
Aku menginginkan hari dimana aku bisa tertawa bahagia bersamamu tanpa rasa sakit yang membelenggu
Pertemuan antara Kinan dengan Nathan beserta Ana, berhasil menguntungkan pihak Cakra dan semakin merugikan pihak Nathan. Pasalnya, semenjak berganti hari, hubungan Kinan dengan Cakra yang semulanya merenggang, kini terlihat kembali akrab. Berbeda jauh hubungannya bersama Nathan yang kian menjauh, seolah ada balok memanjang, khusus Kinan ulurkan jika dihadapkan dengan sosok Nathan. Nathan sulit menggapainya bahkan hanya sekadar meminta maaf.
Seperti pagi ini, motor gede Cakra berhenti di parkiran kampus. Di belakangnya sudah ada Kinan yang sedari berangkat terus mengeratkan pegangan pada jaket miliknya. Cakra membawa motornya kebut\-kebutan. Sepanjang jalan Kinan tak usai merapal doa agar dirinya dalam perlindungan Sang Kuasa.
Selama Kinan hidup, baru kali ini nyawanya seakan ingin lepas dari raganya. Berbeda dengan sewaktu Kinan terbaring lemah di rumah sakit akibat percobaan bunuh diri yang dia lakukan dan berakhir gagal.
"Turun kali. Udah sampe. Lo pikir ini lagi naik gajah taman safari, apa?!" Cakra berujar ketus meski itu candaan semata. Dia sedikit menyerongkan kepalanya demi bisa bersitatap dengan manik kecoklatan milik Kinan.
Kinan menekuk wajahnya dengan bibir bawahnya sedikit maju sesenti. Tidak habis pikir kepada pria di depannya ini. Selalu bernada tinggi jika berbicara padanya dan kadang bisa lembut dalam satu waktu. Kesal tapi juga bisa membuatnya melupakan sejenak beban hidupnya walau sekejap mata.
"Tinggi banget. Aku gak bisa, Cakra. Kaki ku susah nginjek tanah," keluh Kinan seraya melirik ke bawah. Sesekali dia meringis. Membayangkan dirinya terjerembab adalah hal yang dia hindari saat ini.
"Sekarang gue tanya sama lo, tadi pas naik siapa yang bantuin?" tanya Cakra.
"Aku sendiri lah."
Cakra menepuk gemas pucuk kepala Kinan, "Nah, masa turunnya juga gak bisa? Gimana sih, cantik?"
Bibir Kinan makin manyun, "Ya kan aku berpegangan sama bahu kiri kamu sampe aku tekan kuat biar sukses nyampe atas."
Cakra manggut manggut, mengerti, "Yauda kalau gitu buat lagi seperti apa yang lo lakuin itu. Kali ini tumpuin kedua tangan lo di kedua bahu gue. Jangan satunya aja. Terserah mau lo tekan atau mau lo remas, yang paling terpenting lo gak jatuh."
Ucapan lembut diselip rasa perhatian yang pria itu lontarkan tanpa sadar membuat senyum Kinan terkembang manis.
"Nanti kamu kesakitan loh..."
"Bagi gue, lebih baik gue yang merasakan sakitnya," ucap Cakra tulus dari lubuk hati paling dalam.
Jemari Kinan terjulur dan mendarat di kedua pipi Cakra kemudian mencubitnya sambil tertawa, "Ululu, so sweet banget sih kamu."
Tak tahu jika perlakuannya itu memancing degupan kencang di dada Cakra hingga perasaannya semakin ambyar.
"Cepetan gih. Entar kelas pagi lo keburu dimulai!" desak Cakra mengakhiri keadaan yang berpeluang membuatnya kembali egois. Menginginkan perempuan yang sudah dimiliki orang lain. Padahal jelas Cakra tahu bahwa orang lain itu tak pernah sekalipun menginginkannya.
"Iya, iya, sabar," Kinan mencoba turun dan kakinya berhasil menapak tanah. Sesaat keningnya mengerut melihat Cakra bergeming di tempatnya, enggan bergerak menjauhi motornya, "Kamu gak ikut masuk?"
"Gue bolos. Males ketemu Dosennya."
"Ih, kenapa?" Kinan berjengit.
Cakra hanya mengedikkan bahunya. Merasa tidak perlu memberitahukan kepada Kinan alasan kenapa dia memilih tidak mengikuti mata kuliah pagi ini.
"Udah sana pergi. Telepon gue kalo udah selesai."
Selepas mengatakan itu motor Cakra melesat dengan cepat melewati gerbang, meninggalkan Kinan dengan serentetan pertanyaan yang tertahan di ujung lidah.
Sebelum benar benar mengabsen satu persatu anak tangga, Kinan memutus tujuannya awalnya ke kelas dan mengambil jalan kiri, melewati lorong panjang dengan langkah lebar.
Perempuan berambut panjang tergerai itu berhenti tepat di depan salah satu loker anak Ekonomi. Loker yang paling dia hafal, loker yang selalu dia intip di kejauhan, loker yang selalu dia tunggu tunggu kedatangan pemiliknya, loker yang selama ini menampung segala bentuk curahan hatinya di dalam sebuah kertas putih.
Dan loker yang menjadi saksi bahwa semua surat-suratnya teronggok mengenaskan tanpa ada balasan. Mungkin saja suratnya tak pernah di buka. Bahkan, tak di sentuh sama sekali oleh Agra.
Ya, Kinan sadar, dirinya tidak penting. Tapi, apa suratnya harus merasakan hal yang sama?
Pikiran negatif itu segera dia enyahkan, mengingat besarnya perjuangannya untuk mendapatkan Agra tak usai sampai di sini. Kinan mengeluarkan amplop putih dari kantong almamaternya, menyelipkannya hati-hati melalui celah pintu loker Agra dengan awas sembari menatap sekitarnya. Takut mahasiswa lain memergokinya. Untungnya sedang sepi. Kinan leluasa melancarkan kegiatannya itu.
Sayup-sayup terdengar suara mulai mendekat. Kinan cukup terkejut saat kepalanya menoleh ke samping kiri, menemukan Agra tengah berbincang bersama Adira. Mereka berjalan bersisian. Kinan panik saat dia sadar jika keduanya berjalan ke arahnya. Buru buru Kinan lari lalu bersembunyi di balik pilar. Jarak yang lumayan dekat mengakibatkan pembicaraan mereka terdengar sangat jelas.
"Gra, ntar malem gue nginep di Apartemen lo, ya?" itu suara Adira.
"Boleh."
Ketika jawaban santai pria itu menusuk gendang telinganya, sesak di dadanya terasa menikamnya perlahan.
"Sekamar lagi dong." Adira menyeruakkan balasan.
Kinan terdiam akibat penuturan Adira.
Sekamar? Batinnya.
__ADS_1
"Jadi mereka pernah tidur bareng?" bisiknya pada diri sendiri dan itu sangat pelan.
Kinan mempersiapkan pendengarannya dengan seksama, namun sepi yang dia dapat. Jelas saja Kinan ingin mendengar apa respon Agra selanjutnya. Kinan mengintip, mendapatkan Agra sedang membisikkan sesuatu ke telinga Adira disertai tersenyum nakal.
Jantung Kinan berdegup tak karuan. Dia mati penasaran dengan apa yang Agra bisikan pada Adira. Ekspresi itu sangat mengusiknya.
"Gak mungkin Agra berkhianat. Agra itu setia. Gak mungkin dia selingkuh di belakang aku. Agra gak pernah tidur sama perempuan manapun. Agra cuma cinta sama aku," rancaunya seraya tersenyum pedih, "Plis Kinan, tenangin pikiran lo. Jangan bertindak gegabah. Mungkin lo salah dengar. Iya, pasti salah." yakinnya.
Saat keduanya sudah tak di sana, Kinan keluar dari persembunyian, mengikuti kemana mereka pergi. Kinan harus menggagalkannya bagaimanapun caranya.
"AGRA!!" teriak Kinan, memanggil.
Agra berhenti diikuti Adira. Agra berbalik sedangkan Adira pamit, memberi ruang kepada sepasang kekasih itu.
Alis Agra menukik, heran, "Kenapa?" balasnya datar. Ekspresinya apalagi.
Hatinya mencelos. Reaksi Agra membuatnya mati kutu. Kinan terdiam lama.
"Malah bengong! Buruan! Mau ngomong apa?! Gue gak punya banyak waktu!"
Matanya mengerjap lambat. Kinan menatap Agra sayu.
"Malam ini kamu ada acara gak? Temen kerjaku nikah. Aku mau ngajakin kamu. Kamu mau kan temenin aku?" tanya Kinan. Tentu itu kebohongan yang dia ciptakan.
"Sori, gue gak bisa." balas Agra cepat.
Raut Kinan berubah sendu, "Kenapa?"
"Gue ada janji sama yang lain."
"Apa sepenting itu?"
"Ya."
Kinan meremas jemarinya. Penolakan itu menyebabkan sesak tak berkesudahan. Hatinya menjerit, menangis pilu. Adira jauh lebih segalanya dibandingkan dirinya. Kinan sadar. Kinan paham.
"Hm, gak jadi deh. Kalau ikut kamu aja, boleh?"
Agra menarik satu sudut bibirnya ke atas, "Kenapa lo harus ikut gue? Pernah mikir gak kalau kehadiran lo buat gue terusik?"
Deg!
Sayatan pisau seakan mengiris permukaan kulitnya. Rasanya perih sekali. Kinan menggigit bibir bagian bawah, menekannya agar tidak bergetar. Kinan mencoba mengukir senyuman di wajah pucatnya.
"Sekalipun kamu terusik karena aku, aku akan tetap perjuangin kamu, Agra. Aku gak peduli meski kamu berubah kayak dulu. Dingin dan tak tersentuh."
Tersenyum sarkas, Agra maju, memperkecil jarak mereka.
"Sayangnya gue lebih gak peduli sama semua usaha lo!" Agra berucap tajam seraya memutar badan lalu lanjut berjalan.
Menitipkan kesakitan tiada tara untuk seorang perempuan berlapiskan topeng kebahagiaan yang kian merapuh.
Sejak beberapa menit lalu, nama Agra terpampang di layar ponselnya yang menyala. Kinan tak hentinya menghubungi lelaki itu. Berkali kali napasnya terhela lantaran teleponnya tak kunjung diangkat.
Taksi yang kini membawanya ke Apartemen besar di tengah Kota, menepi di tepi jalan raya, di depan sebuah bangunan tinggi nan megah. Lantas Kinan bergegas setelah memberikan uang pada sang supir. Kinan memasuki gedung itu dan menaiki lift.
Ah, Kinan tak yakin, apakah Agra berani melakukan hal macam\-macam kepada yang bukan muhrimnya?
Sesampainya di depan pintu Apartemen Agra, Kinan dengan rusuh menekan bel hingga suara 'bip' menyapa.
Tenggorokannya tercekat saat Agra muncul dengan menggunakan celana pendek tanpa atasan. Wajahnya seperti seseorang yang baru bangun tidur. Kinan meneguk ludah.
Apa jangan\-jangan mereka sudah berbuat? Tidak! Tidak mungkin! Yang benar saja!
Lain halnya Agra. Lelaki tampan itu tampak terkejut, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Lo gila?!" sentakan itu berasal dari arah Agra, "Ngapain tengah malem ada di sini?!"
Kinan takut\-takut menatap manik Agra, "A\-aku ka\-kangen kamu." jawabnya asal.
"Apa lo bilang?! Kangen?!" Agra murka, "Fix, lo beneran udah gak waras!"
Kinan menunduk sedih, "Aku tau."
"Apa sih yang ada dalam otak lo?! Lo datang ke Apartemen cowok, sendirian di jam segini dengan alasan yang gak masuk akal?!" amarah Agra memuncak, "Udah gak punya harga diri?!"
Dadanya bergemuruh. Denyut itu makin terasa menyakitkan seiring lontaran pedas Agra.
"Maaf, Agra."
"Pulang!" pinta Agra, keras.
Kinan menggeleng.
__ADS_1
"Gue bilang pulang!"
Kinan bersikeras tetap tinggal.
Jari telunjuk kanan Agra mengarah tepat di hadapan wajah Kinan, "Lo pikir kehadiran lo di sini buat gue luluh? Lo pikir gue kasihan sama lo terus nyuruh lo nginep di Apartemen gue? Jangan ngimpi!"
Kinan refleks memejam. Kupingnya panas, matanya lebih parah. Lamat\-lamat matanya mengerjap.
"Kamu jangan marah."
"Pergi sebelum gue seret." ucap Agra dingin.
"Ada apa ini ribut\-ribut?" celetuk seorang perempuan bercepol.
"Agra lo kenapa deh teriak\-teriak?" disusul derap langkah Adira.
Mereka mengambil posisi di balik tubuh tegap Agra. Agni\-\-\-kakak Agra mengernyit melihat Kinan terpaku memandangnya. Agra menurunkan bahu.
"Kalian mending masuk. Ini urusan gue sama dia." kata Agra datar.
"Emang perempuan ini siapa kamu, Gra?" tanya Agni.
"Bukan siapa\-siapa."
Agni hendak bersuara, namun Agra bertindak duluan dengan menarik kuat pergelangan tangan Kinan sampai bercak merah menghias di kulit putihnya. Mereka menaiki lift dan turun ke lantai dasar. Agra membawa Kinan ke taman belakang gedung. Agra menyentak tangan Kinan dengan kasar.
"Gue tau alasan kenapa lo tiba\-tiba ada di tempat gue," Agra layaknya cenayang, "Lo pasti mengira gue cuma berduaan sama Adira, kan? Berarti lo nguping pembicaraan gue di kampus pagi tadi."
Kinan tidak terima, "Aku gak sengaja. Suer."
"Apapun perkataan lo, gue gak peduli. Dengan lo bersikap kekanak\-kanakan kayak gini, itu buat gue muak." tandas Agra, kejam.
"Aku minta maaf, aku salah." ujung mata Kinan berair.
Agra tersenyum sinis, "Gue perjelas, meskipun lo berstatus sebagai kekasih gue, gue gak akan pernah menganggapnya demikian."
"Dan lo tau karena apa?" tambahnya.
Kinan menangis seraya menggeleng, meminta Agra menyudahi bicaranya. Kinan tahu itu tidak baik untuknya.
"Plis, jangan..."
Menghiraukan peringatan itu, Agra melanjutkan kata\-katanya.
"Karena sejak awal, kebohongan yang berperan dalam hubungan ini. Tugas gue hanya melancarkannya."
Bahu Kinan bergetar hebat mengetahui fakta menyakitkan itu. Cairan bening terus menerobos, mengaliri pipinya. Sangat deras. Penglihatannya buram, berlinangan air mata.
Kapan Agra memberi ruang sedikit saja untuk dirinya bernapas dengan lega?
Kapan Agra berhenti memberi goresan luka di titik kelemahannya?
Kapan lukanya pulih?
Kapan Agra balik mencintainya ?
Kapan, Ya Tuhan?
...
__ADS_1
**Ada yang tau ga kenapa tulisannya diputihin gitu??? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜**