Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 40


__ADS_3

Untuk yang belum aku mampirin ceritanya. Sabar ya guys. Ntar kalo waktuku udah bener bener luang aku vote sampai beberapa part cerita kalian.


....


Aku benar-benar merasa hidup kembali setelah sekian lama mati.


Iya, hati dan raga ini.


......


Nathan menghantam meja kerjanya sekuat mungkin dengan kepalan tangannya. Deru napasnya memburu tak beraturan. Emosi yang dia simpan sejak menjatuhkan diri di sebelah Kinan, menguap begitu saja sesampainya di ruangan miliknya. Untungnya ruangan itu kedap suara hingga ulahnya barusan tidak sampai terdengar keluar.


"Aku nggak akan ngebiarin Kinan semudah itu jatuh kepelukannya! Selama ini aku seperti pengecut, bersembunyi dari perasaanku yang sebenarnya. Dan sekarang, aku akan terang-terangan menunjukkan bahwa aku adalah sosok yang akan menentang hubungan mereka di barisan paling depan!" Nathan bergumam tegas. Bahunya naik turun tanda dia masih dipengaruhi oleh emosi. Bahkan rahangnya terus mengetat dengan mata berkobar.


Perlu beberapa menit untuk mengembalikan kondisinya seperti biasa, barulah pernapasannya kembali normal. Lantas Nathan memutari sisi meja, meraih sebuah buku bersampul hitam, memasukannya ke dalam tas kerjanya lalu beranjak dari sana.


Sepanjang kakinya menapaki setiap anak ubin di koridor menuju parkiran, sesekali Nathan melempar senyuman tipis pada beberapa mahasiswanya yang kebetulan berpapasan dengannya. Sangat tipis sebab jauh di lubuk hatinya, Nathan masih menyimpan amarah menggebu. Amarah atas hasil obrolannya dengan Agra, kekasih Kinan yang Nathan lihat sungguh berani melawannya. Tanpa sadar keduanya telah bermusuhan. Saling bersaing mendapatkan hati Kinan. Hanya saja Nathan tidak tahu kalau hati Kinan sepenuhnya buat Agra. Khusus untuk seseorang berhati dingin bernama Agra.


"Loh, kunci mobilnya mana?" Nathan kelabakan saat dirinya tak mendapati benda kecil terbuat dari besi itu ketika tangan kanannya merogoh tas jinjingnya.


"Perasaan tadi pagi aku taruh di dalam. Kok bisa nggak ada ya," Nathan memposisikan tasnya di atas jok motornya agar dirinya bisa leluasa mencarinya. Tetapi nihil. Kuncinya sama sekali tidak dia temukan. Nathan mencoba mengingat-ingat ulang di mana dia meletakkannya. Tetap saja, ingatan terbesarnya ada pada tasnya. Nathan tidak mungkin lupa. Lantas, kenapa benda itu tidak ada? Tidak mungkin kan di ambil orang?


"Bapak nyari ini?" suara lembut dari balik punggungnya, menggerakkan tubuhnya untuk memutar, melihat siapa di sana.


Nathan mengernyit, pandangannya tertuju pada Adira yang tengah menyodorkan sesuatu ke arahnya. Akibat keterdiamannya, Adira kembali menyeletuk.


"Pak Nathan, ini punya Bapak? Bapak nyari kunci ini kan?"


Mengerjap lamban, Nathan mengangguk pelan tak lupa tersenyum kecil, "Iya, punya saya. Kok bisa ada di kamu?" tanyanya penasaran.


"Saya lihat terjatuh dari tas Bapak. Kebetulan aja pas saya yang lewat, saya ambil. Sempat saya panggil, tapi Bapak udah menghilang dari pandangan saya. Tadi sewaktu nampak Bapak di sini dari lantai dua, saya buru-buru turun buat ngembalikan barang itu," ujar Adira sopan.


Nathan manggut-manggut, senyumnya tetap mengembang di wajah tampannya, "Kalau gitu terima kasih ya, Adira. Berkat kamu saya bisa pulang dengan segera," dia terkekeh.


Tidak tahu kalau responnya itu berhasil meluntah-lantahkan perasaan Adira. Jantung Adira memompa cepat. Hatinya menghangat karena tawanya. Adira termangu menyaksikannya. Bunga-bunga cinta tumbuh semakin rimbun di hatinya. Tak memungkiri daya pesona yang Nathan miliki, mampu menarik perhatiannya. Sejak Nathan mengajar, Adira sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Sama-sama Pak," Adira mengangguk dan setengah membungkukkan badan, bersikap sopan, "Kalau gitu saya pamit dulu ya Pak."


"Kamu mau pulang?" Nathan bertanya yang di balas Adira dengan sekali anggukkan kepala.


"Iya Pak,"


"Temenin saya makan siang, mau? Kebetulan saya lagi pengen makan sushi. Barang kali kamu belum makan. Sekalian bareng saya," tiba-tiba saja Nathan mengajak Adira pergi bersamanya, mengisi kekosongan perutnya yang sudah meronta-ronta minta diisi. Di kantin tadi, selera makannya mendadak hilang melihat Kinan berduaan bersama kekasihnya. Satu sisi sebagai bentuk rasa terima kasihnya untuk Adira karena kalau saja bukan Adira si penemu kunci mobilnya, mungkin mobilnya sudah di angkut orang.


Adira yang masih tidak nalar, bertanya memastikan, "Bapak ngajak saya?"


"Iya. Kamu mau?"


"Mau banget Pak," tanpa ragu, Adira membalas antusias.


"Yauda ayo," ajak Nathan yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.


Meninggalkan Adira di luar dalam kondisi persis seperti orang gila, senyum-senyum sendiri dengan suasana hati berbunga-bunga.

__ADS_1


......


Restoran sushi adalah pilihan Nathan untuk menyantap makan siangnya bersama Adira. Mereka berdua memilih tempat di ruangan terbuka. Di lantai dua tepat di pinggiran pagar pembatas. Dari mejanya mereka bisa melihat pemandangan sekitaran yang di fasilitasi taman hijau di bagian depan restoran sebelum menggapai pintu utama.


Di bawah meja, Adira berusaha menggenggam jemarinya akibat gugup menyerang. Tangan mungilnya agak bergetar. Berhadapan dengan manusia tampan yang terlebih lagi laki-laki yang Adira sukai berbeda rasanya. Rasanya senang, grogi, malu, jadi satu. Nathan benar-benar melemahkannya.


"Kamu suka sushi?" pertanyaan spontan dari Nathan, mengagetkan Adira yang memang terdiam dengan pikiran bercabang.


Adira menatap Nathan dan mengangguk, "Suka, Pak."


Si tampan itu kembali terkekeh. Entah apa yang di tertawakannya. Merasa menjadi bahan lucuan, Adira mengerucutkan bibirnya, sebal, "Bapak ngetawain saya?"


"Tidak. Hanya saja kamu kelihatan lucu jika sedang tegang begitu. Santai Adira. Saya buka seorang mafia yang harus kamu takutin. Air mukamu kelihatan jelas. Saya bisa menebaknya dengan sekali tatap," Nathan memperjelas alasannya.


Kedua kalinya Adira diam, diam karena meresapi perkataan Nathan yang mengatakan dia lucu.


Beneran Nathan menyebutnya lucu? Adira tidak salah dengar, kan?


Menekan bibirnya agar senyumnya tidak mengembang, Adira berdehem pelan, "Bagaimana pun Pak Nathan itu adalah dosen saya di kampus. Wajar saya agak tegang begini."


"Apa kamu merasa nyaman berbicara formal di depan saya?"


Cukup lama tak ada respon, sedetik kemudian Adira perlahan mengangguk kepalanya ke atas ke bawah dengan gerakan patah-patah, ragu, "Sebetulnya, sedikit tidak nyaman, Pak."


Nathan menilik Adira. Dagunya bertumpu pada kedua tangannya di atas meja. Dia paham sekali apa yang Adira rasakan saat ini. Penuh kecemasan serta kegugupan.


"Kalau gitu panggil aja saya Nathan. Tanpa embel-embel Bapak ketika di luar area kampus. Bicaranya juga informal aja. Saya nggak makan orang kalau itu yang kamu takutkan," Nathan mencoba mencairkan ketegangan yang tercipta. Tentu Nathan juga risih jika terlalu formal dalam berbincang. Tetapi yang namanya berprofesi sebagai dosen merangkap jadi seorang direktur, mau tidak mau Nathan harus menggunakan bahasa yang baik dan benar.


"Saya rasa itu terlalu berlebihan dan sudah di luar batas semestinya, Pak," Adira menyergah.


Walau Adira sendiri di landa dilema detik berikutnya dia tetap mengangguk pelan, "Baiklah, Nathan," ucapnya sangat hati-hati.


Oh ayolah, pria di depannya adalah dosen sekaligus pria yang Adira sukai. Memanggil namanya tanpa embel-embel 'Bapak' agak sungkan. Mungkin jika terus-terusan menyebutnya, Adira tidak gagu lagi dan terbiasa.


"Nah gitu kan enak. Sekarang ayo kita makan," Nathan menaruh sepiring sushi berserta jus jeruk di hadapan Adira yang baru saja pelayan antarkan ke meja mereka. Sempat saling tolak-menolak karena seharusnya Adira yang menyiapkannya, "Gak apa-apa kan cuma mesan sushi? Atau kamu mau pesan makanan lain? Pesan aja. Biar aku yang traktir."


Adira menggeleng, menolak, "Nggak perlu, Nat. Ini aja udah cukup kok."


"Ya sudah, habiskan kalau gitu," senyum Nathan.


Selama mereka menghabiskan makanan mereka masing-masing diiringi sebuah lagu slow yang di putar oleh pihak restoran, selama itu juga mereka tidak membuka sebuah obrolan. Adira mengerti adat makan tidak boleh sambil berbicara. Dia pun mempercepat laju makannya agar bisa menghabiskan waktu untuk saling berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan Nathan. Nathan itu dewasa. Salah satu alasan kenapa Adira begitu menyukainya. Saat diperhatikannya Nathan meletakkan garpu di sisi piring, Adira melontarkan pertanyaan inti.


"Kamu belum kepikiran untuk menikah, Nat?" Adira tahu dia terlalu terburu-buru, namun mau bagaimana lagi, Adira mati penasaran.


"Belum dan lama lagi. Aku ingin sukses lebih dulu menjadi pengusaha ternama. Baru setelahnya mulai memikirkan masa depan," ujar Nathan secara gamblang.


Mulai memikirkan masa depan?


Adira menjepit bibir bagian bawah dengan giginya. Gugup dan takut. Jantungnya dag dig dug. Kalimat terakhir yang Nathan ucapkan, mengusik pikirannya. Apakah Nathan sudah memiliki kekasih? Adira semakin kepo perihal kisah asmara pria itu.


"Udah ketemu calonnya?" tanyanya menguatkan diri mendengar jawaban Nathan. Antara dua kemungkinan, sudah atau belum.


"Kamu sendiri udah ketemu?" kedua bahunya terjatuh. Nathan malah balik bertanya dengan pertanyaan yang sama. Adira menilik Nathan dengan sorot penuh selidik. Nathan seperti mengelak dan menyembunyikan sesuatu. Cukup tahu diri untuk tidak mengorek informasi lebih, Adira lagi-lagi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa?"


Napasnya terhela berat, Adira menatap Nathan seraya tersenyum getir, "Karena aku lagi nunggu cintanya seseorang."


Seakan ada sebongkah batu besar mengenai tepat di ulu hatinya, justru Nathan beranjak dari duduknya, mengajaknya pulang tanpa berkata apapun lagi. Senyumnya begitu menyayat. Dadanya sesak luar biasa.


Seharusnya Nathan penasaran dan bertanya lagi. Seharusnya Nathan mendengar perkataannya selanjutnya. Seharusnya Nathan tetap duduk di depannya, menatapnya sambil mengukir sinar di kedua sudut bibirnya. Seharusnya Nathan tidak mengajaknya pergi.


Seharusnya Adira sadar diri, apapun yang dia inginkan rasanya percuma sebab sampai kapanpun Nathan tetap berpura-pura seolah tak tahu apa-apa akan perasaannya.


......


Semilir angin membelai wajah mereka hingga rambut Kinan yang terurai panjang, terbang mengikuti arah terpaan. Kinan menghirup aroma pantai dalam-dalam sambil memejamkan iris hitamnya. Kedua tangannya dia rentangkan lebar-lebar seolah dirinya bebas dari beban-beban hidup yang dengan setia menetap, enggan pergi sejak dahulu kala.


Senja mulai menampakkan diri melalui lukisan gradasi di hamparan langit. Warnanya yang terang dan menenangkan, mampu menyihir pengagum yang bernaung di bawahnya. Kinan membuka matanya, memandang takjub sang senja. Parasnya sungguh indah dari apapun yang ada di dunia ini.


Kinan mengukir senyuman kecil saat gulungan ombak menyapu kaki telanjangnya yang dia biarkan terkena air. Kinan berdiri di sisi pantai, menunggu detik-detik sunset tiba. Pasti akan jauh lebih indah lagi.


Semua yang dia lakukan, baik ekspresi dan hal-hal sederhana lainnya, tak luput dari pandangan Agra. Agra mengamati perempuan di sampingnya dengan tenang. Objeknya hanya itu sedari mereka berpijak di pantai ini. Fokusnya berhenti tepat di wajah manisnya. Wajah yang senantiasa tersenyum lembut meski berkali-kali disakiti. Wajah yang pernah dia biarkan berurai air mata karena ulahnya.


"Lihat Agra, mataharinya mau tenggelam," Kinan begitu antusias.


"Indah banget," imbuhnya lagi.


Agra memilih diam. Ikut menyaksikan pertunjukan sunset di hadapannya. Sesekali maniknya menangkap sosok Kinan yang terus saja tersenyum senang di sampingnya.


Bahagianya Kinan sesederhana itu. Agra mulai sepenuhnya percaya. Tidak salah dia membawa Kinan ke sini.


"Lebih indah lagi seseorang yang aku peluk ini," Agra memeluk Kinan dari belakang. Membiarkan punggung kecil itu bersandar di dadanya. Kinan sempat menegang dan perlahan-lahan menyantaikan tubuhnya. Senyumnya mengembang pesat. Ada rasa bahagia yang tak bisa Kinan deskripsikan melalui kata-kata. Cukup hatinya yang merasakan hal itu.


"Kamu adalah objek paling menarik yang pernah aku temui. Aku baru sadar setelah aku nyakitin kamu dan mencoba untuk berubah."


Kinan semakin merapatkan tubuhnya. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Agra. Mencari kenyamanan yang belum pernah dia dapatkan dari lelaki itu. Sejenak, dia menutup kembali iris hitamnya. Menikmati setiap detik, setiap hembusan angin, setiap hembusan napas, berada di sisi Agra. Hatinya berdesir setiap kali bibir di belakangnya, mengecup lembut rambutnya. Kinan ikut memeluk kedua tangan Agra yang melingkari perutnya. Mendekapnya erat seolah besok atau hari-hari selanjutnya Agra pergi menjauh bersama rasa yang membelenggunya. Mengikatnya tanpa ampun.


"Penyesalan memang selalu datang di akhir kisah. Tapi bagiku, kamu menyesal di saat yang tepat karena ini bukan akhir kisah cinta kita. Bahkan cerita kita masih panjang dan aku mau setiap waktu yang aku lewati bersama kamu."


Cuaca sore ini menghangat. Sama hangatnya dengan dekapan Agra yang semakin mengerat di tubuhnya.


"Ke depannya, apa yang kamu harapkan dari hubungan kita?" Agra bertanya diiringi desiran air pantai.


Perlahan, Kinan memegang dan melepaskan tangan Agra untuk memutar tubuhnya jadi saling berhadapan lalu dia tuntun tangan lelaki itu agar kembali memeluknya dari depan. Kinan mendongakkan kepala, menatap Agra sedalam cintanya, "Aku hanya ingin kamu tetap bersamaku. Berada di sisiku sampai batas waktu yang tidak bisa aku tentukan. Menjadi tempat sandaran di saat aku lelah. Menjadikan aku satu-satunya seseorang yang kamu cintai. Aku bukan cuma menginginkan diri kamu. Tapi juga cinta kamu, Agra."


Agra tersenyum lembut. Menarik kekasihnya dan kemudian dia dekap. Mengusap pelan punggung rapuhnya. Membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Aroma bunga mawar yang menguar dari rambutnya menjadi bagian kesukaannya. Wangi dan membuat candu.


"Aku mencintaimu."


Kata-kata yang terucap dari bibir Agra bertepatan matahari yang tenggelam di telan semesta. Semesta yang dengan berbaik hati menghadirkan hari ini. Hari di mana Kinan amat bahagia berada di pelukan sang kekasih tercinta.


Kali ini biarkan Kinan tersenyum tanpa topeng kesedihannya. Biarkan dia menempati posisi Adira untuk sesaat menyecap nikmatnya di tatap dan tak terabaikan.


Karena entah suatu kebetulan atau tidak, sekarang, keadaan berbalik. Adira merasa diabaikan oleh Agra. Parahnya, Nathan juga ikut mengabaikan hadirnya.


......

__ADS_1


Maaf ya aku baru bisa up hari ini. Soalnya di real life banyak banget ya harus aku urus.


__ADS_2