
Seseorang yang benar-benar baik dan tulus adalah seseorang yang mengesampingkan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain.
......
Langkah Kinan menggantung di depan pintu ruang perpustakaan saat maniknya bertemu dengan manik Nathan yang berdiri tidak jauh darinya dengan ponsel tertempel di telinga kirinya. Berupaya untuk tetap bergeming meski ponselnya yang tersimpan di saku celananya terus bergetar pertanda ada telepon masuk.
Kinan sangat yakin jika itu adalah Nathan. Keyakinannya terbukti saat Nathan menurunkan ponselnya, getaran yang dirasakannya pun ikut berhenti. Kinan mendengus lalu berganti haluan menuju kemana saja asal tidak bertemu dengan Nathan dan menunda keinginannya meminjam buku.
"Kinan!"
Panggilan Nathan diabaikan oleh Kinan dan dia secepat mungkin menjauh dari keramaian, menghindari beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya. Walaupun menjadi pusat perhatian sudah biasa baginya, sebab dahulu sewaktu mengejar Agra, para mahasiswa yang berlalu lalang disekitarnya, secara terang-terangan memandangnya. Bahkan ada satu diantaranya mengatakan jika Kinan perempuan tidak tahu malu. Kinan tidak peduli. Toh, ini hidupnya, terserah dia mau ngapain.
Namun, kali ini rasanya berbeda drastis. Kinan merasa malu ketika penghuni kampus meniliknya intens, seakan dirinya hama yang harus segera dibrantas sebab di belakang sana, Nathan memanggil-manggil namanya. Urat malunya yang dulunya putus mungkin sudah lama tersambung lagi karena sekarang Kinan resmi berpacaran dengan Agra. Agra pun berubah menjadi lebih baik dan menghargai perasaannya.
Mengambil jalan kanan, Kinan bergegas keluar gerbang, tapi Nathan tampaknya lebih tangkas menarik pergelangan tangannya sehingga mau tidak mau Kinan membalikkan badannya, menghadap Nathan dengan raut tak senang seraya mengurai pegangan itu.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Kinan berekspresi datar. Menganggap figur Nathan sama seperti dosennya yang lain. Sebisanya Kinan berucap sopan.
"Plis, jangan terus-terusan menghindar dari aku, Baby," Nathan memohon. Mukanya pucat seperti mayat hidup dan jelas itu karena Kinan, "Cukup di rumah aja kamu kayak gini. Enggak untuk di kampus."
Kinan memaksakan senyum terbit di ujung bibirnya walau sulit, "Koreksi, Pak. Nama saya Kinan bukan Baby. Bapak salah orang." ujarnya dingin.
Nathan menggeleng, "Enggak. Aku nggak salah. Aku memang lagi ngomong sama Kinan yang sering aku panggil Baby. Perempuan yang aku cintai. Tolong jangan membuat pembatas diantara kita berdua, Baby. Kamu tau, aku butuh kamu. Aku terbiasa ada kamu."
Mendengar kata cinta yang terucap dari mulut Nathan, seketika Kinan berang. Maniknya menajam disertai dengusan kasar bak seorang pyschopath.
"Kamu benar-benar nggak punya malu, Nath? Menyatakan perasaan pada Adikmu sendiri dan parahnya ditolak tapi masih gigih mengejar?" Kinan tersenyum kecut. Perkataannya barusan tentu menamparnya telak, menyindirnya bahwa dirinya pernah berada di posisi itu. Menjadi sosok Nathan, dihadapan Agra. Sama halnya, Agra menolak perasaannya mentah-mentah, Kinan tak gentar menyerah.
"Buang perasaan kamu! Sampai kapanpun kamu nggak akan bisa mendapat balasanku! Aku nggak cinta sama kamu! Harus berapa kali lagi aku ingatkan?!" Kinan mengepalkan tangan erat-erat. Sesak di dadanya terasa menyakitkan.
Pria itu menggeleng sekali lagi. Gelengannya melemah menandakan dia tidak berdaya saat ini. Bahkan jauh sebelum hari ini tiba.
"Aku nggak apa-apa mencintai kamu sendirian. Kamu ada di sisi aku aja, aku bersyukur banget tanpa perlu kamu cintai balik. Aku tahu cinta nggak bisa dipaksakan. Tapi disini aku nggak memaksa kamu untuk terima perasaan aku. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku mencintai kamu."
Kinan bersidekap, menatap lurus ke arah Nathan, "Aku udah tau. Lantas kamu mau apalagi? Kenapa kamu masih bertingkah seperti fans fanatik yang sangat ingin menggenggam artis pujaannya?"
Untung para mahasiswa di sekeliling mereka, tidak memusatkan pandangan pada keributan yang terjadi. Para mahasiswa sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa mempedulikan mereka berdua.
"Kamu lebih dari itu."
Kinan mendengus, "Aku minta jawaban yang bener."
Melihat rupa manisnya, Nathan menghela napas. Hubungannya dengan Kinan semakin runyam saja hanya karna satu kata yaitu cinta.
"Maafin aku. Itu yang aku inginkan."
"Berhenti menaruh hati," pinta Kinan, memohon.
Pandangan Nathan meredup. Sulit sekali menghapus rasa yang bersemai sejak bertahun-tahun lamanya. Nama Kinan sudah melekat kuat dihatinya.
"Kalau itu, maaf. Aku enggak bisa." kata Nathan seraya berlalu dari hadapan Kinan. Berdiri di dekatnya, membuat Nathan tak tahan untuk tidak memeluk tubuh ringkihnya, karena Kinan adalah wanita terapuhnya.
Menghilangnya Nathan dari jangkauannya, Kinan terduduk lunglai di bawah, di tumpukan batu bata tepat di samping gerbang dekat pos satpam.
Merogoh isi tas kuliahnya, Kinan meraih selembar foto berukuran sedang, foto dirinya bersama Nathan sebelum Nathan pergi ke luar negeri. Kinan miris mengingat hubungan mereka terlampau buruk sekedar berbaikan kembali.
Mengusap lembut foto itu, Kinan mengulas senyum lembut. Senyum yang biasa dia tunjukkan untuk orang-orang terkasihnya.
"Aku kangen kamu, Nathan Moreno."
......
__ADS_1
Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Setiap kesalahpaham pasti bisa diluruskan. Setiap pertengkaran pasti ujung-ujungnya berbaikan. Tergantung bagaimana cara menyikapinya.
Sebagai laki-laki dewasa, Cakra paham akan hal itu. Cakra mengerti bagaimana rasanya berada di tengah-tengah sebuah permasalahan besar. Sulit keluar dari ruang lingkup yang terus menyita waktu dan pikirannya.
Cakra pernah merasakannya. Di mana Ana yang notabenenya kekasih sahabatnya sendiri yaitu Agra, datang padanya, meminta dirinya berpura-pura menjadi ayah dari janin yang Ana kandung demi menjaga nama baik Agra, demi kebaikannya dan Agra, demi masa depan Agra, memohon padanya dengan ancaman kalau Cakra tidak mau menuruti keinginannya, Ana akan membunuh bayinya. Cakra yang bimbang, diakhir cerita memilih persahabatannya hancur hanya karena ingin melihat sahabatnya---Agra hidup bahagia bersama cinta sejatinya dan merahasiakan bahwa bukan dirinya lah ayah bayi yang Ana kandung.
Secara tidak sadar, Cakra mempertaruhkan kebahagiannya dan malah menyelamatkan kebahagiaan dua orang terkasihnya sekaligus dari jeratan asmara yang kian melekat di hati keduanya agar ketika mereka dipisahkan takdir, mereka bisa mengikhlaskannya apa yang terjadi.
Cakra memang sebaik itu. Tentang mereka yang berpandangan jika Cakra laki-laki berengsek, salah besar. Cakra jauh kelewat baik. Hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda. Terkesan jahat padahal tidak.
Mengusir kenangan yang membayang, Cakra berfokus mencari keberadaan Kinan di sekitaran parkiran menuju gerbang utama. Dia tadi sempat melihat batang hidung Kinan di koridor. Selepas itu terputus akibat temannya menghalau jalannya menghampiri Kinan.
Matanya menyipit kala netranya menangkap sosok Kinan tengah berbincang-bincang dengan seorang pria.
Dari tempatnya, Cakra mulai curiga terhadap ekspresi yang Kinan tampilkan. Sebentar sendu, sebentar menggeram emosi. Cakra berpikir Kinan ada masalah dengan pria itu. Asumsinya tidak salah begitu pria itu pergi dan Kinan jatuh melemas, terduduk di bebatuan. Ada yang tidak beres. Cakra mengambil ancang-ancang, mendekati Kinan.
Dari radius dekat, pendengarannya merekam Kinan menyebutkan nama seseorang. Nama yang menyebabkan lipatan keningnya tercetak. Cakra pernah mendengarnya nama itu. Tapi dimana? Cakra lupa.
Ah, apa dia behalusinasi?
Cakra mengedikkan bahu kemudian berjongkok dihadapan Kinan sembari mengembangkan senyuman. Kinan terkejut lalu buru-buru menyimpan foto digenggamannya, asal.
"Butuh bantuan atau butuh penyemangat?" Cakra menawarkan diri.
Kinan menatap kusyuk Cakra selama lima detik, setelahnya memutuskan kontak dan menggeleng pelan. Melupakan dia yang berusaha menghindari lelaki itu.
"Enggak butuh dua-duanya."
"Hmm, kalau minum, mau?" tawar Cakra lagi.
Kinan mengangguk cepat. Cakra terkekeh seraya mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam ranselnya, memberikannya pada Kinan. Dengan gesit, Kinan menerimanya.
"Terima kasih," ucap Kinan sesudah menegaknya sampai tersisa setengah.
Alis Kinan bergelombang, "Yang mana?"
"Pake kemeja biru dongker. Bawa tas jinjing hitam." perjelas Cakra.
Gerakan bibir Kinan membentuk huruf O sambil manggut-manggut, "Oh, dia Nathan Moreno. Abang tiri aku yang sempat tinggal di luar negeri dan sekarang menetap di Indonesia jadi dosen baru di Fakultas Matematika. Emang kenapa, Cakra? Kayaknya kamu kepo banget sama Abang aku." tuding Kinan diakhir kalimat. Cakra tertawa sambil mengacak-acak gemas pucuk kepala Kinan.
"Abisnya dia ngeduluanin gue nyamperin malaikat cantik di depan gue ini."
Kinan tersipu, "Kamu siang-siang gini malah ngegombal."
"Gue kan bersikap rasional. Gapapa dong." ujar Cakra seadanya.
"Kamu nggak ada kelas lagi?"
"Jam dua nanti."
Kinan melirik Cakra, "Ada yang mau kamu sampein ke aku? Tumbenan aja kamu tiba-tiba nongol di depanku."
Perkataan yang menggerakkan kepala Cakra, menyerong, menatap Kinan, "Ada sesuatu yang pengen gue katakan. Tapi nggak di sini. Kita bicara di tempat lain. Yang lebih private."
Kerutan di dahinya tergambar, Kinan benci jika dirinya dibuat penasaran begini.
"Apa susahnya tinggal ngomong doang," ucap Kinan dengan nada kesal.
"Sebenarnya----" ucapan Cakra terpotong oleh suara nada sambung ponselnya, tertera nama Ana di layar. Cakra meminta Kinan agar diam sebentar sementara dia mengangkat telepon.
"Apa?! Keyla sakit?! Terus kamu sekarang lagi dimana? Udah nyoba bawa ke rumah sakit?" Cakra beruntun-runtun melayangkan pertanyaan pada Ana di seberang sana. Cakra sangat khawatir, "Yauda kamu tunggu di situ, biar aku ke sana. Kita bawa Keyla berobat. Kalau ada apa-apa hubungin aku, An. Aku tutup teleponnya." Cakra bangkit, memasukkan benda pipih itu ke saku jaketnya dan menatap Kinan dengan tatapan bersalah.
__ADS_1
"Maaf ya Nan, gue ada urusan mendadak. Gue tinggal, gapapa kan?" tanya Cakra yang dibalas Kinan dengan anggukkan samar.
Cakra tersenyum dan mengusap puncak kepalanya penuh kehati-hatian, "Jaga diri baik-baik, ya."
Sepeninggalan Cakra, Kinan mengecek jam dipergelangan tangan kirinya. Kinan hampir lupa jika dia ada janji dengan Agra, pergi makan siang.
......
Sesampainya di Apartemen Ana, Cakra buru-buru memasuki kamar dimana Keyla terbaring lemah di atas tempat tidur. Seluruh tubuhnya dibungkus selimut tebal. Ana yang berada di sebelah Keyla, menangis sambil mengecup pucuk kepala anaknya.
"Sejak kapan Keyla sakit, An?" Cakra menyentuh kening Keyla dan dia meringis menyadari suhu badan si kecil panasnya minta ampun.
"Semalam masih sehat-sehat aja, Cak. Keyla juga main kejar-kejaran sama aku di ruang tv. Paginya kita sempat makan bareng terus dia pamit mau tidur. Awalnya aku curiga liat muka dia pucet banget, tapi aku nggak mau berpikiran negatif, jadi aku biarin dia istirahat. Aku taunya waktu aku mau bangunin Keyla, dia nggak gerak sama sekali. Makanya aku panik dan langsung nelpon kamu. Untungnya pas kamu lagi diperjalanan, dia bangun, manggil nama aku. Aku sedikit lega." jelas Ana panjang lebar.
"Seharusnya kamu cepat bawa Keyla ke rumah sakit, An."
Raut wajah Ana berubah sendu. Dia menunduk dalam sembari memilin jemarinya, "Aku nggak punya uang, Cakra. Gaji aku belum keluar selama dua bulan. Aku bisa apa selain pasrah di rumah, hanya mengandalkan obat dari warung. Selain itu besok aku harus udah angkat kaki dari Apartemen ini karena pemilik aslinya mau nempatin."
Cakra terkejut, tak percaya akan masalah hidup yang Ana pikul, "Kenapa kamu baru ngasih tau aku, An?"
Menggeleng samar, Ana mengulas senyum tipis, "Ngerepotin kamu saja aja nambahin beban hidup aku. Aku nggak mau, Cakra."
Cakra terdiam cukup lama sebelum kedua tangannya meraih tangan Ana dan menggenggamnya erat, "Seusai kamu minta aku untuk berpura-pura mengakui anak kamu sebagai darah dagingku, kamu tanggung jawabku, Ana. Aku ada di sini, untuk kamu. Kamu udah aku anggap Adik kandungku sendiri. Kamu jangan sungkan minta bantuanku. Apalagi menyangkut keponakanku. Aku bakal marah besar ke kamu kalau sampai Keyla kenapa-napa."
"Maafin aku, Cakra."
"Oke, nggak udah dibahas. Kita bawa Keyla ke dokter," kata Cakra seraya menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mungil Keyla, kemudian menggendongnya, membiarkan tangan mungil itu memeluk lehernya erat. Tangan bebasnya yang lain, merangkul tangan Ana. Mereka persis seperti keluarga kecil bahagia.
Di dalam lift, Cakra menoleh, mendapati Ana menggigit bawah bibirnya, kuat. Ana kelihatan khawatir. Ekspresi wanita itu mengingatkan Cakra akan sesuatu.
"An," panggilnya.
Ana menatap Cakra, "Ya?"
"Apa disaat-saat kamu kesusahan, sosok dia ada dalam pikiranmu?"
"Sosoknya nggak akan pernah hilang, Cakra. Aku sadar aku mencintai Nathan saat aku sudah memiliki Agra. Kami berhubungan jarak jauh, di saat itu pula Nathan datang memberi aku kasih sayang yang nggak pernah aku dapatkan lagi dari Agra. Aku salah udah mengkhianati cinta Agra. Balik lagi ke awal, ini permainan takdir. Takdir siapa yang tahu."
Cakra sangat mengerti maksud perkataan Ana meskipun dia belum merasakan yang namanya berpacaran.
Terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya.
"Apa yang kamu harapkan jika bertemu dengannya?"
Senyum Ana mengembang, "Sederhana. Aku berharap dia jadi ayah sekaligus suami yang baik buat aku dan Keyla, kelak."
"Siapa namanya? Aku lupa, An."
"Nathan Moreno."
Cakra mematung. Nama itu persis yang Kinan sebutkan. Cakra menatap Ana lekat-lekat.
"Serius, An? Kamu nggak salah?"
Ana mengangguk.
Dunia memang sesempit ini. Pria yang mereka cari-cari ternyata berada di satu kawasan yang sama dengannya. Bagaimana Cakra bisa tak mengetahui hal itu? Andai Cakra tidak mendengar Kinan menyebutkan namanya, mungkin saat ini dia luntang-lantung demi menemukan pria itu.
"Kamu kenapa senyam-senyum?" Ana menatapnya awas.
Cakra berdehem, "Gapapa, An."
__ADS_1
Tunggu kejutan dari aku, Ana.