Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 49


__ADS_3

Mengalah adalah satu dari sekian banyak bukti bahwa aku benar-benar mencintaimu.


......


Agra mengemas alat-alat tulis di mejanya ketika mendapat perintah langsung dari Faris yang baru saja meninggalkan kelasnya dengan emosi yang memupuk dibalik ekspresi tenangnya.


Perihal belum mendapatkan seseorang yang mahir memainkan piano. Kedatangan Faris secara tiba-tiba dihadapannya, membuatnya mengerti bahwa lelaki yang lebih tua dua tahun darinya itu sedang menahan diri untuk tidak meluapkan segala makiannya padanya.


Bukan mangkir dari tugasnya. Bukan juga tidak berusaha mencari. Agra sebisanya berkeliling kampus, masuk ke kelas-kelas, namun nihil. Di luar sana banyak wanita yang bisa main piano, di tempat Agni--sang Kakak mengajar les pun bertebaran. Tetapi, sesuai peraturan dari pihak kampus bahwa seseorang itu harus salah satu mahasiswi di Brawali. Tidak boleh di luar kawasan.


Jadi jangan salahkan Agra jika dia pasrah dan sudah siap menerima segala konsekuensi atas apa yang dicapainya.


Di dalam ruang rapat, Agra memilih duduk menyendiri di sudut kanan. Sementara Abyan dan Afka memutuskan untuk mengganggu kenyamanan Agra dengan mengambil posisi duduk di kursi kosong samping kiri Agra.


Afka menyenggol lengan Agra dengan sikutnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Agra kemudian berbisik pelan, "Selamat, Bro. Bentar lagi lo bakal liat harimau ngamuk."


"Lo pikir gue takut?" ucap Agra dengan tampang datar andalannya.


Afka mengedikkan bahunya, "Ya kali aja. Kata anggota acara tahun lalu, Faris itu ketua yang paling disegani dan ditakutin karena dia tipe orang yang perfeksionis. Apa-apa kerjaan harus sempurna seperti kemauannya. Kalau ada satu dari anggotanya yang nggak becus jalanin tugas, dia nggak segan ngedamprat orangnya habis-habisan. Pernah sampai adu jotos lagi. Dan dia sama sekali nggak takut kena DO."


Penjelasan secara rinci dari Afka, tampaknya tidak berpengaruh apa-apa bagi Agra. Lihat saja responnya, menyilangkan kedua tangan di depan dada seraya mendesis. Untung saja Faris belum datang, kalau sempat melihat respon Agra barusan, Afka jelas tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ruangan serapi ini akan sekejab berubah layaknya kapal pecah.


"Udah siap ngedongengnya?" kata Agra acuh tak acuh, "Budek kuping gue lama-lama denger lo ngebacot. Diem aja bagusan." dia kembali mengubah gaya tubuhnya menjadi rileks, bersandar di dinding lalu memejamkan matanya sejenak.


Kepalan tangan Afka hendak mendarat tepat di muka Agra yang kelewat ngeselin. Abyan dengan gesit menangkisnya dan menggeleng samar. Isyarat bahwa Agra lagi dalam keadaan tidak ingin diganggu.


"Susah banget lo dikasih tau. Dari jauh hari gue nyuruh lo ngebujuk Kinan buat jadi pengisi acara kita. Lo malah nolak dengan alasan nggak mau maksa kehendaknya. Sekarang pening sendiri kan, lo." ujar Afka memuntahkan kekesalannya, meladeni sifat keras Agra yang tidak pernah luntur di diri lelaki itu.


"Siapa yang awalnya nolak mentah-mentah? Dikejar-kejar soknya menjauh. Bilang kalau dia nggak akan pernah bisa cinta sama Kinan. Kinan udah kayak perempuan nggak tahu diri gara-gara sikap kelewatan lo, di mata penduduk kampus. Miris gue lihat Kinan waktu itu. Sekarang aja berubah seratus delapan puluh derajat jadi bucin. Cih, kemakan sumpah ya gitu." Afka semakin berang. Dia enggan menatap wajah lawan bicaranya yang seakan perkataannya adalah angin lalu.


Agra membuka maniknya kemudian memokuskan pandangannya pada ponsel di genggamannya, "Terserah apa kata lo. Gue males berdebat sama siapapun lagi. Cukup Faris yang bakalan ngebuat gue ngomong panjang lebar hari ini."


Tidak ada sahutan lagi selain decihan saja yang terdengar dari arah Afka. Abyan yang sedari tadi diam, tidak tertarik sama sekali menimbrung obrolan panas kedua temannya itu.


Pintu ruang rapat terbuka. Faris masuk dengan tatapan menajam diperuntukkan untuk Agra. Agra tahu namun mengabaikannya.


"So, perkembangan apa yang mau lo kasih ke gue?" tanya Faris to the point pada Agra. Meski di dalam hatinya dia menggeram marah, sebagai ketua sekaligus panutan para anggotanya, dia berusaha amat hati-hati ketika bersikap dan bertindak di depan anggotanya. Berupaya tidak mudah tersulut emosi.


Agra mendongak, memandang lurus sosok Faris yang berdiri tegas tidak jauh dari tempatnya, "Sebelum gue jawab, ada baiknya lo usir dua manusia di samping gue untuk minggat dari ruangan ini."


Mengetahui situasi aneh diantara pertemanan mereka, dilihat gelagat Afka yang ogah-ogahan menatap Agra, Faris paham dan mengisyaratkan keduanya bergegas pergi melalui gerakan dagunya.


Afka bangkit dan menilik Agra sengit. Seperti bermusuhan sejak lama, "Tanpa perlu lo minta, gue juga malas satu ruangan sama orang yang ngejilat ludahnya sendiri. Gue hanya menghargai Faris, makanya dari tadi gue masih berada di sini." ujarnya datar.


"Cabut, Yan." ajak Afka pada Abyan yang lanjut mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Sepeninggalan mereka berdua, Faris maju selangkah mendekat, mengikis jaraknya dengan Agra.


"Mereka udah pergi, dipersilahkan menjawab pertanyaan gue." Faris bersidekapan.


"Hasilnya kosong." jawab Agra seadanya.


Seolah bisa membaca isi pikiran Agra, Faris menyeletuk bebas, "Cewek lo nggak menyetujui?"


Agra menggeleng dan enggan bertatap muka, "Gue nggak ada ngebahas soal ini lagi ke dia dan gue juga nggak mau maksa dia."


"Sehebat apa sih cewek lo sampai demi acara kampusnya dia nggak mau berkorban sedikitpun?" nada suara Faris terdengar meremehkan. Agra berdiri setelah menyentak kuat kursi yang dia duduki hingga Faris sudah berjarak sangat dekat dengannya. Ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Tentu dia marah saat tentang pribadi Kinan dikupas terlalu jauh.


"Tentu dia hebat sampai rasanya gue kasihan ngebiarin dia berlelah-lelahan nantinya karena ikut berpartisipasi untuk acara kampus."


"Gue putuskan biar gue yang bicara sama cewek lo itu. Gue akan bayar berapapun harganya asal dia mau menjadi pengisi acara kita." Faris berujar tenang namun mampu membuat darah di sekujur tubuh Agra mendidih.


"Cewek gue bukan barang, anjing!"


Satu bogeman mentah melayang tepat di sisi wajah Faris. Faris yang sejak kemarin ingin menghabisi Agra, membalas pukulan Agra sama kuatnya.


Selanjutnya, ruangan itu sudah dipastikan berubah seperti kapal yang terombang-ambing diterpa badai.


.........


Sepanjang sepasang flatshoes hitam itu melangkah, senyum manisnya tak urung surut sembari berkicau-kicau ria dengan rambut tergerai, bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Mungkin ini efek pesan Agra beberapa menit lalu yang menyuruhnya menunggu di depan ruang rapat, tempat dimana Agra sedang membicarakan sesuatu bersama ketuanya. Agra berjanji kepadanya, membawanya ke Apartemen lelaki itu dan menonton di home theater sesuai keinginannya semalam.


Itu alasan kenapa Kinan sangat senang siang ini.


Langkah-langkah kecilnya yang hendak mengintip di jendela, harus terhenti dengan sangat terpaksa, saat sayup-sayup dia mendengar suara kegaduhan dari dalam. Pelan-pelan Kinan menempelkan telinga kanannya pada daun pintu. Mencoba mempertajam pendengarannya. Meskipun ruangannya kedap suara, hantaman yang mereka ciptakan mampu menembusnya.


Sangat hafal jelas jika itu suara Agra. Agra yang memaki, menggebrak meja, mengatakan hal yang tidak bisa Kinan mengerti apa maksudnya. Kinan menutup kedua telinganya erat ketika ringisan Agra terdengar nyaring. Membuatnya ngilu dan merinding. Jantung Kinan memompa kencang. Dia memutuskan menarik knop pintu tapi sia-sia sebab di kunci. Kinan bingung sambil menggigit jari. Tidak usaha mencari bala bantuan.


Sampai tubuhnya terdiam begitu samar-samar dia menangkap penjelasan seseorang.


"Gue kasih keringanan sampai besok, jam makan siang, temui gue di sini. Kalau pemain pianonya belum juga dapet, siap-siap berhadapan sama Rektor. Gue nggak jamin di akhir semester, lo selamat melewati meja hijau."


Selepas suara itu menghilang, pintu dihadapannya terbuka lebar. Otomatis Kinan gelagapan dan buru-buru memberi jalan bagi Faris mendahuluinya. Faris sempat meliriknya lalu mengangkat bahu, tidak peduli.


"Kamu kenapa bengong?" tanya Agra tiba-tiba nongol.


"Hah?"


Kinan menggaruk pelipisnya dan tersenyum kikuk, "Eh, maksudnya... Gapapa kok."

__ADS_1


"Maaf buat kamu nunggu." kata Agra tak membahas kapan Kinan tibanya. Kinan bernapas lega karena itu.


"Kita jadi ke rumah kamu?"


Agra mencubit gemas pipi Kinan yang sedikit menggembung, "Iya, sayang. Yauda ayo. Keburu matahari makin tinggi."


Tak menyiakan kesempatan, Kinan menggandeng lengan Agra dan bersandar manja.


"Kamu bawa helm buat aku, kan?"


"Bawa sayangku. Cantiknya sama kayak kamu."


Debaran jantungnya semakin menggila. Agra paling ampuh membuatnya hampir terkena serangan jantung.


......


Lampu dinyalakan pertanda menonton film telah usai. Selama kurang lebih tiga jam lamanya mereka duduk saling berpelukan, menikmati jalannya cerita.


Selama itu pula baik Agra maupun Kinan hanya bungkam dengan mata terfokus pada layar plasma dihadapan mereka yang menayangkan film horor Indonesia. Kinan tidak takut hal berbau mistis begitupun juga Agra. Adegan romantis yang diidam-idamkan banyak perempuan ketika hantu muncul lalu berlari kepelukan sang pacar dan pacarnya mengusap sayang kepala perempuannya, tidak akan terjadi diantara hubungan mereka karena Kinan dan Agra sama-sama menyukai genre itu.


Lima detik berlalu, tidak ada pergerakan dari arah sebelahnya. Kening Kinan berlipat, segera melirik Agra yang diam dengan tatapan hampa.


"Kamu ada masalah apa sama ketua kamu?" tanya Kinan hati-hati. Pasalnya sebagian kecil dalam dirinya masih agak was-was menerima kemarahan Agra, "Aku nggak akan desak. Tapi kalau kamu butuh temen curhat, aku sangat siap mendengarkannya sampai selesai."


Agra menoleh sembari menyunggingkan senyuman, "Bukan hal penting, sayang." sekilas Kinan menangkap guratan kekhawatiran di pancaran kedua matanya.


"Mata kamu nggak bisa bohong Agra. Aku sempat denger kamu bertengkar sama ketua kamu. Bukan maksud nguping. Suara kalian terlalu besar."


"Aku nggak apa-apa, Kinan. Ini masalah antara sesama lelaki. Kamu nggak perlu tahu dan jangan mau tahu."


Kinan menyerongkan duduknya agar dia bisa melihat jelas tampang letih Agra yang hanya beberapa senti saja jaraknya. Menyelami setia inci lekuk wajahnya, Kinan mengambil napas kemudian menghembuskannya perlahan.


"Aku setuju jadi pemain piano wanitanya."


Sekilatnya Agra menatap Kinan tak percaya. Diluar dugaannya Kinan berkata sedemikian rupa.


"Kamu bilang kamu nggak pandai main piano."


"Aku bisa." jawab Kinan cepat.


Agra memegang kedua bahu Kinan, matanya berbinar senang, "Serius kamu bersedia?"


Kinan mengangguk, "Iya, Agra."


Tubuhnya langsung terguncang, Agra memeluknya sangat erat sampai dadanya sesak. Kinan menepuk-nepuk punggung Agra pelan dan tersenyum. Kekhawatiran yang mendera lambat laun sirna.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, terima kasih."


__ADS_2