
Harapan yang tak sesuai cenderung membuat kita lebih cepat menyerah dalam berjuang
......
"Keyla kangen. Keyla sayang Papa."
Ana dibuat termangu ketika kalimat itu meluncur dengan lancarnya dari bibir mungil si kecil, Keyla, yang baru berusia empat tahun. Berjalan saja masih belum lihai, tapi pikirannya begitu dewasa. Keyla anak yang bijak dan pengertian. Ana sendiri sebagai ibunya, tidak merasa pernah mengajarkan Keyla sebagaimana harus bersikap selain mengajarkannya membaca, mewarnai dan berbicara dalam bahasa Inggris.
Sekarang ini, dimata Ana, Keyla bukanlah seperti anak balita pada umumnya.
Bisa dibilang, Nathan adalah satu-satunya manusia yang paling kaget di ruangan itu. Bahkan saat dekapan di kakinya semakin mengerat seiring mata teduh si kecil yang menatapnya penuh binar dan kepolosan, Nathan tidak bereaksi apapun.
Keyla mengedip lucu dengan senyum lembut terpahat di wajah imutnya, "Papa kenapa diem?"
"Papa nggak kangen Key?"
Nathan diam. Ini terlalu membingungkan baginya.
"I micuu, Papa," cadelnya. Keyla tak urung menyurutkan senyuman.
Tidak ada balasan dari Nathan. Justru malah suara isakan pelan seseorang mulai terdengar. Siapa lagi orangnya kalau bukan Ana. Ana terharu mendengar tiga kata yang Keyla ucapkan beberapa detik lalu. Ana teringat saat dia memberi sedikit pelajaran dasar berbahasa inggris kepada puterinya itu.
Contoh paling sederhana; good morning, good afternoon, good night, thank you, how are you, i love you, i miss you.
Dan Ana tidak menyangka bahwa Keyla masih mengingat apa yang dia ajarkan. Katanya sih, anak kecil punya daya ingat yang kuat. Memang benar adanya.
"Mama, mama," mengurai pelukan di kaki Nathan, Keyla berlari tertatih-tatih menghampiri Ana lalu menarik-narik celana longgarnya dengan raut bete.
Ana setengah membungkuk, menatap gemas puterinya yang tingginya hampir sebatas pahanya seraya mengukir senyum lembut, khas seorang Ibu, "Iya, kenapa sayang? Keyla haus, ya? Atau laper?"
Menggeleng, tangan Keyla terlihat melingkari leher Ana, pipi mereka saling bersentuhan kemudian dengan manja Keyla menciuminya, "Papa ndak bisa ngomong ya, Ma? Papa bicu, ya?"
Ana menaikkan sebelah alisnya heran, "Loh, kamu kenapa tiba-tiba nanya begitu, sayang? Emang siapa yang bilang kalau Papa Key bisu?"
"Papa diem aja. Belalti Papa bicu," balas Keyla lirih.
Sekarang, Ana benar-benar bingung membalas perkataan Keyla. Di satu sisi Ana tidak bisa memaksakan Nathan membalas ocehan puterinya karena Ana tahu Nathan terkejut saat anak kecil datang padanya dan menyebutnya dengan sebutan Papa. Dan selang beberapa detik, gantian Ana yang dibuat terkejut oleh kata-kata Nathan.
"Keyla, sini sama Papa," Nathan sudah berjongkok sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menunggu tubuh mungil itu masuk dalam pelukannya dengan bibir tersungging.
Keyla langsung menoleh dan dengan mata berbinar dia berlari, menubruk Nathan. Nathan dengan sigap memeluknya kemudian berdiri, memutar-mutarkan tubuhnya hingga Keyla tertawa riang. Tawanya yang sekejap menyebarkan virus kepada siapapun yang melihatnya. Termasuk Ana dan Cakra. Cakra turut merasakan kebahagiaan Keyla meski hatinya sendiri terasa hampa tanpa sosok peneman hidup.
__ADS_1
"Papa juga sayang Keyla."
......
Sehabis acara peluk-pelukan, Nathan membawa Keyla ke taman belakang rumah sakit. Rumput hijau membentang rapi beralaskan kain menjadi tempat Nathan dan juga Keyla berbagi kehangatan antara ayah dan anak.
"Nama kepanjangan anak Papa yang cantik ini siapa?" Nathan duduk bersila dihadapan Keyla yang tengah memainkan boneka pemberian Cakra. Sedari tadi pandangannya tak lepas dari sosok malaikat kecil itu.
Wajah imutnya, mendongak, menatap Nathan, "Keyla Rinjani M, Papa," lalu kembali fokus pada bonekanya lagi.
Kening Nathan mengerut, "M nya apa sayang?"
"Moleno," jawabnya cadel.
"Maksud kamu Moreno?"
Keyla mengangguk, "Iya, Papa."
"Keyla tahu nggak kenapa Mama ngasih nama belakang Keyla ada Moreno nya?" Nathan tahu otak Keyla sangat bisa nalar dengan pertanyaannya. Keyla itu anak pintar dan bijak. Nathan menyimpulkan sesuai instingnya pertama kali mendengar jawaban Keyla saat Cakra memancingnya sewaktu di ruang rawat.
"Kata Mama biar samaan sama Papa."
Nathan terdiam. Pikirannya berkelana ke masa dimana Nathan bertemu dengan Ana di sebuah klub. Nathan ingat, saat itu Ana datang padanya dan mengatakan bahwa Ana mencintainya. Nathan yang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Ana, lantas pergi lagi bergabung bersama teman-temannya karena memang sedang ada acara pesta minuman. Nathan sampai mabuk dan seorang perempuan tiba-tiba membopongnya. Setelah itu Nathan tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Panggilan itu membuatnya tersentak. Nathan buru-buru bangkit. Dia penasaran akan sesuatu yang tidak dia ketahui dari Ana. Tentang Keyla dan tentang mereka.
"Ana, kita harus bicara," kata Nathan menahan langkah Ana. Dia menoleh ke arah Keyla, mengelus puncak kepalanya dengan sayang, "Keyla, Papa mau ngomong sama Mama. Keyla main boneka dulu ya di sini. Papa ada di situ kalau Keyla butuh Papa atau Mama," Nathan menunjuk bangku taman tak jauh dari posisinya.
Keyla mengangguk, mengiyakan.
"Jelaskan padaku, Ana. Semuanya tanpa terkecuali." tuntut Nathan segera seusai mereka duduk.
Ana menoleh singkat, "Apa yang ingin kamu ketahui?"
"Soal Keyla,"
"Dia anak kamu, Nathan. Darah daging kamu."
Nathan tertawa hambar seraya menggeleng, "Kamu bohong, Ana. Dia nggak mungkin anak aku. Kita nggak pernah tidur bareng apalagi melakukan hubungan suami istri."
"Kenyataannya kita melakukan itu, aku hamil dan lahirlah Keyla. Keyla anak kamu. Aku tanya sama kamu, terakhir kali kamu mabuk, kamu ingat apa yang terjadi selanjutnya?"
__ADS_1
Nathan menggeleng lagi.
"Aku bawa kamu keluar dari klub ke apartemen kamu. Aku mau pulang, kamu nggak ngebolehin aku dan malah ngajak aku begituan. Aku yang cinta sama kamu bisa apa selain nurutin hasrat kamu. Aku ngerelain harta paling berharga yang aku punya karena aku tahu pria yang merenggutnya adalah kamu. Pria yang aku cintai," Ana mengamati perubahan ekspresi Nathan. Jujur apapun jawaban Nathan nanti, entah dia mau bertanggung jawab atau tidak, Ana pasrah, tidak ingin memaksa.
"Ini nggak masuk akal. Aku tahu kamu cinta sama aku, tapi jangan dengan cara licik kayak gini usaha kamu untuk ngedapetin aku, Ana," ucapan Nathan barusan jelas menyentil hati Ana sedemikian sakitnya. Ana tidak mempunyai pikiran buruk seperti itu.
Ana tersenyum getir, air matanya hampir jatuh, "Terserah kamu mau percaya atau enggak sama kata-kataku."
Pancaran luka yang Ana tunjukkan, jujur dada Nathan sedikit berdenyut nyeri, "Oke kalau misal Keyla bener anak aku. Apa yang kamu inginkan dari aku?"
"Tentu aja menginginkan keluarga kecil yang bahagia. Kamu bersikap baik ke Keyla, mengakui kalau dia anak kamu. Begitu juga ke aku. Masalah belum cinta, aku terima. Aku yakin perlahan-lahan hati kamu pasti terbuka."
Bangkit berdiri, Nathan menatap Ana lekat seakan hari ini, hari perpisahan mereka, "Soal Keyla, bisa aku pikirkan, tapi tidak untuk kamu, Ana. Aku mencintai wanita lain. Sejak lama sebelum aku mengenal kamu. Maaf, aku nggak bisa mewujudkan impian kamu," ucapnya seraya beringsut, meninggalkan Ana dalam kondisi menangis.
Cakra yang menyaksikannya, mengepalkan tangan sekuat-kuatnya. Kepalan yang kapanpun siap meluncur jika menyangkut kesedihan orang-orang terkasihnya.
......
Rumah tampak gelap dan sepi. Nathan menghidupkan sakelar lampu lalu menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Namun di tengah jalan, Nathan berpindah haluan ke kamar Kinan, mengetuk pintunya dan langsung masuk sebelum dipersilahkan sang empunya.
Kinan sedang bersandar di kepala ranjang sambil terpejam.
"Keluar." kata Kinan dingin tanpa niatan membuka matanya.
"Aku mau bicara sama kamu. Tolong ijinin aku. Cuma lima menit, nggak lebih." pinta Nathan.
Maniknya terbuka, Kinan melayangkan tatapan tajamnya, "Berhenti. Jangan mendekat. Pergi dari kamarku." ucapnya penuh penekanan.
Tak mengindahkan peringatan Kinan, Nathan terus melangkah hingga dirinya berdiri tepat di samping ranjang. Posisi mereka begitu dekat. Kinan berangsur ke kiri. Menjaga jarak.
"Pilih mana, kamu yang pergi atau aku yang pergi dari rumah ini dan membencimu seumur hidupku?" Kinan mengancam. Nathan pun menghentikan pergerakannya. Sorotnya sendu memandang Kinan.
"Plis, Kinan, kasih aku kesempatan buat ungkapin semuanya." ucap Nathan dengan nada memohon.
"Oke. Kalau itu mau kamu," terlalu muak dengan Nathan, Kinan turun dari kasur, meraih tas selempangnya di atas nakas kemudian angkat kaki dari sana. Berada di bawah atap yang sama membuatnya pingin cepat-cepat minggat. Itu Kinan rasakan setelah Nathan menyatakan perasaannya.
Kepergian Kinan dirinya dilema. Sekelebat bayang Ana serta Keyla terngiang-ngiang dipikirannya. Nathan bingung antara memilih Ana atau Kinan. Nathan mencintai Kinan. Tapi di satu sisi, kehadiran Keyla menggoyahkan rasa cinta itu.
Butuh sepuluh menit Nathan berpikir dengan jernih, keputusan apa yang akan dia ambil.
Diakhiran detik, Nathan memantapkan hati, memutuskan bahwa dia memilih Ana dan sesegeranya memberitahukan kepada Kinan. Mengikhlaskan perasaannya demi memperbaiki hubungannya dengan Kinan. Daripada semasa hidupnya dibenci oleh Kinan lebih baik Nathan mundur.
__ADS_1
Mudah-mudahan ini keputusan yang tepat.