia. Jangan salahkan aku kalau aku menyimpan perasaan lebih terhadap kamu. Aku nggak peduli status kita itu Abang beradik. Ingat Kinan, aku dan kamu bukan saudara kandung. Orangtua kita enggak sama. Kamu Adik tiriku," jelas Nathan panjang lebar. Ucapannya terisa di ujung lidah.


Kinan tidak merespon. Bahkan menatap balik Nathan pun rasanya malas.


"Jadi apa aku salah mencintai kamu?"


"Tolong jawab, Kinan. Jangan diam kayak gini," kata Nathan ketika Kinan urung menjawab pertanyaannya.


Nathan mendesah berat. Kantung matanya hitam akibat semalaman bergadang, "Ya sudah kalau kamu nggak mau bicara sama aku. Aku ngerti. Kamu pasti butuh waktu buat meresapi perkataanku tadi. Maaf udah buat kamu bingung dan nggak nyaman. Aku pamit keluar ya. Kamu jaga kesehatan selama aku nggak ada di samping kamu."


Nathan beranjak dan tersenyum pedih. Dia mengecup sekilas rambut hitam milik Kinan dengan rindunya sebelum keluar.


"Selamat malam, Baby."


Samar-samar Kinan melihat senyum itu meski posisi kepalanya tertunduk. Dadanya semakin sesak. Air matanya pun jatuh, membasahi pipi. Kinan senggugukan.


Malam ini biarlah aliran hujan menemaninya. Menemani kerinduannya pada sosok Nathan Moreno.

__ADS_1


__ADS_2